Oleh : Mega Simarmata, Editor-in Chief KATAKAMI.COM
Exclusive Interview with CIA Director Gen. David Petraeus : “I see Iran as very small to tackle”
Al Quran Dibakar Afghanistan Berkobar, Hormatilah Islam
Jakarta, 16 April 2012 (KATAKAMI.COM) — Bagi jurnalis manapun didunia ini, akan ada kebanggaan dan kepuasan tersendiri jika ia berhasil menembus reportase atau wawancara yang memiliki tingkat kesulitan lumayan besar dan berat.
Itulah juga yang saya rasakan dan saya alami untuk bisa mendapatkan wawancara eksklusif kedua dengan Jenderal David Howell Petraeus.
Bernama lengkap David Howell Petraeus, ia lahir tanggal 7 November 1952 dari pasangan Sixtus Petraeus dan Miriam.
Ia adalah Jenderal berbintang 4 yang sejak tanggal 4 Juli 2010 sampai Juli 2011, menduduki posisi strategis dan sangat penting sebagai Komandan Tertinggi Pasukan Amerika Serikat dan NATO untuk operasi militer di Afghanistan.
Posisi puncak Petraeus sebagai Komandan Tertinggi Pasukan Amerika di Afghanistan adalah untuk menggantikan posisi Jenderal Stanley McChrystal yang diberhentikan oleh Presiden Obama tanggal 23 Juni 2010.
David menyerahkan tongkat komandonya sebagai ISAF Commander pada tanggal 18 Juli 2011 kepada Jenderal John Allen sebab Presiden Barack Obama menunjuk Petraeus untuk menjadi Direktur Dinas Rahasia Amerika (CIA).
David dilantik sebagai Direktur CIA pada tanggal 6 September 2011.
Saat terjadi tragedi pembunuhan terhadap 16 warga sipil Afghanistan pada akhir bulan Februari 2012 oleh seorang oknum prajurit Amerika (belakangan angka korban tewas meningkat menjadi 17 orang), dunia internasional sungguh terkejut.
Yang membuat kejadian itu menjadi lebih mengejutkan karena terjadi hanya beberapa minggu setelah tragedi sebelumnya yaitu ada oknum prajurit Amerika juga membakar Al Quran.
Komandan Pasukan Keamanan Internasional di Afghanistan (ISAF Commander) Jenderal John Allen sudah langsung cepat memberikan respon dan menyampaikan permohonan maaf.
Begitu juga Menteri Pertahanan Amerika Serikat Leon Panetta. Bahkan Presiden Barack Obama.
Penjelasan dari permohonan maaf dari petinggi-petinggi militer Amerika dan Presiden Obama saling sambung menyambung akibat dua tragedi yang terjadi secara berturut-turut.
Tetapi ada satu orang yang cukup menarik untuk dimintai komentarnya mengenai tragedi tersebut karena orang ini pernah bertugas sebagai komandan tertinggi pasukan Amerika untuk perang di Afghanistan.
Siapa lagi kalau bukan Jenderal David Howell Petraeus yang secara kebetulan saat ini menempati posisi yang tak kalah pentingnya yaitu sebagai Direktur Dinas Rahasia CIA.
Sebagai jurnalis yang sudah menempuh perjalanan panjang sebagai reporter lapangan dan pewawancara, saya sudah memprediksi bahwa permohonan wawancara eksklusif saya yang kedua ini akan menemui kendala yang tidak mudah.

