
Aksi demonstrasi Anti Amerika terus dilakukan di Afghanistan pasca pembakaran Al Quran oleh prajurit Amerika
Jakarta, 28 Februari 2012 (KATAKAMI.COM) — Insiden pembakaran Al Quran di pangkalan udara tentara Amerika Serikat di Bagram, sebelah utara Kabul, memicu gelombang protes Anti Amerika yang sudah sangat meluas dan sangat buruk dampaknya saat ini di Afghanistan.
Aksi pembakaran Alquran oleh tentara Amerika ini terungkap ketika seorang petugas pembuangan sampah yang melihat Al Quran dan buku-buku hangus terbakar di pangkalan udara Bagram.
Hari Jumat (24/2/2012) lalu, Komandan pasukan Amerika dan NATO di Afghanistan, Jenderal John R. Allen, mengatakan penyelidikan bersama oleh pasukan koalisi dan Afghanistan terhadap “kekeliruan menangani naskah-naskah keagamaan” di Pangkalan Udara Bagram masih berlangsung.
Jenderal Allen mengeluarkan pernyataan yang menegaskan, bekerja sama dengan pemimpin Afghanistan merupakan satu-satunya cara bagi pihaknya untuk memperbaiki kekeliruan besar itu dan memastikan peristiwa serupa tidak terjadi lagi.

Komandan pasukan Amerika dan NATO di Afghanistan, Jenderal John R. Allen
General John R. Allen, Commander ISAF Statement
Presiden Amerika Serikat Barack Obama pun telah mengirim permintaan maaf tertulis kepada Presiden Afghanistan Hamid Karzai mengenai penodaan terhadap Quran di Bagram itu.
Kemudian Kedutaan besar Amerika di Kabul telah mendesak warga Amerika agar menghindari perjalanan yang tidak perlu di negara Asia Selatan itu.
Permintaan maaf Amerika tidak dihiraukan di Afghanistan dan Pakistan, dimana kemarahan menggelegak karena pembakaran al-Quran.
Gelombang aksi unjuk rasa terjadi dimana-mana.
Pejabat-pejabat NATO mengatakan seseorang yang mengenakan seragam tentara Afghanistan melepaskan tembakan dan menewaskan dua tentara koalisi di Afghanistan Timur, dalam satu dari banyak unjukrasa yang meledak di seluruh negara itu, atas pembakaran Al Quran di sebuah fasilitas NATO pada hari Kamis, 23 Februari 2012 lalu.
Insiden mematikan itu terjadi di luar pangkalan militer koalisi di propinsi Nangarhar.
Taliban mengeluarkan sebuah pernyataan Kamis (23/2/2012) pagi, untuk menghimbau warga Afghanistan untuk meluncurkan sejumlah serangan atas sasaran-sasaran asing, sebagai aksi pembalasan terhadap penghinaan kitab suci kaum Muslim itu.
Serangan balasan itu mencakup serangan bom bunuh diri di Bandar Udara Jalalabad hari Senin, 27 Februari 2012 kemarin.
Kepolisian Afghanistan mengatakan 9 orang tewas dalam serangan bom mobil bunuh diri di luar bandar udara di Afghanistan timur yang digunakan untuk penerbangan sipil dan militer.
Beberapa lainnya luka-luka dalam ledakan itu Senin pagi di gerbang bandar udara Jalalabad.

Sejumlah demonstran mengangkat korban tewas akibat aksi unjuk rasa mengutuk pembakaran Al Quran di Afghanistan
Para pejabat provinsi mengatakan sebagian besar korban tampaknya kaum sipil. Dua pengawal bandara dan seorang tentara juga terdapat di antara yang tewas.
Lagi-lagi Taliban mengklaim bahwa serangan mematikan itu adalah bagian dari rangkaian aksi balas dendam terkait pembakaran Al Quran.
Tak lama setelah serangan itu dilakukan, Taliban mengaku bertanggung jawab atas serangan itu, yang terjadi setelah kerusuhan beberapa hari ini di seluruh Afghanistan sebagai tanggapan atas pembakaran Quran oleh pegawai NATO di Pangkalan Udara Bagram.
Lebih dari 30 orang, termasuk 4 tentara Amerika, telah tewas dalam demonstrasi protes sejak pembakaran Quran itu.
Hari Minggu, pihak berwenang Afghanistan memulai pencarian gencar akan seorang pejabat intelijen Afghanistan yang dicurigai membunuh dua perwira Amerika hari Sabtu di Kementerian Dalam Negeri di Kabul.
Perwira Amerika itu ditemukan tewas di dalam kantor yang terkunci yang hanya dapat dimasuki oleh orang-orang yang mengetahui kombinasi nomor gemboknya.
Memburuknya situasi di Afghanistan pasca insiden pembakaran Al Quran ini tentu sangat disayangkan.
Sesungguhnya, pangkal persoalan dari insiden ini adalah sebuah keteledoran dari petugas ( dalam hal ini oknum prajurit Amerika ) yang tidak menyadari betapa sangat sensitif dan akan sangat buruk dampaknya jika ia membakar Al Quran, bila dibandingkan nilainya dengan buku-buku serta dokumen biasa lainnya.
Jika persoalannya dilokalisir dan dipersempit untuk mempermudah memahami duduk persoalan yang sebenarnya, kita akan dapat mengetahui bahwa benar ini adalah tindakan perorangan yang lalai dan tidak sensitif pada situasi yang ada.
Artinya, kecil kemungkinan bahwa pembakaran Al Quran tersebut adalah unsur kesengajaan atau perintah dari komandan perang Amerika di Afghanistan.

