64 Tahun Kemerdekaan Israel Saat Palestina Belum Juga Bisa Merdeka

Presiden Shimon Peres (hanya terlihat sedikit paling kanan), didampingi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, berdasi biru, serta Kepala Staf Gabungan IDF (Israeli Defense Forces) Letnan Jenderal Benny Gantz, menghadiri upacara peringatan untuk menghormati seluruh prajurit militer yang telah gugur / wafat, dalam rangkaian kegiatan pada Hari Kemerdekaan Israel ke 64 tahun.

 

Perundingan Damai Ecek-Ecek Saat PM Palestina Boikot Netanyahu

Netanyahu Dan Mahmoud Abbas Penyebab Kegagalan Perundingan Damai

 

Jakarta, 27 April 2012 (KATAKAMI.COM)  —  Pekan ini seakan menjadi hari-hari keemasan Israel.

Negara Yahudi ini merayakan 64 tahun Hari Kemerdekaan mereka.

Ibarat pemenang di panggung bergengsi Academy Award yang mendapat PIALA OSCAR, maka duet pemimpin Shimon Peres dan Benjamin Netanyahu bisa diibaratkankan seperti menjadi pemenang yang sangat beruntung.

Sebab saat ini dari seluruh penjuru dunia berdatangan ucapan selamat atas 64 tahun Hari Kemerdekaan mereka.

Dan sudah barang tentu, ucapan selamat disertai komitmen untuk lebih bersekutu lebih erat, datang dari sekutu utama Israel yaitu AMERIKA SERIKAT.

Pokoknya pekan ini, Shimon Peres dan Benjamin Netanyahu sangat murah hati memberikan senyuman mereka kepada siapa saja dalam suasana peringatan hari kemerdekaan ke 64.

Dan bukan Israel namanya kalau tidak mengejutkan dunia.

Persis dalam suasana 64 tahun Hari Kemerdekaan Israel, Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengumumkan bahwa pihaknya secara resmi melegalkan tiga pemukiman Yahudi yaitu di Sansana, Rechelim dan Bruchi.

Pengumuman tentang pengesahan ketiga wilayah pemukiman Yahudi tersebut disampaikan hari Senin (23/4/2012) lalu seperti ini dalam Situs Resmi Kantor Perdana Menteri Israel :

A ministerial team that was authorized by the Government decided today to formalize the status of the communities of Sansana, Rechelim and Bruchin, which were established in the 1990′s on the basis of the decisions of previous governments.

Ibaratnya anak nakal, Israel mengumumkan pengesahan status ketga wilayah pemukiman ini persis saat mereka tiba di puncak peringatan hari jadi negara Yahudi ini.

Sehingga mau sekeras apapun “paduan suara” komunitas internasional untuk mengecam, mengutuk dan memaki-maki Israel soal pengesahan ini, dalam hitungan jam sudah berganti menjadi penyampaian ucapan Hari Kemerdekaan yang ke 64.

Tenggelamlah semua nyanyian kecaman, kutukan dan caci maki tersebut.

 

Ketua Komisi Kebijakan Keamanan dan Luar Negeri UNI EROPA, Catherine Ashton, menggandeng jururunding Palestina, SAEB EREKAT, setelah pertemuan dengan Presiden Palestina Mahmoud Abbas, di Amman, Yordania, 26 Januari 2012.

 

Seperti yang diberitakan oleh CNN (24/4/2012), Pemerintah Israel mengatakan bahwa pihaknya telah memutuskan untuk melegalkan status tiga pos pemukiman yang dibangun di Tepi Barat selama tahun 1990.

Langkah untuk mengizinkan penyelesaian Sansana, Rechelim dan Bruchin didasarkan pada “keputusan oleh pemerintah sebelumnya,” kata kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dalam sebuah pernyataan singkat.

Pengumuman ini dikritik oleh rakyat Palestina, dengan masalah penyelesaian hambatan kunci untuk setiap harapan menghidupkan kembali proses perdamaian.

“Pemerintah Israel harus membuat pilihan antara permukiman dan perdamaian. Mereka tidak bisa memiliki keduanya,” kata Saeb Erekat, negosiator Palestina.

“Pertanyaan di sini, jika orang mengatakan bahwa mereka menerima solusi dua negara, lalu mengapa mereka terus membangun di lahan yang seharusnya untuk negara Palestina ? Saya percaya kelanjutan dari kegiatan pemukiman itu akan menghancurkan jalur damai dan solusi dua negara. “

Mark Regev, juru bicara Perdana Menteri Bibi (panggilan Benjamin Netanyahu), mengatakan alasan mengapa status dari tiga pemukiman belum diformalkan sebelumnya adalah karena “masalah teknis dan prosedural”

Para pejabat Palestina telah menghentikan semua perundingan dengan Israel, baik langsung maupun tidak langsung, karena kelanjutan dari apa yang mereka gambarkan sebagai bangunan pemukiman ilegal di Tepi Barat dan Yerusalem. Palestina menginginkan Yerusalem Timur menjadi ibu kota negara bagian di masa depan.

