Archive | April 30, 2011

Report: Hamas to move Headquarters from Damascus to Qatar

Hamas leader Khaled Meshaal

LONDON (KATAKAMI.COM / Ma’an / Ynet / Haaretz) — Hamas will soon relocate its political headquarters to Qatar from Damascus, Palestinian sources told the Arabic-language newspaper Dar Al-Hayat in a report published Saturday (April 30, 2011).

The London-based Arabic-language newspaper al-Hayat reported Saturday that Hamas Leader Khaled Mashaal and other senior Hamas members will soon relocate their headquarters to the Persian Gulf emirate of Qatar.

More than 15 members of Hamas’s Political Bureau have been operating in exile in Damascus since 1999. 

According to the report, Qatar agreed to “permanently host” the Politburo, but refused to grant Hamas’ top military echelon the same privilege.

Hamas’ military echelon will relocate to the Gaza strip. There was no mention of a reason for the relocation, which will come just days after Hamas and the leading West Bank party Fatah signed an historic reconciliation deal.

On Wednesday, Palestinian President Mahmoud Abbas’ Fatah movement hammered an historic reconciliation deal with the rival Hamas group, agreeing to form an interim government and fix a date for general election within the year.  

The deal, which took many officials by surprise, was thrashed out in Egypt and followed a series of secret meetings.

Hamas leader Mahmoud Zahar insisted that Hamas was united in its move toward a unity government, however, it is still unclear how widespread that agreement is.

Abbas has been making a heavy push for reconciliation with Hamas, with which it held a unity government that collapsed during a five-day civil war in 2007 and ended with the Islamic militant group seizing power in the Gaza Strip. Fatah had already signed the reconciliation agreement in October 2009, but Hamas had until now refused to give up on demands it had set before the rival group.

Restoring Palestinian unity is seen as crucial to reviving any prospect for a Palestinian state based on peaceful co-existence alongside Israel. Fatah, the mainstream Palestinian movement until a 2006 election victory by Hamas, backs negotiated peace but the Islamists reject it. 

(*)

Semanis Senyum Ratu Elizabeth Semanis Itulah Senyum Kate Memikat William

Pangeran William membawa sang isteri yang baru dinikahinya, Kate Middleton, untuk memberikan hormat kepada Ratu Elizabeth II seusai Misa Pernikahan, 29 April 2011

UK’s Clarence House : Prince William and Catherine Middleton have written their own prayer

Jakarta, 30 April 2011 (KATAKAMI.COM) — Ada 3 perempuan yang tak hadir dalam pesta akbar pernikahan Pangeran William dan Kate Middleton pada hari Jumat, 29 April 2011.

Pertama Ibunda dari Ratu Elizabeth II yaitu Ibu Suri “Queen Mother” Elizabeth Bowes-Lyon (Elizabeth Angela Marguerite) yang wafat tanggal 30 Maret 2002.

Kedua Ibunda dari Pangeran William sendiri ( Putri Diana ) yang wafat tanggal 31 Agustus 2007.

Ketiga Sarah Ferguson ( Fergie ) yang merupakan mantan isteri dari Pangeran Andrew, yang mengumumkan perpisahannya dengan pangeran tampan yang menjadi anak kedua dari Ratu Elizabeth pada tanggal 30 Mei 1996.

Tetapi dari ketiga perempuan ini, catatan tersendiri yang harus diketahui oleh semua orang bahwa Fergie memang tidak diundang oleh Keluarga Kerajaan Inggris untuk hadir dalam pernikahan William dan Kate. Sehingga ketidak-hadirannya memang sudah sangat pantas terjadi sebab ia sudah bukan menjadi bagian yang resmi dari anggota Kerajaan Inggris.

Dan kalau mau jujur, pernikahan William dan Kate memang menjadi terasa kurang lengkap dengan ketidak-hadiran Ibu Suri “Queen Mother” ( Ibunda dari Ratu Elizabeth ).

File picture : The new Royal Mail stamp issue on 18 April 2006 marks Her Majesty the Queen's 80th Birthday. To celebrate the occasion we feature stamps issued in commemoration of significant royal birthdays for the late Queen Mother and for our future king, Prince William. Born in August 1900, the late Queen Mother was one of the longest surviving members of the Royal Family and even received a telegram from her daughter, Queen Elizabeth II, on her 100th birthday. On the day of her funeral in April 2002, more than a million people lined the streets outside Westminster Abbey and along the 23 mile route to her final resting place at Windsor Castle.

Ibu Suri adalah sosok figur perempuan Inggris yang sangat tegas, berani dan mumpuni.

Ia adalah seorang perempuan yang pantas dikagumi.

