Jangan Politisasi Urusan Militer Sebab Pramono Edhie Wibowo Layak Jadi KSAD, Komando !

Foto Dokumentasi : Pangdam III/Siliwangi Mayjen TNI Pramono Edhie Wibowo menyelesaikan ujian menembak guna mendapatkan brevet kehormatan Taipur Kostrad di Makodif-I Kostrad Cilodong, Bogor, Jabar, Rabu (6/10/2010)

 

Oleh : Mega Simarmata

 

Jakarta, 8 Juni 2011 (KATAKAMI.COM) — Nama Letnan Jenderal Pramono Edhie Wibowo belakangan menjadi ramai “dibicarakan” di media massa terkait peluangnya menjadi Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) untuk menggantikan Jenderal George Toisutta yang akan memasuki masa pensiunnya per tanggal 1 Juli 2011 mendatang.

Pramono Edhie Wibowo dilahirkan di Magelang, 5 Mei 1955.

Ia adalah anak dari Almarhum Letnan Jenderal TNI (Purnawirawan) Sarwo Edhie Wibowo.

Pramono Edhie Wibowo adalah lulusan AKABRRI Angkatan Tahun 1980.

Berdasarkan keputusan Panglima TNI nomor: Kep/630/IX/2010 tanggal 27 September 2010 dan keputusan Panglima TNI nomor: Kep/642/IX/2010, Pramono Edhie Wibowo ditunjuk menjadi Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat ( Pangkostrad) pada tanggal 28 September 2010.

Pramono Edhie Wibowo mulai berdinas sebagai Pangkostad tanggal 30 September 2010 ( setelah sebelumnya, ia bertugas sebagai Pangdam III / Siliwangi).

Edhie juga pernah berdinas sebagai Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus.

Lalu, selama 5 tahun Edhie pernah bertugas sebagai Ajudan Presiden semasa kepemimpinan Presiden Megawati Soekarnoputri.

Bahwa dalam hubungan kekerabatannya, Pramono Edhie Wibowo dikenal sebagai ipar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, faktor keluarga yang satu ini harusnya tidak dipolitisir.

Rekam jejak seorang prajurit atau track record sepanjang ia bertugaslah, faktor penentu yang wajib dipertimbangkan jika hendak dipromosikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Jangan karena Pramono Edhie Wibowo adalah ipar dari Presiden SBY, muncul spekulasi bahwa peluangnya untuk menjadi KSAD adalah karena faktor nepotisme.

 

TB Hassanudin, Anggota Komisi I DPR-RI dari Fraksi PDI Perjuangan, yang juga Mantan Sekretaris Militer ( Sesmil ) di era kepemimpinan Presiden Megawati Soekarnoputri

 

Dalam percakapan dengan KATAKAMI.COM yang menghubunginya pada hari Rabu (8/6/2011), TB. Hassanudin selaku Anggota Komisi 1 DPR-RI dari Fraksi PDI Perjuangan mengatakan bahwa Pramono Edhie Wibowo memang paling besar peluangnya menjadi KSAD.

“Untuk menjadi KSAD itu, ada beberapa yang layak dipertimbangkan oleh Wanjakti yaitu Wakil KSAD, Pangkostrad, Irjen TNI dan Komandan Komando Diklat. Kalau menurut pendapat saya, peluang terbesar itu ada pada Pangkostrad. Track record dia sangat bagus. Sebab saya ini bekas atasannya. Semasa dia menjadi Ajudan Presiden Megawati, saya atasan langsung para Ajudan Presiden. Semua Ajudan Presiden berada langsung dibawah Sekretaris Militer (Sesmil). Nah dulu, saya yang jadi Sesmil” kata TB Hassanudin.

Menurut TB Hassanudin, Pramono Edhie Wibowo adalah seorang prajurit TNI yang mempunyai rekam jejak dan kemampuan yang baik.