Komandan pasukan Amerika dan NATO di Afghanistan, Jenderal John R. Allen, berbicara dengan pendahulunya, Jenderal David H. Petraeus dalam sebuah acara serah terima jabatan di Kabul, Afghanistan, 18 Juli 2011
Kesalahan perorangan yang sangat fatal semacam ini, harus segera diatasi oleh komandan perang Amerika di Afghanistan. Dan karena persoalannya sudah sangat meluas, tampaknya permohonan maaf sudah tidak mungkin menyelamatkan situasi.
Betul bahwa ini adalah kesalahan perorangan (oknum).
Bukan sebuah kesengajaan.
Dan bukan perintah dari atasan (komandan).
Tetapi, mengingat ini adalah sebuah tindakan yang benar-benar sangat sensitif dan sangat mendesak untuk diselesaikan maka pimpinan tentara Amerika di Afghanistan harus bertindak cepat.
Dalam hal ini, Jenderal John Allen harus melengkapi permohonan maafnya pada pekan lalu, dengan menindak secara tegas pelakunya.
Dan segera diumumkan bahwa pelaku sudah dicopot dan ditarik keluar dari Afghanistan.
Sanksi tegas tentu akan mampu untuk membantu meredam situasi yang sudah sangat memanas.
Sebab kalau hanya sebatas permohonan maaf, bahkan sampai ke tingkat Presiden sudah menyampaikan permohonan maaf, tetapi jika pelakunya belum dikeluarkan sebagai bentuk hukuman maka kemarahan rakyat Afghan akan tetap membara.

Presiden Amerika Serikat Barack Obama
Keputusan Presiden Obama untuk menyampaikan permohonan maaf secara tertulis kepada Presiden Afghanistan sesungguhnya adalah tindakan yang sangat tepat.
Secara tulus, ia sebagai Panglima Tertinggi Amerika, menyampaikan permohonan maaf kepada Presiden Afghanistan Hamid Karzai dan rakyat Afghanistan secara keseluruhan.
Permohonan maaf itu, harus diartikan sebagai sebuah MAAF dari seorang Panglima Tertinggi yang bertindak sportif dan mengambil alih situasi yang sudah sangat darurat di semua medan operasi akibat kelalaian prajurit secara perorangan.
Obama menyurati Presiden Afganistan Hamid Karzai, Kamis (23/2/2012).
Isinya meminta maaf atas insiden pembakaran kitab suci agama tertentu oleh pasukan AS yang bertugas di salah satu pangkalan militer AS di Afganistan.
Dalam suratnya, Obama menyebutkan, kejadian itu sama sekali bukan sesuatu yang sengaja dilakukan. Obama berjanji menggelar penyelidikan penuh atas insiden tersebut.
”Saya ingin mengekspresikan penyesalan mendalam atas insiden yang dilaporkan telah terjadi. Saya sampaikan kepada Anda dan rakyat Afganistan permintaan maaf yang tulus,” tulis Obama dalam suratnya itu.
”Kesalahan terjadi lantaran kekuranghati-hatian. Saya berani yakinkan sejumlah langkah yang tepat akan diambil untuk menghindari hal serupa sekaligus memastikan mereka bahwa mereka yang salah harus bertanggung jawab atas perbuatan mereka,” tulis Obama.
Insiden pembakaran terjadi di pangkalan militer AS di Bagram memang memicu aksi protes selama sepekan terakhir ini.

