Komjen Nanan Soekarna : Tidak Ada Matahari Kembar Di Polri Karena Kami Solid

Kapolri Jenderal Timur Pradopo, kiri, dan Wakapolri Komjen. Nanan Soekarna

 

WAWANCARA EKSKLUSIF

 

Jakarta, 6 Juli 2012 (KATAKAMI.COM)   —  Duet kepemimpinan di tubuh Polri, yaitu Jenderal Polisi Timur Pradopo sebagai Kapolri dan Komisaris Jenderal Polisi Nanan Soekarna sebagai Wakapolri, giat “mengkampanyekan” slogan Polisi Anti KKN dan Anti Kekerasan.

Nanan Soekarna lulusan Akpol 1978 ini, lahir di Purwakarta, 20 Juli 1955, merupakan konseptor ulung yang pantas dipuji dibalik komitmen Polri untuk menjadi Polisi Anti KKN dan Anti Kekerasan.

Namanya mulai banyak disebut sebagai salah seorang yang layak untuk maju sebagai calon gubernur untuk Jawa Barat. Nama Nanan juga mulai santer disebut-sebut sebagai kandidat yang layak dipertimbangkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjadi Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) yang baru.

Lewat WAWANCARA EKSKLUSIF dengan KATAKAMI.COM di ruang kerjanya di lantai 2 Gedung Utama Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Jumat (6/7/2012),Wakapolri Nanan Soekarna menepis berita miring tentang ketidak-harmonisan dirinya dengan Kapolri Timur Pradopo.

Inilah hasil WAWANCARA EKSKLUSIF kami dengan Wakapolri Komisaris Jenderal Polisi Nanan Soekarna :

 

Wakapolri Komisaris Jenderal Polisi Nanan Soekarna

 

KATAKAMI (K)  :  Yang pertama, Selamat HUT POLRI yang ke 66. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berpesan agar Polri sungguh-sungguh membersihkan semua bentuk Kolusi, Korupsi dan Nepotisme di jajaran Polri. Bagaimana tanggapan Bapak ?

(NANAN SOEKARNA)  :  Jadi sebetulnya sejak awal tahun 2012, Presiden menetapkan bahwa tahun 2012 ini adalah tahun peningkatan kinerja dan prestasi. Nah, kepolisian menjabarkannya agar menjadi pelayan prima.

Lalu, untuk perintah Bapak Presiden agar anti korupsi, kepolisian membuat MAKLUMAT KAPOLRI yang isinya adalah 5 yaitu :

1. Setiap anggota Polri wajib mengetahui dan menerapkan pola pengawasan terhadap semua kebijakan atau program dengan memberdayakan manajemen pengawasan secara holistik yang melibatkan unsur pimpinan, satker pengemban fungsi pengawasan, pengawasan eksternal dan bawahan.

2. Kepada seluruh pimpinan Polri di semua level, wajib menampilkan tampilan anti KKN dan memberikan ketauladanan, bersifat melayani, berperan sebagai konsultan dan quality assurance.

3. Kepada seluruh anggota Polri dalam kapasitas selaku bawahan, agar berani secara etis mengingatkan, mencegah dam menolak perintah atasan  yang bernuansa KKN.

4. Kepada pengawas eksternal, dimohon tidak ragu-ragu secara independen untuk mengawasi, mengoreksi, menegur kami agar Polri dapat melayani masyarakat dengan prima dan anti KKN.

5. Kepada seluruh masyarakat, agar dapat bersama-sama dengan pihak Polri memathui MAKLUMAT ini untuk tidak melakukan KKB, tidak kompromi dengan polisi yang korup. Lalu perintah Bapak Presiden agar jangan ada lagi kekerasan yang dilakukan aparat.

Kepolisian membuat komitmen anti kekerasan dengan 2 poin, yaitu petugas tidak boleh brutal dan masyarakat tidak boleh anarkis.

Jadi kepada semua masyarakat, silahkan mengawasi polisi !

Siapapun boleh dekat dengan polisi tapi jangan kolutif. Bahaya kalau ada yang dekat dengan polisi tetapi berkolusi.

Lihat saja KONTRAS, mereka dekat dengan polisi tapi tetap memberikan kritikan dan koreksi karena itu memang fakta di lapangan.

Hanya, untuk soal fakta di lapangan itu, jangan diartikan bahwa semua sistem di kepolisian dan 400 ribu orang anggota kepolisian, disebut brengsek semua dan rusak.

Apakah kalau ada 10 atau 20 anggota dari 400 ribu orang kepolisian yang memang brengsek, maka 400 ribu orang anggota kepolisian se-Indonesia ini disebut brengsek juga ?

