Kunci Penting Penyelesaian Konflik Di Suriah Adalah Asma Al Assad

Presiden Suriah Bashar Al Assad bersama sang istri, Asma, di sebuah restoran di Paris, tahun 2010

 

Jakarta, 23 Juli 2012 (KATAKAMI.COM)   —  Asma Al Assad, isteri Presiden Suriah Bashar Al Assad, ketiban dampak yang sungguh tak enak atas tragedi yang berkepanjangan dan semakin mengerikan di negaranya.

Wanita yang lahir di Inggris, 11 Agustus 1975 ini, ikut menjadi sasaran kemarahan dan caci maki dunia atas memburuknya situasi yang terjadi di Suriah.

Padahal belum tentu ia bersalah atau menjadi penyebab kekisruhan situasi politik dan keamanan disana.

Ia hanya seorang isteri dengan predikat sebagai Ibu Negara sejak dinikahi Bashar Al Assad pada bulan Desember 2000. Asma, wanita berpendidikan yang memang berparas sangat cantik.

Kebencian pada figur Bashar Al Assad mau tak mau membuat Asma ikut dibenci dan menerima konsekuensi yang sangat pahit. Segala hal yang menyangkut dirinya dari sudut pandang negtif menjadi santapan media internasional.

Tetapi satu hal yang dilupakan oleh banyak pihak, Asma adalah satu-satunya kunci penting yang bisa menghubungkan harapan dunia kepada Presiden Bashar Al-Assad.

Jika seseorang yang dianggap bisa berperan dipojokkan dan dbuat menjadi sangat ternistakan, maka ia akan membentengi dirinya dengan sangat kuat agar tak dapat lagi bersentuhan dengan “dunia luar”.

Padahal, wanita ini adalah jembatan penghubung yang dapat menjadi “pembisik” yang baik kepada sang suami.

 

Bashar Al Assad dan isterinya, Asma, merayakan ulang tahun salah seorang anak mereka

 

Asma diberitakan telah “diamankan” keluar Suriah pasca pemboman yang menewaskan Menteri Pertahanan Suriah beberapa hari lalu, yaitu melarikan diri ke Rusia.

Serangan yang menewaskan Menteri Pertahanan Suriah cukup menggemparkan dunia.

Seperti yang diberitakan BBC, Menteri Pertahanan Suriah, Daoud Rajiha, tewas dalam serangan bom bunuh diri di kantor pusat Biro Keamanan Nasional di ibukota Damaskus, hari Rabu (18/07/2012).

Tewasnya Menhan Rajiha ini disiarkan oleh televisi pemerintah.

Televisi pemerintah Suriah memberitakan hari Rabu (18/07) bahwa ipar laki-laki Presiden Bashar al-Assad, Assef Shawkat, tewas dalam serangan bunuh diri di ibukota Damaskus.

Ia tewas bersama Menteri Pertahanan Daoud Rajiha dalam serangan bom bunuh diri di kantor pusat Biro Keamanan Nasional.

Serangan ini juga menyebabkan beberapa orang lainnya mengalami luka parah.

Para pejabat tinggi Suriah tengah menggelar pertemuan di dalam gedung ketika serangan terjadi dan lokasi kejadian, di distrik Rawda, saat ini telah ditutup.

Serangan bom bunuh diri terjadi ketika pemberontak melancarkan serangan besar-besaran ke Damaskus, meski para pejabat Suriah menegaskan bahwa serangan ini tidak sebesar yang diperkirakan, demikian yang dikutip dari BBC.

 

Asma Al Assad

 

Kabar tentang larinya Asma ke Rusia telah dibantah oleh pejabat Suriah.

Duta Besar Suriah untuk Rusia Riyad Haddad, Kamis (19/7/2012 membantah kabar tentang keberadaan Asma di Rusia).

“Ini adalah informasi yang tidak benar. Istri Presiden Assad tidak datang ke Moskow,” kata Haddad kepada wartawan di Moskow, Rusia. Haddad menambahkan bahwa Asma al-Assad tetap berada di Damaskus, Suriah, bersama dengan suami dan anggota keluarga lainnya.

