Koalisi Politik Dua Mantan Pasukan Komando Israel Sayeret Matkal

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, kiri, dan pimpinan partai Kadima, Shaul Mofaz

 

Jakarta, 12 Mei 2012 (KATAKAMI.COM)  — Persatuan nasional yang menyepakati koalisi dari partai politik terbesar di Israel yaitu Likud pimpinan Benjamin Netanyahu dan Kadima pimpinan Shaul Mofaz benar-benar sangat mengejutkan.

Kedua partai politik terbesar dan terkuat di Israel setuju untuk melakukan “akad nikah” membentuk koalisi pemerintahan yang dicapai tanggal 7 Mei 2012.

Keputusan ini tentu sangat mengejutkan karena sebelumnya Netanyahu yang meminta dilakukan percepatan pemilihan umum parlemen di Israel agar dilaksanakan tanggal 4 September 2012.

Namun, ternyata ia mengubah keputusannya dengan cara menarik partai Kadima untuk masuk menjadi salah satu partai koalisi yang mendukung Likud dalam mempertahankan kekuasaan politik mereka.

Seperti yang diberitakan oleh BBC (9/5/2012), selama tiga tahun pertama masa jabatan keduanya sebagai Perdana Menteri (2009 sampai saat ini), kabinet Netanyahu memimpin koalisi yang didominasi oleh partai-partai sayap kanan dan religius.

Dalam keterangan pers yang disampaikannya bersama Shaul Mofaz, Netanyahu mengatakan :

“Saya yakin, kami bisa mengembalikan stabilitas tanpa perlu melakukan (percepatan) pemilihan umum. Jadi saya memutuskan untuk membuat sebuah pemerintah persatuan nasional yang luas,” kata Netanyahu dalam konferensi pers (7/5/2012).

“Pemerintahan koalisi ini akan memberikan jaminan keamanan, baik termasuk perekonomian yang lebih baik untuk seluruh rakyat Israel,” lanjut Netanyahu dalam konferensi tersebut.

Berdasarkan kesepakatan koalisi, Netanyahu menunjuk pemimpin Kadima, Shaul Mofaz untuk menjadi Wakil Perdana Menteri.

Netanyahu juga berjanji untuk memulai kembali pembicaraan damai Timur Tengah dengan sungguh-sungguh, dan setuju untuk mendukung perubahan undang-undang yang memungkinkan ultra-Ortodoks siswa seminari Yahudi untuk menunda wajib militer.

Mengutip pemberitaan dari Jerusalem Post (11/5/2012), dengan adanya kesepakatan koalisi ini maka pada hari Kamis depan (17 Mei 2012), selama dua hari penuh Mofaz akan menjabat sebagai pejabat pengganti Perdana Menteri Israel sebab PM Netanyahu dijadwalkan berkunjung ke Praha (Prague).

Maka sesuai peraturan, atas dasar kedudukannya sebagai Wakil Perdana Menteri maka Mofaz berkewajiban menggantikan posisi Benjamin Netanyahu sebagai Perdana Menteri jika berhalangan, demikian yang dikutip dari Jerusalem Post.

 


Pemimpin spiritual tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, berbincang dengan Perdana Menteri Hamas yang menguasai Jalur Gaza, Ismail Haniyeh di Teheran, 12 Februari 2012

 

Namun akibat tercapainya kesepakatan koalisi ini, muncul spekulasi bahwa koalisi ini hanya merupakan jembatan yang akan mempercepat Israel untuk melakukan serangan kepada Iran untuk membabat habis fasilitas-fasilitas nuklir di Teheran.

Bibi, panggilan Benjamin Netanyahu, sudah barang tentu akan sangat nyaman berkoalisi dengan Mofaz.

Bibi dan Mofaz tak cuma sekedar sahabat lama.

Merujuk pada sejarah hidup kedua pimpinan ini, Bibi dan Mofaz memang punya ikatan bathin yang kuat di masa lalu.

Keduanya sama-sama pernah menjadi anggota pasukan khusus komando Israel, Sayeret Matkal.

Sesuai data yang tertera dalam WIKIPEDIA, ketika Bibi menjadi Perdana Menteri periode pertama untuk periode 18 Juni 1996 – 6 Juli 1999, pada tahun 1998 Mofaz tercatat sebagai Kepala Staf Gabungan untuk milter Israel atau  Chief of the General Staff IDF (Israel Defense Forces) di era pemerintahan Netanyahu.

Tak cuma itu, Mofaz yang berpangkat terakhir sebagai Letnan Jenderal, adalah rekan satu tim dari Almarhum Letnan Kolonel Yoni Netanyahu (saudara tertua dari Perdana Menteri Netanyahu) yang gugur dalam operasi Entebbe.

Yoni ditetapkan sebagai PAHLAWAN ANUMERTA oleh Pemerintah Israel.