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan mengatakan pada Januari bahwa sejak tahun 1967, Israel telah membangun sekitar 150 permukiman di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, di samping sekitar 100 “pos-pos” yang didirikan oleh pemukim tanpa izin resmi.

Populasi pemukim diperkirakan sekitar 500.000 di, kantor PBB.

 

Presiden Palestina Mahmoud Abbas berbincang dengan Utusan Khusus Amerika Serikat untuk Perdamaian Timur Tengah, DAVID HALE, di Ramallah, Tepi Barat, 21 April 2012

 

Pada awal pekan ini, Palestina juga telah mengirimkan surat resmi ke Dewan Keamanan dan Majelis Umum Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) untuk mengutuk pengesahan pemukiman Yahudi di ketiga wilayah tadi.

Palestina secara tegas meminta agar Israel menghormati dan menjalankan Resolusi PBB yang selama ini telah ditetapkan berkaitan tentang sengketa pemukiman Yahudi diatas tanah Palestina.

Palestina juga mengingatkan Israel bahwa pembangunan pemukiman di wilayah tersebut sangat bertentangan dengan garis perbatasan berdasarkan keputusan internasional di tahun 1967.

Namun untuk merespon langkah-langkah PBB yang akan menjerat Israel terkait pembangunan pemukiman Yahudi ini, akhir bulan Maret lalu Israel sudah memutuskan untuk tidak akan lagi bekerjasama dengan badan-badan PBB.

Akhir bulan Maret lalu, Kementerian Luar Negeri Israel mengatakan kepada perwakilannya di Jenewa untuk tidak bekerja sama dengan Dewan HAM PBB maupun Komisaris HAM PBB, Navi Pillay, demikian dikutip dari BBC (26/3/2012).

Israel juga telah melarang Tim PBB memasuki Israel untuk mengkaji dampak dari pemukiman Yahudi terhadap hak-hak Palestina.

Menurut Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Yigal Palmor, ketentuan itu juga berlaku bagi wilayah Tepi Barat.

“Karena Dewan HAM di Jenewa secara sistematis mengabaikan pandangan, posisi, dan kekhawatiran kami dan benar-benar tidak bekerja sama dengan kami dalam berbagai masalah, maka terhitung hari ini kami memutuskan untuk tidak bekerja sama dengan Dewan HAM,” kata Palmor hari Senin (26/03/2012).

“Kami memutuskan untuk menghentikan semua hubungan kerja sama dengan badan itu dan akan tetap berlaku sampai ada pemberitahuan lebih lanjut,” tambah Palmor.

Dewan HAM sendiri sebelumnya sudah menyatakan bahwa misi badan PBB meliputi “penyelidikan dampak pemukiman Israel terhadap hak-hal sipil, politik, ekonomi, sosial dan kebudayaan rakyat Palestina di wilayah Palestina yang diduduki, termasuk Yerusalem Timur”.

Pembangunan pemukiman menjadi salah satu penghalang utama dalam perundingan antara Israel dan Palestina untuk mewujudkan solusi dua negara.

Perundingan damai menemui jalan buntu pada akhir 2010 setelah terjadi sengketa pembangunan pemukiman Yahudi di wilayah Palestina.

Sekitar 500.000 warga Yahudi menempati sekitar 100 kawasan pemukiman yang dibangun sejak pendudukan Israel di Tepi Barat dan Yerusalem Timur.

Berdasarkan undang-undang internasional, pemukiman Yahudi tersebut ilegal namun Israel menepis hal itu.

 

Kombinasi foto : Perdana Menteri Palestina Salam Fayyad, kiri, dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu

 

Memang tak ada penjelasan apapun dari Pemerintah Israel mengapa secara mendadak mereka mengumumkan pengesahan dan legalisasi terhadap 3 wilayah pemukiman Yahudi disaat komunitas internasional terus mendorong agar proses perundingan damai kembali dilanjutkan oleh Israel dan Palestina.

Tetapi barangkali yang bisa dispekulasikan adalah kekecewaan Israel atas pemboikotan yang dilakukan Perdana Menteri Salam Fayyad yang mendadak membatalkan rencana pertemuannya dengan PM Benjamin Netanyahu pada hari Selasa (17/4/2012).

Persis seminggu sebelum Israel mengumumkan pengesahan dan legalisasi 3 wilayah pemukiman Yahudi tersebut, harusnya Fayyad dan Netanyahu bertemu di Yerusalem sesuai kesepakatan antar dua negara.

Namun menjelang pertemuan, Fayyad memutuskan untuk memboikot pertemuan itu dan hanya mengutus juru runding Palestina yaitu Saeb Erekat dan Kepala Intelijen Palestina, Majad Faraj untuk menemui Netanyahu.

