Kemenangan Presiden Baru Mesir Muhammed Mursi Adalah Kemenangan Demokrasi

Muhammed Mursi Isa al-Ayyat, Presiden Terpilih Mesir

 

Jakarta, 30 Juni 2012 (KATAKAMI.COM)  —  Kemenangan Muhammed Mursi Isa al-Ayyat sebagai Presiden terpilih Mesir, tentu bukan cuma menjadi kemenangan para pendukungnya dari Ikhwanul Muslimin dan rakyat Mesir yang membuatnya menang secara menggembirakan dengan perolehan hasil sebesar 51,73 %.

Kemenangan Mursi bukan juga cuma menjadi kegembiraan bagi kelompok militan Hamas di Jalur Gaza atau Iran, yang merupakan “sekutu terkuat” Ikhwanul Muslimin.

Seperti yang diberitakan oleh Iran Indonesian Radio pada hari Senin (25/6/2012), Kemenangan Mursi disambut gembira oleh Hamas.

Mahmoud al-Zahar, anggota senior Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) menyebut kemenangan Muhammad Mursi, kandidat presiden Mesir dari kubu Ikhwanul Muslimin sebagai kekalahan program normalisasi hubungan Arab dengan Rezim Zionis Israel. 

Al-Zahar Ahad (24/6/2012) menyebut kemenangan Mursi sebagai peristiwa bersejarah bagi rakyat Mesir serta berakhirnya kerjasama keamanan dan ekonomi antara Kairo dan Tel Aviv. Demikian dilaporkan al-Alam.

Sementara itu, Sami Abu Zuhri, juru bicara Hamas di statemennya menilai kemenangan Mursi tak ubahnya kemenangan revolusi rakyat Mesir sendiri dan peristiwa bersejarah bagi Kairo serta kawasan. 

Kementerian Luar Negeri Iran mengucapkan selamat atas terpilihnya Mohamed Moursi dari Ikhwanul Muslimin menjadi presiden baru Mesir.

Dalam pernyataan yang dilaporkan Press TV pada Minggu (24/6/2012), Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan presiden Mesir akan “memainkan peran efektif dalam pertumbuhan dan keunggulan negara serta mengawali satu era transformasi” dalam sejarah Mesir. 

 

Muhammed Mursi Isa al-Ayyat, Presiden Terpilih Mesir

 

Tetapi Mursi dan Ikhwanul Muslimin juga harus memberikan kesempatan dan penghormatan kepada pihak dan kekuatan lain yang ikut bersyukur, bergembira dan menyambut baik kemenangan yang demokratis ini.

Ya, atas nama demokrasi, banyak, pasti banyak pihak yang sangat menyambut baik kemenangan Mursi ke puncak tampuk kekuasaannya kini sebagai Presiden Mesir.

Termasuk Indonesia, yang punya kedekatan bathin sangat kuat dengan Mesir, tentu sangat menghormati hasil pemilihan umum di Mesir yang menempatkan Mursi sebagai pemenang.

Kemenangan Mursi adalah juga kemenangan bagi rakyat Indonesia yang menghormati setiap bentuk kebebasan dalam asas demokratisasi. 

Kemenangan Mursi adalah juga kemenangan bagi rakyat Indonesia yang menghormati setiap bentuk kebebasan dalam kerangka demokratisasi. 

Kepala Komisi Pemilihan Presiden Mesir Farouq Sultan pada Minggu (24/6/2012) mengumumkan bahwa Mursi  memenangkan pemilihan presiden.

Mursi, yang sekarang memimpin Partai Keadilan, mendapatkan 51,73 persen dari seluruh suara di putaran kedua pemilihan suara, mengalahkan saingannya, mantan perdana menteri Ahmed Shafiq, yang meraih 48,27 persen suara.

Mursi (61) terpilih menjadi presiden Mesir, menggantikan Presiden Hosni Mubarak yang digulingkan dalam revolusi pada awal tahun lalu.

Mursi lahir dari keluarga sederhana di Desa Adwah, Provinsi Syarqiyah, Mesir, pada 20 Agustus 1951.

Doktor teknik lulusan Amerika Serikat itu mengetuai Partai Kebebasan dan Keadilan atau Hizbul Hurriyah Wal Adalah, sayap politik Ikhwanul Muslimin.

Sejak 1977 Mursi mulai aktif di Ikhwanul Muslimin dan berulang kali masuk penjara, baik di masa Presiden Anwar Saddat (1970-1981) maupun di era Presiden Hosni Mubarak (1981-2011) atas tuduhan melakukan gerakan bawah tanah untuk menggulingkan pemerintah.

 

Para pendukung Muhammed Mursi yang merayakan kemenangannya

 

Mengenai kemenangan Mursi sebagai presiden terpilih Mesir, sebuah opini juga datang dari aktivis Islam di Indonesia.

