Jakarta, 24 Januari 2012 (KATAKAMI.COM) — Akhirnya sanksi yang sangat mengerikan dijatuhkan oleh negara-negara yang tergabung dalam Uni Eropa terhadap Iran.
Seperti yang diberitakan Harian Analisa (23/1/2012), Uni Eropa akhirnya sepakat untuk melakukan embargo atas ekspor minyak Iran, selain sanksi finansial dan perdagangan. Sanksi-sanksi tersebut diberikan sebagai “hukuman” negara-negara Barat atas pengembangan nuklir Iran.
“Ini adalah sebuah keputusan penting. Ini akan menjadi sebuah sanksi yang memperkuat kepada Iran,” ujar Menteri Luar Negeri Inggris, William Hague seperti dikutip dari AFP, Senin (23/1/2012).
“Ini jelas merupakan hal yang benar dilakukan karena Iran terus melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB dan menolak hadir dalam negosiasi penuh arti untuk program nuklir,” tambahnya.
Sanksi ini akhirnya disepakati setelah negara-negara Uni Eropa melakukan pembicaraan alot terkait waktu dan juga hal-hal terkait pelarangan minyak Iran tersebut.
Namun perwakilan 27 negara Uni Eropa akhirnya mencapai sebuah kesepakatan politik pada pertemuan yang berlangsung di Brussel, Senin.
Untuk melindungi perekonomian Eropa yang kini sedang berjuang menghadapi krisis, negara-negara Eropa itu sepakat untuk melakukan embargo secara bertahap.
Negara-negara yang memiliki kontrak dengan Iran hingga 1 Juli 2012 diharapkan bisa mengakhirinya.
Dalam pertemuan tersebut, Uni Eropa juga sepakat untuk membekukan aset-aset Bank Sentral Eropa, serta melarang semua perdagangan emas dan logam berharga lain dengan bank dan lembaga publik lainnya.
Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Catherine Ashton mengatakan, pihaknya berharap sanksi finansial bise menekan Tehran untuk kembali melakukan negosiasi dengan Barat.
“Saya ingin tekanan sanksi-sanksi ini bise menghasilkan negosiasi,” ujar Ashton seperti dikutip dari Reuters.
“Saya ingin melihat Iran kembali ke meja perundingan dan mengambil semua ide yang kita tinggalkan di meja tahun lalu atau datang lagi dengan ide baru,” tambahnya.
Tehran sebelumnya mengatakan program nuklirnya penting untuk memenuhi kebutuhan energi.
Namun Badan Energi Atom Internasional PBB (IAEA) mengaku memiliki bukti-bukti yang menunjukkan Iran sedang mendesain senjata nuklir.
Dan menurut rencana, delegasi IAEA akan kembali mengunjungi Iran pada tanggal 29-31 Januari mendatang.
Sehingga sangat wajar jika saat ini keseluruhan pemimpin, kabinet pemerintahan dan kalangan pengambil kebijakan (termasuk militer Iran) merasa sangat murka atas embargo dan sanksi Uni Eropa yang terasa sangat mengerikan dampaknya ke depan bagi Iran.
Sesungguhnya kalau mau jujur, teori tentang keampuhan embargo dan sanksi untuk memaksa Iran kembali ke meja perundingan, sangat tidak bijaksana.
Sebab komunitas internasional harus mengingat satu hal yang sangat penting bahwa Selat Hormuz yang merupakan jalur SANGAT AMAT PENTING yang dibutuhkan oleh banyak negara sebagai lalu lintas pengiriman minyak dunia ke seluruh penjuru dunia.
Dan Selat Hotmuz ada di dalam wilayah Iran !
Mau berbicara atas nama hak-hak internasional pun akan sangat sia-sia jika pada dasarnya, sebuah negara yang menjadi induk kewilayahan dari Selat Hormuz mau diabaikan.
Komunitas internasional pun membutuhkan Iran.
Sehingga, disinilah dibutuhkan ketenangan dari semua pihak untuk tidak emosional dalam mengambil kebijakan-kebijakan penting.
