Wakasad Letjen Budiman Penerima Adimakayasa Berpeluang Juga Jadi KSAD

Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Wakasad) Letnan Jenderal Budiman

 

Jakarta, 9 Juni 2011 (KATAKAMI.COM) —-  Empatbelas tahun yang silam, Budiman bertugas sebagai Sekretaris Pribadi (Spri) Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Wakasad) yang dijabat oleh Letnan Jenderal Subagyo HS.

Posisi Budiman sebagai Spri Wakasad adalah pada periode tahun 1997.

Ketika Subagyo HS menjadi Wakasad, yang menjadi KSAD adalah Jenderal TNI Wiranto.

Dan saat Subagyo HS dipercaya menjadi Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD), Budiman ditarik untuk menjadi Koordinator Sekretaris Pribadi (Korspri) KSAD.

Posisi Budiman sebagai Korspri KSAD adalah periode tahun 1998.

Saat Subagyo HS menjadi KSAD ( 16 Februari 1998 sampai  20 November 1999), yang menjadi ( Menhankam / Panglima ABRI ) adalah Jenderal TNI Wiranto.

Perjalanan waktu selama 14 tahun ternyata membawa Budiman menempati posisi yang dulu sempat ditempati oleh Jenderal Subagyo yaitu Wakasad.

Dan satu lagi kursi yang sangat penting lagi di Mabes TNI Angkatan Darat yang pernah diduduki oleh Subagyo HS yaitu kursi KSAD, bisa ditempati oleh Budiman.

Rekam jejak Budiman juga bisa mengimbangi bekas atasannya itu ( Subagyo HS) di lingkungan Istana Kepresidenan.

Kalau di zaman kepemimpinan Presiden Soeharto, Subagyo HS pernah menjadi Komandan Pengawal Pribadi ( Dan Walpri ), Budiman justru menempati posisi yang jauh lebih tinggi di era kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Budiman pernah menjadi Sekretaris Militer Presiden (Sesmilpres) tahun 2008.

Pemimpin Redaksi KATAKAMI.COM Mega Simarmata telah mengenal Budiman sejak meliput di lingkungan Mabes TNI Angkatan Darat tahun 1997.

Ketika itu, Budiman masih berpangkat Letnan Kolonel yaitu saat ia bertugas sebagai Sekretaris Pribadi (Spri) Wakasad Letjen. Subagyo HS.

Budiman adalah sosok yang santun dan begitu tenang dalam pembawaannya.

Ia cukup profesional dan cakap dalam melaksanakan tugas-tugas kedinasannya di lingkungan militer.

 

Dokumentasi Foto : Mayor Jenderal TNI Budiman, lulusan Akabri tahun 1978, dilantik dan diambil sumpahnya sebagai Sekretaris Militer Presiden (Sesmilpres) oleh Menteri Sekretaris Negara Hatta Rajasa, di ruang Kantor Sekretariat Negara, Rabu 16 April 2008. Pengangkatan Budiman sebagai Sesmil menggantikan Mayjen TNI Bambang Sutedjo, berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 22/M/Tahun 2008.

 

Letnan Jenderal Budiman dilahirkan di Jakarta, tanggal 25 September 1956.

Sebelumnya Budiman telah menjalani penugasan di 16 negara, diantaranya Australia, Somalia, Papua Nugini, Denmark, AS dan China, serta berbagai operasi militer mulai Operasi Seroja di Timor-Timur, Operasi Bhakti Trans Kal dan UNOSON di Somalia.

Budiman memulai dinasnya tahun 1979 sebagai Danton Yonzipur Kodam III Siliwangi, kemudian Danki A Yonzipur Kodam III Siliwangi, Dankitar Akabri darat, Pasiops Yondewasa Mentar Darat, Pasiops Yondewasa Tarsis Akmil, Dan Kotakta Yontar Remaja, PS Kasisiapsat Bagbinsat Ditzi, Kasisiapsat Bagbinsat Ditziad, Dandenzipur 6 Kodam VII Tanjungpura.

Budiman kemudian masuk Kopassus sebagai Kazi, Danyon Zipur 10 Kostrad, dan dipercaya sebagai Sespri Wakasad.

Tahun 1998 jadi Korspri KASAD. Setelah menjadi Korspri KSAD, setelah itu Budiman menjadi Danpusdikzi, Paban II/Bindik Spersad.
Pada tahun 2003 diberi kepercayaan menjadi Danrem 061 Surya Kencana Siliwangi, sebelum ditarik sebagai Pamen Denmabesad, Dirjakstra Ditjen Strahan, dan terakhir sebelum dilantik menjadi Sesmilpres, Letjen. Budiman ditugaskan sebagai Perwira Staf Ahli TK III Bidang Politik Keamanan Nasional (Polkamnas).

Letjen. Budiman memiliki tiga anak dari hasil pernikahannya dengan Wanti Mirzanti.

