Menghitung Hari Sang Bayangkara Sejati Komjen Jusuf Manggabarani Yang Bersiap Tinggalkan Polri

Wakapolri Komisaris Jenderal Jusuf Manggabarani

EKSKLUSIF KATAKAMI.COM

Wawancara Eksklusif dengan WAKAPOLRI JUSUF MANGGA : Walau Gaji Sederhana, Polri Jangan Lakukan Pelanggaran

Wawancara Eksklusif dengan WAKAPOLRI JUSUF MANGGA : Tugas Kami Tingkatkan Kesejahteraan

Jakarta, 5 Februari 2011 (KATAKAMI.COM)   — Ratusan orang yang mengenal sepak terjangnya selama hampir 36 tahun mengabdi sebagai polisi (sejati) telah mengirimkan kesan dan pesan atas sosok Komisaris Jenderal Jusuf Manggabarani. Spontanitas itu terjadi menjelang akan pensiunnya Wakapolri yang dikenal sangat tegas, lurus, bersih, jujur dan pemberani ini.

Sejumlah pihak yang begitu menghormati figur Jusuf Manggabarani sudah memasuki tahap akhir pembuatan sebuah buku yang akan dihadiahkan kepada Wakapolri Komjen. Jusuf Manggabarani dalam rangka 2 momen penting di bulan Februari ini yaitu ulangtahun ke 58 pada tanggal 11 Febuari 2011 dan memasuki masa purna bhakti (pensiun).

Komjen Pol Jusuf Manggabarani lahir di Makassar 11 Februari 1953.

Ia adalah lulusan Akpol tahun 1975 dan dalam pernah bertugas di Dili, Timtim (sekarang Timor Leste) sebagai pasukan khusus anti gerilya BKO Korem mulai pangkat Letda sampai Kapten (sekarang AKP).

Sejak 1976 sampai 1982, Jusuf Manggabarani menjabat Kasat Sabhara Polwiltabes Makassar dan kemudian Dansat Brimob di Makassar dengan pangkat mayor (sekarang Kompol).

Antara tahun 1982 sampai 1988, ia masuk Sespim, kesatuan Gegana kemudian mengambil Sesko ABRI. Selanjutnya, dari tahun 1988 sampai 1994 menjabat Kapolwiltabes Makassar, Kapolwiltabes Bandung, Wakapolda Sulsel, Dansat Brimob. Jusuf pernah juga menjabat Kapoda NAD dan Kapolda Sulsel (1994-2002). Pada 2004 menjabat Kadiv Propam, pada 2005 sebagai Irwasum, dan Wakapolri pada 2010.

Wakapolri Komisaris Jenderal Jusuf Manggabarani

Ia sangat amat tertutup kepada pers.

Mau sedekat apapun berkawan dengan Jusuf Manggabarani, sepanjang ia mengetahui bahwa pihak yang dekat dengannya itu adalah jurnalis maka secara otomatis juga pria kelahiran Makassar ini akan mengunci mulutnya rapat-rapat.

Tak akan pernah ada satu wartawan pun yang bisa memancing atau mengorek secuil saja informasi berharga berkait rahasia-rahasia atau bocoran-bocoran kebijakan dalam internal Mabes Polri.

Sebab sejak beberapa tahun terakhir ini, Jusuf Manggabarani menduduki pos-pos sangat penting di Mabes Polri yaitu berturut-turut sebagai Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan (Kadiv Propam Polri), Inspektur Jenderal Pengawasan Umum (Irwasum) dan Wakil Kepala Kepolisian Indonesia (Wakapolri).

Hari-hari menjelang masa pensiunnya per tanggal 1 Maret 2011 mendatang, Jusuf Manggabarani tetap bertugas seperti biasanya.

Misalnya berdasarnya pantauan KATAKAMI.COM pada hari Jumat (4/2/2011), Wakapolri Komjen Jusuf Manggabarani ikut menghadiri upacara penganugerahan peenghargaan dari Pemerintah Republika Indonesia (cq Presiden Susilo Bambang Yudhoyono) lewat pemberian bintang tanda jasa Bhayangkara Utama untuk Kapolri Jenderal Timur Pradopo.

