Mantan KSAD Subagyo HS : Pengalaman Tempur Wajib Dipertimbangkan Bagi Calon KSAD

Mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal TNI (Purnawirawan) Subagyo HS

Jangan Politisasi Urusan Militer Sebab Pramono Edhie Wibowo Layak Jadi KSAD, Komando !

 

Jakarta, 10 Juni 2011 (KATAKAMI.COM) — Cukup menarik untuk mencermati bursa pemilihan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) menjelang masa pensiun Jenderal George Toisutta per tanggal 1 Juli 2011 mendatang.

Tiga nama yang masuk dalam bursa pencalonan KSAD ini adalah Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Wakasad) Letnan Jenderal Budiman, Panglima Komando Cadangan Strategis (Pangkostrad) Letnan Jenderal Pramono Edhie Wibowo dan Komandan Komando Pendidikan dan Latihan (Dan Kodiklat TNI AD) Letnan Jenderal Marciano Norman.

Tetapi, dua nama yang diprediksi sangat besar peluangnya adalah Wakasad Budiman dan Pangkostrad Pramono Edhie Wibowo.

Untuk membicarakan masalah tersebut, Jumat (10/6/2011) Pemimpin Redaksi KATAKAMI.COM Mega Simarmata melakukan wawancara eksklusif dengan Mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal TNI (Purnawirawan) Subagyo Hadi Siswono.

Mega Simarmata adalah wartawati yang meliput di jajaran ABRI / TNI sejak era tahun 1995, dimulai dari peliputan di jajaran Kodam Jaya, Mabes TNI Angkatan Darat hingga Mabes TNI Cilangkap.

Semasa Jenderal Subagyo HS menjabat sebagai Wakasad dan akhirnya menjadi KSAD, Mega Simarmata sudah meliput di jajaran TNI Angkatan Darat.

Subagyo HS lahir di Piyungan, Jawa Tengah, tanggal 12 Juni 1946 menjadi KSAD dari mulai tanggal 16 Februari 1998 sampai  20 November 1999.

Inilah hasil WAWANCARA EKSKLUSIF kami dengan Jenderal Subagyo HS :

 

Foto Dokumentasi : Jenderal TNI Subagyo HS semasa masih menjabat sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Darat

 

KATAKAMI.COM (K) : Sudah lama tidak bertemu,bagaimana kabarnya Bapak Jenderal Subagyo ?

SUBAGYO HS ( SHS) : Alhamdulilah, kabar baik.

(K) : Sekarang sedang ramai dibicarakan soal bursa pencalonan KSAD. Ada yang menarik disini, Pak Bagyo adalah mantan atasan langsung dari Wakasad Budiman. Tetapi, anda adalah senior dari Pangkostrad Pramono Edhie Wibowo di Satuan Kopassus. Disinilah sisi yang menarik dari figur Jenderal Subagyo HS dalam bursa pencalonan KSAD kali ini. Oke, yang pertama, bagaimana pendapat Pak Bagyo soal Wakasad Budiman ?

(SHS) : Kalau saya dimintai pendapat soal Budiman, jasa beliau ini besar semasa saya menjadi Wakasad dan KSAD. Dari segi kemampuan akademis, kepribadian dan syarat fisik, Budiman termasuk yang memenuhi persyaratan untuk menjadi pimpinan TNI Angkatan Darat. Tapi …

(K) : Wah, ada tapinya ini ..

(SHS) :  Tapi, semua itu tergantung dari faktor nasib dari Tuhan, dan dari penguasa.

(K) : Oh begitu Pak ya. Jadi faktor NASIB yang memegang peranan dalam bursa pencalonan ini ?

(SHS) : Begini, biar saya jelaskan supaya tidak menimbulkan salah paham. Saya mendengar bahwa ada dua calon yang paling potensial untuk menjadi KSAD saat ini.

Budiman dan Edhie Wibowo. Iya toh ?

Ada satu faktor yang sangat penting dari situasi ini yaitu faktor kepercayaan dari penguasa kepada nama yang dianggap paling tepat untuk menjadi pimpinan TNI Angkatan Darat. Kepada siapa, penguasa merasa lebih percaya. Kalau ada kepercayaan yang tinggi, itu memberikan rasa nyaman. Adem rasanya.

(K) : Lalu peran Wanjakti (Dewan Kepangkatan Dan Jabatan Tinggi) dimana, kalau faktor kepercayaan penguasa disebut sangat dominan ?

(SHS) : Lho, Wanjakitu itu bertugas untuk memberikan pertimbangan dari berbagai aspek dan dari berbagai sisi. Plus minus dari semua kandidat akan dibahas.

Ada matrix yang dibuat.

