Mantan KSAD Subagyo HS : Kalau Ada Bujuk Rayu Politik Kepada KSAD, Abaikan Saja !

Mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal TNI Purn. Subagyo HS

 

Jakarta, 13 Juni 2012 (KATAKAMI.COM)  — Wacana politik yang “membidik” KSAD Jenderal Pramono Edhie Wibowo sebagai calon wakil presiden menjadi salah satu topik yang cukup menarik untuk dibahas. Salah seorang sesepuh TNI Angkatan Darat, yaitu Mantan KSAD Jenderal TNI Purn. Subagyo HS sangat menyayangkan kecenderungan tarik menarik kepentingan politik yang ingin agar pimpinan TNI Angkatan Darat berpolitik.

Disela-sela acara syukuran ulangtahunnya yang ke 66, Selasa (12/6/2012) di kawasan Cibubur, mantan Danjen Kopassus ini memberikan WAWANCARA EKSKLUSIF kepada KATAKAMI.COM.

Menurut Subagyo, TNI Angkatan Darat tidak boleh berpolitik dan harus menjaga netralitasnya.

Inilah hasil wawancara eksklusif kami dengan Jenderal TNI Purn. Subagyo HS :

 

Jenderal TNI Purn. Subagyo HS saat masih menjabat sebagai Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus

 

KATAKAMI (K)  :  Apa tanggapan dari Pak Bagyo tentang wacana menjadikan KSAD Jenderal Pramono Edhie Wibowo sebagai calon wakil presiden dari partai politik tertentu ?

Subagyo HS  (SHS)  : Politiknya TNI ya politik negara. Loyalitasnya juga loyalitas ke atas. Apapun perintah dari atasan maka itu harus dilaksanakan. Lalu kalau ada pengaruh-pengaruh dari luar, misalnya ajakan dan bujukan urusan politik, ya tidak usah dihiraukan. Abaikan saja.

(K) :  Jadi maksudnya, KSAD Pramono Edhie Wibowo harus mewaspadai segala sesuatu yang berbau politik ya ?

(SHS)  : Iya betul. Jadi, maksud saya, laksanakan saja apa yang menjadi tugas pokok TNI AD. Tugas pokoknya menjaga 4 pilar negara yaitu Pancasila, UUD 45, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI.

(K)  :  Artinya, tidak boleh ada satupun dari partai politik di Indonesia ini yang sengaja menarik atau mengajak agar TNI Angkatan Darat terjerumus ke dalam politik praktis.

(SHS)  : TNI Angkatan Darat tidak boleh berpolitik. Tidak boleh samasekali. Yang terpenting adalah KSAD tidak boleh terpengaruh atas bujuk rayu politik dari pihak manapun. Prinsipnya begitu. Pokoknya jangan mau tergoda iming-iming yang bisa membuat TNI Angkatan Darat menjadi lengah. Karena apa ? Karena TNI Angkatan Darat harus menjaga profesionalisme.

(K)  :  Di masa lalu, ada mantan KSAD yang mengatakan pada era kepemimpinannya bahwa TNI Angkatan Darat adalah kader Partai Golkar. Bukankah sebenarnya TNI Angkatan Darat tidak boleh mengulangi kesalahan di masalalu ?

(SHS)  :  Tidak boleh ! Jangan sampai hak itu diulangi lagi.  Kecuali kalau sudah jadi purnawirawan, ada yang mau berpolitik, ya silahkan. Makanya waktu saya menjadi Pangdam Diponegoro, saya tidak mau tidak mau berjaket kuning dalam kapasitas saya sebagai tentara.

(K)  :  Walaupun pada kenyataannya, Pak Bagy0 adalah mantan pengawal Pak Harto (Mantan Presiden Soehart0) ya ?

(SHS)  : Ya, resiko, resiko. Itu sebabnya, dulu saya sampai harus melakukan klarifikasi kepada Presiden waktu itu yaitu Pak Harto, mengapa saya tidak mau berjaket kuning dalam kapasitas saya sebagai tentara. Dan beliau memahami. Dulu saya ingin memberikan contoh saja kepada bawahan-bawahan saya. Sebagai pimpinan, saya harus memberikan contoh kepada bawahan saya toh.

(K)  : Apa harapan Pak Bagyo terhadap TNI Angkatan Darat ?

(SHS)  : Harapan saya TNI Angkatan Darat harus proporsional dan profesional. Sadari tugas pokok TNI Angkatan Darat. Dan jangan mau tergiur pada iming-iming politik. Kemudian, jangan lalai terhadap tugas yang harus dijalankan. Lakukan terus pembinaan ke dalam. Dan yang terpenting, perhatikan kesejahteraan prajurit.

(K) : Ada kesan dan pesan khusus misalnya kepada TNI ?

(SHS)  : Begini, TNI yang dulu dikenal dengan nama ABRI, kini juga sudah semakin menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Satu hal yang tidak berubah adalah JATI DIRI TNI, sebagai tentara rakyat, tentara pejuang dan tentara nasional, yang tetap setia menjaga keutuhan NKRI, Pancasila, UUD 45 dan Bhineka Tunggal Ika. Tuntutan terhadap TNI secara keseluruhan, tentu tidak lepas dari kehidupan para prajuritnya toh ? Nah, untuk membentuk prajurit TNI yang profesional, menurut saya perlu dilengkapi juga dengan penugasan operasi. Karena hal itu akan menambah pengalaman, wawasan, kemampuan dan ketrampilan seorang prajurit. Di masa kini, hal itu bisa  dilakukan dengan latihan-latihan dan simulasi pertempuran sehingga dapat membentuk prajurit TNI yang tanggap, tanggon dan trengginas. Dan ada yang lebih penting yaitu alat utama sistem persenjataan (alutsista) adalah sesuatu yang menunjang profesionalisme TNI. Untuk itulah, dibutuhkan kemampuan dalam penguasaan teknologi dari para prajuri-prajurit TNI, khususnya dalam hal persenjataan. Prajurit TNI harus tetap menjadi “The Man Behind The Gun”.

(K) : Baik, terimakasih untuk wawancaranya Pak Bagyo. Selamat ulangtahun. Dan selamat untuk peluncuran bukunya (Menyabung Nyawa Demi Bangsa Dan Negara).

(SHS) : Terimakasih sama-sama, Mega.

 

 

MS

About these ads

Comments are closed.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 9,035 other followers