Wakasad Letjen. TNI Budiman : Hubungan TNI Dengan Rakyat Dari Dulu Memang Dekat

Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat Letjen. TNI. Budiman

 

 

Jakarta, 26 Juli 2011 (KATAKAMI.COM) — Pengabdian memang tidak mengenal batas ruang dan waktu. Begitu juga yang dialami oleh prajurit-prajurit TNI. Namun, resiko tugas tetap terbuka didepan mata. Salah satunya adalah gugur di medan tugas.

Seperti yang terjadi pada pekan lalu di Papua yaitu pada hari Kamis, 21 Juli 2011.

Seperti yang diberitakan oleh Media Indonesia Online edisi Jumat 22 Juli 2011, aksi penembakan dari kelompok separatis Organisasi Papua Merdeka (OPM) terhadap aparat TNI Yonif 753 AVT Nabire kembali terjadi di Kabupaten Puncak Jaya, Provinsi Papua, kemarin.

Penembakan terjadi di kawasan Pintu Angin, Kampung Yambi, Distrik Mulia, kemarin sekitar pukul 09.20 WIT. Korban bernama Pratu Lukas Yahya Kafiar, gugur seketika ditembak oleh warga bersenjata persis di bagian kepala.

Penembakan terjadi saat sejumlah personel TNI menggelar patroli pengamanan di Kampung Yambi. Aparat TNI yang sedang melintas mendadak diserang sekelompok warga bersenjata berjumlah 5-10 orang.

Dalam serangan mendadak ini, Pratu Lukas Yahya Kafiar tertembak di bagian kepala dan tembus ke belakang. Korban gugur sebelum sempat mendapatkan pertolongan. Usai beraksi, para pelaku penembakan melarikan diri menuju hutan di sekitar lokasi kejadian.

Untuk membahas mengenai masalah ini, KATAKAMI.COM melakukan WAWANCARA EKSKLUSIF dengan Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat Letnan Jenderal TNI Budiman.

Letnan Jenderal Budiman, lahir di Jakarta 25 September 1956. Ia adalah lulusan terbaik Akabri Darat Tahun 1978 dan merupakan peraih Bintang Adhi Makayasa.

Wawancara ini dilakukan pada hari Selasa ( 26/7/2011). di ruang kerja Wakasad di Lantai 2 Mabes TNI Angkatan Darat, Jalan Medan Merdeka Utara Jakarta.

Dan inilah WAWANCARA EKSKLUSIF kami dengan Wakasad Letnan Jenderal TNI. Budiman :

 

Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Wakasad) Letnan Jenderal TNI Budiman

 

KATAKAMI (K) : Pak Wakasad, pekan lalu seorang prajurit TNI Angkatan Darat gugur di Papua atas nama Pratu Lukas Yahya Kafiar. Bagaimana sebenarnya kondisi riil di Papua dari sudut pandang TNI Angkatan Darat.

Wakasad Budiman (B) : Kondisi keamanan di Papua sebetulnya sudah membaik. Kegiatan TNI Angkaran Darat di Papua, lebih banyak pada kegiatan pembinaan teritorial dengan melaksanakan bakti TNI.

(K) : Bagaimana pengaturan atau interval waktu untuk pelaksanaan bakti TNI tadi ?

(B) : Secara rutin per tahun diadakan TNI Manunggal Masuk Desa (TMMD). Ini kegiatan rutin. Tapi khusus di Papua, TNI AD sedang mengajak masyarakat di daerah pedalaman untuk membangun desanya. Itu banyak dilakukan di daerah, tempat terjadinya insiden penembakan terhadap personil kami. Nah, tentunya didalam melaksanakan kegiatan TMMD ada anggota yang harus tetap melakukan patroli untuk mengamankan. Itulah yang terjadi pekan lalu. Anggota kami yang sedang melakukan patroli pengamanan itulah yang ditembak oleh para separatis tersebut.

(K) : Kalau menurut informasi yang diperoleh TNI Angkatan Darat dari hasil pemantauan di lapangan, apakah cukup banyak persenjataan yang dimiliki kelompok separatis Papua ?

(B) : Mereka punya senjata yang cukup tetapi tidak terlalu signifikan. Bisa disebut cukup dari segi jumlah.

(K) : Jika dibandingkan dengan persenjataan prajurit TNI Angkatan Darat sendiri, bagaimana perbandingannya ?

