Sebulan Kematian Ilmuwan Nuklir Iran, Direktur CIA Ke Korea Selatan

U.S. Central Intelligence Agency Director, David Howell Petraeus

 

Jakarta, 11 Februari 2012 (KATAKAMI.COM)  —  Jika tak ada aral melintang, Direktur Dinas Rahasia Amerika Serikat (CIA), Jenderal David Howell Petraeus, akan berkunjung ke Seoul, Korea Selatan, di akhir pekan ini untuk mengadakan sejumlah pertemuan penting dengan Presiden Lee Myung-bak dan pimpinan Dinas Rahasia Korea Selatan.

Presiden Lee Myung-bak sendiri baru saja selesai melakukan kunjungan kenegaraannya ke berbagai negara di Timur Tengah.

Ada yang cukup menarik dari kunjungan Petraeus ini.

Pertama, ia berpergian disaat situs (website) dari Dinas Rahasia CIA dijebol oleh peretas yang menamakan kelompoknya Anonymous pada hari Jumat (10/2/2012) kemarin, dengan dilengkapi sebuah pesan lewat jejaring sosial TWITTER bertuliskan :

“CIA GOV, TANGO DOWN”

Kedua, Petraeus melakukan kunjungan ke Korea Selatan persis pada peringatan 1 bulan kematian ilmuwan nuklir Iran yang bernama  Mostafa Ahmadi Roshan tewas di bunuh tanggal 11 Januari 2012 lalu.

Hanya beberapa jam setelah tragedi pembunuhan ilmuwan nuklir tersebut, Pemerintah Iran langsung bersuara dengan melemparkan tudingan kepada Dinas Rahasia CIA dan Dinas Rahasia Israel, MOSSAD, sebagai pihak yang paling bertanggung-jawab atas pembunuhan tersebut.

 

Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Sayyid Ali Khamenei saat berkunjung ke rumah keluarga ilmuwan nuklir yang tewas untuk menyampaikan belasungkawanya.

 

Tidak kurang dari Pemimpin Revolusi Islam di Iran, Ayatollah Sayyid Khamenei secara terang-terangan menunjukkan kemarahannya atas pembunuhan yang menimpa ilmuwan nuklirnya.

“Ini tindakan pengecut berbentuk teror, dimana yang pelaku dan komplotan yang melakukannya tidak akan pernah berani untuk mengakui kejahatan mereka yang kotor dan mengerikan atau bertanggung-jawab untuk itu. Pembunuhan ini direncanakan dan dilakukan atas dukungan dari agen mata-mata Mossad, seperti halnya semua kejahatan lain dari jaringan terorisme negara internasional, “kata Ayatollah Khamenei pada hari Kamis (12/1/2012) dalam pesan belasungkawa pada kematian Mostafa Ahmadi Roshan, seperti yang dikutip dari PRESS.TV.IR.

Ayatollah Khamenei menegaskan juga bahwa kemajuan pesat ilmiah Iran tidak tergantung pada individu tetapi adalah sebuah “gerakan bersejarah” dan muncul dari “menyelesaikan nasional kebal “dari Iran.

Khamenei menegaskan bahwa Iran akan membawa para pelaku dan mereka yang berada dibalik pembunuhan ke pengadilan.

Hari Rabu (11/12/2012), sebuah bom magnetik meledak di dekat mobil ilmuwan nuklir Iran di dekat sebuah gedung perguruan tinggi Allameh Tabatabaei University di Teheran. Sang Ilmuwan, Ahmadi Roshan segera tewas dan sopirnya, yang mengalami luka, meninggal beberapa jam kemudian di rumah sakit.

Ahmadi Roshan adalah lulusan teknik Universitas Sharif Teknologi kimia dan wakil direktur pemasaran di fasilitas Natanz nuklir Iran.

Tudingan Iran pada Dinas Rahasia CIA sebenarnya terlalu prematur, emosional dan sangat tendensius.

Sebab belakangan, sejumlah media asing mendapat bocoran informasi bahwa besar kemungkinan pembunuhan itu dilakukan oleh Dinas Rahasia MOSSAD.

