Wakapolda Metro Jaya Brigjen. Suhardi Alius : Polda Metro Jaya Siaga Satu Amankan Jakarta

Dokumentasi Foto : Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Metro Jaya Inspektur Jenderal Polisi Sutarman (kiri) memasang tanda jabatan kepada Wakil Kepala Kepolisian Daerah (Wakapolda) Metro Jaya yang baru Bigjen Pol Suhardi Alius (kanan) di Markas Polda Metro Jaya, Jakarta, Senin (21/2/2011).

 

WAWANCARA EKSKLUSIF 

 

Jakarta, 27 Agustus 2011 (KATAKAMI.COM) — Dengan kekuatan penuh yang mereka miliki, saat ini Polda Metro Jaya memerintahkan kepada seluruh jajarannya untuk tidak meninggalkan tugas mereka untuk pengamanan lebaran. Tingginya tingkat urgensi untuk mengamankan wilayah dalam suasana lebaran seperti ini, membuat aparat kepolisian menetapkan kebijakan siaga satu dalam tugas utama mereka.

Dan persis di hari Sabtu (27/8/2011) yang menjadi puncak arus mudik menjelang Hari Raya Idul Fitri 1432 H, sebuah insiden terjadi yaitu pembajakan Kereta Api Gajayana jurusan Malang – Jakarta.

Seorang oknum aparat TNI Angkatan Laut bernama Sertu Darso melakukan pembajakan lewat cara memasuki ruangan masinis dengan membawa senjata api mainan jenis AIRSOFT GUN dan senjata tajam.

Berkat kerjasama yang baik antara Kereta Api Indonesia (KAI), Polda Jawa Barat dan Polda Metro Jaya, aksi pembajakan tersebut berhasil dilumpuhkan oleh aparat kepolisian dari jajaran Polda Metro Jaya.

Untuk membahas masalah pengamanan Jakarta, termasuk soal kasus pembajakan Kereta Api Gajayana, KATAKAMI.COM melakukan WAWANCARA EKSKLUSIF dengan Wakil Kepala Kepolisian Daerah (Wakapolda ) Metro Jaya Brigadir Jenderal Suhardi Alius di ruang kerjanya, di Markas Besar Polda Metro Jaya, Jalan Jenderal Sudiman Jakarta, Sabtu (27/8/2011) sore.

Inilah hasil WAWANCARA EKSKLUSIF KATAKAMI.COM dengan WAKAPOLDA METRO JAYA BRIGJEN. DRS. SUHARDI ALIUS, MH :

 

Dokumentasi Foto : Wakil Kepala Kepolisian Daerah (Wakapolda) Metro Jaya yang baru Bigjen Pol Suhardi Alius (kanan) berjabatan tangan dengan Wakapolda yang lama Brigjen Pol Putut Eko Bayuseno sesudah acara serah terima jabatan (Sertijab) di Polda Metro Jaya, Jakarta, Senin (21/2/2011).

 

KATAKAMI (K) :  Pak Wakapolda, persis disaat memasuki puncak arus mudik lebaran, hari ini terjadi insiden pembajakan Kereta Api Gajayana dari jurusan Malang ke Jakarta. Apa yang bisa disampaikan Polda Metro Jaya mengenai insiden ini, Pak ?

Suhardi Alius (SA) :  Kami mendapatkan laporan dari anggota kami sekitar jam 07.30 WIB bahwa ada kereta yang mencurigakan dari arah daerah Cirebon menuju Jakarta. Kereta ini sudah diikuti oleh anggota polisi setelah masinis secara diam-diam memberikan tanda bahaya.

Jadi, kalau dipesawat adalah tanda untuk meminta pertolongan Mayday Mayday.

Begitu tanda bahaya itu diberikan secara diam-diam oleh masinis, anggota polisi langsung mengikuti kereta ini. Sebab sepanjang jalur Pantura, Polri menempatkan pasukan Brimob untuk mengamankan arus mudik.

Nah, kronologis awalnya terjadi saat kereta ini berada di Stasiun Trisi yaitu enam stasiun setelah Cirebon, kereta ini berjalan sekitar 40 km / jam.