Yang diberitakan negatif di media massa, harus diakui bahwa itu adalah bagian dari kepolisian.

Bayangkan ini, setiap tahun kami memecat 300 sampai 500 orang polisi yang brengsek.

Pemecatan itu merupakan komitmen kami selaku pimpinan untuk menindak tegas anggota yang brengsek dan melanggar aturan.

Soal pemecatan ini, ada yang bertanya ke saya, “Kenapa sih kok sampai begitu, Nan?

Saya jawab, “Kami sudah mengawasi, Pak. Sudah kasih brainwash dan berbagai peringatan. Alasan yang tepat adalah karena mereka tidak dibawah Polisi sebelum berumur 17 tahun. Setelah berumur 17 tahun, barulah dia bergabung di kepolisian. Jadi, integritas dan moralitas sudah terbangun sebelum masuk ke Polri. Solusinya, kami perintahkan kepada Kapolda dan Kapolres, kalian harus menjaring anggota kepolisian sejak duduk di bangku SD, SMP atau SMA. Misalnya ada yang ingin anaknya jadi polisi, padahal anaknya masih SD. Tidak apa-apa, kami catat. Nanti akan dibina oleh Kapolsek di wilayah mereka masing-masing. Itu sebabnya ada POCIL ( Polisi Cilik ). Kami bina mereka sejak kecil.

(K)  : Anda sendiri memutuskan untuk bergabung di kepolisian sejak umur berapa, Pak Nanan ?

(NS)  :  Kalau saya justru kebalikannya. Dulu saya benci sekali sama polisi ! Saya tidak mau jadi polisi. Waktu saya kelas 1 SMA, saya ingin masuk tentara. Buku-buku bacaan saya semuanya tentang tentara. Lalu saya mendaftar ke tentara karena saya ingin masuk asrama. Ingin masuk Kopassus. Tapi ternyata saya tidak lulus !

Kenapa saya benci sama polisi ?

Soalnya saya digebukin polisi di Bandung. Dipukulin habis-habisan sama polisi. Makanya saya benci sama polisi.

Ternyata sekarang saya jadi polisi …

(K)   :  Sebagai Wakapolri, anda terlihat sangat sibuk mengurusi masalah-masalah internal Polri ya ?

(NS)  :  Betul ! Sebagai Wakapolri, saya adalah penanggung-jawab internal karena disini tidak ada Sekjen. Saya punya tugas, kewajiban dan tanggung-jawab sebagai staf Kapolri, sebagai wakilnya Kapolri, sebagai anak buahnya.

(K)  :   Kita bicara sekarang mengenal Rapat Pra Wanjak (Dewan Kebijakan Jabatan dan Kepangkatan) yang berwenang untuk menentukan mutasi dan kenaikan pangkat di lingkungan Polri. Posisi Wakapolri dalam rapat Pra Wanjak sebagai apa pak ? Maksudnya, seberapa besar kewenangan Wakapolri dalam menentukan mutasi dan kenaikan pangkat di lingkungan Polri ?

(NS)  :  Saya tidak punya kewenangan dalam pra wanjak. Saya cuma mengingatkan agar diajukan yang terbaik. Tidak ada yang boleh menitip. Ajukan lewat bawah. Bayangkan, ada 16 orang pati (perwira tinggi) yang ikut rapat Wanjak. Jadi sekarang kalau rapat pra wanjak, semua bintang 3 ikut rapat dan semua pejabat utama ikut rapat. Dan tidak boleh ada titipan dari atas ! Semua usulan harus dari bawah. Kapolri setuju dengan komposisi rapat wanjak yang seperti ini.

“Oke Nan, setuju”, begitu kata Pak Kapolri.

Jadi dalam rapat wanjak, saya tidak bisa menentukan. Saya tidak berhak mengambil kebijakan. Yang berhak menentukan adalah Kapolri. Saya ini cuma staf ! Saya bukan komandan.

(K)  :  Artinya, jawaban Pak Nanan bisa menjadi sebuah penjelasan kepada sejumlah kecil orang yang tidak mengerti … termasuk juga yang ada di internal Polri, bahwa tidak bisa tudingan bahwa Kapolri sengaja memasang orang-orang terdekatnya. Lalu Wakapolri juga memasang orang-orang terdekatnya.

(NS) :  Tidak benar itu !  Sekali lagi, saya tidak punya wewenang apapun untuk mengambil keputusan dapat menentukan mutasi atau kenaikan pangkat. Posisi saya dalam rapat wanjak adalah pemimpin. Sebatas mengkoordinir saja.

Misalnya saya baca ada nama tertentu diusulkan, saya akan tanya. Nama ini siapa yang mengusulkan ? Kalau tidak ada yang mengusulkan, ya gue coret !