Presiden Barack Obama
Bahkan dua tentara AS tewas tertembak oleh seorang prajurit militer Afganistan.
Lawan-lawan politik Obama dari Partai Republik cenderung mengecam permohonan maaf Obama sebagai sesuatu yang harusnya tak perlu dilakukan.
Kecaman dari lawan-lawan politik Obama ini sangat salah kaprah.
Harus dibedakan masalah politik (khususnya ambisi untuk meraih kekuasaan), dengan masalah-masalah keamanan.
Hanya dalam kurun waktu seminggu, aksi protes Anti Amerika sudah sangat seburuk itu dampaknya di Afghanistan.
Mau seburuk apalagi dampak yang akan diterima jika kemarahan itu sudah semakin tak terkendali membidik semua kepentingan, fasilitas dan prajurit Amerika serta pasukan internasional di Afghanistan ?
Lawan-lawan politik tidak menyadari bahwa pernyataan-pernyataan mereka dikutip dan diberitakan secara luas di media internasional.
Mereka tidak memikirkan bagaimana dampak pernyataan sinis mereka terhadap keselamatan prajurit-prajurit Amerika lainnya di Afghanistan.
Spirit pertarungan politik antara kandidat presiden Partai Republik dengan Barack Obama dalam meraih kursi kepresidenan, harus dipisahkan dari masalah-masalah keamanan yang sifatnya sudah sangat darurat semacam ini.
Situasi harus didinginkan.
Bukan malah dibuat lebih panas sebab akan berpotensi menimbulkan ancaman dan instabilitas yang dampaknya sangat buruk.
John Allen, selaku Komandan Perang Amerika di Afghanistan, tentu sangat dipusingkan dalam menghadapi situasi yang sangat sulit saat ini.

Komandan Pasukan Amerika dan NATO, Jenderal David Petraeus, didampingi Duta Besar Inggris Mark Sedwill menyampaikan keterangan pers di hadapan wartawan, terkait aksi pembakaran Al Quran oleh seorang pendeta. Petraeus meminta agar para pemimpin dan rakyat Afghan tetap, mengedepankan sikap tolerans dan saling menghormati.
Petraeus, Sedwill Condemn Quran Burning, Call for People Not to Respond in Kind
Tahun lalu, semasa masih bertugas di Afghanistan sebagai Komandan Pasukan Amerika dan NATO, Jenderal David Petraeus juga pernah “dipusingkan” oleh tindakan pendeta Amerika yang membakar Al Quran.
Petraeus bergerak cepat untuk mencegah dampak buruk akibat pembakaran Al Quran oleh pendeta di Amerika agar jangan menimbulkan gangguan keamanan dan gelombang protes Anti Amerika di Afghanistan.
Bayangkan sekarang, bagaimana pusingnya Jenderal John Allen, sebab yang membakar Al Quran itu adalah (oknum) prajuritnya sendiri, di markas tentara Amerika pula !
Tetapi semua harus berpikir secara tenang dan tidak emosional.
Jangan juga, Taliban memanfaatkan situasi ini untuk kepentingan-kepentingan sempit yang bertujuan menunjukkan serta meningkatkan eksistensi mereka.
Proses dialog untuk rekonsiliasi yang belakangan ini diusahakan untuk dilakukan dengan Pihak Taliban oleh Pemerintah Afghanistan dan Pakistan, jangan juga menjadi terabaikan dan terbengkalai karena Taliban merasa mendapat angin untuk tampil eksis kembali memanfaatkan insiden pembakaran Al Quran.
Serangan-serangan balasan yang diklaim oleh Taliban juga sangat sadis dan mengorbankan rakyat Afghanistan sendiri.
Sebab serangan itu lebih banyak memakan korban dari kalangan rakyat Afghanistan sendiri.
Dimana letak kepatriotan dan nilai-nilai kepahlawanan dari Taliban jika ternyata korban dari serangan balas dendam mereka membunuh kalangan sipil dan umat ISLAM di Afghanistan sendiri ?

