Brigjen Arman Depari : Cara Terbaik Memerangi Narkoba adalah Melakukan Pencegahan

Direktur Narkoba Badan Reserse dan Kriminal Markas Besar Polri, Brigjen Arman Depari saat diwawancara di ruang kerjanya, di Gedung Direktorat IV Tindak Pidana Narkoba, Cawang, Jakarta Timur, Kamis (5/7/2012) (Foto EKSKLUSIF : KATAKAMI.COM)

 

Jakarta, 5 Juli 2012 (KATAKAMI.COM)  —  Secara berturut-turut dalam sepekan terakhir, MABES POLRI ( dalam hal ini Direktorat IV Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Mabes POLRI) memusnahkan barang bukti dari berbagai kasus tangkapan yang dilakukan oleh Markas Besar Polri ( dan jajarannya ), Badan Narkotika Nasional dan Bea Cukai.

Jumat (29/6/2012) lalu misalnya, dalam rangka peringatan HUT POLRI ke 66, telah dimusnahkan sebanyak 165 kilogram narkotika jenis sabu senilai Rp 1,65 triliun dimusnahkan dengan cara dibakar di Bandar Udara Soekarno Hatta-Tangerang.

Kemudian hari Kamis (5/7/2012) ini,  POLRI memusnahkan juga barang bukti narkoba senilai Rp 1,1 triliun yang disita Polda Metro Jaya dari ratusan kasus kejahatan narkoba di Wilayah Ibu kota.

Barang haram ini dimusnahkan di area pemusnahan dan dokumen kawasan Angkasa Pura Bandara Soekarno-Hatta, Tanggerang, Banten, Kamis (5/7/2012) pagi . Total barang haram tersebut merupakan hasil pengungkapan kasus narkoba yang ditangani petugas setempat dari bulan Mei sampai dengan Juni 2012.  Barang bukti yang dimunahkan hari ini jika dikonversi senilai Rp 1,1 triliun.

Untuk membahas seputar taktik dan strategi jajaran kepolisian memerangi dan memberantas narkoba ini, KATAKAMI.COM melakukan wawancara ekslusif dengan Direktur Narkoba Badan Reserse dan Kriminal Markas Besar Polri, Brigjen Arman Depari.

Wawancara dilakukan di ruang kerjanya, di Gedung Direktorat IV Tindak Pidana Narkoba, Cawang, Jakarta Timur, Kamis (5/7/2012) sore.

Dan inilah hasil WAWANCARA EKSKLUSIF kami dengan Brigjen. Polisi Arman Depari   :

 

Direktur Narkoba Badan Reserse dan Kriminal Markas Besar Polri, Brigjen Arman Depari saat diwawancara di ruang kerjanya, di Gedung Direktorat IV Tindak Pidana Narkoba, Cawang, Jakarta Timur, Kamis (5/7/2012) (Foto EKSKLUSIF : KATAKAMI.COM)

 

KATAKAMI (K)   :  Yang pertama soal pemusnahan barang bukti narkoba dalam sepekan terakhir ini. Berturut-turut pemusnahan ini dilakukan oleh Mabes Polri dan jajarannya dalam sepekan terakhir. Bisa dijelaskan latar belakangnya Pak Arman ?

ARMAN DEPARI (AD)  :   Sebenarnya pemusnahan itu sudah diatur oleh UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Kalau penyidikan yang dijalankan, persyaratan UU jika kita menyita barang bukti, maka 14 hari setelah disita harus sudah dimusnahkan. Ini wajib ! Maka sebenarnya Direktorat Narkoba Mabes Polri dan jajarannya di Polda – Polres, kalau ada penangkapan maka itu pasti diikuti oleh kegiatan pemusnahan. Tetapi, kenapa kadang-kadang kegiatan pemusnahan ini tidak terekspose ?

