
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mendapat sambutan yang sangat meriah ( STANDING OVATION) dari anggota Kongres Amerika saat berpidato tanggak 24 Mei 2011 di Capitol Hill, Washington DC. Setidaknya, sepanjang Netanyahu berpidato itu, ia mendapatkan 29 kali STANDING OVATION dari seluruh anggota Kongres Amerika
Kekecewaan Mahmoud Abbas Dan Hamas Menjelang Obsesi Deklarasi Palestina Merdeka
Jakarta, 31 Mei 2011 (KATAKAMI.COM) — Persis seminggu yang lalu, atau tepatnya 24 Mei 2011, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menjadi bintang di hadapan seluruh anggota Kongres Amerika saat ia diberi podium kehormatan untuk berpidato.
Tak bisa dipungkiri bahwa Netanyahu memang terlihat betul secara terang benderang seakan menjadi anak emas kalangan politisi Amerika saat muncul di podium Kongres Amerika.
Perlu waktu satu minggu untuk mengamati berbagai reaksi atas pidato Netanyahu di hadapan Kongres Amerika.
Komentar paling buruk tentu datang dari pihak Fatah dan Hamas yang mewakili kalangan Palestina.
Yang paling gamblang diutarakan oleh perwakilan Fatah bahwa Netanyahu bukan “A Man Of Peace”.
Ejekan dari pihak Fatah kepada Netanyahu ini patut disayangkan sebab ejekan itu terkesan asbun alias asal bunyi saja !
Netanyahu memang bukan “A Man Of Peace” dalam konotasi yang muluk-muluk.
Siapapun pemimpin di Israel, bukan ” A Man Of Peace” dalam arti kiasan.
Tetapi, seluruh pemimpin di Israel ( baik yang duduk di pemerintahan dan di kalangan militer mereka ) memang terus didorong, diharapkan dan diminta oleh semua komunitas internasional untuk terus membuka peluang perdamaian dengan Palestina.
Justru perdamaian itulah yang sedang diusahakan oleh komunitas internasional untuk bisa terwujud antara Palestina dan Israel.
Dan pidato Netanyahu itu, sesungguhnya bukan atas inisiatif dan kemauan Netanyahu secara pribadi.
Ia diminta dan diundang secara resmi oleh Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Amerika John Boehner untuk berbicara tentang visi dan misi Israel dari sisi politik, pertahanan dan keamanan.

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Amerika, JOHN BOEHNER, kiri, berjalan bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang diundang untuk berpidato secara khusus di hadapan seluruh anggota Kongres Amerika di Capitol Hill, Washington DC, pada tanggal 24 Mei 2011.
Sehingga kalau ada pihak yang merasa tak nyaman dengan pidato Netanyahu, maka yang harus ditanya adalah Ketua DPR Amerika John Boehner, mengapa Boehner berinisiatif harus mengundang Perdana Menteri Israel untuk berbicara di hadapan Kongres Amerika ?
Tetapi kalau ada yang ingin mempertanyakan itu kepada Ketua DPR Amerika, John Boehner, maka pertanyaan itu bisa dipatahkan sebab Kongres Amerika punya hak untuk melakukan kebijakan politik mereka ( termasuk kebijakan mengundang pemimpin negara tertentu untuk menjadi tamu khusus mereka ).
Jadi jika ada yang mengecam pidato Netanyahu di hadapan Kongres Amerika ( bahwa seakan-akan ia tak pantas berdiri di podium Kongres), satu hal yang harus di ingat bahwa jika kita ingin menyampaikan kritik atau kecaman, hendaklah semua kritik dan kecaman itu harus berlandaskan rasionalitas yang terukur dan sangat jelas.
Jika dari kehadiran Netanyahu di hadapan Kongres Amerika, keintiman antara Amerika dan Israel dipertanyakan dan disesalkan oleh sebagian pihak, maka yang mempertanyakan dan menyesalkan hal itu yang justru harus ditanya balik.
