
Kepala Staf Angkatan Udara (Israeli Air Force Commander) Mayor Jenderal Amir Eshel, kiri, dan Kepala Staf Gabungan Angkatan Pertahanan Israel (Chief of General Staf of Israeli Defense Forces) Letnan Jenderal Benny Gantz
Khamenei Tuding Mossad Dibalik Pembunuhan Ilmuwan Nuklir Iran
Tudingan Iran Jangan Beranak Cucu Terkait Pembunuhan Ilmuwan Nuklir
Berharap Iran Berunding Saat Uni Eropa Jatuhkan Sanksi Mengerikan
Jakarta, 15 Mei 2012 (KATAKAMI.COM) — Hari Selasa (15/5/2012) ini adalah hari kedua Mayor Jenderal Amir Eshel menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Udara Israel.
Eshel dilantik secara resmi sebagai komandan IAF (Israeli Air Force) oleh Kepala Staf Gabungan IDF (Israel Defense Forces) Letnan Jenderal Benny Gantz hari Senin (14/5/2012) kemarin.
Baik Gantz, ataupun Eshel, keduanya adalah top jenderal dari Angkatan Udara Israel.
Yang menarik dari kedua top jenderal Israel ini adalah di tangan mereka akan sangat menentukan keputusan direspon atau tidaknya umpan-umpan provokasi dari Iran dan Kelompok Militan Hezbollah (Lebanon) yang dalam beberapa hari terakhir ini agak memanas di berbagai media internasional.
Jika Presiden Shimon Peres, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, dan Menteri Pertahanan Ehud Barak memberikan perintah penyerangan terhadap Iran atau Hezbollah, maka Gantz dan Eshel adalah komandan-komandan penyerangan yang perintahnya akan membuat Teheran ( dan markas Hezbollah di Lebanon) langsung terguncang-guncang jika misalnya pesawat-pesawat tempur F15 milik Israel berseliweran menghantam mereka.
Gantz dan Eshel akan memegang kendali penuh terhadap semua bentuk serangan udara Israel.
Seperti yang diberitakan REUTERS akhir pekan lalu, pimpinan Hezbollah Sayyed Hassan Nasrallah mengatakan bahwa Hezbollah mampu melakukan serangan ke wilayah manapun di Israel !
Tak ada respon resmi dari Presiden Israel Shimon Peres ataupun Perdana Menteri Benjamin Netanyahu terhadap pernyataan bombastis dari Nasrallah.
Tetapi kepada Kantor Berita AFP, seorang pejabat militer IDF mengatakan bahwa bisa jadi Hezbollah sesungguhnya tak ingin ada peperangan baru dengan Israel namun karena ada pesanan dari Iran maka serangan itu mungkin saja dilakukan Hezbollah.
Lain Nasrallah, lain pula dengan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad.
Seperti yang diberitakan oleh CNN, Ahmadinejad menegaskan bahwa sesungguhnya Israel bukan apa-apa yang tidak lebih istimewa dari seekor NYAMUK ( Iranian president: Israel ‘nothing more than a mosquito’ to Iran).
Sayang Ahmadinejad tidak mendefinisikan, masuk dalam kategori NYAMUK apakah Israel ?
Nyamuk yang cuma menimbulkan bentol-bentol merah di kulit penuh rasa gatal, atau nyamuk yang bisa menyebabkan penyakit malaria, atau bahkan demam berdarah ?
Barangkali karena merasa perlu untuk “mengecilkan dan merendahkan” kemampuan Israel maka perumpamaan yang diambil oleh Ahmadinejad adalah NYAMUK.
Bukan King Kong alias Gorilla, atau Ular Piton.
Belum kelar ocehan soal NYAMUK, Iran sudah “menggebuk” Israel lagi pada hari Selasa (15/5/2012) ini.
Seperti yang diberitakan oleh REPUBLIKA ONLINE, Iran telah mengeksekusi mati seorang pria yang disebut-sebut sebagai mata-mata agen intelijen Israel, Mossad, Selasa (15/5/2012).
Majid Jamali Fashi (24 tahun) dihukum gantung karena didakwa bersalah melakukan pembunuhan terhadap salah seorang ilmuwan nuklir Iran, Massoud Ali-Mohammadi pada tahun 2010, demikian media pemerintah Iran melaporkan.
Ia digantung di Penjara Evin Teheran setelah menerima vonis mati pada Agustus tahun lalu.
Kantor berita Iran, IRNA, melaporkan Fashi mengakui kejahatannya. Ia juga dituduh menerima 120 ribu dolar AS sebagai imbalan atas pembunuhan tersebut.
Ali-Mohammadi tewas pada Januari 2010 akibat bom jarak jauh yang diletakkan di sebuah sepeda motor di luar rumahnya di Teheran. Ia adalah seorang profesor fisika partikel di Universitas Teheran.
Mengenai eksekusi mati terhadap Majid Jamali Fashi yang dituding merupakan agen mata-mata Mossad.
Mengingat begitu “tertutupnya” sistem peradilan di Iran, tak ada yang bisa memastikan seberapa adil proses penegakan hukum di Iran dalam menangani pelanggaran-pelanggaran hukum di negara tersebut.
Tak ada juga yang bisa memastikan, seberapa jujur semua pengakuan dari para tersangka atau terdakwa bila mereka menjalani proses interogasi oleh aparat-aparat terkait di Iran.
Apakah dalam proses interogasi itu patut dapat diduga terdapat tekanan dan kekerasan ?
Apakah dalam interogasi itu terhadap bagian-bagian lain dari pengakuan tersangka atau terdakwa yang tak dipublikasi kepada komunitas internasional sehingga tak ada yang bisa mengetahui apakah sistem peradilan di Iran sungguh dapat memenuhi rasa keadilan dan benar-benar menjamin ditegakkannya hukum serta keadilan yang seadil-adilnya.
Walau yang ditegakkan adalah Hukum Islam, tetap saja azas keadilan harus dikedepankan.
Iran cenderung sangat sensasional kalau sudah mengumumkan tindakan-tindakan mereka yang mengeksekusi mati warga negaranya sendiri.
Dan ini sangat disayangkan !
Kematian Majid Jamali Fashi misalnya, belum tentu ia adalah agen rahasia Mossad.
Sebab seluruh rangkaian peradilannya hanya dikuasai dan bisa diakses oleh otoritas Iran sendiri.
Dan jika ada warga negaranya yang ternyata patut dapat diduga memutuskan untuk menjadi agen rahasia asing (terutama memihak dan menerima imbalan sangat menggiurkan dari zionis), alangkah menyedihkan rasa nasonalisme di kalangan rakyat Iran sendiri.
Dipublikasikannya eksekusi mati ini besar kemungkinan hanya merupakan taktik Iran untuk terus melancarkan serangan dan semakin memperkuat dibunyikannya genderang perang Iran terhadap Israel.
Padahal, memburuknya saat ini situasi perekonomian di Iran adalah akibat dijatuhkannya berbagai sanksi dan embargo dari Amerika Serikat dan UNI EROPA.
Tak ada sanksi atau embargo ekonomi dari Israel !

