Obama Weekend Di Korea Selatan, Kim Jong Un Di Korea Utara

Presiden Amerika Serikat Barack Obama

 

Obama to Visit DMZ During South Korean Trip

Suksesi Korea Utara Dari Diktator Nuklir Kim Jong Il Pada Kim Jong Un

 

Jakarta, 23 Maret 2012 (KATAKAMI.COM)   — Barack Obama memang selalu menjadi “newsmaker”. Apapun yang ia lakukan dan akan dia lakukan, selalu layak kutip dan pasti asyik jadi bahan pemberitaan.

Termasuk rencana kunjungannya yang ketiga ke Korea Selatan sepanjang masa kepresidenannya.

Tepat di hari Minggu, 25 Maret 2012, Obama dijadwalkan akan tiba di Korea Selatan. Kunjungannya ini selain untuk bertemu dengan Presiden Korea Selatan Lee Myung-bak, juga akan menghadiri KTT Keamanan Nuklir Kedua atau Second Nuclear Summit yang akan diselenggarakan tanggal 26-27 Maret 2012.

KTT Keamanan Nuklir Kedua ini akan dihadiri oleh 53 pemimpin dunia dan organisasi internasional.

Yang menarik disimak dari kunjungan Obama di akhir pekan ini adalah ia juga dijadwalkan akan mengunjungi zona demiliterisasi.

Obama dijadwalkan mengunjungi zona demilitarisasi (DMZ) yang memisahkan antara wilayah Korea Selatan dan Korea Utara sebelum dilangsungkannya KTT Nuklir di Seoul.

Kunjungan Obama garis perbatasan antara dua negara Korea ini, dilakukan ditengah meningkatnya ketegangan setelah pihak Pyongyang mengumumkan rencana untuk meluncurkan roket pada bulan depan.

 

Presiden Barack Obama mendampingi Presiden Korea Selatan Lee Myung-bak yang bersalaman dengan Menteri Luar Negeri Hillary Clinton. Lee berkunjung ke Gedung Putih tanggal 13 Oktober 2011.

 

Saat ini terdapat sekitar 28.500 tentara AS yang ditempatkan di lokasi ini.

Gedung Putih menjelaskan bahwa kunjungan Obama ke zona demiliterisasi (DMZ) ini adalah dalam kapasitas Obama sebagai Panglima Tertinggi bagi militer Amerika. Sehingga, kata Gedung Putih, sangat wajar jika seorang Panglima Tertinggi mengunjungi pasukan-pasukan Amerika yang sedang bertugas di garis terdepan untuk mengucapkan terimakasih atas pelayanan mereka dalam bertugas.

Kunjungan Obama ke zona demiliterisasi ini juga dijadikan sebagai peringatan atas 2 tahun tenggelamnya kapal Angkatan Laut Korea Selatan Cheonan yang menewaskan 46 orang ketika musibah itu terjadi.

Zona demiliterisasi ini dianggap sebagai garis terdepan demokrasi di Semenanjung Korea.

Dan menjadi simbol solidaritas serta kerjasama yang sangat kuat antara Amerika dan Korea Selatan.

Pihak Utara dan Selatan secara teknis masih terikat peperangan karena konflik bersenjata selama tiga tahun berujung pada gencatan senjata tahun 1953 tanpa penandatanganan perjanjian perdamaian. Sejak saat itu tentara AS ditempatkan di wilayah Korea Selatan.

Zona sepanjang 4km ini nampaknya bisa disebut sebagai wilayah perbatasan antar negara yang paling ketat penjagaannya di dunia. Mantan Presiden AS Bill Clinton melukiskannya sebagai ‘lokasi paling mengerikan di dunia” saat melakukan lawatan ke sana tahun 1990an.

Kombinasi foto 3 generasi pemimpin Korea Utara : Kiri ke Kanan. Almarhum Kim Il Sung, Kim Jong Il, dan paling kanan adalah Kim Jong Un yang saat ini memerintah di Korea Utara

 

Hampir senada dengan Obama, pemimpin Korea Utara saat ini Kim Jong Un juga layak disebut sebagai “Newsmaker”.

Hanya bedanya dengan Obama, Jong Un lebih disorot media karena perseteruan tanpa henti dengan Korea Selatan dan kejutan-kejutan terkait nuklir yang dilakukan Korea Utara.

Sejak kematian Kim Jong Il 17 Desember 2011, Kim Jong Un dinobatkan sebagai pemimpin baru.

Seperti yang dituliskan oleh Jong Un pada biodata di salah satu akun pribadinya di jejaring sosial twitter :

“Call me Kim Jong Un or Kim Jong Eun. I don’t care. As long as you call me SUPREME COMMANDER”

Suka atau tidak suka, dunia dihadapkan pada satu pemandangan baru bahwa seorang anak muda yang ditempa dengan sangat instan oleh sang ayah hanya beberapa tahun menjelang kematiannya, kini menjadi penguasa baru di Korea Utara.