Dan akhirnya, indikasi ini dipertegas oleh pernyataan resmi Amerika bahwa MOSSAD memang melakukan pelatihan kepada kelompok teror MKO (Mujahedin Khalq Organization) untuk dapat melakukan pembunuhan terhadap ilmuwan nuklir Iran.

‘Mossad trains MKO terrorists to murder Iran’s nuclear scientists’

Pernyataan dari dua pejabat Amerika ini tak disebutkan namanya tetapi telah dikonfirmasikan oleh NBC News beberapa hari lalu.

 

Direktur CIA David Petraeus, kanan, bersama Direktur Intelijen Nasional James Clapper, saat melakukan pertemuan dengan Senat Amerika di bidang Intelijen pada 31 Januari 2012

 

Direktur CIA Jenderal David Howell Petraeus tak bergeming sejak pertama kali tudingan yang frontal itu dilayangkan oleh Pemerintah Iran terhadap institusi yang di pimpinnya.

Padahal sudah begitu mendunia pemberitaan di berbagai media internasional bahwa CIA dituding sebagai pihak pembunuh atas ilmuwan nuklir Iran.

Walau sudah sangat bertubi-tubi tudingan yang sifatnya sangat sepihak tersebut, Petraeus memilih untuk diam.

Hingga akhirnya ia bersuara di hadapan rapat dengar pendapat institusi-institusi intelijen di hadapan Senat Amerika yang menangani bidang intelijen, pada hari Selasa (31/1/2012).

Saat itu Petraeus mengatakan bahwa dalam beberapa pekan mendatang Iran akan merasakan “gigitan” dari sanksi ekonomi yang diberlakukan atas program nuklirnya sebab Iran diyakini telah mampu memproduksi senjata meskipun para pemimpin Iran belum mengakuinya secara resmi.

Lebih lanjut Petraeus juga mengatakan, “Yang harus kita lihat sekarang adalah bagaimana pengaruh dari sanksi ini, apa saja yang menjadi ketidak-puasdan dari Iran, apakah akan ada pengaruhnya terhadap pengambilan keputusan strategis dari Pemimpin Tertinggi Iran dan rezimnya, dan bagaimana kelangsungan hidup rezim mereka dalam beberapa pekan mendatang (pasca dijatuhkannya sejumlah sanksi yang sangat berat)”.

Hingga saat ini, hanya itulah pernyataan yang keluar dari Petraeus terkait Iran.

Kemudian ia diberitakan telah berkunjung ke Thailand pada awal pekan ini. Selanjutnya akan berkunjung ke Korea Selatan di akhir pekan ini.

 

Foto Atas : Presiden Korea Selatan Lee Myung-bak. Foto bawah : (Kiri ke Kanan) Menteri Pertahanan Korea Selatan Kim Kwan-jin dan Kepala Intelijen Won Sei-hoon

Kunjungannya ke Korea Selatan adalah untuk mendiskusikan masalah-masalah Korea Utara pasca kematian pemimpin tertinggi disana yaitu Kim Jong Il tanggal 17 Desember 2011.

Selain bertemu Presiden Lee Myung-bak, Petraeus dilaporkan berencana untuk bertemu juga dengan Kepala Intelijen Won Sei-hoon, Menteri Pertahanan Kim Kwan-jin dan Sekretaris Presiden Senior untuk Urusan Luar Negeri dan Keamanan Chun Yung-woo.

Hampir 2 bulan pasca kematian Kim Jong Il, belum tampak kemajuan yang signifikan terkait krisis nuklir di Semenanjung Korea.

Kim Jong Un, sebagai pemimpin tertinggi Korea Utara saat ini, kerap muncul dalam pemberitaan hanya sebatas untuk mempublikasikan berbagai kunjungannya ke markas-markas militer.

Seperti Korea Utara masih terkonsentrasi untuk merapatkan barisan dan menunjukkan ke hadapan komunitas internasional tentang kuatnya dukungan militer Korea Utara untuk pemimpin baru mereka yang usianya masih relatif sangat muda.

Belum jelas, apa agenda pembicaraan antara Petraeus dan para pemimpin di Korea Selatan, jika topik pembahasan mereka terfokus pada masalah Korea Utara.

