
Militan Palestina memeriksa puing-puing yang berserakan di markas latihan mereka akibat serangan udara militer Israel di Jalur Gaza, 29 Desember 2011 ( Foto : Xinhua )
Pesan Natal Untuk Benjamin Netanyahu Tentang Perdamaian
Vox Populi Vox Dei Saat HAMAS Berpeluang Menangkan Pemilu Palestina
Jakarta, 30 Desember 2011 (KATAKAMI.COM) — Dalam seminggu terakhir, terjadi berulang kali serangan militer yang saling bersahut-sahutan antara militer Israel dan sayap militer HAMAS di Jalur Gaza.
HAMAS menyerang.
Lalu militer Israel atau IDF (Israel Defense Force) membalas.
Setelah dibalas, maka HAMAS tetap menyerang.
Lalu, IDF juga menghantam balik.
Dan untuk melampiaskan kekesalan mereka, sayap militer HAMAS membuat plesetan tersendiri untuk Angkatan Udara Israel.
Angkatan Udara Israel atau IAF ( Israel Air Force ) saat ini dipimpin oleh Mayor Jenderal Ido Nehushtan.
Sementara itu, militer Israel secara keseluruhan atau Israel Defense Force (IDF) saat ini dipimpin oleh Letnan Jenderal Benny Gantz.
Oleh HAMAS, nama IDF ataupun IAF, diplesetkan menjadi IOF atau Israeli Occupation Force (IOF).
Seperti yang dimuat dalam website Brigade Al Qassam, bahwa pesawat-pesawat tempur milik “IOF” telah melakukan serangan udara ke Jalur Gaza pada tanggal 29 Desember 2011 namun tidak ada korban yang jatuh akibat serangan tersebut.
Kalau hari Kamis (29/12/2011) kemarin, serangan udara Israel tidak memakan korban, maka lain lagi ceritanya pada hari Jumat (30/12/2011) ini.
Akibat serangan Angkatan Udara Israel ke Jalur Gaza, satu orang warga Gaza dikabarkan tewas, dan 5 orang lainnya terluka akibat serangan yang dilakukan Jumat (30/12/2011) pagi, seperti yang diberitakan oleh International Middle East Media Center (IMEMC).
Barangkali, baik HAMAS atau Israel lagi sama-sama hendak melakukan pemanasan menuju perang yang sesungguhnya.
Yang jelas, meningkatnya tensi antara HAMAS dan Israel seminggu terakhir ini, dalam suasana peringatan 3 tahun Perang Gaza yang terjadi tanggal 27 Desember 2008.

Kepala Staf IDF (Israel Defense Force) Letnan Jenderal Benny Gantz ikut dalam latihan militer bersama pasukan-pasukannya
IDF Chief of Staff: Israel cannot live under the threat of Hamas in Gaza
IDF Chief: Gaza war against Hamas was an ‘excellent’ operation
Menandai 3 tahun Perang Gaza, hari Selasa (27/12/2011) lalu Kepala Staf IDF Letnan Jenderal Benny Gantz menyatakan bahwa dari waktu ke waktu, Israel terus menerus mendapatkan serangan roket dari Jalur Gaza.
Saya percaya, kata Gantz, bahwa sebagai sebuah negara, Israel tidak akan bisa hidup dibawah tekanan dari serangan-serangan militer yang dilakukan oleh Hamas.
Benny Gantz menyebutkan bahwa Perang Gaza yang dikenal juga dengan nama Operation Cast Lead adalah sebuah operasi militer yang sangat bagus ( EXCELLENT) yang pernah dilakukan untuk berhadap-hadapan secara langsung dengan HAMAS.
Dan di lain kesempatan pejabat militer Israel yang lain menyebutkan bahwa Israel telah menyiapkan sebuah operasi militer terbaru untuk dilakukan dalam menghadapi kelompok militan HAMAS.
Sementara itu, saat berkunjung ke Kairo hari Selasa (28/12/2011) lalu, Perdana Menteri HAMAS Ismail Haniyeh menyerukan agar Negara-Negara Arab memberikan bantuan dalam melakukan rekontruksi di Jalur Gaza.
Haniyeh juga mendesak Negara-Negara Arab untuk menyelamatkan Israel dan pendudukan Israel. Termasuk membantu agar 6000 orang warga Palestina yang masih mendekam di penjara-penjara Israel.