Dan di hari kematian sang ayah, Kim Jong Un menunjukkan sikap yang sangat patut dipuji, ketika ia secara positif menerima kedatangan delegasi Korea Selatan yang datang melayat memberikan penghormatan terakhir mereka kepada Kim Jong Il.

Dimana didalam delegasi itu, terdapat Mantan Ibu Negara Korea Selatan, Lee Hee-ho, isteri dari mendiang Presiden Kim Dae Jung.

Kini, memasuki masa 3 bulan berkuasa, Jong Un sudah bikin “gebrakan” yang memancing kontroversi.

Dalam rangka memperingati ulang tahun ke-100 sang kakek yaitu Kim Il Sung, Korea Utara berencana akan meluncurkan satelit pada pertengahan bulan April mendatang.

Jumat (16/3/2012) lalu Korea Utara mengumumkan bahwa mereka akan meluncurkan satelit ke orbit pertengahan April untuk tujuan damai ilmiah.

Korea Utara mengatakan peluncuran itu tidak melanggar persetujuan dengan Amerika Serikat.

Di hari yang sama dengan pengumuman rencana peluncuran satelit ini, Korea Utara juga mengirimkan surat undangan kepada Badan Pengawas Nuklir PBB (IAEA) untuk datang ke Pyongyang setelah 3 tahun lalu para pengawas nuklir PBB dikeluarkan dari Korea Utara.

Pengumuman tentang rencana peluncuran itu disampaikan oleh seorang jurubicara Komite Teknologi Antariksa Korea Utara bahwa roket Unha-3 jarak jauh akan meluncurkan satelit pengamat bumi yang mengorbit kutub buatan dalam negeri.

Korea Utara mengatakan orbit penerbangan yang aman telah dipilih supaya kepingan roket tidak akan berdampak terhadap negara-negara tetangga.

Peluncuran itu akan diadakan tiga tahun setelah peluncuran serupa bulan April tahun 2009 mendatangkan kutukan luas sebagai kedok untuk menguji-coba teknologi misil jarak jauh Korea Utara.

Rencana peluncuran ini itu dianggap sebagai pelanggaran resolusi Dewan Keamanan PBB yang melarang Korea Utara melakukan kegiatan misil balistik dan nuklir.

Pyongyang sendiri sebenarnya telah setuju pada bulan lalu untuk menghentikan percobaan misil jarak jauh sebagai bagian dari persetujuan yang mengharuskan Amerika Serikat menyediakan bantuan pangan 240 ribu ton.

 

Pemimpin baru Korea Utara, Kim Jong Un, berjabatan tangan dengan mantan ibu negara Korea Selatan, Nyonya Lee Hee-ho, isteri dari almarhum Presiden Kim Dae Jung yang datang untuk melayat atas kematian Kim Jong Il, 19 Desember 2011.

 

Kunjungan Obama ke Korea Selatan memang sangat penting maknanya.

Amerika, tak akan pernah surut untuk memberikan dukungan sangat kuat kepada negara-negara sekutunya. Termasuk didalamnya dukungan kuat Amerika kepada Korea Selatan.

Jong Un yang bisa “naik tahta” karena begitu luar biasa kesolidan militer mereka dalam memberikan dukungan pada pemimpin baru, otomatis ditempatkan pada posisi yang harus selalu mengakomodir langkah-langkah militernya.

Sebab ia masih terbilang sangat baru dalam berkuasa.

Korea Utara tak punya pilihan lain, selain mengumumkan bahwa mereka senantiasa siap melakukan terobosan-terobosan nuklir, untuk menunjukkan pada Amerika, Korea Selatan, dan dunia internasional yang kerap memojokkan negara mereka bahwa mereka tak takut pada semua tekanan.

Dan kebetulan, momen peringatan mendiang Kim Il Sung, adalah sebuah momen sangat indah yang tentu tak akan mungkin bisa ditolak oleh Kim Jong Un.

Tak akan mudah bagi anak muda ini melupakan seluruh kenangannya pada sang ayah.

Ia pasti akan selalu mengenang dan menghormati kakek dan ayahnya sepanjang masa.

Dan barangkali diantara doktrin utama yang diturunkan sang ayah pada putra bungsunya ini adalah betapa hebat figur Kim Il Sung bagi bangsa, negara dan rakyat mereka.

Sehingga, apapun momen khusus yang diperuntukkan bagi mendiang sang kakek, pasti akan disetujui oleh Jong Un.

Yang harus diingatkan pada Kim Jong Un adalah ia harus tetap mengedepankan dan mengutamakan kesejahteraan dan kelangsungan hidup yang sangat terjamin sandang pangannya bagi rakyat Korea Utara.