General David Petraeus, former commander of International Security Assistance Force (ISAF ) and U.S. forces in Afghanistan.
Saya sudah mempertimbangkan sangat matang dan membuat semacam analisa bahwa akan sangat sulit “memaksa” David Petraeus untuk berbicara tentang situasi dan keadaan yang menjadi semacam aib bagi militer Amerika.
Apalagi kedua kasusnya tidak sederhana.
Tetapi saya merasa yakin akan mendapatkan wawancara eksklusif itu karena saya mengenal David.
Dan saya beruntung bisa menjadi temannya.
Saya butuh waktu lebih dari 3 minggu untuk bisa mendapatkan jawaban-jawaban David pada wawancara eksklusif yang kedua ini.
Dan itupun harus “adu pintar” dengan seorang Jenderal bintang empat Amerika yang sangat disegani dan begitu berpengalaman seperti David.
Kenapa saya menyebut harus “adu pintar” dengan Direktur CIA ?
Ya, sebab David seperti mengajak saya ibarat bermain “ular tangga” yang harus berputar-putar dulu pembicaraannya kesana-kemari pada komunikasi-komunikasi langsung kami.
Hingga akhirnya ia mau mengabulkan permintaan wawancara saya.
Bayangkan, saya sudah menunggu 3 minggu tetapi yang sempat ia kirimkan adalah pertanyaan yang saya ajukan pada wawancara eksklusif saya yang pertama di bulan Januari 2012 ( dan itu sudah dimuat ! ).
Saya paham bahwa David sesungguhnya tak nyaman jika diminta berbicara tentang sesuatu yang sungguh terasa berat di hatinya yaitu harus membicarakan tentang pelanggaran berat yang dilakukan oleh seorang prajurit Amerika.
Walau ia sudah tak bertugas lagi di militer dan meninggalkan Afghanistan sejak bulan Juli 2011, David tentu tak akan pernah melupakan betapa besar kecintaan dan kebanggaannya menjadi bagian yang tak terpisahkan dari militer Amerika ( US ARMY).
Tetapi sebagai jurnalis, saya tak mau menyerah agar apa yang saya “inginkan” bisa dikabulkan yaitu sebuah wawancara eksklusif.
Jadi ketika David sempat mengirimkan jawaban-jawaban yang “salah” yaitu dia menjawab kembali pertanyaan-pertanyaan pada wawancara eksklusif saya yang pertama (edisi Januari 2012), saya juga pura-pura terkejut dan mengingatkannya bahwa ternyata dia mengirimkan jawaban yang salah.
Padahal saya mengerti bahwa ia seakan-akan sedang mengulur waktu untuk sekedar menguji seberapa gigih saya mengupayakan wawancara tersebut.
Tapi saya mengunci David dengan satu kalimat yang sederhana saja agar ia tidak terus menerus mengajak saya seolah bermain “ular tangga” lagi :
“David, a promise is a promise”.