Herannya, tak ada satupun kepala negara atau kepala pemerintahan dari seluruh negara-negara (terutama dari kalangan UNI EROPA yang menjatuhkan sanksi dan embargo ekonomi pada IRAN) , yang disebut dan diejek bagaikan “NYAMUK” oleh Presiden Ahmadinejad.
Sejak akhir Januari lalu, Uni Eropa (EU) akhirnya sepakat untuk melakukan embargo atas ekspor minyak Iran, selain sanksi finansial dan perdagangan.
Sanksi-sanksi tersebut diberikan sebagai “hukuman” negara-negara Barat atas pengembangan nuklir Iran.
“Ini adalah sebuah keputusan penting. Ini akan menjadi sebuah sanksi yang memperkuat kepada Iran,” ujar Menteri Luar Negeri Inggris, William Hague seperti dikutip dari AFP, Senin (23/1/2012).
“Ini jelas merupakan hal yang benar dilakukan karena Iran terus melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB dan menolak hadir dalam negosiasi penuh arti untuk program nuklir,” tambah Hague.
Sanksi dan embargo tersebut disepakati setelah negara-negara Uni Eropa melakukan pembicaraan alot di Brussel (23/1/2012) terkait waktu dan juga hal-hal terkait pelarangan minyak Iran tersebut.

Menteri Pertahanan Israel Ehud Barak, kiri, Presiden Shimon Peres dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu saat menghadiri upacara perpisahan pimpinan IDF
Kini, kita semua hanya bisa “duduk manis” sembari harap-harap cemas menantikan apa reaksi dari Presiden Shimon Peres dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu terhadap ejekan, provokasi dan sinyal “genderang perang” dari Iran dan Hezbollah.
Apakah Bibi, panggilan Benjamin Netanyahu, hanya memilih untuk mengungkapkan kemarahannya secara sekilas tapi tegas kepada pimpinan Hezbollah ?
Ini pernah dilakukan Bibi saat ia tampil sebagai pembicara dalam sebuah konferensi di Yerusalem (16/2/2011), Perdana Menteri Israel ini menyelipkan pesan khusus kepada pemimpin Hezbollah, Nasrallah.
“Stay in your bunker !” kata Netanyahu saat itu.
Tak ada yang bisa menduga, keputusan apa yang akan diambil oleh kedua “NYAMUK” eh pemimpin-pemimpin Israel ini !
Shimon Peres yang baru saja keluar dari rumah sakit hari Minggu (13/5/2012) lalu pasca menjalani operasi Hernia dan Benjamin Netanyahu, adalah dua nama yang sangat menentukan kebijakan-kebijakan Israel di bidang politik dan keamanan.
Semoga saja, Shimon Peres dan Benjamin Netanyahu masih bisa berpikir secara tenang dengan hati yang jernih.
Sehingga, keduanya tidak terpancing oleh provokasi Iran ataupun Hezbollah agar bagaimana caranya Israel emosional mendengar berbagai ejekan dan provokasi luar biasa Iran di media massa.
Walau tampaknya genderang perang sedang terus dibunyikan oleh Iran dan Hezbollah untuk menantang Israel, Shimon Peres dan Benjamin Netanyahu harus tetap cool.
Semoga Israel tidak terpancing dan terbawa dalam irama genderang perang Iran dan Hezbollah.
Sebab, apa kata dunia nantinya, kalau disana-sini kembali harus hancur berantakan dan luluh lantak akibat peperangan tersebut ?
Seluruh dunia akan merasakan dampak negatif jika akhir pecah perang antara Iran – Hezbollah dengan Israel.
Cool Shimon, cool Bibi, cool … !
(MS)

May 15, 2012 


Comments are closed.