Sebab tidak setiap hari dan tidak setiap penangkapan, kami mendapat barang bukti dalam jumlah yang besar. Kalau dulu barang bukti bisa dikumpulkan dulu sampai banyak, barulah setelah itu dimusnahkan. Tapi sekarang tidak bisa lagi ! Dalam tenggang waktu 14 hari, kami sudah harus memusnahkannya. Kalau kami cuma punya barang bukti hanya sedikit, tetap harus dimusnahkan. Yang datang itu hanya pihak Kejaksaan, Kepolisian, Pengacara dari pihak tersangka, dan tersangkanya sendiri.

Yang kami musnahkan tanggal 29 Juni kemarin, disamping barang bukti yang disita Mabes Polri dan Polda Metro Jaya. memang dalam jumlah besar … momentum yang kami pakai adalah dalam rangka Hari Bayangkara 1 Juli. Tapi diluar dari pemusnahan barang bukti kali ini, sebenarnya tiap minggu secara rutin kami memusnahkan barang bukti.

Seperti pemusnahan barang bukti hari ini (Kamis, 5/7/2012), kami harus menyewa alat inseminator … alar penghancurnya. Sebenarnya bukan sewa, tapi kami harus membayar biaya operasionalnya. Pekerjanya harus dibayar. Lalu kami harus menyewa tenda dan tempat duduk. Belum lagi makanan dan minuman untuk para tamu undangan, para saksi dan media massa yang datang.

(K)  : Anda sebagai pimpinan di Direktorat Narkoba Mabes Polri, bagaimana anda mengawasi agar di jajaran POLRI ini tidak ada anggota yang menggelapkan barang bukti narkoba ?

(AD)  :  Saya tidak menutup kemungkinan bahwa hal tersebut bisa terjadi karena pelakunya oknum dan di sini banyak orang. Tetapi sejauh ini, kami sudah melakukan pengawasan yang sangat ketat. Mestinya hal ini sudah tidak bisa terjadi lagi. Saya memang sering mendengar pertanyaan dari masyarakat mengenai hal ini. Tapi saya tidak pernah melihat buktinya bahwa itu berasal dari benda sitaan Polri. Kami sudah sangat ketat sekali mengawasi. UU sudah mempersyaratkan tidak boleh disimpan lagi. Kemudian prosedur penyitaan barang bukti di Polri ini juga sangat jelas. Jadi kalau masyarakat masih mempertanyakan terhadap peluang kebocoran, tetapi kalau dilihat dari prosedurnya … sangat kecil kemungkinan barang bukti ini bisa digelapkan.

Prosedurnya sangat ketat. Pada saat pertama ditemukan, kami sudah harus membuat berita acara dan disaksikan oleh tersangka dan lingkungan setempat. Kemudian, pada saat dibuat berita acaranya, itupun dilakukan pengecekan agar sesuai. Petugas yang menyimpan barang bukti disini menerima kalau tidak sesuai dengan berita acaranya. Petugas pasti tidak mau menerima kalau barangnya berkurang. Nanti pada saat kami membawanya ke pemusnahan, barang itupun akan dilihat lagi oleh jaksa, tersangka dan pengacaranya. Sebelum dimusnahkan, kami tes dulu semua barang buktinya. Jadi setiap pemusnahan, prosedur wajibnya adalah di tes.

(K)  :  Seluruh barang bukti yang disita polisi untuk kasus-kasus narkoba ini, disimpan dimana Pak Arman ?

(AD)  :  Itu ada gudangnya tersendiri. Dan kunci dari gudang penyimpanan ini dipegang oleh 3 orang yaitu petugas piket kami, penyidik dan petugas yang bertanggung-jawab terhadap gudang itu. Jadi tidak bisa dibuka oleh satu orang ! Ketiga petugas ini harus dihadirkan bersama-sama dan membuat berita acara dulu. Setiap orang yang masuk ke gudang ini harus mengisi buku. Tidak ada orang lain yang diperbolehkan masuk. Bahkan kalau saya mau masuk, maka seluruh petugas pemegang kunci harus dipanggil dan wajib mengisi berita acara.

Jadi, sejauh yang saya tahu, dari kasus-kasus yang kami tangani, pengawasannya sudah sangat ketat untuk barang bukti ini. Jadi kecil kemungkinan terjadi kebocoran.