Kalau ada Kapolres yang bagus, silahkan Kapolda ajukan ke atas untuk masuk ke Wanjak. Nanti akan dibahas di Wanjak.

Dan sekarang, kalau mau menentukan satu posisi, calonnya sudah tidak boleh lagi hanya 1 orang. Dulu calonnya cuma 1 orang. Sekarang harus ada 4 orang calonnya. Nanti di Wanjak dibahas.

Kalau misalnya dari 4 calon itu ada A, B, C dan D. Si A sudah bagus penilaiannya tetapi si B lebih bagus. Ya, si A kalah dari B. Maka si A yang akan diputuskan dapat kesempatan.

Itulah upaya saya agar pra wanjak di dalam internal Polri ini transparan !

(K)  : Berarti siapapun yang naik pangkat atau dapat promosi jabatan, tidak ditentukan oleh Wakapolri sebagai pribadi ya?

(NS)  :  Tidak samasekali ! Semua harus lewat wanjak. Apalagi saya sebagai Wakapolri. Saya tidak bisa mengambil keputusan. Saya bukan pengambil keputusan. Saya ini staf-nya Pak Kapolri.

Kalau sudah ada hasil wanjak, saya menghadap ke Kapolri. Saya sampaikan kepada beliau, “Mohon izin Jenderal, hasil wanjak seperti ini”. Nanti beliau yang memutuskan.

Tugas saya adalah membantu dan mewakili Kapolri.

Nah, saya jalani posisi saya sebagai wakil. Tapi bukan berarti saya inggih inggih saja. Saya tetap memberikan saran dan masukan kepada Kapolri.

Jadi kalau ada isu bahwa Kapolri dan Wakapolri bentrok, itu tidak benar  samasekali !

Saya konsisten untuk menyampaikan segala sesuatu yang mengandung kebenaran. Setuju atau tidak setuju, semua tergantu Pak Kapolri sebagai pimpinan.

(K)  :  Kalau ada suara miring yang mengatakan bahwa saat ini ada matahari kembar di Polri, yang maksudnya baik Kapolri atau Wakapolri sama-sama punya kekuatan dan kekuasan masing-masing, itu tidak benar ya ?

(NS)  :  Tidak ada matahari kembar di Polri sebab kami solid. Saya tidak pernah mengambil keputusan apapun. Bahkan saya pun tidak boleh mewakili Pak Kapolri, kalau tidak ada perintah dari beliau. Harus ada disposisi dari beliau dulu, baru Wakapolri boleh tampil. Itulah sebabnya saya tidak pernah mau bicara kepada wartawan karena bisa keliru.

Banyak wartawan bilang, Pak Nanan sekarang sombong ! Saya jawab, “Lho, saya ini wakil, saya tidak boleh bicara sembarangan”.

Saya tampil di acara televisi Kick Andy, saya tampil karena Kapolri yang memerintahkan.

“Nan, tampil kamu disitu !”. Saya jawab “Siap pak !”.

Lalu Kapolri memerintahkan lagi saya tampil di acara Tukul, saya tampil. Sepanjang ada perintah dari Kapolri agar saya  tampil, maka saya akan tampil.

Kalau tidak ada perintah dari Kapolri, saya tidak boleh tampil dan  tidak boleh bicara.

(K)  :  Sebenarnya seperti apa hubungan kerja antara Kapolri dan Wakapolri saat ini ? 

(NS)  :  Bagus sekali. Beliau sangat peduli pada staf. Saya juga demikian. Kalau ada yang menuding bahwa saya ingin menggeser Kapolri, itu fitnah. Saya tidak punya niat seburuk itu. Bulan Juli tahun depan, saya pensiun. Tidak mungkin saya menggeser beliau sebagai Kapolri.

(K)  :  Untuk menutup wawancara ini Pak Nanan, apa harapan anda kepada masyarakat ?

(NS)  :   Harapan saya adalah tolong diawasi, dikoreksi dan ditegur polisi-polisi ini agar kami bisa menjadi pelayan yang prima, tidak KKN dan tidak melakukan kekerasan. Kemudian, jangan mau konpromi sama polisi-polisi yang korup !

Kemudian, tolong kami dibantu untuk bisa mendapatkan calon-calon polisi yang siap menjadi pelayan. Mau saudara, mau anak, ayo, jadi polisi !

Lalu harapan saya, mari kita sama-sama mematuhi hukum !

(K)  : Baik, Pak Nanan Soekarna terimakasih untuk wawancara ini. Selamat bertugas untuk anda dan juga untuk Pak Kapolri.

 

 

 

 

MS

About these ads

Comments are closed.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 12,080 other followers