Sesuai upacara tersebut, Jusuf Manggabarani menerima KATAKAMI.COM secara EKSKLUSIF di ruang kerjanya selama 2 jam.

“Pak Wakapolri, sebagai wartawan saya jadi heran, atas dasar penilaian apa sehingga Presiden SBY menganugerahi Kapolri bintang tanda jasa Bhayangkara Utama. Kapolri baru bertugas 2 bulan. Masih belum ada hal-hal nyata yang bisa dilihat dan dirasakan langsung oleh masyarakat terhadap kinerja Kapolri yang baru. Ada komentar ? tanya KATAKAMI.COM.

Jusuf Manggabarani terdiam beberapa saat.

“Penghargaan ini kan diberikan oleh Pemerintah, saya tidak berwenang mengomentari. Tetapi kalau soal Bapak Kapolri, sebagai bawahan saya menilai beliau cukup bagus. Orangnya tenang dan pendiam. Tidak ada masalah” jawan Jusuf Mangabarani secara diplomatis.

“Lalu soal buku yang siap diluncurkan sebagai hadiah kepada Pak Wakapolri dari para sahabat, apakah Bapak sudah tahu ?” tanya KATAKAMI.COM kembali.

“Oh, soal buku. Ya saya sudah tahu. Saya ini tidak akan pernah mau menjual-jual diri saya seakan-akan diri saya ini hebat dan pantas membanggakan diri secara berlebihan. Tapi saya dapat laporan, ada kawan-kawan yang berinisiatif membuatkan buku. Kalau saya tidak salah, isinya itu adalah kesan-kesan dari banyak orang terhadap diri saya selama ini. Silahkan saja. Saya tidak boleh menampik dan menolak perhatian dari orang-orang yang memberikan perhatian kepada saya” jawab Jusuf Manggabarani.

Kapolri Jenderal (Pol) Timur Pradopo (tengah) di dampingi Wakapolri Komjen Jusuf Manggabarani (kiri) saat berdoa bersama sebelum menyerahkan sapi kurban secara simbolis di lapangan Bhayangkara Mabes Polri, Jakarta, Rabu (17/11) Mabes Polri menyerahkan 29 ekor hewan kurban yang terdiri dari 23 ekor sapi dan 6 ekor kambing. "Semua hewan kurban akan dibagikan kepada korban bencana Mentawai dan Merapi. (FOTO ANTARA)

Dan ketika ditanya soal kesan-kesan selama bertugas sebagai polisi selama 36 tahun, Jusuf Mangabarani menjawab sebagai berikut :

“Semua tugas saya selama 36 tahun ini berkesan. Tidak ada yang tidak berkesan. Lalu setiap bertemu saya, kamu ini selalu saja bertanya kepada saya, mengapa gaji polisi terlalu kecil ? Kalau soal gaji, sudah mulai alhamdulilah. Polri menyesuaikan dengan kemampuan negara. Jangan dibilang ini bahasa klise bahwa kemampuan keuangan negara terbatas. Ini sungguh-sungguh bahwa Polri memang menyesuaikan diri dengan kemampuan negara” ungkap Jusuf Mangga.

Lalu tentang keberadaan dirinya yang sejak belasan tahun terakhir selalu dikirim dan diandalkan oleh Pemerintah untuk terjun langsung mengatasi daerah-daerah konflik seperti Aceh dan Poso, Jusuf Mangga menjawab sebagai berikut :

“Saya selalu membawa kader-kader setiap kali saya diperintahkan menangani daerah-daerah konflik yang penuh kerusuhan. Ini berkaitan dengan prinsip LEARNING BY DOING. Saya menangani masalah kerusuhan di Poso tahun 2000-2001 dan 2009. Jadi dimanapun terjadi kerusuhan atau konflik, akar permasalahannya adalah perbedaan pendapat. Sehingga permasalahan yang menimbulkan konflik dan berbagai kerusuhan berdarah tadi harus ditangani dengan jujur, arif dan bijaksana. Jadi itulah juga yang saya lakukan sebagai penengah setiap kali mendapat perintah menangani daerah kerusuhan” jawab Jusuf Mangga.