Operasi Entebbe adalah operasi yang sangat legendaris dari militer Israel dimana mereka berhasil melakukan penyelamatan sandera saat pesawat Air France dibajak tahun 1976.

Bandara Entebbe di Uganda merupakan tempat operasi penyelamatan sandera oleh Pasukan Khusus Israel Sayeret Matkal saat pesawat Air France flight139 dengan rute Perancis ke Tel Aviv dibajak oleh teroris Palestina.

 

Inilah foto yang sangat penting saat mengabadikan para sandera Pesawat Air France yang disandera teroris Palestina berhasil diselamatkan dan turun dari pesawat Hercules pada tanggal 4 Juli 1976. Operasi penyelamatan sandera yang dilakukan Pasukan Komando SAYERET MATKAL ini dikenal dengan nama Operasi Entebbe dan menewaskan satu orang perwira terbaik IDF bernama Letnan Kolonel Yoni Netanyahu, yang merupakan saudara tertua dari Perdana Menteri Israel saat ini, Benjamin Netanyahu

 

Misi penyelamatan yang dilakukan oleh Pasukan Khusus Sayeret Matkal ( salah satu unit terbaik yang dimiliki oleh Israel Defense Forces atau IDF ) difokuskan untuk membebaskan para sandera.

Peristiwa ini berlangsung pada malam 3 Juli dan awal pagi 4 Juli 1976. Operasi telah dirancang secara rahasia dan dilakukan menentang negara Uganda, dimana pemimpinnya, Idi Amin mendukung pembajakan tersebut.

Operasi Entebbe berhasil membebaskan 100 orang tawanan yang ada didalam pesawat Air France.

Operasi Entebbe ini juga menewaskan ke-enam orang pembajak, tiga sandera dan 45 orang tentara Uganda.

Dan satu-satunya tentara Israel yang tewas alam operasi itu adalah Letnan Kolonel Yoni Netanyahu, yang saat itu justru menjadi Komandan Penyelamatan dalam misi yang sepenting itu.

Selain nama Yoni Netanyahu, sejumlah nama ikut berperan dalam keberhasilan operasi Entebbe yaitu Shaul Mofaz, Tamir Pardo (kini menduduki jabatan pimpinan Dinas Rahasia Israel, Mossad), lalu Ehud Barak yang kini menduduki jabatan Menteri Pertahanan.

Ehud Barak yang kebetulan adalah mantan komandan Netanyahu semasa aktif di militer bergabung dengan IDF tahun 1959, termasuk salah seorang yang menjadi kunci utama dari keberhasilan unit pasukan khusus Sayeret Matkal dalam operasi Entebbe.

Pangkat terakhir Ehud Barak di militer adalah Letnan Jenderal, sama seperti Shaul Mofaz.

Dan ketika Operasi Entebbe dilakukan, Shimon Peres yang kini menjabat sebagai Presiden Israel, dulu menduduki jabatan Menteri Pertahanan.

Jadi, hampir semua pimpinan Israel (terutama yang ada dalam kabinet pemerintahan Netanyahu) adalah mantan-mantan anggota pasukan khusus Sayeret Matkal.

Lalu beberapa diantaranya adalah rekan sealmamater almarhum Yoni Netanyahu dalam operasi Entebbe tahun 1976 yaitu Ehud Barak, Shaul Mofaz dan Tamir Pardo.

 

Shaul Mofaz saat ditunjuk sebagai Kepala Staf Gabungan IDF (Israel Defese Forces) tahun 1998.

 

Yang bisa dikritik dari wajah pemerintahan Netanyahu adalah kabinet yang militeristik.

Posisi kunci dari pemerintahan Israel saat ini, semua dipegang oleh mantan-mantan pasukan khusus SAYERET MATKAL, atau setidaknya pernah mengabdi di IDF atau Departemen Pertahanan Israel.

Barangkali inilah sebabnya Israel sering dikritik selalu menggunakan kekuatan militer secara berlebihan dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang menyangkut perseteruan mereka dengan kelompok militan Hamas di Jalur Gaza.

Atau saat militer Israel menghalau dan memblokade rombongan kapal MAVI MARMARA yang membawa lebih dari 600 orang aktivis kemanusiaan dari berbagai komunitas internasional yang pada  tahun 2010 mengadakan misi bantuan ke Jalur Gaza.

Secara keseluruhan, bisa dispekulasikan bahwa tak akan ada hambatan yang cukup berarti antara Bibi Netanyahu dan Shaul Mofaz dalam merumuskan kebijakan apapun dalam lembaran baru “perkawinan politik” mereka.

Ikatan bathin yang kuat antara alumni Pasukan Khusus Sayeret Matkal ini bisa menjadi perekat yang kuat dalam berkoalisi.

