WAWANCARA EKSKLUSIF
Jakarta, 23 Februari 2012 (KATAKAMI.COM) — Di penghujung tahun 2011 lalu, tepatnya tanggal 23 Desember 2011, rakyat Indonesia ( khususnya masyarakat DKI Jakarta) dikejutkan oleh sebuah berita besar bahwa Wakil Gubernur DKI Jakarta Prijanto mengajukan pengunduran diri.
Tetapi sampai hari ini, permohonan pengunduran diri dari Prijanto, belum ada keputusan final dari DPRD DKI Jakarta, yaitu apakah permohonan pengunduran diri itu diterima atau ditolak.
Jika ditolak, maka pria kelahiran Ngawi 26 Mei 1951 ini harus kembali bertugas sebagai Wakil Gubernur hingga masa penugasan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta berakhir pada bulan Oktober 2012 mendatang.
Saat Prijanto dilamar oleh Fauzi Bowo untuk bersedia menjadi Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta tahun 2007, jabatan terakhir dari Prijanto pada jajaran TNI adalah Asisten Pengamanan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Aspam KSAD) dengan pangkat terakhir Mayor Jenderal.
Saat itu, Fauzi Bowolah yang berinisiatif terlebih dahulu untuk meminta Prijanto untuk menjadi Calon Gubernurnya, dengan menyurati secara resmi Panglima TNI dan KSAD, agar mengizinkan bawahan mereka mendampingi Fauzi Bowo maju ke panggung politik Pilkada DKI Jakarta.
Prijanto adalah seorang prajurit sapta margais. Ia adalah pribadi yang sangat santun, halus dalam bertutur-kata, tetapi keras laksana baja dalam memegang prinsip-prinsip kebenaran.
Di awal pekan ini, KATAKAMI.COM mendapat kesempatan melakukan WAWANCARA EKSKLUSIF dengan Prijanto di ruang kerjanya, di Lantai 3 Balai Kota di Jalan Medan Merdeka Selatan Jakarta.
Inilah hasil WAWANCARA EKSKLUSIF kami dengan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Prijanto :
KATAKAMI (K) : Bagaimana kabarnya, Pak Prijanto ?
PRIJANTO (P) : Kabar baik.
(K) : Setelah mengajukan pengunduran diri sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta, kok Pak Prijanto masih tetap datang ke kantor ?
(P) : Lho, saya ini masih Wakil Gubernur ! Sebab belum ada keputusan resmi dari DPRD tentang permohonan pengunduran diri saya.
(K) : Kita bahas sedikit mengenai relasi antara Pak Prijanto dan Pak Fauzi Bowo yang seakan-akan menjadi dingin membeku. Selama berpasangan sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur, apakah pernah bertengkar secara langsung ?
(P) : Bertengkar apa dulu ? Kalau dalam pekerjaan, kami memang berdebat. Misalnya dalam rapat pimpinan. Dalam banyak kejadian, kami melakukan adu argumentasi.
(K) : Secara pribadi, apa yang Pak Prijanto rasanya, setelah sekarang status pengunduran diri anda jadi mengambang statusnya?
(P) : Pemerintahan ini semerawut. Wes kabeh pemerintahan iki, semerawut !
(K) : Seperti yang kita tahu, Fraksi Partai Demokrta melakukan walk-out dalam rapat paripurna DPRD ketika akan membahas mengenai permohonan pengunduran diri anda sebagai Wakil Gubernur. Artinya, Fraksi Partai Demokrat tidak setuju atas pengunduran diri anda dan meminta agar Wakil Gubernur tetap bertugas hingga masa penugasannya selesai bulan Oktober 2012. Lalu apa rencana Pak Prijanto sekarang ?
(P) : Tidak apa-apa. Semua saya serahkan kepada Yang Diatas. Sebab saya percaya bahwa segala yang terjadi di langit dan di bumi adalah kehendak Tuhan. Yang jelas saya sudah bicara secara tegas bahwa saya ingin mengundurkan diri karena sudah tidak bisa bekerjasama lagi dengan Gubernur. Jadi kalau satu waktu nanti, jika saya bercerita bahwa saya pernah merasa tidak cocok dengan atasan saya – dalam hal ini Gubernur – lalu tiba-tiba ada yang bertanya, kalau memang merasa tidak cocok, kenapa tidak mengundurkan diri saja ? Saya tidak akan terbebani oleh pertanyaan seperti itu sebab saya sudah mengajukan pengunduran diri.