Termasuk Pemerintah Iran, sikap kooperatif terhadap komunitas internasional adalah sesuatu yang sifatnya sangat mutlak dalam menempuh semua jalur diplomasi.
Ibarat kata pepatah, “Hati boleh panas tetapi kepala harus tetap dingin”.
Dibutuhkan KESABARAN yang sangat kuat dari Pihak Iran dalam situasi yang sulit seperti ini.
Dan disinilah juga, Pemerintah Iran, terutama Pemimpin Revolusi Ayatollah Sayyid Ali Khamenei dan Presiden Mahmoud Ahmadinejad, harus benar-benar bijaksana.
Embargo dan sanksi Uni Eropa sifatnya hanya sebagai alat penekan untuk “mengajak” Iran kembali ke meja perundingan.
Artinya, tetap ada peluang ke depan nanti, embargo dan sanksi itu dapat dinormalisasikan kembali.
Berundinglah, untuk apapun yang memang perlu dan dirasa sangat mendesak untuk dirundingkan secara transparan.
Jika delegasi dari IAEA memang sudah terjadwalkan untuk berkunjung ke Iran pada akhir bulan Januari ini, terimalah mereka dengan tangan terbuka dan berikan informasi yang dirasa perlu untuk mereka ketahui.
Paling tidak, ini bisa membangun komunikasi dua arah yang positif untuk membantu Iran terlepas dari beban embargo dan sanksi yang bertubi-tubi.
Dan Selat Hormuz, walau berada dalam teritorial Iran, biarkan selat yang sangat strategis ini TERBUKA DAN BEBAS DILALUI untuk kepentingan global.
Paling tidak, agar jangan ada lagi peluang untuk mendatangkan masalah baru bagi Iran, termasuk peluang dilakukannya serangan militer asing terhadap Iran.
Serangan militer asing sangat tidak dibutuhkan untuk dilakukan terhadap Iran dalam situasi yang sudah sangat sulit seperti ini.
Sehingga, semua pihak harus benar-benar menahan diri dan memberikan waktu kepada Iran untuk melakukan yang diinginkan komunitas internasional.
Iran perlu secara sigap meminimalisir semua ancaman dan permasalahan yang dampaknya tak baik bagi rakyat Iran sendiri.
Ada kalanya, Iran perlu bersikap lentur dan fleksibel, demi kepentingan dan kebaikan mereka juga.
Paling tidak untuk saat yang sesulit ini, masih tetap ada negara-negara yang memasok dan membeli minyak dari Iran, serta tetap bersedia memberikan kepercayaan dan dukungan pada Tehran.
Artinya, tak semua semua negara didunia yang memboikot minyak Iran, hanya sekedar untuk menekan dan memaksa Iran kembali ke meja perundingan.
Jadi, tanpa perlu berpanjang-panjang, Iran sungguh diharapkan memang bersedia dan secara nyata menunjukkan itikat baik mereka kembali ke meja perundingan, terutama dengan pihak-pihak P5+1.
Berundinglah.
Bernegosiasilah.
Bertukar-pikiranlah.
Apa saja yang memang perlu dibicarakan dalam kerangka dialog dan diplomasi, lakukan dengan niat baik dan ketulusan hati.
Dan untuk Uni Eropa, jika memang nanti Iran sudah bersedia kembali ke meja perundingan untuk membahas masalah program nuklir mereka, maka penerapan embargo dan sanksi yang sangat mengerikan atas Iran harus dipertimbangkan untuk dicabut kembali.
Kemudian, saat ini dunia perlu mengantisipasi kenaikan harga minyak dunia yang melambung tinggi akibat tensi di Iran yang semakin meningkat.
Semua masalah akan ada solusinya.
Solusi yang damai dengan tetap menghormati prinsip perdamaian dan keamanan dunia.
Dan yang namanya solusi, justru harus semakin didekatkan ke sumber permasalahan, bukan justru dijauhkan agar permasalahan yang ada menjadi terus menerus berkepanjangan tak selesai-selesai.
(MS)

January 25, 2012 





Comments are closed.