Ada orang yang tiba-tiba melompat mau naik ke tempat masinis dengan membawa tombak. Dia berhasil masuk ke ruang masinis dan langsung mengatakan , “Saya anggota”. Dia membawa senjata yang sangat mirip dengan senjata yang asli. Lalu dia juga membawa senjata pisau yang panjang. Terus dia bilang kepada masinis, “Saya minta semua rambu-rambu dan sinyal-sinyal ini dibuka, jangan berhenti. Bawa saya ke komandan saya”.

Berhubung masinis ini orang sipil, dia langsung ketakutan melihat pistol dan senjata tajam. Dia kirim sinyal ke Jakarta bahwa kereta 7101 dibajak arah Jakarta dengan permintaan semua sinyal dibuka untuk mendapat prioritas.

Begitu ada sinyal bahaya begitu, Jakarta langsung siap-siap. Polda Metro Jaya yang dikontak.

Dimana mau kita sikat ?

Nah, daerah yang paling kuat pengamanannya dalam situasi mudik begini adalah Stasiun Kereta Api Senen. Jadi di Stasiun Senen kami sergap dan kami lumpuhkan. Itupun dia tetap tidak mau menyerahkan diri pada saat anggota kami mengeluarkan tembakan peringatan. Terpaksa anggota kami melompat ke kereta api untuk mengamankan pembajak ini.

(K) : Sebenarnya ada berapa orang yang membajak kereta api ini ?

(SA) : Hanya sendirian.

 

Aparat Kepolisian dari satuan BRIMOB menangkap oknum pelaku pembajakan Kereta Eksekutif Gajayana Lebaran rute Malang-Gambir di Stasiun Senen, Sabtu (27/8/2011). Menurut Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut Laksamana Pertama Untung Suropati, yang melakukan aksi pembajakan kereta api Gajayana memang benar anggota TNI AL atas nama Sertu Darso, anggota Yon Marinir Pertahanan Pangkalan Lantamal III Jakarta

 

(K) : Lalu, yang mengalihkan kereta api ini sehingga bisa digiring masuk ke Stasiun Kereta Api Senen, siapa ? Kan menurut informasi, harusnya kereta api ini tidak masuk ke arah Senen melainkan ke Stasiun Gambir. Kok bisa masuk ke Stasiun Senen ?

(SA) : Itu bukan permintaan dia (pembajak). Dia justru tidak tahu. Dia kan  tidak mengerti jalannya kereta api ini ke arah mana. Dari hasil koordinasi antara pihak Kereta Api yaitu Daerah Operasi II KAI dan Polda Metro Jaya maka diputuskan agar kereta ini digiring di jalur 4 saja agar bisa masuk ke Stasiun Senen.

(K) : Apakah masinis tahu bahwa setelah dia mengirimkan tanda bahaya, dia sudah dikawallah istilahnya oleh aparat kepolisian untuk membereskan masalah pembajakan ini?

(SA) : Masinis itu samasekali tidak tahu bahwa di belakangnya sudah ada pasukan Brimob yang lengkap dengan senjata mengikuti di jalur belakang mereka. Masinis tidak tahu, di stasiun mana pembajak ini akan disikat oleh aparat. Jadi dia tidak tahu bahwa kereta api itu akan digiring untuk masuk ke stasiun mana di Jakarta ini.

(K) : Maksud kami, apakah si Masinis ini tidak tahu bahwa dia sudah dalam posisi terkawal dengan baik oleh aparat kepolisian untuk memberikan bantuan ?

(SA) : Masinis merasa yakin bahwa bantuan akan segera didatangkan sebab dia tahu bahwa dia sudah mengirimkan sinyal tanda bahaya ke Jakarta. Jadi dia percaya bahwa sinyal tanda bahaya itu akan direspon. Tidak mungkin didiamkan.

(K) : Jadi, operasi penanganan pembajakan ini ditangani secara baik berkat kerjasama 2 Polda ya, Pak ?

(SA) : Ya betul, Polda Jawa Barat dan Polda Metro Jaya.

(K) : Bisa lebih diperjelas Pak, bagaimana dan dimana posisi anggota Brimob yang ditugaskan mengikuti kereta api Gajayana ini ?