Memori yang tertanam sangat dalam di hati mereka masing-masing terkait Operasi Entebbe, juga menjadi salah satu kunci yang membuat mereka merasa seperti “satu keluarga besar”.

Keluarga besar operasi Entebbe.

Lalu bagaimana dengan kesepakatan Likud dan Kadima berkoalisi dalam membentuk pemerintahan baru di Israel ?

Benarkah pemerintahan persatuan nasional (National Unity Government) ini adalah sesuatu yang sangat layak untuk dikuatirkan untuk semakin membuka celah dan pintu bagi Israel dalam melakukan serangan militer ke Iran ?

Seberapa besarkah pengaruh koalisi ini untuk membuat pemerintahan Netanyahu menjadi kekuatan yang sangat sulit diutak-atik dan ditumbangkan oleh pihak manapun ?

 

Benjamin Netanyahu di masa muda saat menjadi komandan dari pasukan khusus (unit komando) Sayeret Matkal di Israel

 

Sesungguhnya, tak baik juga jika belum apa-apa, perkawinan politik Likud dan Kadima dicurigai sebagai sebuah ancaman bagi perdamaian dan keamanan dunia.

Bagi politisi-politisi yang sudah sangat berpengalaman seperti Netanyahu dan Mofaz, sekecil atau sebesar apapun keputusan pastilah akan mereka pikirkan baik buruknya bagi kepentingan partai dan negara.

Tugas pertama dari National Unity Government versi Netanyahu dan Mofaz ini adalah menuntaskan masalah menjamurnya tahanan-tahanan Palestina melakukan aksi mogok makan secara berkepanjangan dan sangat ekstrim di penjara-penjara Israel.

Memang, mogok makannya para tahanan itu, bukan merupakan tanggung-jawab dan tidak punya konsekuensi hukum kepada pemerintahan Netanyahu.

Shimon Peres dan Benjamin Netanyahu tak bisa serta merta dituding bersalah dalam urusan mogok makan tersebut.

Sebab, tak ada yang menyuruh para tahanan itu untuk melakukan mogok makan (apalagi sampai ekstrim sekali yaitu mogok makan sampai berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan ada yang sampai berbulan-bulan).

Tindakan mogok makan itu adalah kenekatan yang menyakiti diri sendiri dengan cara yang ekstrim.

Tetapi karena mogok makan tersebut seakan sudah menjadi tren di kalangan para tahanan Palestina yang ada di penjara-penjara Israel, maka pemerintah Israel perlu diingatkan bahwa para tahanan itu melakukan mogok makan adalah sebagai aksi protes atas perlakukan-perlakuan yang disebut-sebut sangat keras dan berlebihan dari para petugas di penjara-penjara Israel.

Jadi, yang menjad tugas dan tanggung-jawab bagi Shimon Peres dan Netanyahu, adalah memastikan bahwa petugas-petugas mereka di seluruh penjara Israel harus menghormati hak hak sipil dan meniadakan semua tindak kekerasan.

Terutama jika memang benar adanya penerapan peraturan yang sangat tidak manusiawi semacam pembatasan jam kunjungan keluarga, pembatasan atau bahkan larangan bagi para tahanan untuk melakukan ibadah mereka didalam tahanan (semisal sembahyang atau berpuasa) sampai kepada keleluasan untuk mendapatkan perawatan kesehatan jika ada yang menderita sakit.

 

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, paling kanan, bersama Menteri Pertahanan Ehud Barak, dan kepala Staf Gabungan IDF Letnan Jenderal Benny Gantz (bertopi merah).

 

Sehingga, baik Netanyahu ataupun Mofaz, keduanya tak boleh membiarkan masalah ini berlarut-larut dan menjadi alasan kuat bagi komunitas internasional untuk mengutuk Israel secara terus menerus.

Kemudian untuk pihak Palestina (baik yang ada dibawah kendali pimpinan Mahmoud Abbas di Tepi Barat dan Ismail Haniyeh di Jalur Gaza), para pimpinan ini juga perlu mengingatkan warga negaranya untuk tidak mencari-cari masalah dengan Israel.

Kalau sudah tahu bahwa kelakuan Israel (khusus kalangan militer mereka) dikenal memang cenderung sangat “buas” jika sudah berhadapan dengan kalangan ekstrimis Islam Hamas, maka jangan melemparkan umpan ke arah Israel agar mereka bertindak secara represif dan berlebihan.

Perdana Menteri Netanyahu pun perlu dinasehati tentang perlunya ia menepati janji atau kesepakatan, terkait pertukaran tahanan antara prajurit Israel Gilad Shalit dengan 1047 orang tahanan Palestina (yang dilakukan Israel dan Hamas pada bulan Oktober 2011 lalu).