 

Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Wakasad) Letnan Jenderal Budiman, berdiri, bersama Ketua Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) hadir dalam pembukaan temu wicara MK dengan TNI Angkatan Darat di Hotel Aryaduta, Jakarta, Jumat (6/5/2011). Temu wicara tersebut dilakukan untuk meningkatkan pemahaman berkonstitusi dan hukum bagi para perwira TNI AD. Foto : Media Indonesia / SUSANTO/rj

 

Dari hitung-hitungan di atas kertas, sejujurnya peluang Letnan Jenderal Budiman untuk menjadi KSAD lebih besar dari kandidat lain yang namanya masuk dalam bursa KSAD.

Mengapa ?

Sebab posisi Wakasad adalah posisi yang sangat strategis dalam struktur organisasi Mabes TNI Angkatan Darat. Wakasad yang menjadi orang nomor dua di lingkungan TNI AD, tentu menguasai seluruh permasalahan yang ada di dalam lingkungan TNI AD.

Tapi saat ini, tiga nama terkuat yang masuk dalam bursa KSAD adalah Wakasad Letnan Jenderal Budiman, Pangkostrad Letnan Jenderal Pramono Edhie Wibowo dan Komandan Komando Pendidikan Dan Latihan ( Dan Kodiklat TNI AD ) Mayor Jenderal Marciano Norman.

Letnan Jenderal Budiman merupakan lulusan Akabri dari Angkatan tahun 1978.

Budiman penerima anugerah ADIMAKAYASA atau LULUSAN TERBAIK dari Angkatan 1978.

Lalu, Letnan Jenderal Pramono Edhie Wibowo, lulusan Akabri tahun 1980.

Dan Letnan Jenderal Marciano Norman, lulusan Akabri tahun 1978.

Khusus mengenai Budiman dan Pramono Edhie Wibowo, walaupun Wakasad Budiman berasal dari Angkatan yang lebih senior dari Pramono Edhie Wibowo, tetapi dari segi usia Budiman lebih muda.

Budiman akan pensiun pada tahun 2014.

Sementara Pramono Edhie Wibowo memasuki masa pensiunnya tahun 2013.

 

Wakasad Letjen TNI Budiman melakukan kunjungan ke perbatasan. Kehadiran Wakasad untuk melihat secara langsung kesiapan anggota TNI di lapangan dalam melaksanakan tugas mengamankan wilayah perbatasan Entikong, Kalimantan Barat, tanggal 5 April 2011

 

Yang menarik disini adalah saat Budiman menjadi Sekretaris Militer Presiden ( SBY ), Marciano Norman menjabat sebagai Komandan Pasukan Pengamanan Presiden ( Dan Paspampres ).

Sehingga, Presiden SBY sudah tidak asing lagi terhadap 3 nama yang beredar sebagai calon-calon KSAD baru untuk menggantikan Jenderal George Toisutta yang akan resmi memasuki masa pensiunnya per tanggal 1 Juli 2011.

Jika memang 3 nama perwira tinggi TNI ini yang berpeluang paling besar untuk dibahas oleh Panglima TNI dalam rapat Wanjakti ( Dewan Kepangkatan Dan Jabatan Tinggi ) maka hanya akan ada satu nama yang disepakati secara final sebagai calon KSAD untuk diusulkan kepada Presiden SBY.

Kini, Panglima TNI harus sangat cermat memilih yang terbaik dari yang paling baik terkait bursa calon KSAD.

Budiman, Pramono Edhie Wibowo atau Marciano Norman.

Jika Budiman yang dianggap paling tepat untuk menjadi KSAD, maka seluruh pimpinan di lingkungan TNI / Polri akan dipegang oleh Angkatan 1978.

Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono dari Angkatan 1978.

Kapolri Jenderal Timur Pradopo juga dari Angkatan 1978.

Wakapolri Komisaris Jenderal Polisi Nanan Sukarna dari Angkatan 1978.

 

Letnan Jenderal Marciano Norman, saat ini menjabat sebagai Komandan Komando Pendidikan dan Latihan ( Dan Kodiklat TNI AD).

 

( Kebetulan, Budiman dan Marciano Norman juga sama-sama dari Angkatan 1978 ).

Letnan Jenderal Marciano Norman, saat ini menjabat sebagai Komandan Komando Pendidikan dan Latihan ( Dan Kodiklat TNI AD).

Marciano Norman pernah bertugas sebagai Pangdam Jaya.

Sebelum menjabat sebagai Pangdam Jaya, Mayjen TNI Marciano Norman adalah komandan Pasukan Pengaman Presiden sejak tahun 2008.

Bedanya hanya satu, Budiman adalah penerima anugerah ADIMAKAYASA.

Ya, Budiman adalah Lulusan Terbaik Akabri 1978 berasal dari Corps Zeni.

Jadi, siapapun nanti yang akan dipilih untuk menjadi KSAD maka keputusan itu harus dihormati oleh semua pihak.

Entah itu Budiman, Pramono Edhie, ataupun Marciano Norman, mereka adalah perwira tinggi-perwira tinggi TNI AD yang terbaik.

Jadi, dalam hitungan hari Panglima TNI bertugas untuk memilih yang terbaik dari yang terbaik untuk menjadi KSAD baru.

Budiman-kah ?

Pramono Edhie-kah ?

Atau, Marciano Norman-kah ?

Kita tunggu saja …

 

 

(MS)

About these ads

Comments are closed.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 19,601 other followers