Kunjungan Petraeus ini pasti atas arahan dari Presiden Barack Obama.

Barangkali salah satu tujuannya agar untuk semakin menguatkan komitmen Amerika Serikat yang tetap mempertahankan posisi mereka mendukung sekutu utamanya yaitu Korea Selatan dalam mengatasi krisis nuklir di Semenanjung Korea.

Sebab tak hanya Amerika Serikat, negara-negara lain dan komunitas internasional lainnya, tentu masih tetap menantikan sinyal baik dari pemimpin baru Korea Utara untuk memajukan proses perundingan dalam penyelesaian krisis nuklir mereka.

 

Direktur Dinas Rahasia CIA, David Howell Petraeus (kanan). Foto kecil atas : Presiden Korea Selatan Lee Myung-bak, dan dibawahnya Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un

 

Photostream : North Korea’s new leader Kim Jong Un inspects tank division

 

Kim Jong Un, tak banyak mengumbar pernyataan sejak berkuasa.

Dua bulan menjabat sebagai “Panglima Tertinggi” Korea Utara, terlihat betul konsentrasi Kim Jong un adalah untuk konsolidasi dan membangun pengaruh dan citra dirinya sebagai sosok yang “cool” dengan kepemimpinan yang kuat atas dukungan militernya.

Komunitas internasional mengharapkan Jong Un lebih memilih jalan-jalan damai dan menunjukkan sikap kooperatif dalam menyelesaikan krisis nuklir disana.

Kedatangan Petraeus — yang dilantik menjadi Direktur CIA tanggal 6 September 2011) — ke Korea Selatan seakan menjadi bukti tentang keseriusan dan kesungguhan Amerika dalam menangani masalah krisis nuklir di Semenanjung Korea.

Jadi, Petraeus harus mampu membuahkan hasil yang nyata dari kunjungan ini.

Walaupun masalah yang sangat mendasar antara Iran dan Korea Utara sama yaitu menyangkut permasalahan nuklir, tetapi ada karakter yang sangat berbeda antara Iran dan Korea Utara.

Korea Utara, yang memang sudah sangat ditekan oleh penerapan sanksi-sanksi internasional, tak segan-segan melakukan uji tes misil-misil mereka berulang-ulang kali.

Mereka tak segan menunjukkan kebolehan melakukan berbagai uji coba senjata di hadapan dunia.

Dan hubungan dingin antara Korea Selatan dan Korea Utara yang sudah menyerupai “gunung es”, mau tak mau menjadi lebih buruk akibat berbagai provokasi dari militer Korea Utara.

Walaupun sebenarnya dapat dipahami mengapa Korea Utara melakukan berbagai ujicoba misil mereka yaitu barangkali untuk menunjukkan kesiapan dan kesiagapan militer mereka menghadapi berbagai bentuk ancaman.

Tetapi, apapun tujuan dari semua itu, Kim Jong Un sebagai pemimpin baru harus mampu melakukan terobosan-terobosan yang berujung pada upaya positif menyelamatkan berbagai krisis kehidupan yang timbul di negaranya akibat tekanan internasional yang menghujani mereka dengan berbagai sanksi-sanksi yang sangat amat berat.

 

David Petraeus, kiri, dan Presiden Amerika Serikat Barack Obama, kanan.

 

Jadi, semoga akhir pekan ini menjadi akhir pekan yang sangat “menyenangkan” bagi Petraeus dan Pihak Korea Selatan yang akan melakukan serangkaian pembicaraan penting.

Setidaknya, persis di akhir pekan yang bertepatan dengan 1 bulan kematian ilmuwan nuklir Iran, Petraeus telah menunjukkan perilaku yang sangat terpuji.

Petraeus tak terpancing pada umpan yang dilakukan Pemerintah Iran, yang terus menerus menghujaninya dengan berbagai tudingan miring dan fitnah yang dilemparkan ke media internasional.

Kematangan seorang David Petraeus sebagai komandan perang di Afghanistan, telah mampu membuat Petraeus untuk tidak mudah terjebak pada provokasi dan gendang permainan lawan.