Jika memang sudah kesepakatan resmi tentang pertukaran tahanan itu, maka Israel tidak boleh menangkapi kembali siapapun yang memang sudah dibebaskan terkait pertukaran tahanan tersebut.

Apakah Israel mau, jika Gilad Shalit ditangkap dan ditawan kembali oleh Hamas ?

Tentu Israel tidak akan mau dan pasti tidak akan mengizinkan prajuritnya ditangkap atau ditawan oleh kelompok militan Hamas.

Namun kesepakatan tentang pertukaran tahanan itu, tak boleh dicederai dan diingkari.

Netanyahu tidak boleh melakukan pengingkaran janji terkait kesepakatan pertukaran tahanan itu.

 

Pemimpin HAMAS Khaled Meshaal bersama Presiden Palestina Mahmud Abbas. Kedua partai politik di Palestina sejak tahun 2011 juga berulang kali mengumumkan kesepakatan mereka untuk melakukan koalisi pemerintahan untuk membentuk NATIONAL UNITY GOVERNMENT. Tetapi dalam perjalanan waktu, koalisi ini berubah-ubah formatnya. Kadang diumumkan bahwa koalisi ditunda, tetapi kadang diumumkan bahwa koalisi akan tetap dilaksanakan.

 

Khamenei Tuding Mossad Dibalik Pembunuhan Ilmuwan Nuklir Iran

Tudingan Iran Jangan Beranak Cucu Terkait Pembunuhan Ilmuwan Nuklir 

 

Kemudian mengenai rencana Israel melakukan serangan militer ke IRAN.

Sejak awal, Bibi Netanyahu memang telah mengambil kebijakan garis keras terhadap Iran.  Berulang kali ia memperingatkan kepada masyarakat internasional tentang bahaya yang mengancam dunia jika Teheran dibiarkan mengembangkan senjata nuklir.

Netanyahu tak henti menyerukan agar dijatuhkan sanksi lebih keras terhadap Iran.

Netanyahu juga terang-terangan menunjukkan kesediaan Israel untuk menggunakan kekuatan militer untuk menghentikan program nuklir Iran jika semuanya opsi gagal.

Sulit menduga-duga, apakah memang benar Israel akan benar-benar melakukan serangan militer tersebut ke Iran.

Yang pasti, baik Netanyahu maupun Mofaz harus tetap diingatkan bahwa penyelesaian masalah nuklir Iran, harus senantiasa mengedepankan jalur diplomatik dan politik.

Akan sangat besar dampaknya jika peperangan dimulai dari Israel ke arah Iran.

Hendaklah kiranya koalisi yang sangat mengejutkan ini memberikan dampak yang terbaik untuk masing-masing partai, serta dapat berkontribusi dalam mewujudkan peta jalan menuju perdamaian antara Israel dan Palestina.

Jangan sampai koalisi, hanya justru menjadi alat pembenaran bagi militer Israel untuk semakin melakukan kekerasan dan serangan apa saja ke arah lawan.

Semua harus terukur dan terkendali.

Koalisi ini juga harus memanfaatkan kebersatuan mereka untuk merumuskan kembali apa yang bisa ditawarkan Israel kepada Palestina agar proses perundingan damai dapat dihidupkan dan dilanjutkan kembali dalam waktu yang secepat-cepatnya.

Jadi, kalau bicara tentang koalisi terbaru Likud dan Kadima, biarlah koalisi ini mengalir seperti air dan berhembus laksana angin sepoi-sepoi.

 

Bendera Palestina

 

Walau Netanyahu dan Mofaz adalah sahabat lama yang punya ikatan bathin yang sangat kuat tetapi antar kedua partai pasti membutuhkan waktu berproses dalam menyamakan dan menyatukan langkah-langkah mereka ke depan.

Koalisi ini layak disambut baik dan dipuji sebagai keberanian dan keputusan terbesar Netanyahu dalam kariernya di dunia politik.

Tentu fondasi dan kekuatan Netanyahu akan semakin menguat dan sulit untuk diganggu gugat.

NETANYAHU POWER !

Tetapi, walau demikian, Netanyahu tetap harus membuka diri terhadap nasehat dan kritikan yang positif dari semua pihak.

Bibi harus mau mendengar semua bentuk kritikan dan nasehat yang muaranya adalah mengoreksi berbagai kebijakan serta perfoma dari pemerintahan Netanyahu.

Jadi, baik Netanyahu ataupun Mofaz yang kini menjadi Wakil Perdana Menteri, hendaknya jangan pura-pura tuli atau tidak perduli terhadap semua kritikan dan harapan, baik dari internal Israel, ataupun dari komunitas internasional.

“Hendaklah setiap orang yang bertelinga, mau mendengar, kutipan dari injil Matius 13 : 9

 He who has ears, let him hear.

 

 

(MS)

About these ads

Comments are closed.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 20,032 other followers