Bagaimana kemampuannya di bidang staf, kemampuan di lapangan, kemampuan intelijen, kemampuan persenjataan, psikotest, semua akan sangat detail dibahas oleh Wanjakti. Jadi, keputusan yang dibuat oleh Wanjakti terkait pencalonan KSAD misalnya, itu hanya merupakan sebuah saran kepada Presiden. Nah, saran dari Wanjakti itu boleh pakai tapi boleh juga tidak dipakai.

(K) :  Sebagai Mantan KSAD, anda lebih menjagokan siapa untuk terpilih sebagai KSAD ?

(SHS) : itu bukan wewenang saya. Tapi secara pribadi, yang dapat saya katakan adalah, kedua nominator dalam pencalonan KSAD ini, semuanya memenuhi kriteria. Budiman dan Pramono Edhie Wibowo sama-sama punya peluang yang besar.

 

Foto Dokumentasi : Presiden Soeharto melantik Jenderal Subagyo HS sebagai KSAD (Kepala Staf TNI Angkatan Darat) di Istana Presiden tanggal 16 Februari 1998 disaksikan KSAU, Marsekal Sutria Tubagus di Jakarta. [Dok TEMPO)

(K) :  Tapi, apa ada catatan khusus dari Pak Bagyo mengenai pengalaman memimpin di TNI AD ?

(SHS) : Begini, salah satu faktor yang sangat dominan untuk dipertimbangkan dalam pengangkatan seorang pimpinan di lingkungan TNI AD adalah pengalaman dan kemampuan tempurnya.

Ya betul, semua aspek akan dipertimbangkan.

Tetapi, ada satu faktor yang begitu penting untuk dijadikan pertimbangan khusus yaitu pengalaman kemampuan tempur seseorang.

Misalnya, saya ini kan berasal dari satuan Kopassus. Di Kopassus, prajuritnya memang dibentuk, dididik dan dilatih untuk bisa tetap tenang dalam situasi yang seberat apapun. Sehingga, prajurit Kopassus memang terlatih untuk bisa mengambil keputusan dengan pikiran yang sangat jernih dan tenang, walaupun dia berada dibawah tekanan.

(K) : Wah, ini ada nuansa solidaritas sesama korps baret berah nampaknya ?

(SHS) : Oh ndak ndak ndak, saya tidak boleh memihak. Saya harus netral. Dan tadi saya sudah bilang, baik Budiman dan Edhie, mereka berdua ini sama-sama punya peluang yang besar. Tapi, anda kan bertanya tentang pengalaman saya memimpin di TNI Angkatan Darat. Nah, saya menjawab dengan jujur sejujur-jujurnya. Faktor pengalaman tempur memang sangat wajib dipertimbangkan jika hendak memilih posisi KSAD ini.

Namanya juga TNI Angkatan Darat, maka domain penugasannya adalah di daratan toh !

Paling  tidak, siapapun yang duduk pada posisi KSAD, dia mutlak harus memiliki kemampuan pengalaman tempur yang sangat baik. Itu tidak bisa ditawar-tawar lagi. Sebab dari pengalaman tempur itulah, seorang KSAD akan mampu memahami segala sesuatu yang berkaitan dengan tugas di Angkatan. Termasuk untuk urusan persenjataan misalnya.

(K) : Oke, apa ada kesan tersendiri terhadap Letnan Jenderal Pramono Edhie Wibowo sebagai junior anda di Baret Merah ?

(SHS) : Saya dapat laporan tentang bagaimana Edhie ini memperhatikan kesejahteraan prajurit dan keluarganya. Setiap ulangtahun Kopassus, saya selalu hadir dalam kapasitas saya sebagai Mantan Komandan Kopassus. Setiap saya hadir, saya kan dapat laporan dari mereka. Pak, sekarang di Kopasus ada pembanguna ini itu, ada perkembangan ini itu, mereka ceritakan situasi dan kondisi prajurit dan keluarganya.

Terus terang saya terharu, Pramono Edhie Wibowo punya perhatian yang sangat besar sekali kepada kesejahteraan prajurit dan keluarganya.

Yang saya dengar, dia membangun banyak sekali rumah susun untuk prajurit dan keluarganya.

Hati saya tersentuh.

Jangan lupa, saya ini bekas komandan Kopassus.

Saya tahu bagaimana susahnya kehidupan prajurit. Itulah sebabnya, siapapun yang menjadi Komandan Kopassus pasti akan memberikan perhatian yang sangat besar untuk kesejahteraan prajurit dan keluarganya. Dan Pramono Edhie Wibowo sangat gigih memperhatikan hal ini. Saya salut kepada Edhie. Jangan kaitkan dia dalam kaitan bahwa dia adalah ipar SBY.

Tapi, kita harus ingat, dia ini anaknya siapa ?