Kemarahan rakyat Afghanistan mengutuk pembakaran Al Quran yang dilakukan prajurit Amerika
Taliban menyerukan aksi balas dendam karena ada seorang oknum prajurit Amerika tak sengaja membakar lembaran-lembaran kitab suci Al Quran yang berceceran.
Lalu, atas nama aksi balas dendam, apakah ada nilai-nilai kepatriotan dan kepahlawanan, jika serangan mematikan itu membunuhi UMAT ISLAM di Afghanistan ?
Pemerintah Afghanistan dan Pakistan harus lebih tenang melihat situasi ini dan sedapat mungkin menyikapi permasalahan yang ada sekarang secara bijaksana.
Terutama Presiden Hamid Karzai.
Bertindaklah lebih bijaksana dan tak cuma sekedar kata-kata himbauan semata, sementara di lapangan situasinya sudah sangat “panas membara”.
Ini kesalahan dari perorangan.
Bukan kesalahan yang sifatnya melembaga, atau melibatkan negara.
Meminjam dari Jenderal David Petraeus semasa ia bertugas di Afghanistan, insiden pembakaran Al Quran memang sebuah insiden yang berpotensi menimbulkan kebencian tetapi insiden semacam ini harus direspon dengan tenang, penuh toleransi dan saling menghormati.
Jenderal John Allen harus mengambil hikmah dari insiden ini.
Paling tidak, ia harus benar-benar meniru mana yang baik dari para pendahulunya di Afghanistan, semisal Jenderal Stanley McChrystal dan Jenderal David Howell Petraeus.
Jadi ke depan, insiden ini harus disikapi dengan sangat bijaksana dan menyadapi bahwa penghormatan terhadap simbol-simbol AGAMA adalah mutlak dilakukan oleh prajurit Amerika yang bertugas dimanapun juga.
Tidak ada AGAMA yang mengajarkan keburukan didunia ini.
Semua agama mengajarkan kebaikan dan kebajikan.
Termasuk Islam.
Sebab harus diakui bahwa ISLAM adalah sebuah kekuatan dunia yang saat ini sudah sangat mengkristal.
Dan kekuatan ISLAM, justru harus dirangkul, dan diajak bekerjasama.

Presiden Amerika Serikat Barack Obama saat berpidato di Universitas Kairo, 4 Juni 2009
President Obama Speaks to the Muslim World from Cairo, Egypt
(Full text) Remarks by the President at Cairo University, June 4, 2009
Bukankah itu yang menjadi keinginan dari Presiden Barack Obama dalam pidatonya di Universitas Kairo pada bulan Juni 2009 ?
“A New Beginning”, demikian judul dari pidato Obama tanggal 4 Juni 2009.
Pidato Obama yang sangat mengesankan itu adalah menjadi tonggak baru hubungan dan kerjasama yang lebih baik antara Amerika dan Dunia (Negara-Negara Islam).
Cuplikan dari pidato Obama tersebut adalah sebagai berikut :
Kita bertemu pada saat ada ketegangan besar antara Amerika Serikat dan warga Muslim seluruh dunia – ketegangan yang berakar pada kekuatan-kekuatan sejarah yang melampaui setiap perdebatan kebijakan yang kini berlangsung.
Hubungan antara Islam dan Barat selama ini mencakup berabad-abad koeksistensi dan kerja sama, tapi juga konflik dan perang-perang bernuansa agama.
Akhir-akhir ini, ketegangan muncul akibat kolonialisme yang menyangkal hak dan peluang bagi banyak warga Muslim, serta sebuah Perang Dingin yang membuat banyak negara dengan mayoritas penduduk Muslim diperlakukan sebagai boneka tanpa mengacuhkan aspirasi mereka sendiri. Lebih jauh lagi, perubahan besar yang dibawa modernitas dan globalisasi membuat banyak Muslim menilai Barat bersikap memusuhi tradisi Islam.
Kalangan ekstrimis yang keras telah mengeksploitasi ketegangan-ketegangan yang ada dalam segmen kecil namun merupakan minoritas kuat di kalangan Muslim ini. Serangan pada tanggal 11 September 2001 dan upaya berkelanjutan dari kalangan ekstrimis ini untuk menyerang warga sipil telah membuat sebagian kalangan di negara saya untuk menilai Islam tidak saja memusuhi Amerika dan negara-negara Barat, tapi juga hak asasi manusia. Semua ini telah memupuk rasa takut dan lebih banyak rasa tidak percaya.
Selama hubungan kita ditentukan oleh perbedaan-perbedaan kita, kita akan memperkuat mereka yang menyebarkan kebencian bukan perdamaian, mereka yang mempromosikan konflik bukan kerja sama yang dapat membantu semua rakyat kita mencapai keadilan dan kemakmuran. Lingkaran kecurigaan dan permusuhan ini harus kita akhiri.
Saya datang ke Kairo untuk mencari sebuah awal baru antara Amerika Serikat dan Muslim diseluruh dunia, berdasarkan kepentingan bersama dan rasa saling menghormati – dan didasarkan kenyataan bahwa Amerika dan Islam tidaklah eksklusif satu sama lain, dan tidak perlu bersaing. Justru keduanya bertemu dan berbagi prinsip-prinsip yang sama – yaitu prinsip-prinsip keadilan dan kemajuan; toleransi dan martabat semua umat manusia.
Jadi, seperti yang diungkapkan Obama, bukankah sebaiknya diwujudkan awal baru antara Amerika Serikat dan Muslim di seluruh dunia, berdasarkan kepentingan bersama dan rasa saling menghormati ?
(MS)
Like this:
Be the first to like this post.