Sehingga untuk sebagian orang yang memang sangat mengagumi sosok Ibu Suri ( Queen Mother ), ketidak-hadirannya dalam prosesi pernikahan William dan Kate membuat pemandangan dari Kerajaan Inggris terkait pernikahan akbar itu terasa bagaikan ada sesuatu yang “hilang”.

Tak akan pernah terhapuskan dalam sejarah, cerita tentang segala keberaniannya sepanjang menjadi isteri dari seorang Raja Inggris. Caranya memberikan dukungan moral kepada Bangsa Inggris sepanjang menjalani Perang Dunia kedua dan segala keberaniannya yang barangkali akan sulit ditemui pada era kekinian.

Adolf Hitler bahkan sampai harus memberikan julukan bahwa Ibu Suri adalah perempuan Eropa yang paling berbahaya.

Tentu julukan ini harus diartikan bahwa sosok Ibu Suri adalah perempuan yang tak akan bisa ditandingi keberaniannya mengejar dan memperjuangkan kemenangan dalam pertempuran yang seberat apapun di medan perang.

Dalam perhelatan akbar yang seperti apapun dalam Kerajaan Inggris, Ibu Suri selalu hadir dan ia pasti akan selalu mendapat tempat di hati media massa Inggris sehingga foto-foto kehadirannya tetap akan terpampang.

Ibu Suri wafat dalam usia 101 tahun ketika ia ditemukan sudah meninggal dunia tahun 2002.

Sehingga sangat wajar bila ketidak-hadirannya tetap dianggap sebagai sebuah kehilangan ketika William dan Kate melangsungkan pernikahan akbar mereka yang ditonton oleh seluruh dunia.

Ratu Elizabeth II didampingi Pangeran Philip (Duke of Edinburgh) dalam perjalanan ke Istana Buckingham dengan menggunakan kereta kuda seusai menghadiri Misa Pemberkatan Pernikahan dari Pangeran William dan Kate Middleton, Jumat 29 April 2011.

Pernikahan William dan Kate memang menjadikan Ratu Elizabeth sebagai fokus perhatian yang sangat sentral dalam seluruh rangkaian prosesi sepanjang hari Jumat (29/4/2011).

Ratu Elizabeth mengenakan busana dan topi senada yang berwarna kuning.

Inilah perempuan yang sebenarnya paling pantas disebut sebagai perempuan yang paling powerful di dunia ini.

Walau pemimpin kerajaan tak dimungkinkan untuk ikut berpolitik tetapi seorang Ratu di Inggris diberi otoritas untuk memberikan perintah dan keputusan apapun kepada para pemegang eksekutif di Inggris.

Sehingga keputusan politik dan kebijakan luar negeri apapun yang keluar dari Inggris maka tak perlu diragukan lagi bahwa suara Ratu Elizabeth akan sangat diakomodir dalam kebijakan-kebijakan itu.

Yang paling fenomenal adalah bisik-bisik tentang tidak diundangnya sejumlah pemimpin dunia dalam pernikahan William dan Kate.

Keputusan ini tentu keputusan Ratu Elizabeth.

Tetapi, lihatlah cara Ratu melakukan sesuatu untuk menetralisir sorotan terkait kontroversi undangan pernikahan cucu yang sangat dicintainya.

Pangeran William dan Kate Middleton berciuman di balkon Istana Buckingham, Jumat 29 April 2011.

Hanya beberapa hari menjelang pernikahan William dan Kate, nama 2 orang mantan Perdana Menteri Inggris tidak termasuk dalam daftar undangan resmi Kerajaan Inggris yaitu Gordon Brown dan Tony Blair.

Sehingga debat atau komentar apapun yang mau dikeluarkan terhadap Kerajaan Inggris tentang mengapa sejumlah pemimpin dunia yang sebenarnya bersekutu atau berkawan baik dengan Inggris tak diundang, akan menjadi mentah kembali sebab Kerajaan Inggris pun tidak mengundang 2 orang Mantan Perdana Menterinya.

Bisa dispekulasikan bahwa keputusan untuk tidak mengundang 2 mantan Perdana Menteri Inggris ini adalah salah satu keputusan cantik dari Ratu Elizabeth untuk menetralisir keadaan.

Tony Blair memegang peranan yang sangat penting atas nama Inggris dalam kelompok Kwartet yang mengurusi proses perdamaian di Timur Tengah.

Jadi tentang diundang atau tidak diundangnya siapapun ( apapun posisinya ), itu adalah “hak prerogatif” dari Kerajaan Inggris, dalam hal ini Ratu Elizabeth.

Pernikahan ini adalah domain keluarga.

Sangat pribadi sifatnya.

Ratu Elizabeth punya hak penuh untuk menentukan siapa yang ingin diundang dan siapa yang tak perlu diundang.

