Suksesi Korea Utara Dari Diktator Nuklir Kim Jong Il Pada Kim Jong Un

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Il, kiri, bersama putra kesayangannya, Kim Jong Un, kanan, berpose bersama.

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Il bersama putra kesayangannya Kim Jong Un.

 

Jakarta, 20 Desember 2011 (KATAKAMI.COM) —  Masih terbayang dalam ingatan komunitas internasional, bagaimana raut wajah kemarahan yang sangat dalam pada diri Presiden Korea Selatan Lee Myung-bak saat negara tetangganya yang sangat “degil” yaitu Korea Utara melakukan serangan militer artileri ke Pulau Yeonpyeong tanggal 23 November 2010.

Sedikitnya empat orang warga Korsel, dua diantaranya warga sipil, tewas akibat serangan itu.

Dua hari kemudian, Menteri Pertahanan Korsel, Kim Tae-young, mundur dari jabatannya setelah dianggap tak mampu mengantisipasi, dan memberi tindakan cepat serangan Korut.

Hingga akhir hayatnya tanggal 17 Desember lalu, pemimpin kharismatik Korut Kim Jong-il tak sekalipun pernah menyampaikan permohonan maaf atas agresi provokatif yang dilakukan negaranya terhadap Korea Selatan di Pulau Yeonpyeong setahun yang lalu.

Padahal dunia internasional, terutama Amerika Serikat, begitu marah dan mengutuk habis-habisan agresi provokatif tersebut.

 

Pemimpin Korea Utara Kim Jong il, paling kanan, didampingi putra kesayangannya, Kim Jong Un, paling kiri, saat melakukan inspeksi kunjungan ke salah satu unit militer Korea Utara

 

Siapakah Kim Jong-il ?

Kim Jong-il (menurut versi resmi biografinya lahir 16 Februari 1942 – meninggal 17 Desember 2011 pada umur 69 tahun) telah menjabat sebagai pemimpin Korea Utara (Korut) sejak 1994.

Ia menggantikan ayahnya, Kim Il-sung, yang telah memimpin Korut sejak 1948.

Kim Jong-il diangkat menggunakan sistem di mana dialah satu-satunya calon pemimpin.

Kim yang mendapat julukan Dear Leader juga menjabat sebagai Ketua Komisi Pertahanan Nasional dan Sekretaris Jenderal Partai Pekerja Korea. Ulang tahunnya dirayakan sebagai salah satu hari libur di Korut.

Pada tanggal 19 Desember 2011, stasiun televisi pemerintah Korut memberitakan bahwa Kim Jong-il meninggal dunia pada hari Sabtu, 17 Desember 2011 dalam sebuah perjalanan dengan kereta api.

Seorang penyiar perempuan menangis terisak-isak saat mengumumkan bahwa “Dear Leader Kim” yang berusia 69 tahun telah meninggal dunia karena kelelahan fisik dan mental setelah bekerja terlalu keras untuk memberi “bimbingan di lapangan”.

Kim, diktator yang nyentrik ini, dibenci hampir oleh seluruh komunitas internasional karena ambisi nuklirnya yang dianggap sudah sangat mengerikan.

Tetapi di mata rakyat Korea Utara, Kim terbukti begitu dicintai.

Tangis kehilangan dari rakyatnya tak dapat disembunyikan saat kematian pemimpin ini diumumkan secara resmi oleh stasiun televisi milik pemerintah Korut.

 

Kim Jong Il, nomor dua dari kanan, didampingi putra kesayangannya, Kim Jong Un, nomor dua dari kiri, berpose bersama kalangan militer Korea Utara tahun 2010

 

Dan semua pihak harus mengakui, betapa hebat insting kepemimpinan yang ada dalam diri Kim.

Sejak tahun 2009, Kim sudah mempersiapkan putra kesayangannya, Kim Jong Un, untuk menjadi “putra mahkota”nya.

Bahkan tahun 2010 lalu, Kim menganugerahkan Jenderal (Kehormatan) bintang 4 untuk Kim Jong-Un yang berbadan sangat bongsor alias gendut sekali.

Kim Jong Un adalah putra bungsu Kim Jong Il, anak ketiga hasil perkawinannya dengan Ko Young-hee, seorang penari Korea kelahiran Jepang yang menjadi ibu negara Korut sampai meninggal dunia tahun 2004.

Tidak ada yang tahu, berapa sebenarnya usia dari Kim Jong Un.

Tapi diyakini, ia masih berusia 20 tahun-an.