Yang saya tahu dulu begini …  setelah ada penyitaan besar, bandar-bandar diluar sana pakai taktik tersendiri. Mereka bilanglah barang mereka dari polisi. Para pembeli mereka pasti berpikir begini, wah pasti ini aman kalau barangnya dari polisi.

Tapi kalau ada satu atau orang kasus yang lolos dari pengawasan kami, saya kira wajar saja tetapi tidak akan bisa dalam jumlah besar !

Kenapa ? Sebab, satu gram pun akan kami kejar kemanapun juga. Apalagi kalau sampai ada anggota yang berani mengambil sampai 10 gram … kurang ajar kau ! Begitu kan ?

Saya pribadi terbuka terhadap semua kritikan masyarakat agar Polri jangan lalai.

(K)  : Bagaimana komentar anda bahwa para pemakai narkoba di tengah masyarakat kita ini sudah sangat luas sekali, artis, anak pejabat, bahkan oknum-oknum aparatpun ada.

(AD)  :   Semua lapisan masyarakat ini memang ada kemungkinannya untuk menjadi pemakai narkoba. Makanya saya pribadi tidak pernah mau memberikan pernyataan soal kalangan atau asal usul si pemakai. Kita sudah terus mengingatkan jangan pakai narkoba. Tapi kalau nekat memakai dan tertangkap … ya itu resiko mereka. Sejauh mereka masih ingin berubah dan berobat, Polri memberikan pengobatan gratis.

Jangan kalau sudah tertangkap, baru teriak-teriak bahwa dia cuma pemakai. Pada umumnya kan begitu, setelah ditangkap baru mengaku sebagai pemakai agar bisa direhabilitasi.

Padahal POLRI mengumumkan kepada masyarakat, kalau anda adalah pemakai dan melaporkannya kepada kami, anda tidak akan dihukum dengan resikonya anda harus masuk rehabilitasi.

Tapi kalau sudah ditangkap, baru teriak-teriak minta direhabilitasi … ya susah !

 

Barang bukti Narkoba senilai Rp 1,1 triliun dimusnahkan satuan petugas kepolisian di Area pemusnahan dan dokumen Angkasa Pura Bandara Soekarno-Hatta, Tanggerang, Banten, Kamis (5/7/2012). Foto : KOMPAS.com/BIMA SETYADI

 

(K)  :  Kita bicara soal operasi pemberantasan narkoba yang terus menerus dilakukan oleh jajaran kepolisian di Kampung Ambon, Jakarta Barat. Walaupun berulang kali dilakukan razia, lokasi yang satu ini tetap merajalela untuk urusan narkoba. Bisa kasih tanggapan Pak Arman ?

(AD)  :  Sewaktu saya menjadi Direktur Narkoba di Polda Metro Jaya, saya pernah membawa 700 orang pasukan ke sana. Termasuk didalamnya pasukan TNI. Bahkan waktu itu saya hancurkan tempat berjudi. Dulu didalam komplek itu ada stadiun judinya.

Sindikat narkoba ini pasti punya jaringan. Saya tidak pernah menyebut lokasi itu Kampung Ambon sebab didalamnya bukan lagi didominasi orang Ambon. Setahu saya nama komplek itu adalah Komplek Permata.

Dulu disana ada berandalan yang jadi pemakai. Datanglah Polsek untuk merazia, ternyata dilawan. Terus Polres datang, juga dilawan. Mobil polisi dibakar ! Datanglah Polda, ternyata dilawan juga. Itulah sebabnya saya buat perencanaan yang sangat baik untuk menggerebek agar tidak ada perlawanan. Salah satu caranya adalah mereka  tidak bisa melawan adalah mengerahkan pasukan yang cukup.

Nah, operasi sebesar itu kami ulangi lagi bulan Desember lalu karena setelah dua tahun sejak kami gelar operasi besar dulu, ternyata sekarang sudah semakin besar dan berkembang menjadi lebih banyak.