Sehingga tak bisa dicampuri atau dijadikan fokus perdebatan yang tak berkesudahan.

Kerajaan Inggris sungguh berhasil mengemas pernikahan William dan Kate menjadi tampilan yang benar-benar sempurna dan menyentuh hati.

Pernikahan yang terkesan sederhana itu mampu mengubah citra Kerajaan Inggris yang selama ini banyak dikaitkan dengan kegagalan mempertahankan rumah tangga.

Semua harus mengakui bahwa pernikahan William dan Kate benar-benar luar biasa.

Dari sudut pandang apapun, pernikahan ini terlihat dan terdengar sempurna.

Perdana Menteri Inggris DAVID CAMERON, paling kanan, bersama sang isteri SAMANTHA CAMERON, lalu tampak juga Ed Miliband ( paling kiri ) yang merupakan Pemimpin Partai Buruh yang menjadi oposisi pemerintah, yang sedang berbincang dengan Wakil Perdana Menteri Inggris, NICK CLEGG, seusai menghadiri Pemberkatan Pernikahan Pangeran William dan Kate Middleton di Gereja Westminster Abbey, London, Jumat 29 April 2011

Mengatur prosesi pernikahan agar tepat waktu dari awal sampai akhir, adalah sesuatu yang sangat sulit sebenarnya. Tetapi lihatlah, bagaimana Kerajaan Inggris mengatur detail prosesi pernikahan itu. Seluruh dunia menyaksikan pesta akbar yang sangat fenomenal ini.

Dan Ratu Elizabeth sangat pantas jika kini ia merasa lega sebab cucu yang disayanginya telah berhasil dinikahkan lewat sebuah perhelatan akbar dengan sebuah kesimpulan “zero accident”.

Tak ada satupun hal ihwal yang menghambat atau mengganggu jalannya pesta pernikahan William dan Kate.

Kini semua berpulang kepada William dam Kate.

Mampukah mereka menjadi ikon baru yang mempunya tugas sangat berat yaitu membantu memulihkan citra Kerajaan Inggris yang memiliki sederetan kegagalan anggota Keluarga Kerajaan mempertahankan rumah tangga mereka.

Sebab, sedikit saja ada hal-hal sepele yang disengaja atau tidak disengaja dari penampilan atau tutur kata William dan Kate yang dipandang negatif ( pasca pernikahan ini ), hal itu akan merusak keindahan pesta pernikahan mereka yang sungguh sangat indah dan sempurna.

Kate harus mampu menunjukkan kepada publik ( rakyat Inggris khususnya ) bahwa ia tak sekedar mempunyai senyuman yang manis.

FILE PICTURE : Queen Mother with Queen Elizabeth Princess Margaret the Duke of York Prince Charles Princess Diana and Prince Harry on her birthday August 1992

Jika ia hanya mengandalkan senyuman yang manis maka Kate harus tahu bahwa dari mulai nenek buyut William ( yaitu Ibu Suri ) sampai ke nenek Pangeran William yaitu Ratu Elizabeth, termasuk juga mendiang Putri Diana yang melahirkan William, semua perempuan-perempuan bangsawan ini sudah ditakdirkan mempunyai SENYUMAN YANG SANGAT MANIS.

Sehingga, untuk menjadi anggota Kerajaan Inggris, modal senyum manis tak akan cukup untuk membuktikan kesungguhan dalam mengabdikan diri dan menunjukkan kemurnian cinta yang abadi kepada Pangeran William.

Kate harus mampu lebih eksis dalam mencari kesibukan dan berkonsentrasi penuh dalam bidang kemanusiaan yang manfaatnya memang nyata.

Kate tidak boleh kalah atau bahkan gagal menandingi perhatian yang sangat besar dari Putri Diana dalam masalah-masalah kemanusiaan di berbagai belahan dunia.

Kate tidak boleh kalah atau bahkan gagal menandingi perhatian, yang  juga tak kalah besar dari William dan Harry adiknya, dalam masalah-masalah kemanusiaan guna mengikuti jejak sang ibu mereka yaitu mendiang Putri Diana.

Mau membandingkan dari sisi manapun, garis keturunan yang ada dalam diri Pangeran William adalah terdiri dari perempuan-perempuan yang sangat hebat.

Putri Anne, putri dari Ratu Elizabeth, tiba di Gereja Westminster Abbey untuk menghadiri pemberkatan pernikahan keponakannya yaitu Pangeran Willian yang menikahi Kate Middleton, Jumat 29 APril 2011

William lahir dari keluarga besar yang terdiri dari perempuan-perempuan pemberani yang punya totalitas penuh dalam masalah-masalah kemanusiaan.