Peringatan 3 tahun Perang Gaza seakan menjadi semakin seru dengan keluarnya beragam pernyataan yang sama-sama keras dari kedua belah pihak.
Baik Israel, maupun Hamas, sama-sama menyadari betapa besar dan kuatnya pengaruh media, untuk saling menyodok lawan lewat perang “statement”.

Hamas leader Khaled Meshaal (R) speaks to the media with Hamas' Gaza leader Ismail Haniyeh after meeting Sudan's President Omar al-Bashir in Khartoum December 29, 2011. REUTERS/ Mohamed Nureldin Abdallah
PM Ismail Haniyeh calls for Arab-Islamic plan to salvage Jerusalem
Pertanyaannya, perlukah Perang Gaza itu diulangi dalam bentuk apapun oleh Hamas dan IDF setelah tragedi itu berlalu 3 tahun lalu ?
Bagi Hamas, Perang Gaza adalah sebuah memori yang sangat pilu tentang sebuah kejahatan kemanusiaan yang menewaskan begitu banyak rakyat Palestina hanya dalam kurun waktu 22 hari.
Tapi bagi Israel, Perang Gaza adalah sebuah bentuk pertahanan diri dan perlawanan untuk menjaga kehormatan serta keamanan negara mereka atas penghinaan yang dilakukan Hamas yang melakukan serangan militer dengan mengirimkan ratusan roket persis di malam Natal (24/12/2008).
Tak akan ada yang mau dipersalahkan atas Perang Gaza tersebut.
Masing-masing pihak mempunyai pembelaan diri tentang apa yang mereka lakukan berdasarkan visi dan misi mereka masing-masing.
Mau sejauh apapun komunitas internasional melakukan inervensi dan penghakiman atas Israel mengenai Perang Gaza tersebut, fakta di lapangan tak bisa dipungkiri yaitu bahwa Israel tak akan melakukan serangan balasan jika negara mereka tak diancam dan diserang.
Namun untuk saat ini, sesungguhnya tak ada alasan bagi Israel dan Hamas untuk mengulangi peperangan itu dalam bentuk apapun.
Betul bahwa dalam banyak kesempatan, Israel memang kerap kali menggunakan kekuatan militer mereka secara berlebihan.
Tetapi, negara manapun didunia ini akan selalu mengandalkan kekuatan militer mereka masing-masing untuk menunjukkan bahwa sebagai sebuah negara adalah wajib hukumnya untuk menjaga kedaulatan dan kehormatan di bidang pertahanan dan keamanan.
Operasi militer yang dilakukan dalam rangka menjaga kedaulatan dan kehormatan dari negara masing-masing adalah sebuah bentuk tanggung-jawab yang wajib dipikul oleh pasukan militer manapun di muka bumi ini.
Sehingga, ekses yang timbul dari pelaksanaan operasi militer itu, tak bisa serta merta dikategorikan sebagai sebuah kejahatan terhadap kemanusiaan.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, paling kanan, bersama Menteri Pertahanan Ehud Barak dan Kepala Staf IDF Letnan Jenderal Benny Gantz (bertopi merah)
Namun dalam konteks Israel, tolak ukur negara yang satu ini dalam melakukan serangan balasan terhadap HAMAS pada tahun 2008 lalu misalnya, memang sangat sulit dipahami oleh akal sehat komunitas internasional.
Tak mungkin Israel tak tahu bahwa penggunaan kekuatan militer yang sangat berlebihan yang mereka lakukan selama ini, selalu mendapat sorotan tajam dan sering menjadi kecaman komunitas internasional.
Itu jugalah yang terjadi saat Angkatan Laut Israel memblokade wilayah perairan mereka, untuk menghalangi iring-iringan kapal Mavi Marmara datang bersama kapal-kapal lainnya dalam misi Freedom Flotilla bulan Mei 2010 lalu.
Berhubung para aktivis Freedom Flotilla tak memperdulikan peringatan Israel untuk tidak memasuki wilayah perairan Israel, maka Pasukan Komando Israel diperintahkan menahan laju kapal-kapal tersebut sehingga menewaskan 9 orang warga negara Turki.
Israel seakan tak perduli.