(SA) :  Begitu ada tanda bahaya tadi, 15 orang anggota Brimob diperintahkan mengikuti kereta itu dengan menggunakan lokomotif sendiri di jalur lintasan kereta api yang sama yaitu di jalur 4. Jalur 4 memang sudah sengaja dikosongkan untuk bisa mengejar. Polisi kan harus punya beberapa pilihan. Oke, mau disikat di stasiun mana ? Kalau tidak berhasil dihentikan, maka akan disergap dari arah belakang. Tapi ternyata bisa dihentikan di Stasiun Senen. Begini, selama masa arus mudik ini, di setiap stasiun kereta api itu ada satuan tugas yang lengkap yaitu dari unsur TNI, Polri dan Dinas Perhubungan. Jadi semua aparat memang dalam kondisi yang siaga. Tapi harus kami akui bahwa kekuatan pengamanan yang paling full saat mudik ini adalah di Stasiun Senen yaitu menempatkan sekitar 183 anggota Kepolisian dari Polda Metro Jaya.

(K) : Jadi, walaupun kereta api ini belum tiba di Stasiun Senen, aparat kepolisian disana sudah diberitahu bahwa akan ada kereta api yang sedang dibajak masuk ke Stasiun Senen ?

(SA) : Sejak awal, anggota kepolisian yang bertugas disana sudah diberitahu. Tapi polisi tidak mau meresahkan masyarakat yang ada disana. Kami memutuskan agar situasi tetap normal dulu agar tidak menimbulkan kepanikan. Warga yang melihat keberadaan anggota Brimob bersenjata lengkap, pasti akan mengira bahwa itu adalah untuk pengamanan arus mudik saja. Padahal ada pasukan Brimob yang bersenjata lengkap disana sedang berkonsentrasi untuk menyergap pembajak itu.

Setelah pembajak itu berhasil ditangkap, saya ada disana bersama Kepala Staf Garnisun Jaya ( Brigjen. TNI. B. Hermanto).

Pelaku diinterogasi dan mengaku sebagai anggota TNI. Saat diinterogasi itu, dia memakai kalung pasukan.

Akhirnya setelah dilakukan pemeriksaan, dapat dipastikan bahwa pelaku adalah oknum aparat. Dari hasil pemeriksaan tes urine  ditemukan amphetamine dan morfin. 

(K) : Bagaimana Polda Metro Jaya mengevaluasi kejadian ini. Bayangkan kalau sampai terjadi kecelakaan kereta api karena insiden pembajakan ini. Ribuan pemudik bisa jadi korban. Bahaya sekali insiden semacam ini ya, Pak ?

(SA) : Ya betul. Itu sebabnya, kami sangat menghargai koordinasi yang sangat baik antara pihak Kereta Api dengan Jajaran Kepolisian. Sinergitas inilah yang membuat kasus ini dapat ditangani dengan baik. Kalau kereta ini tidak bisa ditangani dengan baik, mereka bisa masuk ke jalur yang sangat ramai. Operasi kali ini sangat baik karena bisa digiring ke jalur yang khusus untuk menghindarkan korban dari pihak masyarakat yang hendak mudik.

(K) :  Jadi, untuk mengamankan arus mudik ini, apa yang bisa dimaksimalkan dari pihak Kepolisian untuk memberikan pengamanan penuh kepada masyarakat yang akan mudik dari arah Jakarta ke berbagai daerah ?

(SA)  :  Anggota Kepolisian sudah ditempatkan di masing-masing stasiun. Bahkan ada polisi yang juga ditugaskan masuk ke dalam Kereta Api yaitu Polsuska atau Polisi Khusus Kereta Api. Kami memang bekerjasama penuh dengan Pihak Kereta Api. Kami tempatkan juga sniper-sniper (penembak jitu).

(K) : Lalu, bagaimana penilaian Polda Metro Jaya terhadap kasus pembajakan kereta api Gajayana ini ?