Dulu, ketika saya sekolah di Lemhanas, ada seorang pengajar memberikan kuliah tentang pengalamannya bertugas sebagai salah seorang Menteri dalam era pemerintahan Pak Harto (Soeharto). Wah, Pak Harto dijelek-jelekin. Cas cis cus berapi-api menjelaskan bahwa dia berseberangan dengan Pak Harto. Lalu saya tanya, Pak, kalau anda merasa berseberangan Pak Harto, mengapa baru sekarang anda cuap-cuap di depan umum ? Lho, iya toh, kalau memang tidak cocok, kok masih bertahan dan menikmati semua fasilitas mewah sebagai Menteri ?
Itu yang saya tidak mau terjadi pada diri saya. Saya tidak diberi pekerjaan apapun disini. Ruang dan wilayah tugas saya sebagai Wakil Gubernur sangat amat dibatasi. Saya merasa tidak dimanusiakan. Latar belakang saya adalah tentara dan masa pengabdian saya sebagai tentara itu tanpa cacat cela. Jadi, kalau memang tidak suka pada saya, dan merasa tidak membutuhkan saya lagi, untuk apa saya bertahan disini ?
(K) : Tetapi, kalau pada akhirnya, permohonan pengunduran diri anda, tidak disetujui dan tidak diterima oleh DPRD DKI Jakarta, bagaimana reaksi anda ?
(P) : Jika memang itu kehendak Tuhan, saya siap menyelesaikan tugas saya sampai bulan Oktober nanti. Apapun resikonya. Tetapi sejarah akan mencatat, bahwa sesungguhnya saya tidak sinkron dengan cara pemikiran Gubernur DKI Jakarta. Sehingga, saya tidak perlu ditanya lagi, mengapa saya tidak mundur kalau memang tidak cocok dengan Gubernur DKI Jakarta.
(K) : Kita perjelas lagi bagian yang ini. Jadi sampai 8 bulan ke depan, seorang Prijanto akan siap menyelesaikan tugasnya sebagai Wakil Gubernur karena tidak ada keputusan resmi dari DPRD DKI Jakarta ?
(P) : Mungkin keputusannya ada yaitu permohonan pengunduran diri saya ditolak secara resmi. Nah, itu keputusan yang mungkin terjadi. Ya kalau nanti keputusannya begitu, berarti permohonan pengunduran diri saya tidak akan diajukan ke Presiden. Ya sudah, saya kembali bekerja sesuai kondisi.
(K) : Maksudnya, Pak Prijanto siap bekerja kembali jika permohonan pengunduran diri itu ditolak oleh DPRD DKI ?
(P) : Ya, mau bagaimana lagi ? Wong itu yang jadi aturannya. Begitu toh. Tetapi dengan catatan, masyarakat harus tahu bahwa ruang gerak saya benar-benar sangat dibatasi. Saya tidak pernah samasekali mendapatkan pekerjaan apapun. Bahkan untuk berjabatan tangan saja tidak mau.
(K) : Kok sampai separah itu hubungan anda dengan Pak Fauzi Bowo ?
(P) : Saya tidak tahu, tanyakan saja kepada Pak Fauzi.
(K) : Jujur saja, apakah Pak Prinjanto sedih dan terpukul karena perjalanan hidup anda seorang manusia ternyata diperlakukan sangat tidak manusiawi dalam jabatan sepenting ini ?
Prijanto terdiam cukup lama ….
(P) : Saya ini manusia. Jadi kalau saya diperlakukan seburuk ini, tentu saya sedih. Dengan usia saya sekarang ini, pengabdian saya yang paling buruk terhadap bangsa dan negara adalah menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta. Ya betul itu ! Bayangkan saya jadi berseberangan dengan orang yang harusnya saya bantu ! Jadi kalau saya boleh jujur, tidak ada sebenarnya alasan bagi Fraksi Partai Demokrat untuk menghalangi pengunduran diri saya. Sebab saya yang merasakan disini, bagaimana buruknya perlakukan terhadap diri saya yang mencabik-cabik harga diri dan martabat saya sebagai seorang manusia.
(K) : Jika masih diminta untuk tetap bertugas sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta sampai masa penugasannya selesai, apa hal yang paling penting dilakukan oleh Pemprov DKI untuk kota Jakarta ini ?
(P) : Secara teori, mestinya Gubernur sebagai pimpinan tertinggi disini benar-benar menegakkan Good Governance. Sebab itulah kunci yang paling penting untuk membangun dan mensejehaterakan Jakarta. Kalau ada bawahan lapor ada indikasi korupsi misalnya, ya harus ditindak. Itu saja salah satu yang penting.
(K) : Pak Pri, apakah anda punya ambisi untuk mencalonkan diri sebagai Calon Gubernur DKI Jakarta untuk periode selanjutnya ?
(P) : Boro-boro ! Saya tidak punya ambisi maju sebagai Cagub. Saya tidak ingin maju.
(K) : Baik, terimakasih Pak Prijanto, untuk wawancara ini.
MS


February 23, 2012



Comments are closed.