Sebab sepertinya, setiap ancaman bagi Israel adalah sesuatu yang harus segera ditindak-lanjuti, lewat penggelaran operasi militer yang sesuai dengan prosedur tetap (protap) yang berlaku dalam internal militer mereka.
Tapi jika muncul pertanyaan tentang perlu atau tidaknya Perang Gaza tahun 2008 lalu diulang kembali ?
Maka jawabannya adalah T I D A K.
Baik Hamas, atau Israel, tak perlu mengkondisikan situasi agar suasana memanas dan layak untuk diarahkan ke dalam kerangka pertempuran.

Ilustrasi gambar
Perang Gaza 2008 itu sungguh tidak layak untuk dijadikan patokan untuk membuat perang-perang baru dalam bentuk apapun.
Pikiranlah konsekuensi dan dampak yang timbul bila operasi-operasi militer sekeras itu diulangi dalam era kekinian.
Mau seberapa banyak lagi korban yang harus berjatuhan ?
Mau seberapa panjang lagi penderitaan yang harus ditimbulkan ?
Dan mau seberapa besar lagi kecaman-kecaman internasional yang harus dikeluarkan untuk merespon perang sedashyat itu ?
Teringat pada sebuah film yang dikenal oleh seluruh dunia tahun 1981 lalu “The Gods Must Be Crazy”.
Judul film ini bisa dipinjam namun perlu diubah sedikit untuk menggambarkan kegilaan Israel dan Hamas bila kedua belah pihak tak bisa dinasehati lagi.
“Israel & Hamas Must Be Crazy !”
Baik Israel dan Hamas, barangkali memang sudah sama-sama GILA, kalau masih terus ingin berperang tanpa berkesudahan.
Terutama HAMAS, untuk apa berbicara dan melakukan semua gerakan-gerakan politik di tingkat atas ( bahkan sampai menempuh kebijakan persatuan atau UNITY dengan pihak Fatah), jika ternyata sayap militer mereka tak bisa dikendalikan ?
Jika menempuh jalur politik dalam melanjutkan perjuangan demi kepentingan rakyatnya, maka misi penting itu harus disterilkan dari hal-hal yang tak berguna atau bahkan yang sangat berlebihan sifatnya.
Misi politik akan mustahil bila terus mau dikawinkan dengan gerakan radikalisme yang mengandung seribu satu macam resiko di lapangan.
Silahkan HAMAS mengisyaratkan bahwa pihaknya belum berencana untuk mengajukan calon tertentu dalam pemilihan umum kepresidenan di Palestina tahun 2012 mendatang.
Tapi fakta yang sudah bergulir, HAMAS sudah memasuki wilayah-wilayah politik yang lebih signifikan sejak mereka memutuskan menyepakati persatuan (UNITY) dengan Pihak Fatah.
Buang waktu (westing time) jika HAMAS justru tidak maksimal dan tidak peka dalam memperjuangkan peluang emas yang bisa mereka dapatkan dapat pemilihan umum di Palestina.
Jika memang ada yang bisa dicalonkan dalam pemilu kepresidenan, kenapa tidak dicalonkan ? Calonkan saja dan silahkan galang kekuatan politik disemua lini dari mulai sekarang.
Untuk bisa melakukan hal lebih baik bagi kepentingan rakyat Palestina, maka KEKUASAAN harus ada di tangan.
Itulah rumusan sangat sederhana yang harus diingat HAMAS dalam melanjutkan misi-misi politik mereka memasuki tahun 2012 nanti.
Jadi, untuk HAMAS dan Israel, tataplah ke depan.
Dan lakukan semua hal yang lebih berguna daripada sekedar mengancam negara lain lewat kiriman-kiriman roket, atau melakukan serangan- serangan balasan yang sangat mematikan.
Terutama Israel, jangan terlalu “emosional” jika hendak melakukan serangan-serangan balasan ke Jalur Gaza. Sebab dampak dari serangan balasan mereka, tak pernah ada yang meleset.
Lokasi yang dituju pasti hancur dan luluh lantak secara mengerikan.
Masing-masing kekuatan militer Israel dan HAMAS, harus dikendalikan sebaik-mungkin.
Tahun 2011 sudah akan berlalu.
Sambutlah tahun baru 2012 dengan semangat perdamaian.
Jadi, singkat kata, untuk Israel dan HAMAS, jangan pada GILA deh lo !
(MS)
Like this:
Be the first to like this post.