Nenek buyut Pangeran William ( Ibu Suri ) , Nenek kandungnya ( Ratu Elizabeth ),  Tantenya ( Putri Anne ), bahkan Ibu kandungnya ( Putri Diana ), semua berkecimpung penuh dalam bidang kemanusiaan yang sangat berskala dunia.

Dan sekedar untuk menjadi informasi, salah satu donatur yang memberikan perhatian dan bantuan penuh untuk masyarakat Aceh pasca bencana alam Tsunami yang terjadi tanggal 26 Desember 2004 adalah KERAJAAN INGGRIS.

Lewat dua Yayasan yang dikoordinir Kerajaan Inggris, Save the Children dan Islamic Relief, Putri Anne datang langsung ke Nangroe Aceh Darussalam pada tanggal 25 September 2005.

Putri Anne menggelar pertemuan tertutup untuk mendengarkan langsung perkembangan dari bantuan-bantuan yang diberikan kepada masyarakat Aceh yang terkena musibah Tsunami yang menewaskan ratusan ribu orang.

Tentu kedatangan Putri Anne ke Indonesia periode tahun 2005 yang membantu Indonesia saat tertimpa musibah hebat Tsunami, tak boleh dilupakan begitu saja.

Jadi dengan kata lain, Kate Middleton harus mampu mengimbangi kecantikan dan senyuman manisnya, dengan sejuta prestasi kemanusiaan yang terlihat secara nyata di mata rakyat Inggris ( dan syukur- syukur kalau bisa terlihat berkarya untuk komunitas internasional di bidang kemanusiaan ).

Kisah dari Kerajaan Inggris, sesungguhnya tak boleh hanya dilihat dari kisah-kisah rumah tangga dari putra dan putri Ratu ELizabeth sebab itu sudah memasuki ranah pribadi yang sangat pribadi.

Tetapi karena mereka adalah public figure yang sangat mendunia tingkat kepopulerannya maka mau tak mau, hal-hal pribadipun sering menjadi konsumsi publik.

Kalau mau jujur, satu hal yang harus dihargai dari peran Ratu Elizabeth sebagai ibu dan nenek dari seluruh keturunannya yaitu ia mengharuskan setiap anggota Kerajaannya berkecimpung dalam masalah kemanusiaan.

Foto perbandingan ekor gaun pengantin antara Kate Middleton dan Putri Diana

Lalu untuk anggota Kerajaan yang laki-laki, diwajibkan untuk bertugas di Dinas Kemiliteran Inggris.

Pangeran Charles, Pangeran Andrew, Pangeran William dan Pangeran Harry, semua sudah melewati program wajib masuk dan mengabdikan diri dalam Dinas Kemiliteran Inggris.

Tak ada yang diperbolehkan menolak kewajiban yang paling fundamental ini.

Bahkan Pangeran Harry, sudah pernah menjalani tugasnya untuk ikut bergabung dalam Pasukan Koalisi untuk Perang di Afghanistan.

Hal ini membuat pribadi-pribadi yang menyandang gelar Pangeran dan Putri dari Kerajaan Inggris menjadi pribadi-pribadi yang lebih bermakna dan berkarya penuh.

Usai sudah perhelatan akbar Kerajaan Inggris yang sudah menyihir dunia dengan prosesi pernikahan yang sangat indah dan berkesan.

Kini masing-masing harus kembali ke dunia nyata.

Mata dunia akan tetap tertuju pada sosok Kate Middleton.

Kali ini, tak akan ada lagi menyoroti berapa panjang ekor gaun pengantinnya, siapa perancang gaun pengantinnya, bagaimana polesan make up dan dandanan rambutnya saat menjadi mempelai perempuan di Gereja Westminster Abbey dan berapa kali ciuman mesra di bibir mereka pertontonkan ke hadapan rakyat Inggris dan komunitas internasional.

Semua kini menantikan peran positif apa yang akan dikerjakan dan ditunjukkan oleh Kate Middleton yang kini mempunyai gelar resmi Duchess of Cambridge.

Semanis senyuman Ratu Elizabeth, semanis itu jugalah ternyata senyuman Kate Middleton yang akhirnya mampu memikat dan membuat Pangeran William mempersunting dirinya di hadapan dunia tanggal 29 April 2011.

Tetapi apakah Kate Middleton akan mampu menyamai, menandingi atau bahkan mengalahkan catatan panjang kehebatan dalam konotasi yang sangat positif dan keberanian dari perempuan-perempuan dari Kerajaan Inggris, waktulah yang akan menjawabnya.

Jadi, mari sama-sama kita lihat dan saksikan.

Selamat William dan Kate, Duke & Duchess of Cambridge.

Congratulations !

(MS)


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,904 other followers