Netanyahu Dan Mahmoud Abbas Penyebab Kegagalan Perundingan Damai

Presiden Palestina Mahmoud Abbas berbisik dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu

 

Jakarta, 14 April 2012 (KATAKAMI.COM)  —  Perundingan damai terakhir antara Israel dan Palestina dilakukan hampir 2 tahun lalu yaitu saat Presiden Palestina Mahmoud Abbas bertandang ke kediaman Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Yerusalem.

Selanjutnya, selama hampir 2 tahun ini, dunia internasional hanya dijadikan sebagai penonton pasif untuk pertunjukan politik Israel dan Palestina yang tidak ada kejuntrungannya ( tidak jelas arahnya ).

Sehingga kalau mau lebih sederhana disimpulkan, 4 biang kerok kegagalan perundingan damai selama hampir 2 tahun ini cukup 4 orang saja yang dianggap paling bertanggung-jawab yaitu Shimon Peres dan Benjamin Netanyahu dari pihak Israel.

Lalu Mahmoud Abbas dan Perdan Menteri Salam Fayyad dari pihak Palestina.

Jadi selama 4 orang ini masih sama-sama “korslet” pemikirannya tentang parameter apa yang harus mereka sepakati untuk melanjutkan perundingan damai itu, maka mau memamerkan perundingan damai model apapun akan sia-sia semuanya.

 

Perdana Menteri Salam Fayyad, kiri, duduk bersama Presiden Mahmoud Abbas saat keduanya mengikuti sholat Idul Fitri di Tepi Barat, 30 Agustus 2011

 

Seperti yang diberitakan Kantor Berita ANTARA, Kamis (12/4/2012) lalu, Perdana Menteri Netanyahu akan bertemu dengan Perdana Menteri Salam Fayyad di Yerusalem pekan depan.

Pertemuan dijadwalkan tanggal 17 April 2012 dan kemungkinan besar akan digelar di Kantor Perdana Menteri Israel.

Menurut rencana, pada pertemuan itulah PM Salam Fayyad akan menyerahkan surat dari Presiden Mahmoud Abbas yang berisi tentang berbagai persyaratan yang diajukan Palestina jika Israel bersedia menggelar perundingan damai lagi.

Surat yang akan disampaikan Perdana Menteri Salam Fayyad saja belum sampai ke tangan Netanyahu, Israel sudah langsung responsif menjawab (lewat media) bahwa perundingan damai hanya akan dilanjutkan oleh Israel tanpa pra kondisi dan persyaratan apapun.

Selama ini, ajakan dari Israel untuk kembali ke meja perundingan kerap ditolak oleh Presiden Mahmoud Abbas karena Israel seolah bermuka dua.

Di satu sisi menginginkan perdamaian, namun di sisi lain tidak berhenti membangun pemukiman Yahudi di Tepi Barat dan mengambil alih lahan milik warga Palestina.

Kedua belah pihak akan membicarakan langkah nyata perundingan perdamaian yang sempat terhenti pada 2010 lalu.

PLO juga akan memberikan Netanyahu surat yang menunjukkan kegagalan Israel menerapkan “peta jalan damai” pada 2003.

Di mana Israel tidak menggubris seruan dunia internasional menghentikan pembangunan pemukiman Yahudi.

 

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton berjabatan tangan dengan Presiden Mahmoud Abbas, disaksikan oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, 15 September 2010 di Kediaman Perdana Menteri Israel. Inilah pertemuan terakhir yang memang khusus membicarakan perundingan damai antara Israel dan Palestina.

 

Sesungguhnya, kalau memang akan ada pertemuan terbaru antara pemimpin Israel dan Palestina, publik (terutama media) belum bisa mengetahui secara jelas hal ihwal pertemuan tersebut.

Apakah pertemuan itu dengan formasi 2: 1 (dua banding satu) yaitu Mahmoud Abbas dan Salam Fayyad “mengeroyok” Netanyahu sendirian untuk melakukan omong-omong di Kantor Perdana Menteri Israel.

Atau, dilakukan dengan formasi 2 : 2 (dua banding dua) yaitu Mahmoud Abbas didampingi Salam Fayyad selaku Perdana Menterinya, akan bertemu dengan Shimon Peres didampingi Perdana Menterinya yaitu Benjamin Netanyahu.

Tapi kalau sudah menyangkut Israel dan Palestina, jangan berharap terlalu banyak dari kedua negara yang hidup saling bertetangga tapi tak pernah bisa akur ini.

Point terpenting yang perlu dikritik dari rencana pertemuan itu sesungguhnya Palestina tidak perlu memenuhi undangan Netanyahu untuk datang ke Yerusalem untuk menggelar perundingan damai.

Mengapa ?

Ya sebab, Yerusalem masih dalam status diperebutkan antara Israel dan Palestina.

Ilustrasinya begini, apakah anda (Mahmoud Abbas dan Salam Fayyad) mau datang ke sebuah lokasi, yang sesungguhnya anda yakini adalah wilayah otoritas anda tetapi karena Israel memang sangat sulit dilawan dan dikalahkan, maka Yerusalem tetap menjadi bagian yang tak terpisahkan dari Israel sampai saat ini.

Jangan datang dulu ke Yerusalem dalam status kepemilikan yang belum jelas !

Jika pemimpin Palestina datang ke kantor Perdana Menteri Israel, maka secara de facto Pemerintah Palestina mengakui bahwa Yerusalem ada dibawah otoritas Israel.

Jabatan Perdana Menteri adalah salah satu pilar resmi pemerintahan Israel.

Jika saat ini Bibi (panggilan Benjamin Netanyahu) menduduki jabatan sebagai Perdana Menteri, maka harus diakui bahwa Netanyahu adalah salah satu simbol pemerintahan Yahudi.

