Tudingan Iran Jangan Beranak Cucu Terkait Pembunuhan Ilmuwan Nuklir

Foto dari ilmuwan nuklir Iran, Mostafa Ahmadi Roshan, yang tewas dibunuh tanggal 11 Januari 2012

 

Jakarta, 15 Januari 2012 (KATAKAMI.COM)  —  Empat hari pasca kematian ilmuwan nuklir Iran, Mostafa Ahmadi Roshan, tudingan Pemerintah Iran tentang siapa yang paling bertanggung-jawab atas pembunuhan tersebut ternyata makin beranak cucu.

Hari Rabu (11/12/2012), sebuah bom magnetik meledak di dekat mobil ilmuwan nuklir Iran di dekat sebuah gedung perguruan tinggi Allameh Tabatabaei University di Teheran.

Sang Ilmuwan, Mostafa Ahmadi Roshan segera tewas dan sopirnya, yang mengalami luka, meninggal beberapa jam kemudian di rumah sakit.

Ahmadi Roshan adalah lulusan teknik Universitas Sharif Teknologi kimia dan wakil direktur pemasaran di fasilitas Natanz nuklir Iran.

Pembunuhan ini terjadi justru pada saat Iran telah mencapai kesepakatan dengan P5 +1 – Inggris, China, Perancis, Rusia, dan Amerika Serikat ditambah Jerman – untuk mengadakan perundingan di Turki.

Awalnya tudingan paling keras ditujukan Iran kepada Dinas Rahasia Israel, MOSSAD.

Namun hari Kamis (13/1/2012) lalu, Presiden Israel Shimon Peres secara tegas membantah tudingan Iran yang dianggapnya sangat tidak berdasar.

 

Foto Atas ( dari kiri ke kanan ) : Presiden Amerika Serikat Barack Obama, Perdana Menteri Inggris David Cameron, dan Duet Pemimpin Israel, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Presiden Shimon Peres. Foto Bawah (dari kiri ke kanan) : Kepala Dinas Rahasia Amerika, CIA, Jenderal David Petraeus, Kepala Dinas Rahasia Israel, MOSSAD, Tamir Pardo (di tengah) dan Kepala Badan Tenaga Atom Internasional PBB (IAEA) Yukiya Amano

 

Kini tudingan Iran tentang siapa otak pembunuhan terhadap ilmuwan nuklirnya itu bisa beranak cucu melebar kemana-mana.

Sebagai ilustrasi atau gambaran saja, tudingan yang melebar kemana-mana ini ibarat permainan tali laso para koboi yang memutar-mutarkan talinya dan kemudian dilemparkan ke arah yang terjauh.

Hup !

Tergantung lingkaran tali laso itu bisa menjaring kepala siapa untuk “dijerat”.

Hanya dalam 4 hari, tudingan Pemerintah Iran bisa melebar ke banyak nama sebagai pihak-pihak yang dituduh terlibat atau bahkan bertanggung-jawan atas pembunuhan ilmuwan nuklir Iran.

Dari mulai Presiden Amerika Serikat Barack Obama beserta Kepala Dinas Rahasia Amerika, CIA, Jenderal David Petraeus.

Kemudian masuk ke nama Israel ( dalam hal ini yang jelas disebut adalah Dinas Rahasia Israel, MOSSAD, yang kini dipimpin oleh Tamir Pardo).

Sehingga kalau sudah berbicara soal Israel, maka harus menyentuh dua nama yang kini memimpin disana yaitu Presiden Shimon Peres dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

Tudingan juga diarahkan kepada Pemerintah Inggris, setelah Perdana Menteri David Cameron mengecam Iran jika dilakukan pemblokiran (penutupan) terhadap Selat Hormuz.

Sialnya, yang ikut kena sasaran adalah Kepala Badan Tenaga Atom Internasional  (IAEA) Yukiya Amano karena dianggap para pemeriksa dari IAEA yang membocorkan nama-nama para ilmuwan nuklir Iran, untuk kemudian diserahkan daftarnya kepada Dinas Rahasia Israel, MOSSAD.

 

Menteri Pertahanan Israel Ehud Barak, kiri, didampingi Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Leon Panetta, saat Ehud Barak berkunjung ke Pentagon, 19 September 2011. Jika Amerika dan Israel jadi melakukan serangan militer ke Iran, maka kedua Departemen Pertahanan akan memegang komando dan kendali dari serangan militer tersebut.

 

Kini, satu persatu dari nama-nama ini bisa dicermati.

Selama ini, Amerika memang sangat keras mengkritik dan memberikan tekanan yang luar biasa plus sanksi kepada Pemerintah Iran agar Teheran menghentikan program nuklirnya.

Amerika juga sangat tegas menekan Iran agar Iran tidak menutup Selat Hormuz karena yang merupakan jalur penting pengiriman minyak dari kawasan Timur Tengah ke seluruh dunia.

Pertanyaannya, apakah karena memberikan kritikan agar Iran menghentikan ambisi nuklirnya, maka Amerika yang layak dituding untuk bertanggung-jawab atas pembunuhan terhadap seorang ilmuwan nuklir Iran ?

