Kritikan Jimmy Carter Soal Drones Bukan Untuk Obama Tapi Pentagon Dan CIA

Mantan Presiden Amerika Serikat, Jimmy Carter

 

The New York Tims : A Cruel and Unusual Record by Jimmy Carter

 

Jakarta, 28 Juni 2012 (KATAKAMI.COM)  —  Hanya sepuluh hari menjelang perayaan Hari Kemerdekaan Amerika Serikat tanggal 4 Juli mendatang, sebuah kritikan datang dari seorang Mantan Presiden Amerika Serikat kepada Pemerintah Amerika Serikat yang kini dipimpin oleh Barack Obama.

Lewat artikel yang ditulisnya sendiri pada The New York Times edisi 24 Juni 2012, Mantan Presiden James Earl Carter, atau yang lebih dikenal dengan nama Jimmy Carter mengkritik pemerintahan Obama melanggar hak asasi manusia dan meninggalkan jatidiri Amerika Serikat sebagai sebuah bangsa yang senantiasa mempelopori penghormatan terhadap hak asasi manusia.

Amerika telah meninggalkan perannya sebagai pelopor hak asasi manusia. Oleh karenanya Amerika harus berbalik arah dan kembali memimpin dengan moral”, demikian ditulis Presiden Carter yang dimuat di The New York Times, Senin (24/6/2012) lalu.

Jimmy Carter juga mengecam penggunaan pesawat tanpa awak Amerika ( DRONES) yang oleh era kepemimpinan Presiden George W. Bush dan Barack Obama kerap digunakan.

Menurut Carter, penggunaan DRONES bertentangan dengan hak asasi manusia .

Carter mengkritik bahwa dalam berbagai pengoperasiannya dalam medan perang di beberapa negara,  yang digunakannya untuk membombardir sasaran yang dianggap musuh, justru telah menjauhkan AS dari sekutunya.          

Dalam pernyatannya Jimmy Carter mengecam keras pula atas pembuatan aturan-aturan oleh legislatif AS yang melanggar hak asasi manusia,terutama tentang aturan aturan yang memmbolehkan penahanan tanpa batas, serta tanpa didampingi pengacara sebagaimana terjadi terhadap tahanan sipil di penjara Guantanamo.

Kemudian, tindakan-tindakan CIA yang menggunakan tempat-tempat tahanan  rahasia di Rumania, Polandia seperti dialami juga oleh tahanan sipil Afghanistan dan negara lainnya sebelum dibawa ke Guantanamo tersebut.

 

 

Presiden Amerika Serikat Barack Obama

 

Pertanyaannya, tepatkah jika Barack Obama yang harus dipersalahkan dalam kebijakan-kebijakan perang melawan teror yang diterapkan oleh Pentagon (yang membawahi militer Amerika), Dinas Rahasia CIA dan bahkan Biro Investigasi Federal (FBI) ?

Betul bahwa Obama adalah Presiden Amerika.

Bahkan di militer, posisi Obama sangat tinggi yaitu sebagai panglima tertinggi.

Tetapi, satu hal yang tampaknya agak dilewatkan oleh Presiden Jimmy Carter adalah kemunculan Obama sebagai presiden Amerika, adalah kemunculan disaat Amerika dirundung kegalauan dan kemarahan yang berkepanjangan pasca serangan 11 September 2001.

Ada sebuah sejarah kelam yang tampaknya mengharuskan (siapapun) Presiden Amerika yang sedang menjabat untuk tidak melupakan serangan 11 September dan melanjutkan semua operasi perang melawan teror sampai ke akar-akarnya.

Perkembangan teknologi membuat Amerika menjadi sangat nyaman dalam menggunakan pesawat tanpa awak (DRONES) untuk menghajar penggerakan-penggerakan kelompok teror di berbagai negara.

Kalau Obama mujur maka ia akan terpilih kembali untuk periode kedua pada bulan November mendatang.

Terpilih atau tidak terpilihpun, masa jabatan Obama akan dibatasi sampai dua periode saja untuk memimpin Amerika.

Sehingga siapapun presiden Amerika setelah Obama, tak akan pernah jauh dari kebijakan yang sangat jelas sejelas-jelasnya untuk melanjutkan komitmen melawan teror.

Presiden boleh berganti tetapi semua data, fakta dan setumpuk rahasia yang belum dibuka kepada publik tentang serangan 11 September 2001 yang dilakukan secara keji oleh Al Qaeda, tentu akan tetap tersimpan rapi di Pentagon, CIA dan FBI.