Pada saat kami menggelar lagi operasi besar di Komplek Permata, saya mencatat ada 35 rumah yang menjadi WARUNG ATAU CAFE NARKOBA !

Nah, 35 cafe ini ribuan orang yang mengunjungi dari pagi sampai malam tanpa henti. Rupanya ini sudah berjalan sekian lama.

Saya sudah mengatakan kepada Walikota, Kapolres dan Komandan Kodim disana, bahwa operasi penggerebekan itu harus dilakukan terus menerus. Tidak boleh berhenti. Harus rutin. Itupun kami  tidak boleh berharap bahwa kalau digerebek maka akan hilang.

(K)  : Jadi memang memerangi narkoba ini tidak gampang ya ?

(AD) :   Betul ! Dulu, saya pernah bertugas di Detasemen Khusus (Densus) 88. Saya yang menjadi Kepala Densus. Walaupun disebutkan bahwa jaringan terorisme sangat kuat. Menurut saya, memerangi masalah narkoba ini, seribu kali lebih susah dibandingkan masalah terorisme. Seribu kali lebih susah ! Kalau narkoba ini, kita tidak akan bisa tahu asal usulnya ! Darimana orangnya, siapa dan bagaimana orangnya, uangnya dari mana, barangnya dari mana ? Datang dari Iran, datang dari Afghanistan, datang dai Kolombia, datang dari Bangkok, datang dari Malaysia, mereka berdatangan dari segala penjuru. Mereka bisa datang dari pelabuhan tikus, pelabuhan udara, tidak ada yang tahu.

Sedangkan untuk masalah terorisme, sejak saya ikut menangani tahun 2000-2001, sampai saat ini yang masih tetap itu-itu saja jaringan pelakunya.

(K)  :  Menutup wawancara ini, apa yang bisa Pak Arman sampaikan kepada para pembaca kami ?

(AD)  :   Paling tidak kita harus peduli terhadap lingkungan dan keluarga kita masing-masing. Kalau ada anggota keluarga kita menggunakan narkoba, jangan didiamkan. Kirim segera ke panti rehabilitasi. Pastikanlah bahwa lingkungan dan keluarga kita bersih dari narkoba karena tidak akan ada satupun manusia yang bisa meng-claim bahwa dirinya tidak akan terpengaruh oleh narkoba. Semua bisa kena kok.

Menurut saya, yang sangat penting untuk urusan narkoba ini adalah pencegahan. Bukan penangkapan !

Saya ini kan seorang detektif. Reserse yang tugasnya menangkapi orang. Bukan karena saya reserse, maka saya harus bisa melakukan penangkapan sebanyak-banyakan.

Untuk narkoba ini yang terpenting adalah pencegahannya !

Sebab kalau ditanggapi dengan cara penangkapan, maka hal itu tidak akan bisa menyelesaikan masalah. Tapi kalau kita mencegah agar keluarga dan masyarakat kita tidak memakai narkoba, maka otomatisnya pemakaian narkoba itu berhenti.

Saya pribadi berpendapat bahwa pencegahan adalah sesuatu yang sangat penting.

Pencegahan masuknya narkoba ke Indonesia memerlukan koordinasi antar instansi. Harus solid !

Sebab kalau masyarakat sudah terlibat narkoba .. misalnya ada 100 ribu butir dan dibagikan satu orang dapat satu, apakah kita mau menangkapi 100 ribu orang ?

Hari ini ada pemusnahan 350 kg barang bukti, itu sama dengan 3 juta gram ! Kalau satu orang dapat satu gram, apakah kami harus menangkap 3 juta pemakainya ?

Jadi yang terbaik adalah mencegah agar narkoba tidak bisa masuk ke wilayah teritori Indonesia.

(K)  :  Baik, Pak Arman Depari, terimakasih untuk wawancara ini. Selamat bertugas untuk anda dan jajaran di Mabes Polri yang menangani masalah narkoba ini.

 

 

(MS)

About these ads

Comments are closed.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 11,771 other followers