“Lho, mengapa kita harus heran ? Sebab dekat dan kuatnya hubungan Amerika dan Israel adalah sesuatu yang sudah bukan menjadi rahasia umum lagi” !”
Kita hanya akan buang waktu jika mempermasalahkan kuatnya Amerika dan Israel bersekutu alias sudah dari sononya mereka begitu.
Mau diapakan lagi ?

Presiden Palestina Mahmoud Abbas bertemu dengan Mohamed Hussein Tantawi selaku pimpinan tertinggi militer Mesir pada hari Senin, 30 Meo 2011, untuk mengucapkan terimakasih kepada Mesir yang telah membuka secara permanen pintu perbatasan menuju Jalur Gaza
Photostream : Palestinian Unity Ceremony in Cairo
Selang beberapa hari dari pidato Netanyahu di hadapan Kongres Amerika, tepat pada tanggal 28 Mei 2011 Pemerintahan baru Mesir ( yang sejak kejatuhan Hosni Mubarak, dijabat oleh kalangan MILITER MESIR sesuai mandat pengunduran diri dari Hosni Mubarak) mengumumkan bahwa mereka memutuskan untuk membuka secara permanen pintu perbatasan di wilayah Rafah untuk masuk ke Jalur Gaza.
Pintu perbatasan ini ditutup secara permanen sejak tahun 2007 lalu ( pasca kemenangan Hamas pada pemilihan umum di Jalur Gaza ).
Dan sehubungan dengan telah dibukanya kembali pintu perbatasan di Rafah, Presiden Palestina Mahmoud Abbas bergegas menemui pimpinan militer Mesir Muhamed Hussein Tantawi yang kini memegang tampuk kekuasaan tertinggi pasca jatuhnya Presiden Hosni Mubarak.
Abbas datang menemui Tantawi pada hari Senin, 30 Mei 2011.
Di hari yang sama ( Senin, 30 Mei 2011), Perdana Menteri Netanyahu juga mengeluarkan pernyataan bahwa pembukaan pintu perbatasan menuju Jalur Gaza dari arah Rafah justru akan membuat situasi keamanan Israel menjadi terancam.
Yang kini perlu dicermati adalah sampai seberapa jauh Israel mengantiasipasi gangguan keamanan pasca dibukanya kembali pintu perbatasan Rafah.
Sebab akan terbuka dengan luas peluang dan kesempatan bagi Hamas untuk membangun konsolidasi mereka untuk lebih memantapkan eksistensi ( termasuk didalamnya peluang untuk menambah dan memperkuat persenjataan jika patut dapat diduga ada pihak-pihak tertentu yang diam-diam hendak memasok senjata ke Jalur Gaza ).
Hamas sendiri menyampaikan pandangan mereka bahwa tidak dibutuhkan pemantau asing pasca terbukanya kembali pintu perbatasan di Rafah.
Melalui salah seorang tokoh terkemuka di kalangan Hamas ,Ghazi Hamad yang berbicara kepada radio lokal pada hari Senin ( 31/5/2011) bahwa tidak dibutuhkan pemantau asing.
Sementara menurut salah seorang tokoh Fatah, Saeb Erekat, mekanisme operasi penyeberangan di Rafah sewaktu-waktu bisa berubah, terutama pasca pembentukan pemerintahan koalisi antara Fatah dan Hamas.

Perbatasan Rafah di wilayah Mesir yang menghubungkan ke Jalur Gaza, Palestina, telah dibuka kembali secara permanen oleh pemerintahan baru Mesir, setelah selama 4 tahun ditutup.
Israel tentu tak senang dengan dibukanya kembali pintu perbatasan Rafah. Sebab, ancaman keamanan bagi negara mereka akan semakin terbuka lebar jika kekuatan bersenjata Hamas bisa meningkat secara fantastis pasca pembukaan pintu perbatasan tersebut.
