Musibah Bahorok Musibah Kelambatan Negara Tangani Bencana Transportasi

Foto udara diambil oleh Tim Paskhas TNI AU yang menunjukkan kondisi pesawat Casa tersangkut di pohon di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), Bahorok, Jumat (30/9/2011). Foto : ANDRI GINTING / SUMUT POS

 

Jakarta, 1 Oktober 2011 (KATAKAMI.COM) — Setelah menunggu dengan cemas selama dua hari sejak Kamis (29/9/2011), akhirnya keluarga korban dari musibah jatuhnya pesawat Cassa 212-200 yang jatuh di Gunung Kapur, Bahorok, Langkat, Sumatera Utara mendapat kepastian bahwa seluruh penumpang dalam kondisi meninggal dunia.

Seperti yang diberitakan ANTARA, Sabtu (1/10/2011), Direktur Operasi dan Latihan Basarnas Marsma TNI Sunarbowo Sandi mengatakan, seluruh penumpang pesawat milik maskapai PT Nusantara Buana Air (NBA) itu ditemukan telah tewas oleh tim SAR yang dikirim untuk melakukan pencarian.

Dari informasi yang diterima Sabtu pukul 10.55 WIB itu, seluruh penumpang pesawat milik NBA tersebut meninggal dunia di kursi masing-masing.

Untuk membantu evakuasi jenazah korban pesawat, pihaknya mengirimkan satu tim lagi ke lokasi jatuhnya pesawat tersebut.

Pihaknya belum mengetahui penyebab tewasnya penumpang pesawat yang berjunmlah 14 orang dan kru sebanyak empat orang itu.

Pihaknya menyerahkan penyelidikan penyebab kecelakaan dan tewasnya penumpang tersebut ke Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) yang telah tiba.

“Selaku tim SAR, kami hanya menyelamatkan korban,” katanya.

Menurut catatan, pesawat Casa 212 milik maskapai NBA yang terbang dari Bandara Polonia menuju Kutacane, Aceh Tenggara jatuh di hutan Bahorok, Kamis pagi.

Maskapai NBA yang melakukan pencarian menemukan pesawat yang jatuh itu di koordinat 03 derajat 23 menit 80 detik lintang utara dan 09 derajat 80 menit 21 detik bujur timur.

 

Pesawat Cassa C 212 berpenumpang 18 orang jatuh di kawasan Gunung Kapur, Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Musibah itu terjadi beberapa saat atau sekitar 7 mil setelah berangkat dari Bandara Polonian, Medan, Sumatera Utara, sekitar pukul 08.00 Wib, Â menuju Bandara Alas Lauser, Kutacane, Kabupaten Aceh Tenggara.

 

Patut dikecam lambatnya upaya pencarian terhadap pesawat yang naas ini.

Sampai-sampai, salah seorang keluarga korban, Ibu Samsiar, yang anak dan kedua cucunya merupakan penumpang pesawat naas tersebut, histeris dan menjerit dalam tangisan yang sangat pilu saat diwawancara oleh Metro TV pada hari Sabtu (1/10/2011) pagi.

“Tolonglah Pak SBY, tolong keluarga saya. Ada anak saya, dan cucu-cucu saya yang masih kecil-kecil didalam pesawat itu. Kasihan mereka pak, masih kecil-kecil harus terdampar di hutan. Tolong saya Pak Gubernur, Pak Bupati, tolong saya …. ! Sudah dua hari saya menunggu, tak ada pertolongan dari pihak penerbangan,” kata Ibu Samsiar sambil terus menangis pilu.

Lambatnya penanganan terhadap musibah ini memang sangat layak untuk dipersalahkan sebab sesungguhnya jika para penumpang bisa segera diselamatkan, harapan untuk bertahan hidup masih terbuka.

Hal ini terbukti dari pengakuan salah seorang  anggota keluarga korban lainnya yaitu Lita, keponakan dari Ibu Astuti yang merupakan salah seorang penumpang yang tewas.

Metro TV juga berhasil mewawancarai seorang anggota keluarga yang berhasil menghubungi handphone dari penumpang pesawat yang naas ini.