Kim Jong Un disebut-sebut pernah menghabiskan waktu beberapa tahun belajar di Swiss dan diyakini menguasai beberapa bahasa, seperti Inggris, Jerman, dan Perancis. Ia juga lulusan Kim Il Sung Military University dan disebut jenderal muda sejak debut pertamanya ke publik tahun lalu. Kim Jong Un juga disebut-sebut menguasai teknologi informasi dan komputer.

Dalam akun pribadinya di jejaring sosial TWITTER, Kim pernah menuliskan panggilan “My Big Boy” kepada Kim Jong-Un.

Jong-Un sendiri, yang mengikuti jejak ayahnya bermain jejaring sosial TWITTER, pada suatu kesempatan pernah menuliskan seperti ini, “Badanku sebenarnya bukan gendut, tetapi karena tulang-tulangku saja yang bentuknya besar”. Sayang, pesan ini sudah dihapus oleh Jong Un di akun pribadinya di TWITTER.

Kim, seakan sangat sengaja menunjukkan pada dunia internasional, bahwa dalam perjalanannya keluar negeri, sang putra mahkotanya yang dibawa serta.

Terutama jika Kim melawat ke Cina, negara sahabat yang sangat melindungi dan menyayangi Korea Utara sepenuh hati.

Kim, sudah dari jauh-jauh hari, mengkondisikan kepada kalangan militernya bahwa Kim Jong-Un adalah calon pemimpin baru yang harus dihormati dan dipatuhi oleh militer Korut.

Naluri sebagai seorang ayah dan pemimpin kharismatik semacam Kim sesungguhnya sangat mengagumkan.

Ia seakan tidak peduli bahwa anak kesayangannya yang masih sangat muda belia ini berpeluang besar untuk sangat diremehkan dan dipandang rendah oleh kalangan dunia internasional.

Ada sisi humanis yang sangat menyentuh hati dari seorang Kim.

 

Kim Jong Il, paling kanan, didampingi putra kesayangannya, Jenderal Kim Jong Un, nomor dua dari kiri, sedang memberikan penghormatan dalam sebuah parade kemiliteran di Pyongyang tanggal 9 September 2011

 

Nalurinya sangat kuat sebagai seorang ayah digunakannya selama beberapa tahun terakhir menjelang kematiannya bahwa ia harus sangat tepat memilih calon pengganti untuk memimpin Korea Utara dan calon pengganti itu harus benar-benar ditempa secara sungguh-sungguh.

Selama ini, setiap kali Kim muncul sebagai putra kesayangannya yang bertubuh tambun dalam acara-acara resmi dan dipublikasikan ke seluruh dunia, kebersamaan bapak-anak ini bisa jadi dianggap sebagai sebuah kekonyolan.

Kim, yang dikenal sebagai pemimpin besar kharismatik yang benar-benar sangat dingin dan tak punya rasa takut pada pihak manapun, muncul bersama seorang anak muda yang terkesan tak punya wibawa samasekali.

Tapi, setelah kini Kim telah tiada, ia seakan ingin berbicara kepada rakyatnya ( dan kepada dunia ), bahwa usahanya menyiapkan kader penerus adalah sebuah bukti tentang  kebenaran naluri seorang ayah atas potensi anak kandungnya.

Sepertinya bagi seorang pemimpin besar sekelas Kim, mempersiapkan Jong-Un sebagai pemimpin baru di Korea Utara, maka harus terlebih dahulu membuat putra kesayangannya ini dihormati dan dipatuhi oleh militer Korut.

Sehingga saat ajal menjemputnya, semua pihak baru menyadari maksud dan tujuan Kim selama beberapa tahun belakangan ini, menenteng putra bungsunya setiap dalam acara kunjungan atau pertemuan dengan kalangan militer Korut.

Kesuksesan suksesi Korea Utara memang akan sangat tergantung dari seberapa kuat dukungan militer Korut kepada Jenderal Kim Jong-Un.

Kim pasti sudah sangat berhitung di akhir hidupnya selama ini bahwa dukungan penuh dari militer Korut adalah modal utama bagi sang putra mahkota menunjukkan eksistensi dan kewibawaan sebagai pemimpin baru di Korea Utara.

 

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Rodham Clinton

 

Perhatikanlah pernyataan resmi dari Korea Utara saat mengumumkan kematian “Dear Leader Kim” secara resmi hari Selasa (19/12/2011) kemarin :

“Di bawah kepemimpinan kamerad Kim Jong Un, kita harus mengubah kesedihan menjadi kekuatan dan keberanian dan melawan segala kesulitan,” demikian pernyataan yang dirilis kantor berita Korut.