Pihak oposisi di Israel mempersalahkan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu atas keputusan Pemerintah Mesir membuka secara permanen pintu perbatasan menuju Gaza dari titik Rafah.
Sebenarnya kalau mau jujur, tak ada satupun pihak di dalam Pemerintahan Israel yang pantas dipersalahkan atas kebijakan domestik yang diambil oleh Pemerintahan baru di Mesir ( yang kini dikuasai kalangan MILITER MESIR ).
Benjamin Netanyahu adalah Perdana Menteri Israel, bukan Perdana Menteri Mesir.
Selain Shimon Peres sebagai Presiden, Benjamin Netanyahu adalah pimpinan dari militer Israel ( bukan pimpinan dari militer Mesir ).
Tidak ada satu orangpun di Israel yang bisa melibatkan diri ( baik langsung atau tidak langsung ) dalam setiap pertimbangan dan kebijakan resmi dari pemerintahan baru di Mesir ( pasca jatuhnya Presiden Hosni Mubarak ).
Mesir sedang dalam kondisi yang sangat amat ditekan dan disorot oleh rakyatnya sendiri, plus oleh komunitas internasional, agar secara sungguh-sungguh melaksanakan reformasi.
Bisa jadi, salah satu bentuk reformasi atau perubahan yang sangat signifikan yang mereka anggap sangat populer dan mendatangkan berkah politik yang besar adalah memakai isu Palestina.
Sehingga, perhatian dunia, tak hanya tertuju hal ihwal mengenai Hosni Mubarak sekeluarga ( dalam konteks peradilan ).
Memang harus ada terobosan politik yang jitu dari Pemerintahan baru Mesir untuk mengangkat citra mereka di hadapan rakyatnya, tetangga-tetangganya di kawasan, dan di hadapan komunitas internasional.
Pemerintahan baru di Mesir tak bisa disalahkan dengan kebijakan membuka secara permanen pintu perbatasan menuju Jalur Gaza.
Tetapi, dengan dibukanya kembali pintu perbatasan tersebut, baik angkatan pertahanan ( militer ) di Mesir dan Israel, harus sangat bersiaga penuh meningkatkan kewaspadaan mereka.

Presiden Israel Shimon Peres, berkemeja biru, didampingi pimpinan militer Israel ( IDF Chief of Staff ) Letnan Jenderal Benny Gantz sedang mengunjungi sebuah latihan militer di Israel tanggal 24 Mei 2011.
Kini, dengan dibukanya pintu perbatasan Rafah, maka Israel Defense Forces ( IDF ), tak bisa lagi hanya mengandalkan sistem pertahanan roket tercanggih mereka yaitu IRON DOME.
IRON DOME yang dibangun di perbatasan tertentu antara Israel dan Gaza, diharapkan dapat mematahkan serangan roket dan mortar yang selama ini terus menerus dikirimkan sayap militer Hamas ke wilayah Israel.
Dan kini, dengan dibukanya pintu perbatasan Rafah, maka ancaman keamanan pada IDF tak sekedar dan tak sebatas roket atau mortar semata.
Bisa lebih parah dan bisa lebih serius dari sekedar roket dan mortar.
Hamas, sampai detik ini, masih dinyatakan sebagai grup teroris dan secara resmi nama Hamas masuk ke dalam daftar hitam terorisme di sejumlah negara dan kalangan komunitas internasional.
Bayangkan jika persenjataan Hamas menjadi meningkat lebih hebat pasca terbukanya semua peluang dan kesempatan berhubungan dengan “pihak luar” secara bebas dan leluasa.
Atmosfir peperangan yang sangat buruk harus diantisipasi oleh semua pihak terkait situasi keamanan di Israel dan Palestina pasca dibukanya kembali pintu perbatasan tersebut.
Dan jika peperangan itu sudah semakin tak terelakkan maka ancaman keamanan itu akan menjalar di negara lain yang ada di sekitar Israel dan Palestina.