“Ratusan kali saya telepon, sulit masuk. Tapi waktu malam Jumat (29/9/2011), ada suara anak kecil yang menjawab telepon mengatakan halo halo. Tetapi cuma dua detik. Itu suara anak dari Ibu Astuti. Saya telepon lagi, sulit tersambung. Tetapi hari Jumat pagi (30/9/2011), telepon saya dijawab oleh seorang laki-laki. Saya dengar suaranya mengatakan, tolong, Tim SAR … Tim SAR. Saya katakan sama bapak itu, bertahanlah, kalian semua pasti selamat. Saya terus hubungi lagi sore harinya, kali ini yang menjawab telepon saya adalah seorang perempuan tapi suaranya sudah sangat lemas,” demikian kata Lita sambil menangis tersedu-sedu.

 

Sejumlah petugas membawa jenasah yang diduga korban KM Teratai Prima ke RS. Bhayangkara Makassar, Jumat malam (13/2). Jenasah berkelamin pria yang ditemukan nelayan di Pantai Pamboang perairan Majene, Kamis (13/2) dini hari tersebut diduga korban KM Teratai Prima yang tenggelam di perairan Majene pada awal Januari 2009 lalu. FOTO : ANTARA

 

Lambatnya operasi pencarian dan penyelamatan terhadap pesawat Cassa ini mengingatkan kita semua terhadap musibah yang pernah terjadi di tahun 2009 lalu.

Kapal Teratai Prima tenggelam di perairan Majene, Sulawesi Barat pada tanggal 10 Januari 2009.

Kapal yang naas ini bertolak dari Pelabuhan Pare-Pare sekitar pukul 17.oo WITA dan dikabarkan tenggelam beberapa jam kemudian.

Berdasarkan manifes kapal ini mengangkut 267 orang penumpang dan diperkirakan ada 103 penumpang gelap, ditambah dengan sejumlah awak kapal dan nakhoda. Batas kapasitas kapal ini 300 orang. Sampai pk. 22.00 Senin malam, 36 orang korban berhasil diselamatkan nelayan, sementara sisa lainnya belum diketahui nasibnya.

Selain cuaca yang buruk, kecelakaan ini juga diduga karena spesifikasi mesin yang tidak memadai untuk kapal tersebut. Kapal ini hanya menggunakan mesin 2×520 pk, ukuran mesin ini biasa digunakan sebuah mobil dan kapasitas daya tampung bahan bakarnya hanya 6 ton.

Perairan Majene dikenal sebagai daerah rawan kecelakan laut untuk rute Sulawesi-Kalimantan. Pada 19 Juli 2007, KM Mutiara Indah tenggelam di perairan yang sama, sekitar 2,4 km dari Pantai Tanjung Rangas. Pada 20 Juli 2007, KM Fajar Mas tenggelam 96 km dari Pantai Tanjung Rangas. Beberapa kapal lainnya juga tenggelam di lokasi sekitarnya. Perairan Majene juga tercatat sebagai lokasi jatuhnya pesawat Adam Air KI 574 yang hilang pada 1 Januari 2007 yang menewaskan seluruh penumpang dan awak yang berjumlah 102 orang.

Yang sangat menyakitikan hati, tiga hari setelah kapal tenggelam (Senin, 12/1/2009), Menteri Perhubungan (pada saat itu) Jusman Syafii Djamal mengatakan kepada wartawan bahwa pihaknya akan menggelar rapat untuk membahas soal upaya penyelamatan.

Seluruh penumpang sudah megap-megap selama 3 hari dalam perjuangan mempertahankan hidup di laut yang ganas tergulung angin puting beliung setinggi 2 meter, Pemerintah ( dalam hal ini Departemen Perhubungan ) masih bicara soal rapat tentang upaya penyelamatan lebih lanjut.

Sungguh memalukan kelambatan Pemerintah dalam menangani musibah demi musibah dalam bidang transportasi di negara ini.

 

Rosmawati Harahap salah satu keluarga korban pesawat yamg jatuh di Langkat berteriak histeris.

 

Kini Indonesia kembali berduka karena buruknya masalah keselamatan di dunia transportasi Indonesia.

Delapanbelas penumpang seharusnya masih bisa diselamatkan jika Pemerintah bergerak cepat, tanggap dan memiliki rasa kekepedulian yang benar-benar tinggi kepada rakyatnya sendiri.

Dua hari seluruh penumpang dan awak pesawat Cassa ini menghitung waktu yang akhirnya mengantarkan mereka ke gerbang kematian dengan kondisi dan nasib yang sangat tragis.

Jika sudah berulang kali Tim SAR mengemukakan tentang berat dan sulitnya medan tempat jatuhnya pesawat tersebut, mengapa Pemerintah tak cepat mengerahkan aparat-aparat Indonesia yang memang sudah terlatih ?