Kisah yang mengharu-biru tentang bagaimana Kim Jong Il menyiapkan suksesi yang sukses di Korea Utara kepada putra kesayangannya adalah sekelumit kisah kehidupan yang bermakna apa-apa jika sudah menyangkut perdamaian dan keamanan dunia.

Ambisi nuklir Korea Utara yang selama ini sudah sangat tak terkendali membuat krisis nuklir di semenanjung Korea menjadi sebuah krisis yang sudah sangat memprihatinkan.

Pembicaraan enam pihak (six party talks) sudah seperti mengawang-awang.

Tak jelas kejuntrungannya.

Amerika Serikat, yang kini dipimpin oleh Barack Obama, diperkuat oleh Menteri Luar Negeri Hillary Rodham Clinton, tak pernah surut menunjukkan komitmen Amerika dan dunia internasional untuk menentang ambisi nuklir Korea Utara yang dianggap sudah sangat kebablasan.

Amerika, secara jelas dan tegas, tetap menunjukkan keberpihakannya kepada sekutu-sekutunya yaitu Korea Selatan dan Jepang dalam urusan krisis nuklir di semenanjung Korea.

Pasca kematian Kim Jong Il, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton mengungkapkan bahwa Amerika sungguh berharap Korea Utara memilih jalan damai pascameninggalnya pemimpin mereka Kim Jong-il.

Selain itu, Clinton juga berharap negara komunis itu mau bekerja sama dengan komunitas internasional dan memperbaiki hubungan mereka dengan negara-negara tetangga.

“Harapan kami adalah pemimpin baru Korut akan memimpin negara mereka pada perdamaian dengan cara memperbaiki hubungan dengan tetangga dan menghormati hak asasi manusia,” ujar Clinton, Selasa (20/12), di Washington DC.

“AS siap membantu rakyat Korut dan berharap pemimpin baru mereka mau bekerja sama dengan komunitas internasional dan menjag perdamaian di Semenanjung Korea,” lanjut Clinton.

Keberadaan Korea Utara yang menjadi negara kerap membuat pusing negara-negara lain, mendapat tanggapan tersendiri dari mantan Presiden AS, Jimmy Carter.

 

Tiga generasi kepemimpinan di Korea Utara : Kim Il Sung, paling kiri, Kim Jong Il, dan Kim Jong Un

 

Presiden Jimmy Carter mengakui tak mudah menghadapi Korut.

Terlepas dari kemampuan militernya yang cukup tangguh, apalagi memiliki teknologi senjata nuklir, Korut sulit diajak kompromi dan cenderung mudah tersinggung.

“Berurusan dengan Korut telah lama menjadi tantangan bagi AS,” tulis Carter dalam opininya di harian Washington Post, 24 November 2010.

Presiden AS ke-39 itu menilai ada semacam karakter khusus yang membentuk rezim dan masyarakat di Korut. Mereka tak mudah tunduk kepada pengaruh asing. Carter menyebut karakter itu sama seperti agama.

“Agama resmi di masyarakat yang tertutup itu adalah ‘juche’. Artinya bertumpu pada diri sendiri dan jangan mau didominasi pihak lain,” kata Carter. Dengan kata lain, demi mendapatkan sesuatu, mereka memilih berjibaku ketimbang tunduk pada perintah orang lain, apalagi dengan pihak yang dianggap musuh.

Karakter itulah yang selalu ditekankan pemimpin Korut sejak akhir Perang Korea. Terutama oleh Kim Il-sung hingga ke putranya yang menjadi penguasa  Korea Utara.

 

Kim Jong Il met Megawati Soekarnoputri, Former Indonesian President and general chairwoman of the Indonesian Democratic Party of Struggle in Pyongyang, October 14, 2005

 

Bagi Indonesia, Kim Jong Il, terutama Korea Utara, adalah sahabat baik.

Baik Presiden Susilo Bambang Yuhdoyono, maupun Mantan Presiden Megawati Soekarnoputri, Kom Jong Il adalah pemimpin yang layak dihormati.

Terutama Megawati, ia memiliki sejarah kedekatan yang sangat khusus dengan Kim Jong Il.

Ayah Kim Jong Il yaitu Almarhum Kim Il Sung, bersahabat baik dengan Mantan Presiden I Indonesia, Ir. Soekarno, yang adalah ayah dari Megawati Soekarnoputri.