Semua ini hanya perkiraan yang masih sangat mentah.
Belum teruji. Dan belum terbukti.
Tetapi semua spekulasi inipun akan terpatahkan jika para petinggi Hamas bisa mengendalikan sayap militer mereka untuk tidak memperburuk situasi keamanan.

Presiden Palestina Mahmoud Abbas, kiri, berbincang dengan pimpinan HAMAS, Khaled Meshaal, pada saat Fatah dan Hamas menanda-tangani kesepakatan rekonsiliasi dan persatuan ( UNITY ) di Kairo, Mesir, tanggal 4 Mei 2011
Pemimpin Hamas, Khaled Meshaal, harus memastikan bahwa pihaknya tidak akan menggunakan pembukaan pintu perbatasan Rafah sebagai pintu yang sangat nyaman untuk membangun kesempurnaan persenjataan mereka untuk kepentingan peperangan melawan dan menghancurkan “musuh bebuyutan” mereka selama ini.
Khaled Meshaal harus sangat mampu mengendalikan sayap militernya demi keselamatan kalangan sipil yang kini lalu lalang di pintu perbatasan itu untuk keluar atau masuk dari wilayah Gaza.
Akan jauh lebih baik jika pembukaan pintu perbatasan Rafah secara permanen itu memang murni semurni-murninya digunakan oleh kebutuhan dan kepentingan rakyat ( sipil) Palestina.
Bukan untuk kepentingan yang berbau militeristik ( Hamas ).
Khaled Meshaal juga harus mengingat bahwa tujuan Fatah dan Hamas untuk melakukan reskonsiliasi dan persatuan ( UNITY ) adalah untuk membangun koalisi pemerintahan baru Palestina demi kebaikan rakyat mereka.
Jadi, persatuan ( UNITY ) itu bukan untuk mencari dan menambah masalah baru yang gaungnya akan sangat mendunia, jika ternyata sayap militer Hamas memanfaatkan pembukaan pintu perbatasan Mesir dan Gaza untuk kepentingan militeristik yang tujuan utamanya adalah mengibarkan bendera perang.
Angkatan Pertahanan ( Militer ) Israel, pasti tidak akan ragu-ragu meladeni umpan, provokasi dan tawaran untuk berperang dari pihak Hamas.
Sekecil atau sebesar apapun ancaman keamanan pada wilayah mereka, bisa ditebak bahwa militer Israel pasti akan dengan sangat sigap melakukan serangan balasan.
Dan pasca pembukaan perbatasan Rafah tersebut, maka bisa dispekulasikan bahwa saat ini Israel dalam tahap menunggu.
Atau istilahnya, “Wait and See !”
Tak mungkin mereka akan tenang-tenang saja saat ini pasca pembukaan pintu perbatasan tersebut.
Mereka pasti sudah menganalisa dan memperkirakan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi, jika ada provokasi atau serangan sepihak dari lawan.
Kalau didepan mata, yang tampak hanyalah potensi kontak senjata dan peperangan yang berulang antara Palestina dan Israel, maka peta jalan menuju perdamaian yang selama ini diusahakan oleh semua pihak akan menjadi morat marit.
Lalu, pertanyaannya, masih adakah harapan untuk perdamaian itu bisa terwujud ?
Jika membayangkan potensi kontak senjata dan peperangan itu kembali terbuka lebar, maka siapapun yang duduk di kursi penonton menyaksikan panggung (proses) perdamaian antara Israel dan Palestina, mau tak mau jadi harap-harap cemas.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, tengah, berbincang dengan Kepala Staf Angkatan Pertahanan Israel, Letnan Jenderal Benny Gantz, kiri, saat mereka mengunjungi sistem pertahanan roket, IRON DOME di wilayah Ashkelon, Israel, 10 April 2011
Jadi, saat ini, pimpinan militer di Israel, yaitu Letnan Jenderal Benny Gantz, punya begitu banyak tugas penting yang harus ia tangani sepanjang bulan Juni khususnya, dan bulan-bulan selanjutnya.