Tak penting dimana sebenarnya keberadaan Asma saat ini …

Yang harus disampaikan disini adalah Asma memegang peranan yang sangat penting dalam situasi yang sangat kisruh, kusut dan serba mengerikan seperti ini di Suriah.

Ia harus berbicara dan mampu memberikan keseimbangan yang sangat menenangkan untuk sang suami.

Dalam situasi dimana negara dinyatakan dalam keadaan “tak aman” atau lebih tepat disebut terguncang secara hebat, tentu yang terus memberikan laporan dan masukan kepada Bashar Al Assad adalah pejabat-pejabat di bidang politik, keamanan dan intelijen.

Asma, satu-satunya yang bisa berbicara kapan saja dia ingin bicara dengan sang suami.

Asma, satu-satunya yang tahu, saat seperti apa sang suami paling enak untuk diajak berbicara dan berdiskusi.

Asma, satu-satunya yang pasti akan sangat dicari Bashar Al Assad, jika sang presiden sudah merasa sangat jenuh, geram atau muak dengan situasi keamanan yang justru semakin memburuk di negaranya.

Sehingga, peran Asma saat ini memang sungguh sangat strategis, sangat menentukan dan akan ikut berperan dalam kebijakan-kebijakan yang akan diambil Presiden Assad.

 

President Bashar Al Assad and his family (Photo : PresidentAssad.Net)

 

Asma, bukan cuma sekedar “mawar padang pasir”.

Ia lebih dari itu !

Ia justru menjadi pohon mawar yang setiap hari akan berbunga dengan “indah” di tengah keluarga besarnya, terutama suami dan anak-anaknya.

Tetapi, keindahan dirinya jangan justru tenggelam akibat sangat buruknya penilaian banyak pihak kepada dirinya.

Asma tetap harus menunjukkan bahwa sebagai ibu negara ia ada “disana” untuk rakyatnya.

Ada baiknya Asma merenung sejenak dalam kesendiriannya, cukup bijaksanakah jika sang suami tetap bertahan dalam kekuasaannya di tengah tekanan dan desakan dari komunitas internasional untuk turun dari jabatannya.

Sebagai seorang perempuan yang terpelajar dan sangat terhormat, Asma harus membuktikan bahwa kadangkala “insting” seorang istri jauh lebih peka dan lebih baik dibanding suami yang sangat berada di puncak kekuasaannya.

Dengarkan suara hati dengan sangat cermat.

Sebab hanya suara hati kita sendirilah yang sangat dapat dipercaya jika situasi kehidupan sudah sangat mencemaskan.

Tak soal dimana sebenarnya keberadaan anda saat ini, Asma …

Yang terpenting adalah bagaimana anda menjadi pembisik yang baik ke telinga suami disaat situasi disana sudah sangat memburuk.

Dan bisikan anda, akan sangat menentukan segala sesuatunya.

To the world, you may be one person; but to the one person, you may be the world, Asma …

Jadi, hanya Asma Al Assad yang akan dapat membuat sang suami bisa membuat keputusan, apakah akan tetap mempertahankan kekuasaannya di tengah memburuknya situasi keamanan disana, atau sebaiknya menyerahkan kekuasaan ?

Ia adalah KUNCI PENTING yang dapat berperan menyelesaikan masalah sangat besar yang terjadi saat ini di Suriah karena Asma orang terdekat dengan penguasa di negeri ini.

Asma yang dapat menyadarkan dan sekaligus meyakinkan Presiden Assad.

Apakah akan tetap mempertahankan kekuaasan dengan resiko yang sangat besar ?

Atau memilih untuk mengakhiri kekuasaan ?

Mengalah bukan berarti kalah.

Menyerahkan kekuasaan jangan juga diartikan sebagai sebuah kekalahan.

Sebab yang terpenting dari semua ini adalah tidak membiarkan seluruh rakyat Suriah terus terkorbankan secara sia-sia.

Jadi, apapun nanti keputusan Presiden Assad, pertumpahan darah dan pertempuran yang sudah semakin tak terkendali di Suriah memang harus segera dihentikan.

 

 

 

(MS)

About these ads

Comments are closed.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 19,241 other followers