“Siapapun yang pernah menjadii Ajudan Presiden berarti mereka punya kemampuan yang sangat baik. Dulu diantara 4 orang Ajudan Presiden Megawati, Pak Pramono Edhie ini yang paling senior. Dan karena ia yang berasal dari Kopassus, saya melihat bahwa dia sangat paham untuk urusan pengamanan kepala negara. Dan yang membuat saya sangat menghargai Pak Pramono Edhie ini, dia bisa menempatkan diri semasa hubungan Ibu Megawati dan Pak SBY kurang begitu baik. Kita semua tahu kan, waktu itu Pak SBY memutuskan untuk mengundurkan diri dari kabinetnya Ibu Megawati. Tapi sebagai Ajudan Presiden, walaupun Pak Pramono Edhie ini ipar dari Pak SBY, beliau tetap bertugas sangat baik sebagai Ajudan Ibu Megawati sampai selesai menjalani masa kepresidenan” lanjut TB Hassanudin.

Lebih jauh, TB Hassanudin mengatakan bahwa faktor keluarga yang menunjukkan bahwa Pramono Edhie Wibowo adalah ipar dari Presiden SBY jangan dipolitisir.

“Jangan dipolitisir. Memangnya gak boleh berkarier di TNI, kalau misalnya prajurit TNI itu merupakan anggota keluarga dari seseorang yang terkenal di Indonesia ini ? Boleh kan. Saya sebagai bekas atasannya, tidak melihat sesuatu halpun yang salah dari masalah ini. aya tahu kapasitas pribadinya. Saya tahu kualitasnya sebab saya memang bekas atasannya. Tetapi kalau misalnya nanti dia terpilih sebagai KSAD dan melakukan kekeliruan, ya tinggal dikritik saja. Apalagi saya sekarang ada di Komisi I DPR. Jadi, saya menilai bahwa pemberitaan yang terlalu berlebihan dengan menghubung-hubungkan faktor kekeluargaan Pak Pramono Edhie dengan Presiden SBY, terlalu berlebihan. Secara pribadi, saya tetap berkeyakinan bahwa peluang Pak Pramono Edhie ini yang jauh lebih besar untuk menjadi KSAD” kata TB Hassanudin.

TB Hassanudin menghimbau juga kepada Presiden SBY agar pemilihan KSAD ini harus benar-benar sesuai prosedur.

“Begini sajalah, siapapun presidennya, yang terbaik untuk dilakukan adalah menyetujui apapun dan siapapun yang diusulkan oleh Panglima TNI terkait pemilihan KSAD baru. Sebab, nama yang akan diusulkan oleh Panglima TNI itulah, yang sudah disaring oleh Wanjakti. Sehingga pemilihan KSAD itu harus sesuai prosedur. Kalau memang nama Pramono Edhie Wibowo yang diusulkan oleh Panglima TNI, ya Presiden SBY harus menyetujui itu. Tidak perlu sungkan” tegas TB Hassanudin.

 

Foto Dokumentasi : Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI George Toisutta (kiri) menyerahkan Pataka kepada Pangkostrad baru Mayjen TNI Pramono Edhie Wibowo. Mayor Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo yang juga adik dari Ibu Negara Ani Yudhoyono resmi menjabat sebagai Panglima Kostrad menggantikan Letnan Jenderal Burhanudin Amin yang memasuki masa pensiun. Serah terima jabatan Pangkostrad (sertijab) berlangsung di Markas Kostrad Cilodong, Depok, Jawa Barat, Jumat (5/11/2010) dengan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal George Toisutta bertindak sebagai inspektur upacara. Foto : Media Indonesia / MOHAMAD IRFAN/pj

 

Pramono Edhie Wibowo sesungguhnya adalah pribadi yang sangat pendiam, santun dan sangat Njawani.

Sehubungan dengan pengalamannya sebagai Ajudan Presiden Megawati, Pramono Edhie Wibowo sudah menjadi Ajudan Megawati semasa putri sulung Bung Karno itu menjadi Wakil Presiden di tahun 1999 ( dimana Kyai Haji Abdurrahman Wahid yang menjadi Presiden).

Saat Megawati naik menjadi Presiden pada bulan Juli 2001 sampai tahun 2004, seluruh Ajudan ( baik dari Polri, TNI AD, TNI AU dan TNI AL) tetap dipercaya untuk menjadi Ajudan Megawati di Istana Kepresidenan.

Dan Pramono Edhie Wibowo menjalankan tugasnya sebagai Ajudan Presiden sampai detik terakhir Megawati menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia.