Ya Rafah.
Ya Flotilla.
Pembukaan pintu perbatasan Rafah mulai tanggal 28 Mei lalu, harus disikapi dengan tenang dan baik oleh miiliter Israel.
Sebab, akan ada kalangan sipil yang lalu lalang di pintu perbatasan untuk untuk menyeberang berdasarkan kebutuhan hidup dan kepentingan masing-masing.
Kemudian, iring-iringan armada kapal kemanusiaan Flotilla juga dijadwalkan akan menghampiri perairan Israel di bulan Juni mendatang.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa Bangsa ( Sekjen PBB ) Ban Ki-moon sudah memberikan peringatan resmi kepada semua pemerintah agar ( jika ada ) warga negaranya yang ingin berpartisipasi dalam iring-iringan armada Flotilla itu, hendaklah menempuh jalur yang legal.
Hamas tak perlu mengecam Ban Ki-moon.
Tidak ada dari pernyataan Sekjen PBB yang salah terkait himbauan soal Flotilla tersebut sebab PBB berkomitmen sangat tinggi untuk mencegah terjadinya tindak kekerasan ( seperti yang terjadi pada insiden Flotilla di bulan Mei tahun 2010 lalu ).
Melalui himbauannya beberapa hari lalu, Sekjen PBB tidak melarang pemberian bantuan kemanusiaan tetapi menghimbau agar semua pihak yang ingin berpartisipasi dalam armada FLOTILLA PALESTINA itu, hendaknya memberi bantuan kemanusiaan mereka dengan cara yang legal.
Barangkali maksudnya, jangan cari gara-garalah !
Carilah cara yang paling tepat untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan itu untuk rakyat Palestina di Jalur Gaza !
Tampaknya, bulan Juni ini akan menjadi bulan yang sangat sibuk bagi militer Israel.
Ya Rafah.
Ya Flotilla.
Ya Persaatuan ( UNITY ) antara Fatah dan Hamas.
Semua seakan menyapa secara bersamaan sisi politik, pertahanan dan keamanan Israel dari semua penjuru angin.
Tergantung cara dan isi sapaan itu, apakah menyapa secara baik, atau secara kasar dan brutal ?
Hindarilah semua bentuk anarkisme sebab semua upaya yang dikehendaki komunitas internasional adalah segala sesuatu yang memang dapat mempromosikan perdamaian bagi kedua belah pihak.
Janganlah lagi berperang sebab sudah bukan saatnya untuk terus menerus mempertahankan peperangan dan permusuhan yang tak berkesudahan.

Make Peace Not War
Ya Rafah, ya Flotilla, ya Unity, ya apapun juga agenda penting yang hendak atau sedang dilakukan di bulan Juni ini, ya itu itu juga harapan dari komunitas internasional : berdamailah secara langsung.
Jangan buang waktu.
Dan jangan memperpanjang lagi masa penahanan terhadap seorang prajurit Israel yang sudah ditawan sejak tahun 2006 lalu.
Sebab di bulan Juni ini jugalah, masa penawanan terhadap Gilad Shalit memasuki tahun ke-5 ( Gilad ditangkap dan ditawan oleh HAMAS pada tanggal 25 Juni 2006).
Jadi, jika himbauan untuk melepaskan Gilad Shalit disampaikan kepada Hamas, maka himbauan yang senada juga perlu disampaikan kepada Israel.
Israel juga harus mempertimbangkan pelepasan bagi tahanan politik Palestina yang kini ada di penjara Israel, jika nanti pada akhirnya ( mudah-mudahan) Khaled Meshaal dan kalangan Hamas memutuskan untuk membebaskan Gilad Shalit.
Harus sama-sama toh, sama-sama membebaskan.
Sama-sama melakukan dan menunjukkan itikat yang baik.
(MS)
0.000000
0.000000
Like this:
Be the first to like this post.