Pembatalan dan pemboikotan itu memang tak secara khusus direspon Israel.

Netanyahu tetap bersedia menemui Delegasi Palestina dan dengan “senang hati” menerima sepucuk surat dari Presiden Mahmoud Abbas yang dibawa oleh Delegasi Palestina untuk disampaikan kepada Netanyahu.

Netanyahu — yang juga merupakan pimpinan dari partai Likud ini — berjanji akan membalas surat yang disampaikan Presiden Mahmoud Abbas.

Bibi Netanyahu tidak menunjukkan sedikitpun ketersinggungan atas pembatalan dan pemboikotan yang dilakukan Perdana Menteri Salam Fayyad.

Hingga tiba akhirnya, seminggu setelah kejadian itu, Israel mengumumkan bahwa mereka memutuskan untuk mengesahkan dan melegalkan status 3 wilayah pemukiman Yahudi di  Sansana, Rechelim dan Bruchi.

Tak mungkin Israel tak tahu bahwa keputusan mereka itu akan dikutuk oleh komunitas internasional.

Sebab apapun yang menyangkut urusan pembangunan pemukian di Israel, pasti akan menyerupai bunyi mercon.

Sedikit saja ketahuan atau terdengar ada gerakan dan kebijakan Israel menyangkut pemukiman Yahudi ini, maka seribu satu macam kutukan internasional akan meledak-ledak bunyinya ibarat mercon yang bunyinya membuat siapapun terkaget-kaget.

Tapi, irama dari kebijakan politik Israel soal pengumuman pengesahan status ketiga wilayah tadi, tampaknya sudah diatur sedemikian rupa sehingga diatur sangat berdekatan jaraknya dengan Hari Kemerdekaan Israel ke 64 pada pekan ini.

Dengan kata lain, hari ini dikutuk ramai-ramai oleh komunitas internasional, tapi besoknya sudah mendapat ucapan selamat yang tidak kalah meriahnya dari komunitas internasional atas Hari Kemerdekaan Israel yang ke 64.

Itulah pintarnya Israel yang ibaratnya memang sering bertindak ibarat anak nakal yang sangat nakal senakal-nakalnya.

Sulit mengetahui grafik dan perubahan emosi mereka secara fisik sebab dunia hanya bisa melihat, mendengar serta mereka-reka hanya dari serangkaian kebijakan-kebijakan atau tindakan-tindakan mereka saja.

 

PEACE

 

Jadi, kesimpulannya, apapun misi dan tujuan yang hendak dicapai dari kelanjutan perundingan damai antara Israel dan Palestina, hendaklah masing-masing pihak bertindak dan berperilaku sebagai seorang kesatria.

Jangan cuma ingin dihargai saja, tetapi tak bisa atau hanya setengah hati menghargai orang lain.

Kalau memang sudah sepakat dan janji untuk bertemu di tingkat tertinggi antar pimpinan negara, bukankah sebaiknya harus ditepati ?

Mau sampai kapan, Israel dan Palestina terus menerus seperti ini ?

Tarik ulur perundingan damai dengan begitu banyak dalih dan alasan-alasan yang hanya berputar-putar disitu-situ saja.

Tak ada perubahan.

Tak ada perkembangan.

Israel juga harus mengingat satu yang sangat sederhana.

Ya betul, di Hari Kemerdekaan mereka yang 64 tahun ini, Israel sangat pantas diberi ucapan SELAMAT yang sangat meriah dan gegap  gempita dari kalangan sahabat dan negara-negara lain didunia.

Tapi disaat mereka begitu riang gembira merayakan kemerdekaannya, ada satu pihak yang sungguh rindu ingin mencapai dan bisa meraih KEMERDEKAAN yang sama yaitu negara tetangga mereka sendiri : PALESTINA.

Kerinduan untuk merdeka dari blokade militer Israel terhadap Jalur Gaza.

Kerinduan untuk merdeka dari keterbatasan bahan bakar minyak dan obat-obatan untuk stok di Rumah Sakit akibat ketatnya pembatasan oleh otoritas Israel terhadap lalulintas BBM dan pasokan obat ke Palestina.

Kerinduan untuk merdeka dari  peraturan yang teramat “tegas” terhadap para tahanan Palestina (terutama tahanan-tahanan perempuan) di penjara-penjara Israel sehingga menjamurlah saat ini tahanan-tahanan Palestina yang mogok makan beramai-ramai.

Kerinduan untuk bisa mendapatkan air bersih secara wajar dan normal (tanpa dibatasi oleh Israel).

Dan kerinduan untuk bisa duduk sebagai salah satu anggota di Perserikatan Bangsa Bangsa tentunya.

Israel dan Palestina adalah dua negara yang sama-sama punya hak untuk MERDEKA.

Bukankah sebaiknya memang demikian, Bibi Netanyahu ?

Happy 64th Independence Day, Israel !

 

 

(MS)

About these ads

Comments are closed.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 11,935 other followers