Jong Un harus ingat bahwa ditengah krisis pangan berkepanjangan di negaranya, rencana masuknya misi-misi kemanusiaan dari komunitas internasional membantu ( termasuk bila Amerika memberikan bantuan pangan dalam jumlah besar ) adalah sesuatu yang bukankah sesungguhnya itupun bisa menjadi salah satu peringatan atas ulang tahun Kim Il Sung ?

Untuk apa meluncurkan roket, jika krisis pangan yang menyengsarakan rakyat terus berkepanjangan ?

Kesejahteraan rakyat harus dinomor-satukan, selaras dengan ambisi-ambisi nuklir Korea Utara.

 

Kombinasi foto : ( Kiri ke Kanan ) Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, Presiden Amerika Serikat Barack Obama, dan Presiden Korea Selatan Lee Myung-bak

 

Singkat kata, di akhir pekan atau weekend ini, dua pemimpin dunia yang usia-usianya sama-sama relatif muda ini, hanya dipisahkan oleh segaris garis perbatasan wilayah di zona demiliterisasi yaitu Barack Obama dan Kim Jong Un.

Jarak keduanya saat nanti Obama berkunjung ke zona demiliterisasi itu hanya dipisahkan oleh semua garis perbatasan.

Sesungguhnya, akan lebih baik jika kedua pemimpin ini didorong untuk membuka komunikasi secara langsung untuk bisa mendiskusikan secara langsung hal-hal yang dianggap penting.

Tak harus bertemu, paling tidak Obama bisa memberikan peluang dan celah bagi pemimpin Korea Utara berbicara langsung dengan dirinya melalui saluran telepon misalnya.

Tak ada yang tak mungkin untuk dilakukan didunia ini ika tujuan dari semuanya itu adalah baik dan positif dalam kerangka perdamaian dan keamanan dunia.

Korea Utara juga tak perlu terlalu “emosional” merespon kunjungan Obama ke zona demiliterisasi.

Yang namanya sekutu, di belahan dunia manapun didunia ini, akan senantiasa mengutamakan misi-misi bersama antara negara yang berkomitmen menjadi sekutu utama mereka.

Bantuan pangan internasional kepada rakyat Korea Utara ibaratnya sudah diambang pintu.

Jangan ditolak atau digagalkan.

Sebab misi kemanusiaan hendaknya jangan dicampur-adukkan dengan masalah-masalah politik dan kisruhnya masalah keamanan dan ambisi nuklir yang ditentang oleh komunitas internasional.

Jadi, weekend ini Obama akan berada di Seoul, dan diperkirakan Kim Jong Un sendiri akan berada di Pyongyang (bersama kalangan militernya) yang selalu siap mendukung pemimpin mereka.

Barangkali kalau Kim Jong Il masih hidup, pemimpin yang sangat nyentrik ini, sudah merencanakan perjalanan yang sifatnya sangat rahasia ke Cina ( seperti yang sering dilakukannya ketika masih hidup).

Kim Jong Un tak perlu harus sampai ke Cina untuk melampiaskan kekesalan atas kunjungan Obama ke zona demiliterisasi.

Biarkan saja Obama berkunjung ke sana.

Kalau hanya sekedar berkunjung, tidak ada salahnya toh ?

Obama adalah Panglima Tertinggi di negaranya dan dia ingin mengunjungi pasukan-pasukan Amerika yang sedang bertugas disana.

Jadi jangan terlalu emosional merespon rencana kunjungan Obama.

Sekali lagi, biarkan saja Obama berkunjung ke zona demiliterisasi (DMZ).

Biarkan saja Obama menikmati weekend-nya di Seoul.

Sehingga siapapun yang membutuhkan Obama pada saat weekend ini, akan dengan mudah mencari bahwa Presiden Amerika Serikat sedang berakhir pekan di Korea Selatan.

Dan siapapun yang membutuhkan Kim Jong Un pada saat weekend ini, akan dengan mudah juga mencari bahwa “diktator muda” ini sedang berakhir pekan di Korea Utara.

Yang terpenting dari situasi ini adalah jangan ada masing-masing pihak yang sengaja melakukan provokasi militer ke arah lawan sehingga dapat memperburuk keadaan jika terjadi kontak senjata yaitu militer Korea Selatan dan militer Korea Utara.

Jagalah jarak agar situasi tak semakin memburuk.

Sambil menantikan satu waktu nanti, Obama bisa dan memang mungkin berkomunikasi langsung dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un agar kedua pemimpin ini dapat mendiskusikan secara positif hal-hal yang memang dianggap penting untuk disampaikan.

Ya, syukur-syukur kalau satu waktu nanti, Obama dan Jong Un bisa bertemu ( siapa tahu ? ).

Happy weekend, Dear Supreme Commander Kim Jong Un !

Happy weekend, President Lee and President Obama !

 

 

(MS)

About these ads

Comments are closed.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 11,690 other followers