(K) : Kembali pada nominasi pencalonan KSAD, dua nama yang paling besar peluangnya adalah Budiman dan Pramono Edhie Wibowo. Tetapi, ada satu nama lagi yang disebut-sebut layak dipertimbangkan yaitu Komandan Komandi Pendidikan Dan Latihan (Dan Kodiklat TNI AD) yaitu Letnan Jenderal Marciano Norman. Menurut pendapat Pak Bagyo, calon yang harus dipertimbangkan itu cukup 2 orang saja atau bisa lebih ?

(SHS) : Lho, ketika saya menjadi KSAD, saya yang berinisiatif untuk menambahkan jumlah calon nominator untuk menjadi KSAD. Jadi jangan cuma Wakasad dan Pangkostrad saja.

Dulu, saya ingin agar kebijakan ( policy ) dari pimpinan TNI Angkatan Darat itu bisa berkesinambungan, walaupun orangnya sudah berganti. Sehingga, dalam hemat saya, posisi-posisi yang bisa memahami dan melanjutkan kebijakan Angkatan Darat adalah Wakasad, Pangkostrad dan Dan Kodiklat. Sehingga, pemikiran saya ini menjadi masukan bagi internal Angkatan Darat. Agar pemikiran saya ini bisa terwujud, Mabes TNI AD menjadikan semua pusat pendidikan (pusdik) berada di bawah satu atap dengan Kodiklat.

Dengan demikian, tanggung-jawab dari Kodiklat menjadi lebih besar dan posisi Komandan Kodiklat harus dinaikkan pangkatnya menjadi Letnan Jenderal. Ketika saya jadi KSAD, yang menjadi Dan Kodiklat adalah Mayjen. TNI Luhut Panjaitan. Tapi walaupun Mabes TNI menaikkan pangkat Dan Kodiklat jadi Letnan Jenderal, ternyata Dan Kodiklat yang dapat rezeki Letjen bukan Luhut, melainkan Sumardi. (Subagyo tertawa). Dari Kodiklat, Luhut dapat tugas jadi Dubes RI di Singapura toh. Dia tetap jadi Letjen tapi bukan sebagai Dan Kodiklat.

 

Pasukan TNI, khususnya dari Satuan KOPASSUS, memimpin proses evakuasi terhadap korban letusan Gunung Merapi, 5 November 2010

 

(K) : Yang terakhir, apa harapan dari Pak Subagyo untuk Angkatan Darat, siapapun nanti yang akan dipilih sebagai KSAD ?

(SHS) : Harapan saya, TNI Angkatan Darat harus tetap profesional dan terus mampu melaksanakan tugas yang diemban. Pembinaan teritorial harus tetap dilakukan dengan baik. Angkatan Darat tidak boleh jauh dari rakyat. Sebab jatidiri Angkatan Darat adalah kemanggulangannya dengan rakyat.

Contohnya saja waktu terjadi bencana di Gunung Merapi.

Siapa yang dikerahkan untuk membantu rakyat disana ? TNI !

Maaf saja, saya bukan sembarang bicara. Tidak cuma melakukan evakuasi atau pembangunan barak pengungsi, yang diperintahkan ng0prak-oprak sampai ke puncak Gunung Merapi waktu meletus tahun lalu, sopo ?

Tahu artinya ngoprak-ngoprak ? Opo yo artine ?

Yang anu itu lho, nyari-nyari warga yang tidak mau dievakuasi, nyanyi korban tewas yang masih terkubur dibawah puing-puing reruntuhan bangunan, yang melakukan semua itu siapa ? TNI !

Saya tidak bicara soal keberadaan Kopassus ya. Yang saya sorot disini adalah keterlibatan TNI dalam setiap situasi dan kondisi sesulit apapun demi kebaikan dan kepentingan rakyat Indonesia. TNI selalu ada untuk rakyat Indonesia sampai kapanpun.

Jadi sekali lagi, untuk masalah KSAD baru, saya tidak memihak kepada siapapun. Itu sudah ada yang mengurusi. Dan seperti yang saya bilang tadi, tergantung pada masalah nasib dan penguasa. Dalam hal ini tergantung Presiden juga. Tetapi, yang harus diingat disini faktor pengalaman tempur dari para nominator harus dipertimbangkan. Bahkan, faktor pengalaman tempur itu harus menjadi pertimbangan khusus.

(K) : Baik, terimakasih Pak Bagyo ya. Dan selamat ULANG TAHUN untuk tanggal 12 Juni nanti. Semoga sehat selalu dan bahagia bersama keluarga.

(SHS) : Terimakasih. Terimakasih. Terimakasih Mega ya …

 

(Selesai)

About these ads

Comments are closed.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 11,935 other followers