Oleh : Mega Simarmata, Pemimpin Redaksi
Jakarta, 10 Januari 2012 (KATAKAMI.COM) — Kecanggihan teknologi di era globalisasi semacam ini, memungkinkan seorang jurnalis seperti saya untuk melanglang buana ke belahan dunia mana saja hanya dengan mengakses dunia maya (internet).
Salah satu isu yang saya perhatikan adalah perang terhadap teror, baik yang dilakukan di Indonesia, ataupun yang dilakukan oleh komunitas internasional.
Termasuk oleh Amerika Serikat, dalam kaitan Perang di Afghanistan.
Hari demi hari, saya memantau perkembangan berita internasional melalui internet. Termasuk perkembangan Perang Afghan.
Foto demi foto dari operasional pasukan-pasukan Amerika dan pasukan multi nasional di Afghan, saya amati satu persatu.
Saya mengikuti dengan seksama proses pergantian Komandan Tertinggi Amerika untuk Perang Afghan, dari Jenderal Stanley McCrystal kepada Jenderal David Howell Petraeus.
Beberapa kali saya menghubungi Mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal TNI (Purnawirawan) Ryamizard Ryacudu — yang memang sudah bersahabat baik dengan saya sangat lama — untuk mendiskusikan masalah-masalah aktual, termasuk mendiskusikan masalah Perang Afghan.
Kepada Jenderal Ryamizard Ryacudu, selalu saya sampaikan informasi-informasi terbaru yang saya baca mengenai perkembangan Perang Afghan.
Saya ceritakan bahwa Presiden Barack Obama menunjuk seorang Jenderal berbintang empat bernama David Howell Petraeus untuk menggantikan Jenderal Stanley McCrystal sebagai Komandan Tertinggi Pasukan Amerika di Afghanistan.

Foto Atas : David Petreus dengan Presiden Barack Obama. Foto Bawah : David Petraeus bersama Ketua DPR (House Speaker) John Boehner
Dari Afghan Jenderal David Petraeus Akan “Dikurung” Obama Di Markas CIA
Jenderal Petraeus Tinggalkan Afghanistan Saat Hubungan Amerika Dan Pakistan Memburuk
Jadi, sejak David Howell Petraeus menjadi Komandan Tertinggi Pasukan Amerika di Afghanistan, saya sebagai jurnalis Indonesia memperhatikan dirinya secara dekat.
Dalam arti kata, apapun berita tentang David Howell Petraeus, pasti saya baca dan saya ikuti dan saya muat di media saya yaitu di Situs Berita KATAKAMI.COM dan di Blog saya INDONESIAKATAKAMI.WORDPRESS.COM.
Dan setiap saya memuat berita dan foto apapun di media saya, maka saya akan memberitahukannya kepada publik lewat jejaring sosial Facebook dan Twitter.
Hingga akhirnya pada suatu hari di awal tahun 2011, sebuah nama penting menjadi salah satu pengikut (follower) saya di jejaring sosial Twitter.
Nama tersebut adalah Jenderal David Howell Petraeus.
Dari sanalah, sebuah persahabatan unik terjalin antara saya sebagai jurnalis Indonesia, dengan Jenderal David Howell Petraeus.
Dan sungguh sebuah kejutan bagi saya, saat Presiden Barack Obama menunjuk nama David Howell Petraeus menjadi Direktur Dinas Rahasia Amerika, CIA ( Central Intelligence Agency ).
David dilantik sebagai Direktur CIA pada tanggal 6 September 2011.
Saya sempat membuatkan dua buah tulisan terkait David Petraeus saat ia akan meninggalkan tugas pentingnya selama ini di Afghanistan.
Persahabatan saya dengan David cukup unik.
Sejak ia menempati posisi barunya sebagai Direktur CIA, komunikasi dan persahabatan kami tak cuma saling “follow” di Twitter tetapi berlanjut ke sarana komunikasi lainnya.
Salah satunya adalah saling berkiriman email.
Yang berkesan di hati saya, saat dengan “bodohnya” saya iseng bertanya kepada David dalam satu kesempatan, berapa nomor pin Blackbery-nya ?
( Dalam pikiran saya, barangkali saja ia mengikuti jejak Presidennya yaitu Barack Obama yang kabarnya merupakan pengguna Blackberry ).
David menjawab dengan gayanya tersendiri :
“No, I am not allowed to handle phone in a war zone”.
Barangkali memang hanya saya, jurnalis di Indonesia, yang beruntung mendapat kesempatan berteman dengan baik dengan seorang Jenderal sangat berpengaruh di Amerika seperti David Petraeus.
Tetapi walau demikian, saya tetap menjaga jarak dan memilih untuk bersikap pasif dalam menjalani persahabatan unik kami.
Saya tidak pernah menghubungi David lebih dahulu.
Sebab selama ini, David yang selalu menghubungi saya terlebih dahulu. Sehingga komunikasi kami hanya terjalin, kalau David yang menghubungi.
Saya juga tidak mau bertanya terlalu detail yang mengesankan ingin tahu secara berlebihan tentang apapun juga.
Sebab saya tidak ingin persahabatan kami menjadi terganggu akibat rasa ingin tahu yang tidak pada tempatnya.
Saya tidak pernah mau menceritakan apapun juga mengenai perkembangan informasi (berita) apapun di Indonesia.
Semua komunikasi dan persahabatan antara saya dan David Petraeus mengalir bagaikan air. Hal-hal sederhana yang datar saja yang selama ini saya sampaikan dan saya ceritakan kepada David.
Termasuk saat saya mengirimkan ucapan Selamat Natal dan Tahun Baru.
Bagi saya, ia adalah teman yang baik.

Buku Biografi David Petraeus yang akan diluncurkan tanggal 24 Januari 2012 mendayang berjudul "All In : The Education of General David Petraeus"
Saat saya tahu bahwa ia akan meluncurkan biografi terbarunya pada tanggal 24 Januari mendatang, saya sampaikan pada David Petraeus bahwa saya ingin melakukan wawancara tertulis kepada dirinya.
Dan David menyetujui.
Dibantu oleh sahabat baik saya, Teguh Santosa, Pemimpin Redaksi Rakyat Merdeka Online untuk menterjemahkan seluruh pertanyaan, daftar pertanyaan saya kirimkan ke email David Petraeus.
Akhirnya ia menjawab dengan gaya dan caranya sendiri.
Sebagai jurnalis, saya memahami bahwa sangat mustahil dalam kapasitas David sebagai Direktur CIA untuk menjawab secara terbuka, terang benderang dan bahkan panjang lebar, pertanyaan-pertanyaan yang tajam dan menyentuh masalah-masalah keamanan.
Yang saya tangkap dari jawaban-jawaban yang dituliskannya, David berusaha untuk menjawab secara datar, normatif dan sangat standar, tetapi semua dilakukannya dengan sangat santun agar tidak mengecewakan diri saya sebagai teman baik.
Dalam waktu yang tak lama, kami akan memuat hasil wawancara dengan Direktur CIA, David Howell Petraeus.
Tunggu saja. (*)


January 11, 2012




Comments are closed.