Semasa Pramono Edhie Wibowo menjadi Danjen Kopassus, ia mengikuti jejak para pendahulunya yaitu memberikan perhatian penuh pada masalah kesejahteraan prajurit.

Ini terlihat dari sumbangsih Pramono Edhie Wibowo dalam urusan perumahan prajurit.

Dalam percakapan dengan KATAKAMI.COM, Rabu (8/6/2011), Wakil Danjen Kopassus Brigjen. TNI. Agus Sutomo mengatakan bahwa para pimpinan satuan di Kopassus memang selalu memberikan perhatian pada masalah kesejahteraan prajurit.

“Hampir semua pimpinan, baik itu Komandan Jenderal ( Danjen) dan Komandan Group ( Dan Group ) di Kopassus ini memang memberikan perhatian para masalah kesejahteraan prajurit, terutama fasilitas perumahan. Salah satu contoh adalah seperti yang dilakukan oleh Mayor Jenderal Pramono Edhie Wibowo saat bertugas sebagai Danjen Kopassus, saat ini beliau sudah berpangkat Letnan Jenderal dan memimpin Kostrad. Beliau membangun perumahan prajurit dalam bentuk rumah susun di dalam komplek Kopassus ini. Dan rusun itu bisa menampung sekitar 100 KK anggota Kopassus” kata Brigjen Agus Sutomo.

 

Foto Dokumentasi : Danjen Kopasus baru Brigjen TNI Lodewijk Freidrich (kiri), mantan Danjen Kopasus Mayjen TNI Pramono Edhie Wibowo (kanan) bersama Kasad Jenderal TNI George Toisutta (tengah) memberi hormat saat devile pasukan Kopassus seusai upacara serah terima jabatan (Sertijab) di Makopassus Cijantung, Jakarta Timur, Jumat (4/12). Brigjen TNI Lodewijk Freidrich Paulus menggantikan Mayjen TNI Pramono Edhie Wibowo. Foto : Media Indonesia / RAMDANI

 

Jadi, kembali pada masalah peluang Pramono Edhie Wibowo menjadi KSAD, biarkan semua proses mengalir seperti air.

Tak perlu dibendung.

Biarkan mengalir secara alami.

Tanpa harus mengkait-kaitkan keberadaan dirinya sebagai ipar seorang Presiden, Letnan Jenderal Pramono Edhie Wibowo memang layak untuk dipertimbangkan menjadi Kepala Staf TNI Angkatan Darat.

Pramono Edhie Wibowo juga harus mempertahankan kemampuan dirinya untuk menempatkan diri secara baik dalam setiap putaran waktu.

Tetap rendah hati ( low profile ).

Tetap berpegang pada Sumpah Prajurit dan Sapta Marga.

Tetap menjadi kebanggaan baret merah yang selalu dekat dan terus dekat dengan rakyat.

Menjaga jarak yang sama dengan semua kelompok dan golongan sebab prajurit TNI memang tidak diperbolehkan berpolitik.

Harus netral dan profesional.

Komando, Jenderal Edhie !

Anda layak, sangat layak untuk menjadi KSAD.

Kemampuan dan profesionalisme Pramono Edhie Wibowo sebagai prajurit saptamargais tak perlu diragukan lagi.

Dan kepada Presiden SBY, ia pun harus memberikan kesempatan dan peluang yang sama kepada para mantan Ajudan Presiden dan AJudan Wakil Presiden yang masih aktif di kedinasan mereka ( baik di  TNI dan Polri ).

Dengan memberikan peluang dan kesempatan yang sama maka Presiden SBY menunjukkan sikap kenegarawan yang sungguh berkeadilan.

 

(MS)

 

Penulis ( Mega Simarmata ) adalah WARTAWATI yang bertugas di Istana Kepresidenan selama 9 tahun yaitu dari tahun 1999 – 2008 ( terutama semasa Pramono Edhie Wibowo menjadi Ajudan Megawati Soekarnoputri saat menjadi Wakil Presiden dan kemudian menjadi Presiden Republik Indonesia. Saat ini Penulis adalah Direktur dan Pemimpin Redaksi Situs Berita KATAKAMI.COM

About these ads

Comments are closed.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 11,935 other followers