Pesona Dan Kekuatan Politik Hillary Clinton Masih Sangat Kuat

Mantan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton, paling kanan, didampingi sang isteri, Hillary Clinton, kedua dari kiri, berfoto bersama putri mereka Chelsea Clinton yang menikah dengan Marc Mezvinsky, 31 Juli 2010

 

Jakarta, 28 Januari 2012 (KATAKAMI.COM) — Sebuah pengakuan yang jujur telah disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Rodham Clinton di hari Kamis (26/1/2012) lalu di hadapan staf-stafnya di Departemen Luar Negeri bahwa dirinya telah lelah.

Hillary menjelaskan bahwa setelah menempuh perjalanan waktu hampir dua dekade menekuni dunia perpolitikan Amerika, sesungguhnya ia telah merasa lelah atas semuanya itu dan saatnya untuk mengundurkan diri.

Tetapi, ibu dari Chelsea Clinton ini memastikan bahwa ia akan tetap “mendampingi” Presiden Barack Obama hingga detik terakhir pemerintahan Obama di putaran pertama ini. Sehingga jika nanti Obama (diprediksi) menang kembali pada putaran kedua pada pemilihan umum kepresidenan, Hillary tak ingin dilibatkan dalam pemerintahan Obama.

Hillary, lahir di Chicago, 26 Oktober 1947 dari pasangan Hugh Rodham dan Dorothy Rodham.

Ia menjadi Ibu Negara Amerika dari  tahun 1993 – 2001 mendampingi sang suami tercinta, William Jefferson Clinton, yang lebih dikenal sebagai Bill Clinton.

Putri tunggalnya, Chelsea, kini hidup bahagia dengan  Marc Mezvinsky, seorang bankir keturunan Yahudi.

Sangat menarik untuk mengulas sinyal yang disampaikan Hillary bahwa ia telah lelah dengan dunia perpolitikan Amerika.

Padahal jika ia mau maju untuk mencalonkan diri kembali sebagai kandidat presiden dari Partai Demokrat, peluang untuk Hillary pasti masih cukup besar. Tetapi dengan catatan, ia harus berhadapan kembali dengan rival yang sama namun dalam kondisi yang berbeda.

Artinya, ia tetap harus berhadapan dengan rival utamanya dulu yaitu Barack Obama.

 

Presiden Barack Obama menyapa Menteri Luar Negeri Hillary Clinton sebelum Obama menyampaikan pidato kenegaraannya, 24 Januari 2012

 

Yang menjadi perbedaan, kali ini sang rival itu menempati posisi sebagai atasan langsung Hillary dalam kabinet yang sedang mengendalikan roda pemerintahan di Amerika.

Bayangkan jika Hillary berniat untuk mencalonkan diri kembali, maka disela-sela kesibukannya sebagai Menteri Luar Negeri, ia harus berkampanye menggalang kekuatan politik disana-sini.

Dimana hal yang sama juga sedang terus dilakukan Barack Obama disela-sela kesibukannya sebagai Presiden ke 44.

Sehingga, dari kondisi ini saja, dapat disinyal betapa kuat logika dan kesadaran politik seorang Hillary bahwa kurang etis jika ia memaksakan ambisi politik pribadi dengan tugas negara yang sedang resmi dijalankannya.

Sudah sejak tahun lalu, Hillary telah menyampaikan sinyal bahwa ia tak berminat untuk mencalonkan diri kembali sebagai Presiden dari Partai Demokrat.

Dan keputusannya ini membuat kecewa para “penggemar” yang begitu yakin bahwa Hillary masih tetap sangat berpeluang untuk menang, jika saja ia mau mencalonkan diri.

Hillary sempat dispekulasikan bahwa kelak ia akan diberi jabatan sebagai Presiden Bank Dunia.

Kini, spekulasi terbaru juga beredar bahwa terbuka kemungkinan Hillary akan dipasangkan dengan Barack Obama dalam pemilihan umum kepresidenan berikutnya yaitu Obama sebagai calon presiden dan Hillary sebagai calon wakil presiden.

 

Hillary Clinton berjalan bersama tokoh pro demokrasi Myanmar, Aung San Suu Kyi, di kediaman Suu Kyi di Yangon, 2 Desember 2011

 

Dan disaat spekulasi demi spekulasi bermunculan, tiba-tiba Hillary Clinton bersuara bahwa sesungguhnya ia telah merasa lelah dengan panggung perpolitikan Amerika.

Secara fisik, sah sah saja dan wajar jika Hillary mengaku bahwa dirinya lelah.

Sebab agenda kegiatan dan perjalanannya sebagai Menteri Luar Negeri, sangat amat padat dan begitu menyita seluruh waktu serta tenaga yang dimilikinya.