EKSKLUSIF kepada KATAKAMI.COM lewat percakapan telepon di hari Sabtu (30/6/2012), Fauzan Al Anshari selaku Direktur Lembaga Kajian Strategis Islam (LKSI) mengungkapkan bahwa Mursi pasti sudah sangat paham bahwa dengan kemenangannya ini ia harus melakukan kompromi-kompromi politik.

“Mursi menang hampr 52%. Artinya, kemenangan itu bukan kemenangan mutlak. Jadi dengan perolehan angka kemenangan yang seperti itu, saya sangat yakin bahwa Mursi sudah paham harus melakukan apa dalam pemerintahan. Tetapi, semua pihak harus menghormati kebijakan-kebijakan yang akan digariskan oleh Mursi dalam kekuasaannya nanti. Dan jangan ada salah pengertian tentang aspirasi rakyat Mesir. Jika misalnya rakyat Mesir menghendaki agar diterapkan hukum Islam di sana, maka itu bukan merupakan wujud dari keinginan Mursi sebagai Presiden yang baru. Melainkan wujud dari aspirasai rakyat Mesir. Jadi penerapan hukum Islam bukanlah sikap anti demokrasi” kata Fauzan Al Anshari kepada KATAKAMI.COM.

Menurut Fauzan, yang terbaik untuk dilakukan oleh semua pihak saat ini adalah memberikan kesempatan bagi Mursi menjalan tugas-tugasnya sebagai presiden baru di Mesir.

“Kekuatan Barat harus memberikan dulu kesempatan kepada Mursi untuk menjalankan tugasnya. Dan jangan ada juga upaya-upaya dari pihak manapun untuk mendongkel Mursi dari kekuasaannya. Saat ini adalah era kekuatan sipil yang berkuasa di Mesir. Walaupun harus diakui bahwa ada pertentangan dengan militer. Tetapi pertentangan dngan militer itu sudah ada sejak dulu di Mesir. Lalu, kita juga harus mengapresiasi pernyataan istri Mursi yang menolak untuk disebut sebagai Ibu Negara tetapi ingin disebut sebagai Pelayan Rakyat Mesir. Dia akan menjadi ibu negara pertama yang memakai jilbab dalam sejarah Mesir” ungkap Fauzan. 

 

Muhammed Mursi

 

Mursi, adalah sebuah ikon perlawanan yang layak disebut sebagai pejuang Islam yang akhirnya bisa menggapai puncak tertinggi kekuasaan di Mesir.

Tetapi ia harus menyadari bahwa politik tak bisa diartikan sangat sempit.

Politik adalah sebuah dunia yang sangat luas pengertiannya.

Dalam berpolitik, hanya ada satu kata yang sangat dominan yaitu kepentingan.

Jadi sejauh mana, Mursi akan bisa memainkan peran serta kemampuannya berpolitik di hadapan kepentingan internal Mesir dan komunitas internasional.

Dalam politik, mau tak mau Mursi harus belajar untuk berkompromi dan tangguh dalam memainkan kecerdasannya berdiplomasi secara baik.

Mursi harus menyadari bahwa ia sangat dinantikan oleh komunitas internasional untuk tampil sebagai pemimpin baru yang mampu bekerjasama dengan semua pihak, tak cuma terkooptasi dan terkurung pada kedekatan yang sempit pada satu atau dua pihak saja.

Didalam negeri, Mursi harus mampu melakukan rekonsiliasi dan kerjasama yang baik dengan kalangan militer dan intelijennya.

Mengakomodir dengan porsi yang tepat masukan-masukan dari kalangan militer dan intelijennya agar dalam menjalankan kekuasaannya ini, Mursi mendapat dukungan yang solid dari dalam negeri dan menutup semua peluang terjadinya kudeta atau upaya pendongkelan dari pihak-pihak yang tak senang pada kemenangan Mursi.

Mursi juga tak perlu terbawa pada dorongan-dorongan yang menginginkan agar Mursi secara frontal mau menentang dan mengobarkan semangat anti zionis, anti Amerika dan anti Barat.

Jalanilah saja kekuasaan dengan semangat dan ajaran Islam yang penuh nuansa demokrasi yang sangat membanggakan.

Suka atau tidak suka, Mesir membutuhkan kerjasama yang sangat luas dengan semua pihak, dengan semua kekuatan, dengan semua negara, di kancah internasional.

Jadi, HAMAS, tak boleh merasa bahwa Mursi adalah sekutu tunggal bagi Hamas saja, sebab Mursi juga harus membuka kerjasama dan hubungan yang baik dengan Fatah.

Bahkan dengan Israel, yaitu kerjasama dan hubungan diplomatik yang sangat standar sesuai aturan-aturan internasional.

