Vox Populi Vox Dei Saat HAMAS Berpeluang Menangkan Pemilu Palestina

Kepala Biro Politik Hamas, Khaled Meshaal, paling kiri, saat bertemu dengan Presiden Palestina Mahmoud Abbas di Kairo, Mesir, 24 November 2011 untuk kembali membicarakan masalah persatuan (UNITY) menjelang Pemilihan Umum di Palestina tahun 2012 mendatang

 

 

Jakarta, 15 Desember 2011 (KATAKAMI.COM)  —   Persis di hari Rabu, 14 Desember 2011 kemarin, Gerakan Perlawanan Islam, HAMAS di Palestina, merayakan hari jadi mereka yang ke 24.

Perayaan ini diselenggarakan menjelang pertukaran tahanan tahap kedua yang telah disepakati antara Hamas dan Israel.

Hamas dan Israel menyepakati pertukaran tahanan dengan rumusan 1 : 1027.

Artinya, satu orang prajurit Israel yang ditawan Hamas sejak tahun 2006 ( Gilad Shalit ) dibarter dengan 1027 orang tahanan Palestina yang ada di penjara Israel.

Untuk tahap pertama bulan Oktober lalu, Israel telah menyerahkan 477 orang tahanan Palestina untuk kembali ke negara mereka.

Dua bulan setelah pertukaran tahanan tahap pertama itu yaitu Desember 2011 ini, Israel diwajibkan untuk menyerahkan sisa tahanan yang masih belum diserahkan kepada HAMAS.

Pertukaran tahanan ini sesungguhnya dapat dispekulasikan sebagai strategi politik zionis dalam memecah belah dua kekuatan politik terbesar di Palestina yaitu Fatah dan Hamas.

Strategi politik yang bernuansakan prinsip pecah belah atau Devide et Ampera.

 

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, kiri, dan Presiden Amerika Serikat Barack Hussein Obama

 

Israel yang sesungguhnya lebih nyaman bekerjasama dengan Fatah di tataran politik dan diplomasi, dan sudah puluhan tahun berseteru sangat sengit dengan HAMAS, ternyata lebih memilih melakukan sebuah kesepakatan yang sangat tak terduga dengan HAMAS.

Setinggi apapun nilai dari seorang prajurit berpangkat rendah seperti Gilad Shalit, kebijakan resmi Pemerintah Israel membebaskan 1027 tahanan demi kepulangan prajuritnya adalah sebuah kebijakan yang pasti menyimpan seribu satu macam pertimbangan yang diyakini memiliki sasaran politik yang lebih luas.

Tak mungkin Israel tak “membidik” moment sangat penting di negara tetangga terdekatnya dalam waktu tak lama lagi yaitu Pemilihan Umum.

Pada moment besar pemilihan umum itu, para pemegang kekuasaan akan ditentukan dengan pemungutan suara sehingga rakyat diberi kebebasan penuh memilih siapa yang akan menjadi pemimpin mereka.

Dan HAMAS adalah salah satu kekuatan politik riil yang diperkirakan akan mampu bertarung secara maksimal dalam pemilihan umum Palestina.

Tawaran dari Fatah kepada HAMAS untuk melakukan persatuan (UNITY) akan membuahkan pemerintahan koalisi di Palestina.

 

Walau gagal meraih kursi keanggotaan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) di tahun 2011 ini, Palestina justru diterima menjadi anggota resmi UNESCO

 

Pertanyaannya, siapkah HAMAS berkuasa dengan dua pilihan politik yang terhampar di depan mata mereka yaitu berkoalisi dengan Fatah, atau jangan-jangan malah bisa menang mutlak.

Disinilah strategi politik “Devide et Ampera” yang dimainkan Pemerintah Israel dibawah kepemimpinan Benjamin Netanyahu selaku Perdana Menteri akan sangat berdampak luas.

Popularitas HAMAS yang semakin meninggi adalah berkat keberhasilan pertukaran tahanan di tahun 2011 ini.

Netanyahu yang menjadi pimpinan Partai Likud di negaranya, tentu sudah memperhitungkan konsekuensi politik dari kesepakatan pertukaran tahanan dengan HAMAS.

Barangkali maksud Netanyahu atas nama Pemerintah Israel bukanlah untuk mempersilahkan Hamas berkuasa di Palestina, mengingat kondisi nyata dimana sayap militer HAMAS tak pernah berhenti melakukan perseteruan dan konflik senjata dengan Israel Defense Force (IDF).

Tetapi ya itu tadi, Israel tampaknya hanya ingin menggembosi suara Fatah sebagai keisengan politik.