Apa kabar putra Bapak yang menjadi pasukan khususnya Polri ?

“Oh, dia namanya Edhie Sabara Mangabarani. Beberapa hari lalu dia datang mau menemui saya tetapi ditahan dia sama Provost. Dia baru tahu rupanya kalau Bapaknya ini Wakapolri” kata Jusuf Mangga sambil tersenyum.

“Ditahan sama Provost, maksudnya bagaimana pak ?” tanya KATAKAMI.COM

“Anak saya datang ke sini. Semua tamu kan harus berhadapan dengan Provost dulu di Gedung Utama ini. Provost tanya mau bertemu siapa ? Anak saya bilang dia mau bertemu Wakapolri. Provost bilang mereka harus periksa dulu tas dan bawaan dari setiap tamu. Begitu tas anak saya dibuka, isinya senjata semua. Dia langsung dibawa ke ruangan khusus oleh Provost untuk diperiksa. Provost tanya kamu ini siapa dan mengapa membawa banyak sekali senjata ? Terpaksa anak saya mengeluarkan tanda pengenalnya. Dia jawab namanya adalah Edhie Sabara Manggabarani” tutur Jusuf Mangga sambil tertawa.

Wakapolri Komisaris Jenderal Jusuf Manggabarani

“Mengapa datang menemui Bapak sambil bawa senjata begitu banyak ?” tanya KATAKAMI.COM.

“Dia mau menunjukkan pada saya tentang beberapa contoh sejata yang mereka pakai untuk latihan. Dia kan sekarang semacam pasukan khusus di Polri ini. Mereka butuh peluru untuk latihan. Jadi dia ditugaskan atasannya untuk menerangkan kepada saya. Ini bukan KKN ya. Mereka memang menggunakan jalur resmi juga untuk meminta logistik peluru untuk latihan tetapi secara informal dirasa perlu untuk menerangkan kepada saya. Saya candai dia waktu datang kemarin. Saya bilang, kamu memang pantas ditahan Provost karena datang bawa senjata begitu banyak mau menemui Wakapolri. Jangan dipikir, bisa gampang-gampang saja kalau mau menemui Wakapolri” jawab Jusuf Mangga.

“Lho memangnya tidak bisa bertemu di rumah saja, Pak ” tanya KATAKAMI.COM.

“Saya saja tidak tahu dimana dia hari demi hari. Berteleponan saja tidak pernah. Kalau saya coba telepon, handphone-nya mati. Dia itu memang tidak pernah mau dekat sama Bapaknya ini karena nanti penilaian orang bisa macam-macam. Jadi saya baru bisa bicara dengan dia kalau dia yang menepon saya. Pak, kirim pulsa ya … pulsa saya habis. Kalau sudah kehabisan pulsa untuk telepon, barulah dia menelepon Bapaknya. Dia juga jarang datang ke rumah saya. Tapi tiba-tiba, dia bisa datang dan ketuk kamar tidur saya ” jawab Jusuf Mangga menahan geli atas perilaku anaknya.

“Apa bapak tidak kuatir tentang keberadaan dan keselamatan anak Bapak ” tanya KATAKAMI.COM.

“Kenapa saya harus kuatir ? Saya polisi, dia juga polisi. Kami sama-sama tugas. Dan saya percaya dia bisa menjaga dirinya dalam menjalankan tugas-tugasnya. Anak saya yang satu ini berbeda penampilannya. Dia pakai jenggot dan kemana-mana sering pakai celana pendek. Ya itu karena tuntutan tugasnya. Waktu kemarin dia ditugaskan atasannya datang menemui saya, dia datang pakai celana panjang. Dia tidak pakai celana pendeknya tapi jenggotnya masih tetap dipelihara” kata Jusuf Mangga.