Komandan Pasukan Keamanan Internasional (ISAF Commander) yang baru Jenderal John Allen, kiri, Jenderal David Petraeus, dan Menteri Pertahanan Amerika Leon Panetta.
Dia sudah berjanji untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan saya pada wawancara eksklusif yang kedua ini.
Maka saya mengingatkannya bahwa janji adalah sesuatu yang harus ditepati.
Tak berhenti sampai disitu, ternyata masih ada lagi akalnya David yang menurut saya memang untuk menunda wawancara tersebut.
Setiap kali ia mengontak saya untuk sekedar menyapa dan menanyakan kabar saya, ia berjanji akan segera mengirimkan jawaban-jawabannya di penghujung malam saat seluruh tugas dan kesibukan-kesibukannya sudah selesai dilaksanakan.
Sialnya, tiap kali ia berjanji untuk mengirimkan jawaban di penghujung malam, ternyata berulang kali saya harus kecewa karena pada inbox di email saya tetap tidak ada email yang masuk dari David Petraeus.
Tetapi saya tetap menjaga kesabaran dan kegigihan saya sebagai jurnalis yang harus tahan banting menghadapi situasi yang sesulit apapun.
Setiap ada kesempatan berkomunikasi langsung dengan David, saya tidak lupa menanyakan mengapa ia belum menjawab wawancara yang saya minta.
Dan rumus yang tetap saya gunakan adalah sebuah kalimat sakti yaitu :
“David, a promise is a promise”.
Dan kalau sudah diingatkan seperti itu, biasanya Direktur CIA ini pasti merasa tidak enak hati karena dengan cara halus ia “didesak” untuk mengabulkan sebuah permohonan yang sesungguhnya sangat sederhana yaitu sebuah wawancara eksklusif.
Ia menjawab dengan gaya yang santun, “Ok. I will answer all and get back to you”.
Saya juga mengingatkannya dengan santun agar ia menjawab pertanyaan-pertanyaan saya dengan kalimat-kalimat yang panjang.
Saya mohon agar ia jangan memberikan jawaban-jawaban yang sangat pendek ( seperti yang ia tuliskan dalam wawancara eksklusif kami yang pertama).
Saya katakan bahwa jika ia menjawab pertanyaan saya dengan kalimat-kalimat yang pendek maka nanti orang-orang yang membaca wawancara itu mengira saya mewawancarai David Petraeus yang palsu.
Ia dengan serius merespon seperti ini, “I am not fake. I am a General. I am David Howell Petraeus for Christ sake”
Sepertinya David menjadi kasihan juga kalau-kalau ada yang mengira bahwa saya mewawancarai seorang Jenderal Amerika yang palsu. Itulah yang kemudian membuatnya benar-benar menepati janji untuk segera mengirimkan jawaban tertulis pada saya.
Tetapi, lepas dari segala yang telah terjadi di Afghanistan, sesungguhnya David Petraeus juga harus diingatkan bahwa walaupun kini ia sudah tidak bertugas di Afghan, satu hal yang harus ia ingat bahwa dibutuhkan situasi yang sangat damai dan benar-benar aman di Afghanistan (walaupun nanti Amerika akan secara resmi menarik pasukan mereka dari seluruh wilayah Afghan).
Insiden pembakaran Al Quran dan pembunuhan belasan warga sipil Afghan yang sangat mengerikan seperti ini, harus disikapi dengan sangat bijaksana.
Militer Amerika harus menyadari bahwa penghormatan terhadap simbol-simbol AGAMA adalah mutlak dilakukan oleh prajurit Amerika yang bertugas dimanapun juga.
Tidak ada AGAMA yang mengajarkan keburukan didunia ini.
Semua agama mengajarkan kebaikan dan kebajikan.
Termasuk Islam.
Sebab harus diakui bahwa ISLAM adalah sebuah kekuatan dunia yang saat ini sudah sangat mengkristal.
Kekuatan ISLAM, justru harus dirangkul, dan diajak bekerjasama.
Dan yang harus dihargai dari militer Amerika bahwa dalam hitungan minggu sejak peristiwa pembunuhan itu terjadi, Departemen Pertahanan Amerika (Pentagon) “mengizinkan” diberikannya kompensasi kepada seluruh keluarga korban yang tewas dibunuh oleh seorang oknum prajurit Amerika.
Amerika Serikat membayar kompensasi senilai 50 ribu dolar AS atau senilai Rp 450 juta untuk setiap korban tewas akibat pembantaian yang dilakukan tentaranya.
Pada hari Minggu (25/3/2012), pejabat di Afganistan juga menyebutkan, selain 50 ribu dolar bagi setiap korban tewas, AS memberikan juga kompensasi 11 ribu dolar bagi korban cidera.
Pejabat Afganistan menyampaikan hal ini kepada keluarga korban, bahwa uang tersebut diberikan sesungguhnya atas perintah langsung dari Presiden AS Barack Obama.
Kebijakan Obama mengenai pemberikan kompensasi ini adalah untuk memperbaiki hubungan dengan Afganistan, setelah ketegangan yang terus berlangsung.
Dari total korban pembantaian, AS akan membayar total kompensasi sebesar 866 ribu dolar atau senilai Rp 7,8 miliar. Perhitungan tersebut terdiri atas 16 orang tewas, 12 di desa Balandi dan empat di desa tetangga Alkozai.
Walau kemudian dikonfirmasi terdapat 17 korban tewas, ditambah enam lainnya luka-luka.
Militer AS menuduh pelaku melakukan aksi tanpa perintah dan menganggap dirinya mengalami gangguan mental.

Menteri Pertahanan Amerika Serikat Leon Panetta memutuskan untuk langsung datang berkunjung ke Afghanistan pasca terjadinya insiden penembakan 17warga sipil oleh seorang prajurit Amerika.
Akhir kata, selamat membaca wawancara eksklusif saya dengan Direktur Dinas Rahasia Amerika, David Howell Petraeus.
Bukan karena saat ini ia menduduki jabatan sebagai Direktur Dinas Rahasia CIA maka saya mewawancarainya kembali.
Samasekali bukan !
Satu-satunya alasan saya mewawancarainya kembali adalah karena David Petraeus pernah bertugas di Afghanistan sehingga sangat wajar jika mantan komandan pasukan Amerika ini dimintai responnya.
Kesabaran dan kegigihan membujuk David Petraeus untuk mau kembali di wawancara akhirnya membuahkan hasil yang positif.
Sehingga akhirnya, saat ini anda semua bisa membaca komentar-komentarnya mengenai 2 permasalahan dunia yang saat ini lagi terus dibahas secara mendunia yaitu permasalahan Afghanistan dan Syria.
A promise is a promise !
(MS)

April 16, 2012 




Comments are closed.