Megawati sangat berduka atas meninggalnya Kim Jong Il.

Kim Jong Il, bagi Mega bukan sosok asing karena mereka sudah saling mengenal secara pribadi sejak remaja.

“Sebagai Ketua Umum PDI Perjuangan, saya kehilangan seorang rekan pemimpin yang mampu memimpin bangsanya dengan dasar ideologi (Juche Spirit), menjadi bangsa yang kuat di tengah arus globalisai, berdaulat dalam bidang politik, berdikari dalam bidang ekonomi dan berkepribadian yang kokoh sebagai bangsa Korea,” ujar Megawati dalam siaran pers, Senin (19/12/2011).

Megawati menambahkan, seluruh jajaran pengurus DPP dan seluruh warga PDI Perjuangan mendoakan semoga Kim Jong Il memperoleh tempat yang baik di sisiNya.

Megawati berharap setelah kepergian Kim Jong Il, bangsa Korea akan menemukan pemimpin baru yang mampu meneruskan perjuangan pendahulunya, Presiden Kim IL Sung dan Ketua Komite Pertahanan Rakyat Demokratik Korea Kim Jong Il.

“Serta  mampu membawa bangsa Korea untuk kemajuan yang gilang gemilang dan kesejahteraan bagi seluruh rakyatnya,” paparnya.

Megawati juga berharap pemimpin yang baru akan melanjutkan cita-cita Presiden Kim Il Sung untuk menyatukan bangsa Korea melalui jalan damai.

 

Presiden Korea Selatan Lee Myung Bak, didampingi Perdana Menteri Korea Selatan Kim Hwang-Shik, kiri, dan Menteri Luar Negeri Kim Sung-Hwan, kanan, menggelar rapat kabinet darurat menyikapi meninggalnya pemimpin Korea Utara Kim Jong Il. Korea Selatan memberlakukan keadaan darurat guna bersiaga mengantisipasi kemungkinan terburuk pasca kematian Kim Jong Il. (Foto:YONHAP NEWS AGENCY)

 

Wajar bila kematian Kim Jong Il menimbulkan keresahan yang sangat amat besar di kalangan banyak negara, terutama negara-negara yang berdekatan dengan Korea Utara.

Walau Kim Jong Il sudah mempersiapkan suksesi kepemimpinan kepada putra kesayangannya yaitu Kim Jong Un, hal itu tak menjamin  terbukanya peluang bagi kelancaran proses penyelesaian krisis di Semenanjung Korea.

Naiknya Kim Jong Un ke tahta kekuasaan tertinggi di Korea Utara, memang harus tetap diwaspadai oleh Korea Selatan, sebagai negara yang paling sengit bermusuhan dengan Korea Utara.

Sebab, untuk menunjukkan kewibawaan dan eksistensinya sebagai pemimpin baru yang layak ditakuti di kawasan, maka salah satu yang harus diwaspadai adalah jika Kim Jong Un meminta Korea Utara melakukan agresi berupa serangan militer ke Korea Selatan atau melakukan uji coba nuklir, seperti yang selama ini dilakukan Kim Jong Il.

Wajar, sangat wajar, jika Korea Selatan memberlakukan keadaan darurat di negara mereka untuk mengantisipasi suksesi kepemimpinan di Korea Utara.

Presiden Barack Obama bersama Presiden Korea Selatan Lee Myung bak, 11 November 2011

 

Kim Jong Un, belum teruji dan belum terbukti, apakah ia memang mampu menjadi pemimpin yang sehebat kakek atau ayahnya sendiri.

King Jong Un adalah seorang anak muda yang  terkesan sangat dipaksakan oleh keadaan dan takdir kehidupan, untuk menjadi calon diktator baru bagi sebuah negara, yang menghadapi berbagai persoalan besar dalam negara mereka.

Terutama persoalan kelaparan bagi rakyat mereka akibat banyaknya sanksi yang diberikan komunitas internasional.

Bukan hal yang mudah bagi Kim Jong Un untuk tampil sebagai pemimpin baru pasca kematian ayah yang sangat dicintainya.

Kim Jong Un, harus memulai tampuk kepemimpinannya, dengan menghemat setiap kata-kata dari mulutnya agar tidak menimbulkan kontroversi.