Tetapi dalam kapasitasnya sebagai seorang politisi dunia yang sudah tak perlu lagi diragukan kemampuannya, kata lelah yang terucap dari Hillary Clinton terasa kurang pas.

Barangkali Hillary hanya ingin meyakinkan Obama bahwa sang presiden tak perlu kuatir akan mendapatkan tantangan berat jika ingin mencalonkan diri kembali sebagai presiden.

Hillary yang dulu adalah rival kuat bagi Obama, kini justru terlihat seiring sejalan dan kompak melewati hari-hari penting menjalankan tugas-tugas resmi mereka masing-masing dalam satu armada kapal yang sama.

Tak ada yang tahu, ada bisik-bisik apa antara Obama dan Hillary secara rahasia di belakang layar menyangkut prospek karier politik Hillary ke depan.

Mustahil Obama akan sangat lugu menanggapi sinyal Hillary bahwa mantan ibu negara di era pemerintahan Bill Clinton ini telah lelah menjalani perpolitikan Amerika yang bertegangan tinggi.

 

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Hillary Rodham Clinton

 

Sebagai politisi, Obama tentu akan sadar bahwa Hillary adalah rival yang kuat.

Keputusan Hillary untuk tidak mencalonkan diri sebagai presiden, dampak terbesarnya justru sangat dirasakan keuntungannya oleh Barack Obama.

Tinggal sekarang, bagaimana Obama menyikapi situasi yang satu ini, akan dipergunakan sebagai apa seorang Hillary yang notabene adalah mantan lawan yang kini menjadi kawan dekat.

Tak majunya Hillary ibarat menjadi sebuah berkat yang luar biasa besar dan indahnya bagi Obama.

Sebelum Obama ditantang mengalahkan rival dari Partai Republik, ia harus mengalahkan dulu rival terkuat dari partainya sendiri jika Hillary mencalonkan diri.

Dan ini akan mengulangi sejarah Obama dan Hillary pada persaingan kuat mereka sebelumnya.

Jadi, pengakuan jujur Hillary bahwa ia telah lelah menjalani perjalanan yang sudah sangat panjang di atas panggung perpolitikan Amerika selama dua dekade, tidak akan bisa menutupi betapa masih sangat kuatnya pesona dan kekuatan politik yang melekat dalam diri Hillary.

Hillary tak bisa menyembunyikan betapa besar talenta yang telah diberikan Tuhan kepada dirinya.

Talenta sebagai seorang politisi dunia yang pengaruhnya masih sangat kuat dimana-mana.

Ada daya tarik dan dinamika tersendiri dalam pemerintahan Obama takkala dalam banyak peristiwa, Hillary Clinton yang tampil berkunjung kesana-kemari dan memberikan pernyataan-pernyataan yang berpengaruh.

Hillary terlihat menjadi penyeimbang dan salah satu faktor penting yang membuat pemerintahan Obama menjadi lebih kuat peranannya di hadapan dunia.

 

Presiden Barack Obama

 

Sekarang, tergantung pada Obama, apakah ia tidak tertarik memanfaatkan Hillary untuk melengkapi pencalonannya untuk periode kedua untuk memilih Hillary sebagai calon wakil presidennya ?

Sehingga pencalonan itu akan memiliki daya tarik dan energi yang lebih kuat di hadapan para pemilih mereka. Salah satunya adalah fanatisme kalangan jender tentu akan melirik pasangan Obama dan Hillary.

Sehingga kalaupun nanti Obama memang memilih Hillary sebagai wakil presidennya, dan ternyata menang, maka ini akan menguatkan “takdir” Obama untuk hidup di sekeliling perempuan-perempuan cantik yang cerdas dan sangat menyenangkan hati.

Michelle Obama, sang ibu negara,

Malia dan Sasha, kedua putri Obama, yang kini sudah beranjak remaja.

Maya Soetoro Ng, adik tiri Obama.

Dan jika Obama menang (saat nanti berpasangan dengan Hillary Clinton), maka dua perempuan cantik lainnya akan masuk dalam kehidupan Obama untuk mendampinginya hidup di Gedung Putih yaitu Hillary Clinton dan …. Chelsea.

Dan sekaligus menjadi jawaban atas pesan singkat Bill Clinton di jejaring sosial Twitter tertanggal 10 Desember 2011 lalu yang menuliskan seperti ini :

 ” I don’t think Hillary is going to run for president. Sorry everybody. Maybe another Clinton will run”.

Maaf juga untuk anda, Tuan Presiden Clinton, anda menikahi seorang politisi yang masih sangat kuat pesona kekuatan politiknya, sehingga anda harus berbesar hati mendapatkan istri seistimewa itu.

Oh La La.

 

 

 

(MS)

About these ads

Comments are closed.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 11,494 other followers