Komjen Oegroseno : Dalam Bertugas Polisi Harus Tegas, Jelas, Terukur, Adil Dan Beradab

Komjen Oegroseno

 

Jakarta, 14 April 2011 (KATAKAMI.COM) — Hari Jumat (8/4/2011) lalu, Oegroseno resmi mendapat kenaikan pangkat menjadi Komisaris Jenderal dengan jabatan terbaru sebagai Kepala Lembaga Pendidikan Polisi ( Kalemdikpol ).

Sebelumnya, Oegroseno bertugas sebagai Kapolda Sumatera Utara dan sempat juga dipercaya sebagai Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan (Kadiv. Propam) Polri.

Lulusan Akademi Kepolisian Angkatan 1978 ini, dikenal sebagai sosok yang tegas dan lurus.

Kamis (14/4/2011) sore, KATAKAMI.COM mendapat kesempatan untuk melakukan wawancara eksklusif dengan Komjen Oegroseno di ruang kerjanya di Lemdikpol di kawasan Ciputat, Jakarta Selatan.

Dan inilah hasil selengkapnya dari wawancara eksklusif KATAKAMI.COM dengan Komjen Oegroseno :

 

Kepala Lembaga Pendidikan Polisi (Kalemdikpol) Komjen. Polisi Oegroseno

 

KATAKAMI.COM (K) : Yang pertama, kami sampaikan selamat atas tugas yang baru di Lemdikpol ini. Dan selamat juga untuk kenaikan pangkatnya menjadi Komisaris Jenderal. Lemdikpol ini mempunyai tugas apa saja dalam struktur organisasi Polri ?

KOMJEN OEGROSENO( OE ) : Polri kan ada manusianya. Nah, untuk bisa meningkatkan kapasitas dan kompetensinya, mereka harus dididik. Kalau harus dididik, maka harus diperlengkapi dengan pendidikan yang lengkap. Itulah yang diurus oleh Lemdikpol. Penerimaannya dilakukan oleh Divisi Sumdaman ( Sumber Daya Manusia, redaksi ), Lemdikpol yang mengolah. Dari mulai meningkatkan integritas, kapasitas, kompetensi dan dilakukan pemantauan semua kelebihan serta kekurangannya.

(K) : Dengan masuknya Pak Oegro ke sini, hal apa saja yang akan disorot secara khusus oleh Lemdikpol ?

(OE ) : Saya berencana untuk bicara dulu dengan beberapa pihak, misalnya dengan tokoh-tokoh pendidikan, para purnawirawan Polri, dengan anggota-anggota Polri dan kalangan LSM. Saya ingin mendapatkan masukan, dengan kondisi geografis Indonesia yang seperti ini, bagaimana sistem pendidikan di Polri ini bisa berlandaskan kemanusiaan yang adil dan beradab. Tetapi dengan memantapkan teknologi komunikasi yang ada. Jelas pasti akan berbeda, antara sistem pendidikan yang dulu dan yang sekarang.

(K) : Menurut pendapat Pak Oegro sendiri, sisi apa saja dari Polri yang perlu dibenahi ?

(OE) : Calon-calon peserta pendidikan ini tahulah … sebab kami kan juga pernah merasakannya … sehingga kami akan mencoba untuk menginventarisir semua permasalahan. Bagaimana ke depan nanti ? Paling tidak untuk tahun 2011 ini, kami bisa punya rumusan tentang sistem pendidikan. Atau paling tidak, ada konsep pendidikan untuk tahun 2012 dan 2013 yang bisa dilaksanakan.

(K) :  Citra Polri terpuruk sejak beberapa waktu belakangan ini. Apakah Lemdikpol termasuk yang akan ditugasi untuk ikut membenahi itu ?

(OE) :  Kalau menurut saya, apa yang terjadi di lapangan, tidak lepas dari apa yang diberikan oleh lembaga pendidikan kepada mereka. Jadi, mudah-mudahan hal ini bisa dievaluasi nantinya. Dari hal yang paling mendasar sajalah, misalnya ada peristiwa tindak pidana. Kan pengolahan tempat kejadian menjadi prioritas sebab polisi memang harus berangkat dari tempat kejadian ( TKP). Nah, ini berdasarkan pengalaman kita, hal ini sudah mulai ditinggalkan oleh polisi. Padahal hal ini adalah sesuatu yang wajib dilakukan oleh polisi.

 

Kepala Lembaga Pendidikan Polisi (Kalemdikpol) Komjen. Oegroseno

 

(K) : Apakah ada terobosan baru yang ingin Pak Oegro lakukan seiring dengan penugasan baru sebagai Kalemdikpol ?

(OE) : Saya punya obsesi melakukan sistem pendidikan jarak jauh, kecuali pembentukan ya. Contoh misalnya Setukpa ( Sekolah Pembentukan Perwira, redaksi ) … mungkin gak satu saat nanti dilakukan desentralisasi. Jadi dilakukan di SPM ( Sekolah Polisi Negara, redaksi) masing-masing. Tidak harus dilakukan di Sukabumi karena biayanya kan mahal. Polisi di Papua sana merasa seperti ini, saya orang  Papua tetapi kenapa kalau mau jadi perwira saja harus ke Sukabumi kalau mau sekolah? Kan bisa dilakukan pendidikan jarak jauh.