(B) :  Tentu jauh lebih baik persenjataan yang dimiliki oleh  TNI Angkatan Darat ! Hanya memang, didalam perang atau pertenpuran gerilya, mereka sudah lebih dulu menguasai medan. Sedangkan prajurit yang berpatroli ini, tentu penguasaan medannya pada posisi yang lemah.

(K) : Berdasarkan kebijakan di SUAD ( Staf Umum Angkatan Darat), jika ada prajurit yang gugur seperti itu, seperti apa bentuk Markas Besar TNI Angkatan Darat kepada keluarga korban ?

(B) : Kami mempunyai berbagai santunan, antara lain Asabri yaitu Asuransi ABRI dulu, santunan dari Mabes TNI Angkatan Darat ada, santunan dari Mabes TNI juga ada. Dan dari Yayasan Kartika Eka Paksi, juga memberikan perhatian.

(K) : Saat ini, bagaimana tingkat kesejahetaran prajurit TNI Angkatan Darat, termasuk yang bertugas di daerah terpencil seperti Papua ?

(B) :  Kalau kita bandingkan dengan skala US dolar pada periode 7 atau 8 tahun yang lalu, take home pay prajurit TNI tidak lebih dari 100 dolar. Nah, kalau sekarang, take home pay prajurit TNI sudah hampir USD 400. Ini untuk prajurit yang baru keluar atau tamtama. Ini yang murni diterima. Kalau misalnya mereka berdinas di Papua atau daerah terpencil, mereka akan mendapatkan tunjangan terhadap kenaikan harga.

(K) : Itu tunjangan apa namanya, Pak ?

(B) : Tunjangan Daerah Terpencil.

(K) : Bagaimana pembagian daerah yang bisa mendapatkan tunjangan seperti itu bagi prajurit yang bertugas di daerah ?

(B) :  Misalnya, Papua dan daerah-daerah yang letaknya di pelosok sekali. Kalau Kalimantan tidak termasuk dalam kategori ini. Sementara Papua, memang masuk dalam kategori ini sebab untuk suplai logistik saja harus menggunakan pesawat terbang sehingga harga satuan disana menjadi lebih mahal. Kemudian, ada juga personil dari batalyon lain yang bertugas menjaga perbatasan tersebut yang akan mendapatkan tunjangan ini. Mereka akan mendapatkan tunjangan ini, diluar dari take home pay yang memang menjadi hak mereka.

(K) : Jadi, berapa total angka yang akan diperoleh prajurit TNI kalau memang mereka berdinas di daerah terpencil ?

(B) :  Yang jelas, sepanjang mereka bertugas akan dijamin penuh. Makanan, kesehatan, termasuk uang saku. Ini cukup lumayan untuk mereka.

(K) : Karena memang kemampuan keuangan negara sangat terbatas, bagaimana para pimpinan di TNI Angkatan Darat mengantisipasi masalah kesejahteraan prajurit ?

(B) : Kami berusaha memenuhi hak-hak prajurit ini agar benar-benar sampai pada mereka. Contohnya pakaian mereka, kami usahakan agar kualitasnya baik. Lalu, sampai kepada mereka, tepat waktu, tepat ukurannya, dan tepat segalanya. Kemudian, memperhatikan kesehatan mereka sampai ke satuan-satuan yang terpencil sekalipun. Lalu, di daerah Papua, yang semula beras berupa uang tetapi khusus kepada prajurit di Papua akan diberikan dalam bentuk beras dalam kualitas bagus. Sedangkan masalah perumahan, kami upayakan agar ke depan bisa mendapatkan perhatian yang lebih baik. Saat ini, kalau untuk satuan batalyon tempur, mereka mendapatkan perumahan yang cukup. Tetapi untuk satuan teritorial atau kewilayahan, mereka masih terbatas. Sehingga, di Koramil hanya terdapat perumahan yang terbatas.

(K) : Pak Wakasad, apa pesan atau harapan yang bisa disampaikan kepada masyarakat ?

(B) :  Dari pengalaman saya menjabat sebagai Pangdam, Danrem, Danyon dan Komandan Kompi, hubungan TNI dengan rakyat adalah hubungan yang sangat erat. Dari dulu memang sudah dekat. Sebab, nasibnya sama dengan rakyat Indonesia pada umumnya. Sehingga untuk bisa mendeteksi suara rakyat, para prajurit ini sama dengan rakyat. Hubungan TNI dengan rakyat memang sangat bagus. Dan itu yang harus tetap dilanjutkan.

(K) : Baik, terimakasih Pak Wakasad.

 

 

(MS)

Comments are closed.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,963 other followers