Namanya juga Israel, apa sih yang mereka tak bisa lakukan untuk mengacak-acak dan mengganggu stabilitas politik pihak lain yang dianggapnya membahayakan atau merugikan Israel dalam banyak hal.

Walau demikian, tak bisa juga dipastikan bahwa Israel akan sangat berusaha menggagalkan Hamas dalam meraih kekuasaan dalam pertarungan politik pemilihan umum di Palestina.

Artinya, belum tentu Israel lebih memilih Fatah untuk menang.

 

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, kiri, bersalaman dengan Presiden Palestina Mahmoud Abbas, kanan, disaksikan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton di Washington DC, 2 September 2010

 

Sebab sulit memprediksi keinginan-keinginan dan gerakan operasi Israel dalam urusan-urusan politik luar negeri.

Jika Israel sangat nyaman bekerjasama dengan Fatah, mengapa mereka memberikan peluang bagi Hamas untuk menjadi sangat populer lewat kesepakatan pertukaran tahanan di Palestina ?

Tak mungkin Israel tak tahu bahwa pertukaran tahanan itu sangat tinggi nilai dan dampak politiknya bagi Hamas.

Kini, jika kekuasaan yang lebih besar sudah terhampar di depan mata Hamas, siapkah mereka bertarung dan memenangkan pertarungan itu ?

Jika nanti suara yang dimenangkan Hamas melebihi Fatah, maka dominasi pemerintahan akan sepenuhnya berada di tangan Hamas.

Artinya, Hamas tak lagi hanya berkuasa di areal Jalur Gaza, tetapi lebih dari itu.

Lalu, siapa yang bisa menahan laju kemenangan Hamas jika ternyata rakyat Palestina lebih suka memberikan suara mereka bagi Gerakan Perlawanan Islam HAMAS ?

Vox Populi Vox Dei, suara rakyat adalah suara Tuhan.

Tetapi, Hamas harus secara total mengubah keberadaan diri mereka secara menyeluruh.

Jangan lagi menempatkan diri sebagai kelompok radikal yang sangat tinggi tingkat militansinya di muka bumi.

Stigma dan jatidiri sebagai grup teroris harus dikubur sedalam-dalamnya.

Satu contoh kecil saja, dalam Kelompok Kwartet Timur Tengah yang terdiri dari Amerika Serikat, Rusia, Perserikatan Bangsa Bangsa dan Uni Eropa, hanya Rusia yang membuka tangan mereka untuk bekerjasama, berdialog dan merangkul HAMAS dalam suasana yang sangat positif.

Selebihnya, tak ada yang terlihat secara resmi mau bersuara dan mendukung HAMAS terang-terangan.

Apalagi Amerika, negara adidaya yang kekuasaannya sangat amat besar ini, sudah dapat dipastikan akan tetap menjaga dan mempertahankan komitmen mereka menjadi benteng bagi sekutu abadinya yaitu Israel.

 

Presiden Amerika Serikat Barack Obama

 

Amerika punya kebijakan yang sangat tegas dan jelas dalam urusan perang melawan teror.

Pihak manapun juga yang mempunyai stigma sebagai grup teroris, tak akan ada yang mendapat toleransi dari Amerika.

Tetapi berbagai bantuan keuangan yang diberikan Amerika ke Jalur Gaza, pasti karena menghormati prinsip-prinsip kemanusiaan bagi rakyat Palestina yang ada disana.

Kegagalan Palestina meraih kursi keanggotaannya di Perserikatan Bangsa Bangsa adalah karena kuatnya faktor pengaruh Amerika yang memang memiliki hak veto dalam Dewan Keamanan PBB.

Amerika, kapan saja, dimana saja, dan untuk urusan apa saja (terkait kebijakan luar negeri yang menyangkut Israel), selalu akan pasang badan untuk Israel.

Sudahkah semua ini dipikirkan sebaik mungkin oleh Hamas ?

Memang, entah itu Kelompok Kwartet Timur Tengah atau kekuatan manapun di dunia ini, tak akan ada yang bisa menahan laju politik Hamas jika ternyata rakyat Palestina menginginkan mereka berkuasa.

Tetapi, Hamas tak boleh melupakan satu hal yang sangat penting yaitu ada kewajiban bagi negara manapun didunia ini untuk tunduk pada aturan-aturan diplomasi.

Sehingga, Hamas harus memurnikan diri mereka sebagai kekuatan riil politik semata, dan jangan lagi melengkapi jatidiri mereka sebagai gerakan perlawanan yang sangat radikal untuk membabat habis zionis di muka bumi ini.