(K) : Lalu apalagi obsesi Pak Oegro yang lainnya dalam memimpin Lemdikpol ini ?

(OE) :  Saya ingin agar lembaga pendidikan ini tidak dianggap sebagai tempat pembuangan. Kesan bahwa lembaga pendidikan semacam Lemdikpol ini adalah tempat pembuangan, harus dihilangkan. Tidak boleh lagi ada kesan yang buruk seperti itu. Setiap orang yang masuk kesini harus punya kompetensi. Ya itu tadi, dengan sistem pendidikan jarak jauh, diharapkan para peserta lembaga pendidikan akan aktif mendatangi. Jadi kalau dinas di STUKPA, tidak harus di Sukabumi terus. Atau dinas di Sespim, tidak harus di Lembang terus. Tapi bisa ke Papua, Aceh atau daerah lainnya.

(K) :  Terus terang, banyak juga yang terkejut atas penempatan Pak Oegro di Lemdikpol ini. Tadinya sempat ada rumors bahwa Pak Oegro adalah calon Kapolri, ternyata bukan. Lalu, ada rumors bahwa Pak Oegro-lah yang berpeluang besar menjadi calon Wakapolri. Ternyata bukan juga. Ujung-ujungnya malah ditempatkan di Lemdikpol ini. Apakah Pak Oegro kecewa ditempatkan disini ?

(OE) :   Saya tidak pernah kecewa sebab mengabdi di Kepolisian itu, tidak harus jadi Kepala. Kapolsek, Kapolres, Kapolda, Wakapolri, atau Kapolri sekalipun. Dimanapun bertugas, polisi harus total dalam mengabdi. Dimanapun saya ditugaskan, pasti saya terima. Jadi kekecewaan tidak pernah ada dalam diri saya. Saya tidak berbohong.

 

Foto : Lemdikpol

 

(K) : Jadi, kesan negatif bahwa siapapun yang ditugaskan di lembaga pendidikan karena dia dibuang, itu tidak benar ya ?

(OE) : Dulu memang ada kesan seperti itu, sedikit-sedikit kalau ada masalah maka ditempatkan di Lemdik. Ini tidak boleh lagi dibiarkan. Siapapun yang ditempatkan di Lemdik adalah orang-orang yang juga memiliki kompetensi.

(K) : Ada yang beranggapan bahwa karena ketegasan pribadi Pak Oegro maka menimbulkan kekuatiran bagi pihak tertentu. Apa benar demikian ?

(OE) : Dibilang tegas juga, saya sebenarnya tidak terlalu tegas. Tetapi sebagai manusia, saya selalu bicara apa adanya. Kalau salah, saya katakan salah. Tetapi kalau benar, diberi apresiasi. Jangan justru dibalik-balik. Kalau salah, diberi apresiasi. Sementara kalau benar, malah dicari-cari kesalahannya. Itu tidak boleh ! Kita ini bekerja adalah berdasarkah petunjuk dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Kalau kita berpedoman itu maka dimanapun kita ditugaskan, kita akan selalu siap. Mau ditanam di padang pasirpun, pasti hidup. Ditanam dimanapun, pasti tetap hidup. ( Tersenyum ).

(K) : Oke, minggu pertama sebagai Kalemdikpol, apa saja yang Bapak lakukan selama sepekan terakhir ini ?

(OE) : Saya minta masukan. Saya tanya mereka, bagaimana kondisi yang dulu ? Apakah masih bisa dilaksanakan ? Reformasi birokrasi saja, apa yang diharapkan dari reformasi birokrasi ? Saya minta judul dari para staf saya. Coba kasih judul, ayo kita mau bikin apa ? Mau bikin reformasi pendidikan atau paradigma pendidikan Polri yang mengutamakan azas adil dan beradab. Sebab polisi memang harus bisa bertugas secara adil dan beradab. Contoh yang sederhana saja, kalau ada polisi yang ditugaskan untuk masuk Sespim (Sekolah Pimpinan, redaksi). Mereka harus melepaskan jabatan. Lalu isteri dan anak mereka yang masih kecil-kecil, harus ikut dipindahkan ke Lembang. Urusan tempat tinggal, mereka harus mencari dan membiayai sendiri. Darimana mereka dapat biaya untuk urusan begitu ? Sehingga kalau ada yang dapat tugas untuk ikut Sespim, mereka harus cari biaya sendiri. Ini yang harus diubah. Harus ada perubahan sistem.  Sehingga ke depan, setiap polisi yang ditugaskan masuk Sespim, tidak perlu lagi cari biaya sendiri untuk membiayai keluarganya ikut ke Lembang misalnya.

(K) : Apa yang bisa Bapak sampaikan kepada masyarakat mengingat kepercayaan masyarakat kepada Polri sempat menurun ?

(OE) : Yang paling penting, polisi harus bisa bersikap tegas, jelas dan terukur. Jelas dalam arti, jelas dalam melaksanakan tugas.

(K) : Baik Pak Oegro, terimakasih untuk wawancara ini. Selamat bertugas di tempat yang baru ini.

(OE) : Terimakasih juga untuk KATAKAMI.

 

 

(MS)

About these ads

Comments are closed.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 19,237 other followers