Always remember, Never Forgotten.

 

Menteri Pertahanan Amerika Serikat Leon Panetta, kiri, dan Direktur Dinas Rahasia CIA David Howell Petraeus

 

Sehingga, semangat untuk menghancurkan lawan akibat serangan 11 September itu, tak akan mungkin terhapuskan sampai kapanpun. Mungkin dalam memori mereka, ada prinsip yang sangat kuat untuk mengejar dan menghancurkan lawan (siapapun dan dimanapun ia) tanpa mengenal batas waktu.

Dampak dari perang melawan teror dalam berbagai pertempuran di lapangan akan sangat berpengaruh dalam nilai-nilai kemanusiaan (khususnya hak asasi manusia).

Tetapi tidak semua detail operasi militer, intelijen dan tugas-tugas FBI, detik demi detik dipantau serta dikendalikan oleh Obama. 

Disitu letak permasalahannya.

Pastilah Obama hanya mendapat laporan-laporan secara garis besar.

Dan kalau ia ingin mendapat penjelasan yang sangat rinci, maka ia akan memanggil tim keamanan nasionalnya untuk duduk semeja membicarakan berbagai permasalahan menyangkut keamanan.

Dan kalau ingin bicara soal DRONES maka dua nama yang sudah sangat jelas posisinya untuk mengendalikan pengoperasian DRONES di seluruh dunia yaitu Menteri Pertahanan Leon Panetta dan Direktur Dinas Rahasia CIA David Howell Petraeus.

Kemana laju DRONES, tentu bukan Obama yang menentukan lokasi sasarannya hari demi hari.

Tapi kalau Panetta dan Petraeus yang ditanya, tak mungkin kedua orang ini tak tahu koleksi-koleksi DRONES mereka ditujukan kemana saja. 

Jika Leon Panetta yang hendak dipersalahkan soal pelanggaran hak asasi manusia, maka satu hal yang sulit dilupakan dari pria kelahiran Monterey (California) 28 Juni 1938 ini.

Dalam era kepemimpinan Panetta, CIA mengakhiri perjalanan panjang pemburuan Amerika terhadap Osama Bin Laden. 


 

Foto Kombinasi : Presiden Amerika Serikat Barack Obama, kanan. Foto di kiri atas : Menteri Pertahanan Amerika Serikat Leon Panetta, dan di bagian bawah Direktur CIA David Howell Petraeus

 

Lalu, apakah David Howell Petraeus yang harus dipersalahkan soal pelanggaran hak asasi manusia menyangkut drones dan perang melawan teror secara keseluruhan yang dioperasikan CIA di berbagai negara ?

Inipun agak sulit untuk dilakukan sebab ada tanggung-jawab yang sangat besar diberikan kepada Petraeus untuk memastikan bahwa setiap pergerakan terorisme itu akan dipatahkan secara cepat.

CIA memang bisa mematahkan pergerakan-pergerakan terorisme itu secara cepat lewat kegarangan hantaman drones tapi sayangnya selama ini agak kurang TEPAT.

Jika Leon Panetta yang hendak dipersalahkan soal pelanggaran hak asasi manusia, maka satu hal yang sulit dilupakan dari pria kelahiran Monterey (California) 28 Juni 1938 ini.

Dalam era kepemimpinan Panetta, CIA mengakhiri perjalanan panjang pemburuan Amerika terhadap Osama Bin Laden.

Walaupun harus jujur diakui bahwa operasi gemilang tanggal 1 Mei 2011 di Abbottabad (Pakistan) yang berhasil menewaskan Osama Bin Laden, berdampak sangat buruk pada hubungan bilateral Amerika dan Pakistan sampai saat ini.

Tetapi, Amerika pantas untuk senantiasa mengingat secara baik keberhasilan Panetta untuk Operasi Abbotabbad.

Lalu, apakah David Howell Petraeus yang harus dipersalahkan soal pelanggaran hak asasi manusia menyangkut drones dan perang melawan teror secara keseluruhan yang dioperasikan CIA di berbagai negara ?

Inipun agak sulit untuk dilakukan sebab ada tanggung-jawab yang sangat besar diberikan kepada Petraeus untuk memastikan bahwa setiap pergerakan terorisme itu akan dipatahkan secara cepat.

CIA memang bisa mematahkan pergerakan-pergerakan terorisme itu secara cepat tapi tidak secara TEPAT.