Lalu Iran, tak boleh merasa bahwa kekuasaan Mursi akan bisa menjadi benteng pelindung bagi ambisi nuklir yang kini banyak ditentang oleh komunitas internasional. 

 

Najla Mahmud, Ibu Negara Mesir saat ini

 

Mursi, harus mau memakai gaya “merangkul” terhadap pihak manapun, termasuk dengan pihak yang berseberangan, bermusuhan dan tak sejalan dengan kebijakan perlawanan militansi Ikhwanul Muslimin.

Sekarang Mursi adalah Presiden Mesir sehingga ia harus membuka diri pada semua rakyat Mesir dan semua kekuatan dunia.

Ia  bukan lagi milik satu atau dua golongan tetapi menjadi seorang pemimpin dunia dari sebuah negara yang menjadi pusat peradaban dunia yang sangat hebat dan membanggakan. 

Termasuk untuk masalah penolakan istri dari Presiden Mursi (Najla Mahmud) yang tak ingin diberi gelar “First Lady” (Ibu Negara).

Najla lebih memilih disebut “pelayan” Mesir.

Menurut Najla, Islam tak pernah membedakan antara satu wanita dengan wanita lainnya.

“Kami adalah orang Mesir dan kami harus bersatu untuk bangsa ini,” ujar dia dalam situs resmi Ikhwanul Muslimin. Najla mengatakan, ia lebih suka dipanggil Umi Ahmed atau Ibu Ahmed (mengacu pada anak tertuanya Ahmed). Atau Hajah, sebagai panggilan bagi wanita yang telah melakukan ibadah haji di Mekah.

“Dan kalau saya harus memakai title saat ini, maka biarkan saya mendapat title ‘pelayan pertama’ Mesir,” kata Najla.

Betul bahwa pengakuan jujur Najla ini adalah sebuah wujud dari sebuah kerendahan hati yang sangat terpuji dari seorang muslimin yang berhati mulia.

Tetapi, Najla juga perlu diingatkan bahwa statusnya saat ini memang sebagai First Lady.

Siapapun wanita yang menjadi isteri resmi dari seseorang yang menduduki jabatan Presiden maka ia akan menyandang status sebagai Ibu Negara atau First Lady.

Itu fakta !

Bahwa pada pelaksanaannya, Najla ingin menjadi pelayan utama bagi seluruh rakyat Mesir, lakukan saja apa yang memang terbaik dan sangat dibutuhkan oleh rakyat Mesir, yang bisa dilakukannya sepanjang mendampingi Mursi sebagai kepala negara.

Rakyat Mesir perlu bukti, bukan cuma sekedar janji atau kata-kata manis.

Sebagai Ibu Negara, jangan persoalan hak-hal teknis semisal ungkapan panggilan.

Shakespeare mengatakan “Apalah arti sebuah nama ?”

Jangan persoalkan status atau nama sebutan atau panggilan karena itu tak perlu dipermasalahkan.

Yang dibutuhkan dari seorang Najla adalah bagaimana ia menjaga dan mengurus sang suami yang akan dihadapkan oleh begitu banyak persoalan-persoalan penting dan tugas-tugas negara yang sangat berat seberat-beratnya.

Keselamatan dan keberhasilan Mursi dalam menjalankan tugasnya sebagai Presiden akan sangat tergantung juga dari peran seorang isteri ! 

Sebagai seorang ibu negara, Najla akan memainkan peranan yang sangat strategis.

Najla akan menjadi filter bagi semua bentuk informasi yang akan masuk ke telinga Mursi.

Najla  juga akan menjadi  tempat yang sangat aman bagi Mursi untuk berdiskusi tentang segala hal.

Najla jugalah yang akan menjadi tiang doa yang memanjaatkan harapan-harapan tulus ke hadiran Tuhan agar amanah rakyat Mesir terhadap Mursi dalam berkuasa, dapat dijalankan secara baik sesuai petunjuk dan tuntunan Ilahi. 

Muhammed Mursi akan dilantik pada hari Sabtu (30/6/2012) ini sebagai Presiden baru di Mesir.

Bawalah Mesir ke pintu gerbang kebahagiaan dan kemakmuran bagi seluruh rakyatnya yang mendambakan hari baru yang sangat cerah dan penuh senyum yang manis.

Bawalah Mesir ke pintu gerbang keberhasilan dalam menjalin kerjasama dan hubungan diplomatik yang sangat membanggakan dengan semua negara dan semua pihak, tanpa mengkotak-kotakkan hubungan secara sempit dan sia-sia.

Bawalah Mesir kembali berjaya sebagai sebuah negara Islam yang menjadi pusat peradaban dunia yang begitu hebat tetapi tetap menghormati dan menjaga kerukunan antar umat beragama.

 

 

(MS)


About these ads

Comments are closed.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 20,173 other followers