(SA) :  Ya, ini hanya kasuistik. Begitu dicek lewat tes urine di RSPAD Gatot Subroto, ternyata dia berada dibawah pengaruh narkotik. Kami kan harus benar-benar cek latar belakangnya. Saat di interogasi, dia mengaku melakukan hal ini karena harus secepatnya bertemu komandan. Begitu dia ngomong begitu, kami sudah langsung tahu bahwa anak ini ngawur. Ngelantur. Ternyata dia jadi ngawur begitu karena pengaruh amphetamine dan methamphetamine.

Itulah makanya dibutuhkan pengawasan yang sangat ketat kepada seluruh anggota agar terhindar dari penggunaan narkotika seperti ini.

Kalau dari hasil lab dicantumkan bahwa anak ini memakai dua jenis tadi yaitu amphetamine dan methamphetamine positif morfin. Ganja negatif. Hanya ada 2 jenis tadi.

Jadi, dia dikuasai halusinasi yang sangat tinggi. Dia juga membawa senjata Airsoft Gun. Banyak dijual di Mal Mal senjata mainan seperti ini. Tapi orang sipil kan tidak tahu apakah ini senjata betulan atau mainan.

 

Markas Polda Metro Jaya di Jalan Jenderal Sudirman Jakarta

 

(K) : Oke, kita bicara soal pengamanan arus mudik dan pengamanan lebaran secara keseluruhan di wilayah DKI Jakarta. Berapa jumlah anggota yang diturunkan oleh Polda Metro Jaya ?

(SA) :  Kami mengerahkan sekitar 18.440 anggota untuk pengamanan lebaran se-Jakarta. Diluar itu, ada 200 anggota Lantas Polda Metro Jaya diperbantukan di Jalur Pantura untuk membantu kelancaran disana. Jadi, kekuatan yang kami turunkan adalah kekuatan penuh untuk mengamankan sentra-sentra yang ada.

Lalu, satu hari sebelum lebaran, fokus utama kami adalah mengamankan pemukiman-pemukiman pendudukan yang kosong.

Saat ini, kerawanan itu terletak pada pergerakan warga dari satu tempat ke tempat lain dalam arus mudik. Tapi nanti, kerawanan itu akan bergeser menjelang satu hari menjelang Lebaran.

Itulah sebabnya kami akan mengamankan pemukiman penduduk, perkantoran, perbankan, kedutaan-kedutaan asing dan sentra lainnya.

(K) :  Ancaman terbesar disaat Jakarta sepi ditinggalkan oleh mayoritas warganya dalam suasana libur panjang begini apa saja, Pak ?

(SA) : Yang paling berbahaya adalah pemukiman penduduk yang kosong karena ditinggal mudik oleh para penghuninya. Ini yang jadi sasaran. Yang lainnya masih dalam batas toleransi kami untuk diamankan.

(K) : Pesan apa yang bisa disampaikan oleh Polda Metro Jaya kepada masyarakat yang hendak mudik meninggalkan Jakarta ?

(SA) :  Sebelum meninggalkan rumah, sebaiknya mereka berkoordinasi dulu dengan pihak lingkungan setempat. Titipkan rumahnya dalam keadaan terkunci. Listrik dimatikan supaya menghindari kebakaran. Dan kalau ada apa-apa, segera hubungi aparat kepolisian karena kami stand by untuk pengamanan Jakarta.

(K) : Jadi saat ini, tidak ada satupun anggota Polda Metro Jaya ini yang bisa cuti ya ?

(SA) : Oh tidak ada yang bisa cuti dalam situasi seperti ini ! Kalau misalnya ada yang minta cuti berarti dia tidak sanggup bertugas di Polda Metro Jaya. Semua harus masuk karena perintah dari Pak Kapolda, saat ini pengamannya siaga satu. Jadi sampai H plus 7 Lebaran, Polda Metro Jaya siaga satu mengamankan Jakarta.

Semua anggota wajib siaga satu dalam stiuasi begini sebab memang itulah perintah dari pimpinan kami yaitu perintah dari Bapak Kapolda Metro Jaya Irjen. Polisi Untung S. Rajab.

(K) Baik Pak Wakapolda, terimakasih untuk wawancara ini.

(selesai)

About these ads

Comments are closed.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 19,663 other followers