Jadi, menyangkut kritikan dari Presiden Jimmy Carter, hanya ada satu kata yang kurang dari operasi-operasi drones yang dilakukan Pentagon dan CIA yaitu pengoperasian drones harus benar-benar TEPAT sasaran.

Tak cukup hanya cepat, tapi harus TEPAT !

Cepat dalam mematahkan dan mematikan langkah-langkah teroris.

Tetapi harus tepat dalam mengoperasikan seluruh drones ke lokasi dan ke negara manapun drones itu hendak didaratkan agar  tak melenceng mengenai orang lain (diluar target-target sasaran yang sebenarnya).

Jadi, menyangkut kritikan dari Presiden Jimmy Carter, seluruh operasi pesawat tanpa awak Amerika (DRONES) yang dilakukan Pentagon dan CIA haruslah cepat dan tepat.

Cepat dalam mematahkan dan mematikan langkah-langkah teroris.

Tetapi harus tepat dalam mengoperasikan seluruh drones ke lokasi dan ke negara manapun drones itu hendak didaratkan.

Tepat sasaran, itulah yang harus diingatkan terus menerus kepada Panetta dan Petraeus.

Tepat sasaran artinya jangan menghajar kalangan sipil dengan drones dan menerabas seenaknya wilayah teritori negara lain tanpa izin atas nama perang melawan teror.

Walaupun harus jujur diakui bahwa mereka-mereka yang bergerak dan bertarung di lapangan, yang jauh lebih tahu bagaimana tantangan, kesulitan dan ancaman bahaya yang mereka hadapi.

Akan sulit membedakan dan memisahkan antara prinsip hak asasi manusia dan prinsip keamanan, bila sudah bertempur dan bertugas di lapangan.

Pilihannya hanya 1 yaitu dibunuh atau terbunuh.

Kill or be Killed !

 

Mantan Presiden Amerika Serikat Jimmy Carter dan sang isteri tercinta Eleanor Rosalynn Carter

 

Presiden Jimmy Carter menyampaikan kritikan-kritikannya, tentu karena ia sangat tidak ingin Amerika jadi kebablasan.

Jimmy Carter adalah peraih NOBEL PERDAMAIAN tahun 2002.

Tetapi terlihat betul bahwa mantan presiden Amerika yang ke 39 ini sangat menjaga kalimat demi kalimat yang dituliskannya sehingga yang menjadi objek tunggal untuk dipersalahkan adalah Barack Obama.

Ada baiknya, Presiden Jimmy Carter lebih mengelaborasi pemikiran-pemikirannya untuk kalangan militer dan intelijen Amerika sebagai cermin dalam mengevaluasi diri menyangkut perang melawan teror.

Presiden Carter harus mau mengkritik secara tajam kepada Pentagon dan CIA.

Mungkin secara informal, sambil mengucapkan selamat ulang tahun kepada Leon Panetta yang berulang-tahun hari Kamis (28/6/2012) ini, Presiden Carter bisa membisikkan ke telinga Panetta agar drones yang dikendalikan pengoperasiannya oleh Pentagon bisa lebih “berhak-asasi manusia”.

Atau, Presiden Carter bisa mengundang David Howell Petraeus untuk bertemu guna mendiskusikan bahwa bukankah lebih baik kalau perang melawan teror lewat pengoperasian drones tidak mengorbankan kalangan sipil di belahan dunia manapun.

Sehingga, drones yang kendalinya dipegang juga pengoperasiannya oleh CIA bisa lebih berhak asasi manusia.

Dan hikmah dibalik kritikan Presiden Jimmy Carter ini, baik Panetta ataupun Petraeus harus mau dan harus bisa lebih menyadari satu hal yang sangat penting bahwa perang melawan teror yang memang perlu dilanjutkan dan dilakukan oleh Amerika, tetapi semua itu harus ada kendali yang sangat kuat agar selaras dengan rambu-rambu yang ada.

Perang melawan teror yang terus dilakukan Amerika tetap menjadi fokus perhatian dari dunia internasional.

Termasuk jadi fokus perhatian utama dari rakyat Amerika sendiri.

Bahkan oleh salah seorang mantan presiden Amerika!

Jadi kritikan soal drones yang disampaikan secara tajam oleh Presiden Jimmy Carter, lebih tepat ditujukan dan direnungkan baik-baik oleh Pentagon yang saat ini dipimpin oleh Leon Panetta dan Dinas Rahasia CIA yang saat ini dipimpin oleh David Howell Petraeus.

Happy 4th of July, America !

 

 

(MS)

About these ads

Comments are closed.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 9,050 other followers