Dan sikap yang terbaik yang harus dilakukan Kim Jong Un saat ini adalah melakukan konsolidasi secara berkesinambungan dengan kalangan militer di negaranya, yang selama ini menjadi pilar sangat kuat yang dibanggakan dan sungguh diandalkan seorang diktator sangat nyentrik bernama Kim Jong Il.

Kim Jong Un, harus mulai membangun lobi dan komunikasi yang baik, dengan para sekutu ayahnya selama ini, Cina dan Rusia.

Jadi bayangkan, jika Presiden Hu Jintao dan Perdana Menteri Wen Jiabao, kemudian Presiden Dmitry Medvedev dan Perdana Menteri Vladimir Putin, harus berurusan sekarang dengan seorang anak “kemarin sore” alias anak muda yang sangat tidak berpengalaman seperti Kim Jong Un untuk membicarakan masalah kenegaraan.

Kim Jong Un, harus berpikir secara matang, tentang hal-hal apa yang harus ia hindari dan hal-hal pula yang harus ia lakukan, untuk menjalin kerjasama dengan kalangan internasional sehingga kemunculannya sebagai pemegang tampuk kekuasaan baru di Korea Utara dapat menghasilkan sesuatu yang positif dan sangat berguna bagi rakyatnya.

Kim Jong Un, hendaknya mengubah gaya kepemimpinan sang ayah, yang selama ini kerap mengundang kecaman internasional.

Kim Jong Un, harus membawa Korea Utara ke meja perundingan dalam penyelesaian krisis nuklir di Semenanjung Korea, serta memastikan bahwa negaranya bukanlah sebuah ancaman yang dapat menimbulkan instabilitas.

 

Para pemimpin dunia yang selama ini sangat dekat dengan Korea Utara : (Foto atas dari kiri ke kanan) Presiden Rusia Dmitry Medvedev dan Perdana Menteri Vladimir Putin. Foto bawah dari kiri ke kanan : Presiden Cina Hu Jintao dan Perdana Menteri Wen Jiabao

 

Baik Cina ataupun Rusia, pasti tidak akan pernah memandang rendah pada Kim Jong Un, karena mereka tahu bahwa Kim Jong Un memang telah dipersiapkan menjadi pengganti yang resmi.

Dan dapat dispekulasikan bahwa Kim Jong Il pasti telah mengajarkan dan menurunkan juga semua ilmu kepemimpinannya kepada “Si Big Boy” Kim Jong Un.

Dan mulai saat ini, dunia internasional harus bersiap diri menyambut seorang pemimpin baru bernama Kim Jong Un, anak muda yang kini berdiri tegak memimpin Korea Utaram membawa nama besar dua generasi sebelumnya yaitu Kim Il Sung dan Kim Jong Il.

Tak cuma itu, pemimpin baru Korea Utara ini, juga didukung oleh kalangan militer Korea Utara yang memang sangat kuat dan memiliki teknologi senjata nuklir yang termasuk terhebat didunia.

Tapi, sekuat dan sehebat apapun militer Korea Utara, ataupun teknologi senjata nuklir mereka, satu hal yang terpenting dimuka bumi ini adalah komitmen untuk hidup berdampingan dengan prinsip saling menghormati antar negara yang satu dan negara yang lainnya.

Nuklir, bukanlah sebuah kebanggaan yang layak dipertontonkan, jika hanya digunakan untuk kepentingan yang salah dan membahayakan manusia lainnya di muka bumi.

Nuklir, bukanlah jatidiri yang pantas dibangga-banggakan, jika hanya dipakai sebagai simbol kesewenang-wenangan.

Nuklir, bukanlah senjata berteknologi sangat canggih untuk menghabisi dan menghancurkan semua sendi kehidupan untuk meluluh-lantahkan jiwa raga manusia lainnya, terutama kalangan sipil tak bersenjata.

Nuklir, bukanlah sesuatu yang harus dibanggakan jika keberadaannya hanya untuk merusak stabilitas kawasan dan menjadi ancaman sangat fatal bagi keamanan serta perdamaian dunia.

Wafatnya Kim Jong Il menjadi sebuah perenungkan panjang bagi semua insan manusia bahwa kelahiran, perkawinan dan akhirnya kematian, sepenuhnya ada di tangan Tuhan.

Tak ada yang dapat menduga atau menghadangnya.

Tuhan tetap menjadi pemegang kuasa dan kekuatan tertinggi atas segala mahluk ciptaan-Nya di muka bumi ini.

Rest In Peace, Yang Mulia Kim Jong Il.

 

 

(MS)

About these ads

Comments are closed.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 11,935 other followers