Setiap hari Minggu, di kantor Perdana Menteri itulah Bibi Netanyahu memimpin rapat kabinetnya untuk membahas seluruh permasalahan yang dihadapi pemerintahannya (pasti, sebagian besar permasalahan itu adalah permasalahan antara Israel dan Palestina !)

Jadi, mintalah kepada Shimon Peres dan Benjamin Netanyahu untuk mencari lokasi perundingan damai yang lain yang lebih netral sehingga pemimpin dari masing-masing negara bisa menyampaikan segala sesuatu tentang parameter perdamaian yang ingin mereka tawarkan dalam suasana yang sejuk dan menyenangkan.

 

Bendera Palestina

 

Kalau pemimpin Palestina datang ke Yerusalem atas nama perundingan damai dalam status Yerusalem yang masih dipertentangkan seperti ini, sama saja dengan merendahkan diri.

Hanya karena ingin melanjutkan perundingan damai yang buntu selama hampir 2 tahun, maka pemimpin Palestina mau mendatangi Kantor Perdana Menteri Israel yang bermarkas di Yerusalem ?

Apa tidak salah itu ?

Strategi politik Israel memang harus diwaspadai dengan sangat hati-hati karena mereka memang bisa dibilang mereka begitu cermat, matang dan sangat terukur menyiapkan segala sesuatu.

Mau digebuk dengan cara apapun, faktanya Israel selalu bisa lolos dari “lubang jarum”.

Jadi, harus dipertimbangkan kembali, kebersediaan pemimpin Palestina datang ke Yerusalem ( walaupun dikemas dalam pertemuan yang mempromosikan kelanjutan perundingan damai).

Lalu, hal lain yang memang harus dikritik dari Israel (terutama Perdana Menterinya), tidak boleh lagi keluar dari mulut Israel kalimat-kalimat yang egoistik bahwa perundingan damai hanya akan dilanjutkan Israel tanpa persyaratan dan pra kondisi apapun.

Tidak boleh begitu !

Netanyahu harus lebih fleksibel sekarang dan sungguh-sungguh harus sangat ditekan oleh komunitas internasional bahwa kegagalan perundingan damai selama ini adalah kebandelan Israel yang terus melanjutkan pembangunan pemukiman Yahudi di tanah yang diklaim menjadi milik Palestina.

 

Perdana Menteri Salam Fayyad bertemu dengan Presiden Mahmoud Abbas di Kantor Kepresidenan Palestina di Ramallah, 14 Februari 2011. Tampak di bagian latar belakang kedua pemimpin Palestina ini, gambar kota YERUSALEM.

 

Hentikan dulu pembangunan pemukiman itu paling sedikit sekurang-kurangnya selama 6 bulan atau maksimal 1 tahun ke depan.

Beri jalan bagi proses perundingan damai ini bisa terus berlanjut.

Sudah barang tentu Palestina menuntut pembangunan pemukiman Yahudi itu dihentikan kalau memang harus berunding kembali.

Israel tidak boleh keras kepala lagi !

Tapi repotnya, dalam situasi yang sudah sangat sesulit apapun, akan ada saja negara-negara sahabat yang ternyata mendukung Israel dan tidak akan membiarkan Negara Yahudi ini terbentur dalam masalah-masalah serius di tataran internasional.

Selalu, dan selalu, ada saja pendukung Israel.

Jadi singkat kata, kalau sudah bicara tentang perundingan damai antara Israel dan Palestina, komunitas internasional memang tak perlu patah arang untuk selalu mendorong dilanjutkan perundingan damai ini.

Tetapi jangan terlalu berharap banyak dari para pemimpin Israel dan Palestina.

Sama saja semuanya.

Baik Shimon Peres, Benjamin Netanyahu, Mahmoud Abbas dan Salam Fayyad, semua sama-sama tidak bisa dipegang omongannya tentang komitmen mereka melanjutkan perundingan damai.

Kegagalan perundingan damai selama 2 tahun ini ya karena keegoisan dari para pemimpin Israel dan Palestina sendiri.

Lalu kalau selama ini Presiden Mahmoud Abbas sering menyampaikan kritikan yang sangat keras sekalipun untuk Israel, sesungguhnya kritikan itupun seakan tak berarti apa-apa.

 

Oh Really ?

 

Sebab faktanya, Mahmoud Abbas menjadi salah seorang dari sejumlah kecil pemimpin Palestina yang mendapat hak keistimewaan penuh sebagai VVIP (Very Very Important Person) yang secara legal diberikan Pemerintah Israel.

Sehingga, misalnya, jika Abu Mazen (panggilan Mahmoud Abbas) atau keluarganya ingin berpergian keluar negeri, maka ia bisa mendapatkan dan menggunakan fasilitas Israel berdasarkan hak istimewa tadi.

Ibarat kata, benci tapi rindu.

Benci kepada Israel tetapi mendapat hak istimewa juga dari negara tetangga yang katanya sangat dibenci.

Dan kalau saat ini para pemimpin Israel dan Palestina mengumumkan akan melanjutkan kembali perundingan damai, maka marilah kita semua yang sangat peduli terhadap prinsip-prinsip perdamaian dan keamanan dunia, menyampaikan satu kalimat saja untuk para pemimpin Israel dan Palestina :  ” Oh ya ? “.

Jadi, sekali lagi, kalau media memberitakan bahwa Perdana Menteri Israel ingin  mengundang Pemimpin Palestina datang ke kantornya untuk berunding, maka reaksi terbaik dari rencana ini cukup terwakili dengan satu kalimat saja.

Oh really, Bibi ?

 

 

(MS)

About these ads

Comments are closed.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 9,396 other followers