Pasukan Khusus TNI Angkatan Udara (PASKHAS) berhasil mengetahui lokasi jatuhnya pesawat dan mengabadikan lokasi sehingga seluruh media bisa menyebar-luarkan foto tersebut.

Lalu kemana pasukan khusus lainnya yang dimiliki oleh TNI ?

TNI Angkatan Darat dapat diberdayakan melalui prajurit-prajurit Kopassus misalnya, atau pasukan khusus lainnya yang memiliki tingkat kemampuan lebih tinggi.

Prajurit khusus TNI AU ( Paskhas ) memang tak usah diragukan lagi kemampuannya.

Tetapi logikanya, untuk wilayah darat maka yang paling pantas untuk diterjunkan menaklukkan dan menembus medan yang sangat sulit adalah pasukan-pasukan khusus TNI Angkatan Darat yaitu Kopassus.

Semua itu bisa dilakukan, jika memang ada itikat baik dari Pemerintah dalam menjalin koordinasi lintas Departemen yaitu Departemen Perhubungan meminta pertolongan dari Departemen Pertahanan untuk memberikan bantuan apapun yang memang dibutuhkan dalam upaya mencari dan menyelamatkan seluruh penumpang.

Dan diatas semua itu, anggaran atau dana operasional akan sangat menentukan kelancaran dan keberhasilan semua tugas-tugas kemanusiaan seperti ini dalam keadaan sesulit apapun.

Disini, bobot kesalahan yang paling besar adalah Departemen Perhubungan !

Walau belum diperkuat oleh pasukan-pasukan elite yang lebih terlatih dan memiliki tingkat kemampuan yang jauh lebih tinggi, fakta di lapangan menunjukkan bahwa prajurit-prajurit TNI dan Brimob POLRI sudah terus berusaha semaksimal mungkin melakukan pertolongan.

Dan kepada TNI / POLRI, patut disampaikan penghargaan atas kepedulian mereka.

Terimakasih TNI.

Terimakasih POLRI.

Tetapi, suka atau tidak suka, Departemen Perhubungan pantas untuk dikecam dalam masalah ini.

Sangat pantas dikecam !

Pemerintah seakan tak punya perasaan jika berlama-lama dalam melakukan upaya penyelamatan.

Dengarkanlah jerit tangis keluarga korban itu, wahai Pemerintah !

Musibah jatuhnya pesawat di Bahorok ini memang pantas dijadikan indikasi kuat bahwa Indonesia ini dapat menjadi negara yang punya rekor tersendiri yaitu sangat lambat dalam menangani musibah di dunia transportasi.

Payah !

Dan inilah daftar nama seluruh penumpang dan awak yang tewas dalam musibah Bahorok :

Badan SAR Nasional sudah mengumumkan bahwa semua penumpang dan awak pesawat Casa 212-200 yang jatuh di hutan Taman Nasional Gunung Leuser, Bahorok, Langkat, Sumatera Utara, meninggal. Berikut adalah nama-nama para korban:

Krew pesawat:

1. Captain: Famal Ishak

2. Co Pilot: Budiono

3. Enginer: Nico Matulessy

4. FOO: B Soetopo

Penumpang :

1. Aisyah (P)

2. Astuti (P)

3. Suriadi (L)

4. Tia Apriliani (anak).

Suriadi, Astuti, dan Tia adalah ayah, ibu, dan anak

5. dr Suhelman (L), dan istrinya 6. dr Juli Dhaliana (P). Suhelman adalah anggota DPRD Kabupaten Aceh Tenggara

7. Siwa Sanbungan (L)

8. Jefridin (L)

9. Tirnau Karsau (L)

10. Andi Raylan Bangko (L)

11. Ahmad Arief (bayi). Andi Raylan dan Ahmad Arif adalah bapak-anak

12. Samsidar Yusni (P)

13. Hamimatul Janah (anak)

14. Hanif Abdilah (bayi)

Harusnya mereka dapat bertahan hidup jika saja Pemerintah tanggap dalam melakukan operasi pencarian dan penyelamatan. Tapi takdir menggariskan lain.

Takdir yang berisi duka nestapa tentang tipisnya rasa kepedulian Pemerintah.

Takdir yang membiarkan 18 anak bangsa berjuang sendirian menghadapi kematian.

Ibu Pertiwi berduka atas musibah ini.

 

 

(MS)

About these ads

Comments are closed.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 11,494 other followers