Akan sangat sulit bagi Hamas memegang kekuasaan di Palestina jika wajah dan kebijakan pemerintahan mereka hanya melulu difokuskan untuk menggempur Israel dengan totalitas penuh.

Sebab jika itu terjadi, maka semua proses perundingan damai yang diupayakan semua pihak akan hancur berantakan dan terjun bebas ke titik terendah untuk mengantarkan proses perundingan damai itu sendiri ke jurang kehancuran.

Maka, bukan lagi perdamaian yang tampak di depan mata, melainkan membuka peluang bagi terciptanya peperangan maha dashyat yang akan membuat keamanan di kawasan Timur Tengah menjadi sangat dipertaruhkan.

Meningkatnya tensi yang memberi jalan bagi terwujudnya peperangan sangat mengerikan, tentu bukanlah keinginan bagi komunitas internasional yang tetap sangat concern mendorong terciptanya perdamaian antara Israel dan Palestina.

 

Pemimpin HAMAS, Khaled Meshaal

 

Jadi, disinilah dibutuhkan sikap yang bijaksana dari Hamas.

Jika suara rakyat Palestina menghendaki Hamas menang secara mutlak dalam pemilihan umum mendatang maka banyak hal yang harus dibenahi HAMAS.

Bahkan yang harus mulai dipikirkan adalah membubarkan gerakan perlawanan Islam HAMAS sebagai kelompok radikal yang memiliki tingkat militansi yang sangat tinggi.

Tampillah hanya sebagai kekuatan politik riil, yang melepaskan semua atribut radikalisme agar jangan lagi Hamas dicap sebagai grup teroris yang sangat membahayakan.

Sambutlah kekuasaan dengan kemampuan-kemampuan diplomasi yang bertaraf internasional untuk melanjutkan upaya dari semua pihak mendorong Israel dan Palestina ke meja perundingan.

Kalau Hamas bersikeras menolak perdamaian dan bahkan menolak untuk mengakui Israel maka tak perlu heran jika akan sangat banyak negara-negara yang justru memberikan dukungan pada Israel.

Disitu letak permasalahannya.

Dan semua pemikiran serta usulan ini akan sangat tergantung dari Khaled Meshaal selaku Kepala Biro Politik Hamas yang kini menjadi pemimpin paling senior di kalangan HAMAS.

Keberhasilan pertukaran tahanan antara HAMAS dan Israel adalah keberhasilan Khaled Meshaal.

Dan jika nanti HAMAS harus bertarung dengan Fatah dalam pesta demokrasi rakyat ( pemilihan umum ) maka peluang dan stretegi kemenangan itu akan sangat tergantung juga dari Khaled Meshaal.

Sejauh mana ia mampu membuat langkah-langkah dan kebijakan politik yang brilian.

Juga bila nanti, terbuka peluang bagi Khaled Meshaal untuk mencalonkan diri.

Ia pemimpin yang paling senior untuk saat ini dalam internal HAMAS.

Dan ia jugalah yang kini paling berpengaruh.

Selama ini Khaled Meshaal hanya merupakan pemimpin di belakang layar yang sangat berpengaruh.

Pertanyaannya, mengapa ia  tidak tampil saja sekalian di garis terdepan memegang kekuasaan pemerintahan ?

Faktanya, peranan serta kebijakan Khaled Meshaal membuat kesepakatan pertukaran tahanan dengan Israel, adalah modal dasar untuk membuka semua peluang bekerjasama dengan Israel untuk urusan berikutnya di kemudian hari.

Mau tidak mau, jika HAMAS memang memutuskan untuk masuk dalam pentas politik maka kewajiban utama yang harus diemban adalah melanjutkan proses perundingan.

Bukan justru membuat lebih semarak ajang bunuh-bunuhan atau perang-perangan dengan Israel.

Sebab muara dari semua peran komunitas internasional yang mengawal proses perdamaian yang sudah sangat tersendat-sendat belakangan ini.

Jadi bila semua pihak berminat mengamati dari jarak dekat perkembangan demokratisasi di Palestina, yaitu menyambut penyelenggaraan pemilihan umum maka bersiaplah jika HAMAS mengulangi kesuksesan mereka meraih kemenangan ( seperti yang pernah terjadi di tahun 2006 dimana HAMAS memenangkan 76 dari 132 suara di Parlemen Palestina ).

Sekali lagi, vox populi vox dei, suara rakyat adalah suara Tuhan.

Dan jika suara rakyat itu dimenangkan HAMAS, janganlah membawa rakyat Palestina menggapai masa depan yang suram dan kelam.

Tetapi perjuangkanlah yang justru membawa kebaikan yang lebih dan lebih baik lagi.

 

 

(MS)

Comments are closed.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,963 other followers