Ia seakan sadar bahwa bukan porsi CIA untuk cuap-cuap di media untuk menjadi acara berbalas-pantun dengan pihak Iran.

Semakin Petraeus ditekan oleh pemberitaan media yang sangat bertubi-tubi bahwa Iran menuduhnya membunuh ilmuwan nuklir, Petraeus justru semakin tidak bergeming.

Persis selama satu bulan ini sejak kematian ilmuwan nuklir Iran, Petraeus lebih memilih untuk menunjukkan sikap yang tenang dan tidak gegabah.

Sebab gaung suara Amerika mengenai masalah Iran hanya akan keluar dari Presiden Barack Obama atau Gedung Putih, Menteri Luar Negeri Hillary Clinton, atau pihak Pentagon ( dalam hal ini Menteri Pertahanan Leon Panetta ).

Amerika memang menjatuhkan sanksi ekonomi yang sangat keras dan tegas untuk Iran, tetapi bukan dengan cara “membinasakan secara bar bar” ilmuwan nuklir Iran, dan untuk sementara waktu ini belum mempertimbangkan dilakukannya serangan militer.

Pernyataan Petraeus di hadapan Senat Amerika termasuk sangat keras, tajam dan masuk pada inti permasalahan bahwa Iran memang perlu dipaksa untuk mau kembali ke meja perundingan untuk menghentikan program nuklir mereka.

Sementara dari pihak Pemerintah Iran sendiri, tak ada hasil investigasi yang lebih maju tentang kasus tewasnya ilmuwan nuklir mereka. Setidaknya, pada peringatan satu bulan kematian ilmuwan nuklir Iran pada hari ini, Iran belum menunjukkan kemampuan mereka mengungkap kasus tersebut.

Jika diyakini bahwa Dinas Rahasia MOSSAD yang melakukan pembunuhan itupun, tetap harus ada bukti-bukti yang kuat dan sah secara yuridis hukum untuk menunjukkan keterlibatan Israel.

Sepanjang belum ada bukti kuat, Israel pun  tidak bisa dituding-tuding sembarangan hanya berdasarkan desas desus atau bocoran-bocoran informasi.

Selama satu bulan, sebagian besar hanya berisi tudingan demi tudingan ( dan ternyata tudingan itupun salah alamat jika ditujukan kepada Petraeus).

Iran harus bisa membuka dan menuntaskan kasus tersebut agar tudingan-tudingan mereka tidak berlarian kesana kemari mencari mangsa untuk dituding.

 

Presiden Amerika Serikat Barack Obama

 

Dan jika kita bicara mengenai masalah ancaman nuklir Iran, cara terbaik untuk  menghentikan ambisi nuklir Iran yang diyakini oleh banyak pihak telah mampu membuat bom atom yang sangat hebat kekuatannya, tidak harus lewat serangan militer atau peperangan.

Komunitas internasional harus secara konsisten menjaga prinsip-prinsip perdamaian dan keamanan dunia.

Dan sebenarnya, Amerika dengan segala kedigdayaannya, apalagi dengan didukung oleh sekutu utama mereka, ISRAEL, bisa melakukan serangan militer tersebut sesegera mungkin.

Tetapi untunglah (paling tidak sampai saat ini), Presiden Barack Obama masih menganggap bahwa penyelesaian masalah Iran dapat ditempuh melalui penyelesaian diplomatik dan menjatuhkan sanksi-sanksi ekonomi yang berat.

Bukan dengan cara serangan militer.

Sehingga, salah satu hikmah dari keputusan Obama ini untuk menggantung dan mengambangkan sejenak kemungkinan dilakukannya serangan militer ke Iran, maka di akhir pekan ini Direktur CIA bisa mengalihkan sejenak perhatiannya ke masalah penting lainnya didunia ini yaitu krisis nuklir di Semenanjung Korea.

Dari masalah nuklir yang satu, ke masalah nuklir yang lainnya, itulah kini yang jadi salah satu urusan dan perhatian dari Petraeus.

Happy weekend !

 

 

(MS)

Comments are closed.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,904 other followers