Pemikirannya jangan sesempit itu.

Kemudian, nama Pemerintah Inggris dianggap ikut bertanggung-jawab atas tewasnya ilmuwan nuklir Iran.

Pertanyaannya, apakah karena Perdana Menteri Inggris, David Cameron, mengeluarkan himbauan agar Iran tidak menutup Selat Hormuz, maka Inggris layak dituding ikut bertanggung-jawab atas pembunuhan tersebut ?

Perdana Menteri David Cameron hanya sebatas memperingatkan untuk menunjukkan konsistensi Inggris dalam hal keamanan di Selat Hormuz yang sangat dibutuhkan oleh banyak negara sebagai lalu lintas pengiriman minyak dunia ke seluruh penjuru dunia.

Sedangkan Israel, yang dipimpin Shimon Peres sebagai Presiden dan Benjamin Netanyahu sebagai Perdana Menteri, sudah tak asing lagi sebagai pihak yang paling sering dituduh melakukan semua musibah mematikan dan kekisruhan di dalam domestik wilayah Iran.

Dan Dinas Rahasia Israel, MOSSAD, menjadi nama yang paling popular untuk bisa setiap saat disebut sebagai biang kerok brutalitas.

Belakangan, nama Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) ikut jadi sasaran tembak tudingan sebab dianggap para pemantaunya yang selama ini datang ke Iran, telah sengaja menyerahkan daftar nama-nama para ilmuwan nuklir Iran ke Dinas Rahasia Israel, MOSSAD, agar selanjutnya MOSSAD bisa melakukan “apa saja”.

Kecanggihan teknologi ( IT ) tidak lagi tergantung pada dokumentasi-dokumentasi tertulis yang tertuang dalam lembaran-lembaran kertas.

Kecanggihan teknologi dari negara mana saja, memungkinkan mereka bisa menjangkau seluruh informasi penting di belahan dunia mana saja dalam hitungan detik sesuai perputaran waktu yang berjalan.

Para pejabat IAEA, sangat mustahil mau menjadi kaki tangan Mossad sebab para petinggi IAEA adalah tenaga-tenaga profesional yang kredibel dan bertaraf internasional.

Sehingga tudingan terhadap IAEA ini sangat gegabah sekali.

Artinya, tudingan Iran janganlah melebar dan beranak cucu kesana-kemari menunjuk muka negara lain untuk dipersalahkan terhadap gangguan keamanan yang terjadi di dalam wilayah teritorial Iran sendiri.

Selidiki dulu baik-baik.

 

Wakil Presiden Iran, Mohammad-Reza Rahimi

 

Seperti yang dikutip dari PRESS TV.IR hari Kamis (14/1/2012) kemarin, Wakil Presiden Rahimi menekankan bahwa pemerintah Iran AKAN melakukan segala daya untuk melindungi para ilmuwan Iran dan elit Islam Iran.

“Yang sesungguhnya terjadi adalah bahwa musuh-musuh Iran telah menyadari bahwa sanksi mereka (terhadap Iran), dan semua bentuk peperangan yang bertujuan memaksakan dan menciptakan hambatan (terhadap nuklir Iran), tidak dapat menghentikan kemajuan ilmu pengetahuan bangsa Iran. Itulah sebabnya mereka terpaksa pembunuhan, “kata Rahimi.

Jika Pemerintah Iran (melalui Wakil Presidennya) mengikrarkan tekat untuk melindungi para ilmuwan dan elit-elit agama Islam di Iran pasca terbunuhnya Mostafa Ahmadi Roshan, tanda tanya besar bisa diarahkan ke Teheran.

“Lho, selama ini anda semua (Pemerintah Iran) kemana saja ?”

Kenapa baru sekarang menyadari bahwa ilmuwan dan elit pemuka agama Islam di Iran harus dilindungi oleh negara mereka ?

Apakah tidak ada dicantumkan dalam Undang Undang yang berlaku di Iran bahwa NEGARA wajib hukumnya melindungi setiap warga negara mereka ?

Sehingga, salah besar, kalau baru sekarang Pemerintah Iran bertekat untuk mulai melindungi para ilmuwan nuklir dan para elit pemuka agama Islam yang ada disana.

Sekali lagi bahwa setiap negara WAJIB HUKUMNYA melindungi warga negara mereka.

Memberikan rasa aman dan pengamanan yang maksimal.

Apalagi jika Iran memang sangat berambisi membuat program nuklir yang terhebat maka sekali lagi, WAJIB HUKUMNYA memberikan perlindungan maksimal kepada para ilmuwan mereka dengan motto, kapan saja, dimana saja, dan dalam keadaan apa saja, para ilmuwan nulir itu wajib dilindungi.

Sehingga yang paling bijaksana dilakukan saat ini oleh Pemerintah Iran agar melakukan pembenahan dalam sistem pemerintahan mereka, agar ke depan tekat untuk memberikan perlindungan secara maksimal kepada para ilmuwan nuklir dan elit pemuka agama Islam disana, bisa benar-benar terlaksana.