Komisaris Jenderal Jusuf Manggabarani dengan seragam dinas BRIMOB

Untuk menutup pembicaraan dengan Jusuf Mangga, KATAKAMI.COM menanyakan tentang banyaknya kritikan sangat pedas dari masyarakat Indonesia terhadap institusi Polri yang dianggap tidak transparan dalam menyelesaikan sejumlah kasus penting. Seperti misalnya kasus mafia pajak yang melibatkan Gayus Tambunan atau kasus yang menimpa Mantan Kabareskrim Komjen Susno Duadji.

“Kalau soal kritikan maka itu jangan diartikan secara sempit. Kritikan itu menandakan bahwa harapan masyarakat kepada Polri ini sangat tinggi dan tanda bahwa di Indonesia ini sudah diterapkan demokratisasi. Tapi percayalah bahwa polisi segera berubah. Dan saat ini sudah sangat banyak perubahan di dalam tubuh Polri. Misalnya perubahan dalam rangka penataan penegakan hukum dan meningkatnya pelayanan Polri terhadap masyarakat” kata Jusuf Mangga.

Mantan Komandan Brimob ini menegaskan bahwa Polri tidak pernah menutup-nutupi kasus, termasuk yang melibatkan oknum perwira tinggi Polri.

“Kalau ada yang melakukan pelanggaran, itu bukan polisi tetapi oknum polisi. Kau harus tulis kata oknum. Saya sebagai bagian dari Polri tidak pernah menutup-nutupi kasus. Personil Brimob sebanyak 18 ribu orang, tidak pernah menutupi kasus. Personil Sabara sejumlah 36 ribu orang, tidak pernah menutupi kasus.  Lalu kalau tadi disebut nama Susno Duadji, dia terlibat didalam kasus itu. Dia bukan pahlawan, dia terlibat didalamnya. Dia tidak bersih. Justru karena Polri transparan maka dibiarkan proses hukum terjadi pada Susno. Itu penjelasan saya” kata Jusuf Mangga.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (berdiri, kedua dari kiri), didampingi Menkopolhukkam Djoko Suyanto (paling kiri), berfoto bersama Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri, Wakapolri Komjen Jusuf Manggabarani (duduk, kedua dari kanan), beserta para perwira tinggi Polri

Jusuf Mangga adalah seorang bhayangkara sejati.

Ia memang berwajah tanpa ekspresi, kaku dan sangat dingin. Tetapi penilaian sekilas ini memang wajar sekali sebab ia terbiasa untuk senantiasa menjaga kerahasiaan tugas dan bekerja secara profesional dalam perjalanan waktu selama hampir 36 tahun sebagai seorang abdi negara.

Wajar jika kalangan tertentu mempertanyakan kepada Presiden SBY mengapa polisi yang handal seperti Jusuf Mangga tidak masuk dalam kategori yang harus diberi tanda penghargaan.

Belasan tahun, Jusuf Mangga sangat diandalkan oleh Pemerintah setiap kali terjadi kerusuhan di berbagai daerah-daerah konflik semacam Poso dan Aceh.

Tapi Jusuf Mangga selalu terlihat rendah hati dan memegang teguh prinsip hidupnya bahwa pengabdian tidak mengenal batas ruang dan waktu. Pengabdian tak menuntut tanda jasa. Pengabdian adalah pengabdian. Totalitas dalam mengabdi harus dipersembahkan kepada bangsa, negara dan rakyat Indonesia dengan satu misi yang jelas yaitu tanpa pamrih.

Terimakasih Jenderal, anda adalah polisi sejati yang pantas untuk dihormati dan dikenang sebagai seorang bhayangkara yang menjaga secara baik jati diri polisi dan nama baik institusi selama 36 tahun mengabdi.

Dan selamat ulang tahun, Jenderal Jusuf Mangga.

Selamat menjalani babak baru pengabdian pasca purna bhakti nanti.

(MS)

About these ads

Comments are closed.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 11,771 other followers