Dalam arti kata, harus diakui dulu bahwa negara (Iran) sudah gagal melindungi warga negaranya.

 

Iran

 

Salah satu contoh yang sangat masuk di akal adalah seperti ini, Indonesia adalah salah satu negara yang sejak 12 tahun terakhir ini paling sering mendapat hantaman penerapan peringatan perjalanan dalam bentuk kebijakan travel warning dan travel advisory dari sejumlah negara.

Sedikit saja ada gangguan keamanan di Indonesia maka kebijakan penerapan travel warning dan travel advisory itu bermunculan dari kanan kiri yaitu dari beberapa negara-negara sahabat.

Mau tidak mau, Pemerintah Indonesia harus menerima kenyataan pahit ini, sebab pada faktanya Indonesia memang dianggap paling sering mendapat gangguan keamanan dalam bidang terorisme.

Tak akan ada negara di dunia ini yang akan mengabaikan keselamatan warga negaranya ketika sedang berpergian atau berada di negara lain di belahan dunia manapun juga.

Penerapan kebijakan travel warning dan travel advisory itu adalah bagian dari kewajiban NEGARA melindungi setiap warganya, kapan saja, dimana saja, dan dalam keadanaan apa saja.

Semua upaya terbaik sudah dan akan terus dilakukan Indonesia untuk menciptakan rasa aman dan memberikan jaminan keamanan, baik kepada warga negaranya, ataupun terhadap warga asing, tidak akan pernah bisa menghalangi ketegasan negara-negara sahabat melindungi warga negara mereka bila di Indonesia terhadap gangguan keamanan atau perkembangan situasi yang dianggap “buruk dan membahayakan”.

 

Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Sayyid Ali Khamenei kiri, bersama Presiden Irah Mahmoud Ahmadinejad

 

Sehingga, yang sangat bijaksana dilakukan oleh Pemerintah Iran, terutama oleh Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Sayyid Ali Khamenei dan Presiden Mahmoud Ahmadinejad terkait kasus pembunuhan ilmuwan nuklir mereka adalah memerintahkan aparat mereka menyelidiki kasus ini dengan seksama.

Silahkan hukum ditegakkan.

Sebab hukum memang harus menjadi PANGLIMA di negaranya masing-masing.

Selanjutnya, Pemerintah Iran harus mengakui kegagalan mereka melindungi para ilmuwan nuklirnya selama ini sehingga satu persatu para ilmuwan itu bisa dengan mudah dibunuh oleh pihak lain.

Dan ke depan, jaminan keamanan kepada para ilmuwan nuklir dan keluarganya, harus diberikan seratus persen selama 1x 24 tanpa henti.

Pemerintah Iran juga harus lebih bijasana menyikapi kerasnya tekanan internasional yang muaranya adalah sama yaitu mengharapkan Teheran lebih kooperatif dalam bekerjasama merespon tuntutan dan kekuatiran komunitas internasional terkait ambisi nuklir Iran.

Solusi dari semua ketegangan yang memuncak ini, bukan peperangan.

Solusi dari semua ketegangan yang memprihatinkan ini, bukan kehancuran akibat gempuran serangan militer dari negara-negara besar terhadap Iran.

Solusi terbaik dari semua krisis nuklir Iran yang sangat berkepanjangan ini adalah dialog dan menempur jalur-jalur diplomasi.

Menggempur Iran dengan maksud menghancurkan proyek nuklir mereka, bukanlah jalan keluar yang tepat.

Ada begitu banyak warga sipil dan negara-negara yang bertetanggaan dengan Iran, yang akan ikut menanggung resiko yang sangat besar jika serangan militer itu dilaksanakan.

 

Peta aktivitas nuklir Iran ( Foto : Guardian.Co.Uk)

 

Ledakan dari lokasi-lokasi yang digunakan sebagai lokasi reaktor-reaktor nuklir akan sangat berbahaya bagi lingkungan di sekitarnya.

Lihatlah tragedi Fukushima di Jepang, begitu mengerikan dampak ledakan proyek nuklir disana akibat bencana alam Tsunami tahun 2011 lalu.

Dan rujukan lain menyangkut ledakan nuklir.

Ada begitu banyak pertimbangan kemanusiaan yang harus benar-benar dipikiran jika hendak “menggempur” Iran.

Dan itu menjadi tugas bersama dari komunitas internasional untuk menyelesaikan masalah krisis nuklir Iran dengan cara yang baik dan bijaksana.

Jika cara atau SOLUSI terbaik yang bisa dilakukan untuk menyelesaikan krisis nuklir Iran, lalu mengapa cara atau SOLUSI terburuk yang dipilih ?

Cara terbaik dalam menyelesaikan krisis nuklir Iran adalah dengan cara dialog dan diplomasi,  sebagai bagian dari komitmen menjaga perdamaian dan keamanan dunia.

Sekali lagi, cara terbaik menyelesaikan krisis nuklir Iran BUKAN dengan cara serangan militer.

Tetapi lewat dialog dan diplomasi.

 

 

 

(MS)

About these ads

Comments are closed.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 11,494 other followers