Jakarta, 25 Juli 2012 (KATAKAMI.COM) — Hari Rabu (25/7/2012) di Washington DC, atau hari Kamis (26/7/2012), kandidat presiden dari Partai Republik Mitt Romney akan memulai perjalanan luar negerinya selama 6 hari ke Inggris, Israel dan Polandia.
Kepergian Romney memang menarik untuk diperhatikan karena ia melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan Barack Obama sepanjang menjadi Presiden Amerika ke 44 yaitu berkunjung ke Israel dalam kapasitasnya sebagai kepala negara. Tetapi dalam kapasitasnya sebagai kandidat presiden Amerika, sesungguhnya Obama sudah lebih dulu mengunjungi Israel yaitu 24 Juli 2008.
Kali ini, apa yang dilakukan Obama semasa menjadi kandidat presiden, dilakukan oleh Romney yaitu mengunjungi Israel menjelang pemilihan umum kepresidenan Amerika bulan November mendatang.
Yang membuat kunjungan Romney ke Israel menjadi sangat sensasional karena diberitakan Romney punya kedekatan dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Mitt dan Bibi Netanyahu adalah teman lama sejak keduanya masih muda.
Tapi terlepas dari persahabatan sejati antara Romney dan Bibi Netanyahu, sepanjang Obama menjadi Presiden Amerika sesungguhnya ada banyak hal yang sudah dilakukan Obama untuk Israel.

Foto kombinasi. Bagian Atas : Menteri Luar Negeri AS, Hillary Clinton berbincang dengan PM Benjamin Netanyahu di Yerusalem, 16 Juli 2012. Bagian bawah kiri : Menteri Pertahanan AS Leon Panetta menyambut kedatangan Menteri Pertahanan Israel Ehud Barak yang berkunjung ke Pentagon, 19 Septembr 2011. Foto kanan bawah : Duta Besar AS untuk PBB, Susan Rice.
Dan semua yang dilakukan Obama untuk Israel benar-benar menunjukkan bahwa Obama begitu memanjakan Israel.
Bahkan, dukungan Obama yang terkesan sangat berlebihan untuk Israel disaat-saat komunitas internasional hendak menggebuk Israel, terlihat nyata saat tangan Duta Besar Amerika untuk PBB, Susan Rice, terangkat menyatakan Amerika menggunakan HAK VETO mereka untuk menggagalkan Resolusi Dewan Keamanan PBB yang hendak mempermasalahkan pembangunan perumahan Yahudi yang dinilai ilegal oleh PBB.
Terangkatnya tangan Susan Rice (Jumat, 18 Februari 2011), untuk menyatakan VETO Amerika menentang resolusi DK PBB atas pembangunan perumahan Yahudi, tentu atas perintah dari Presiden Barack Obama.
Dan VETO Amerika itu dikecam oleh komunitas internasional yang sudah sangat ingin menyelesaikan masalah pembangunan perumahan Yahudi di tanah Palestina lewat jalur PBB.
Tak cuma lewat Susan Rice, kebijakan-kebijakan Obama yang terkesan melindungi, mengamankan dan menguntungkan Israel, bisa dilihat dari kedua menterinya yaitu Menteri Luar Negeri Hillary Clinton dan Menteri Pertahanan Leon Panetta.
Memang, Hillary sulit untuk menunjukkan keakraban yang berlebihan dengan PM Netanyahu.
Ini disebabkan karena PM Netanyahu memang bukan figur yang mudah untuk “dikendalikan” oleh Gedung Putih dalam masa kepemimpinan Obama.
Tetapi, sepanjang Hillary Clinton menjadi Menteri Luar Negeri, mantan ibu negara Amerika ini tak pernah ragu untuk selalu membela kepentingan Israel dalam kebijakan-kebijakan luar negerinya.
Walau menjadi orang terdepan dalam pemerintahan Obama yang sangat membela Israel, Hillary tetap bisa bersikap kritis terhadap Israel jika Netanyahu “kambuh” mengumumkan bahwa pemerintah Israel menyetujui pembangunan perumahan Yahudi.

Menteri Pertahanan AS, Leon Panetta, berpelukan dengan Menteri Pertahanan Israel, Leon Panetta, saat Ehud Barak berkunjung ke Pentagon, 19 September 2011.
Lain lagi dengan Leon Panetta.
Sepanjang Panetta menjadi Menteri Pertahanan, mantan Direktur CIA ini bisa bolak balik bertemu dengan Menteri Pertahanan Israel Ehud Barak.
Panetta ke Israel. Atau, Ehud Barak ke Pentagon (Departemen Pertahanan AS).
Panetta memang tak seperti Hillary yang kerap terdengar lantang bersuara membela atau mendukung Israel ke hadapan publik.
Yang banyak keluar dari Panetta untuk Israel sepanjang ia menjadi Menteri Pertahanan memang bukan kata-kata.
Tetapi, yang banyak keluar dari Pentagon untuk Israel adalah uang, uang dan uang.
Baik semasa Robert Gates menjadi Menteri Pertahanan, atau saat Leon Panetta menggantikan posisi Robert Gates di Pentagon sejak tahun 2011, dari Pentagonlah mengalir begitu banyak bantuan keuangan Amerika untuk Israel.
Melalui Pentagon, Obama mengalirkan begitu banyak uang untuk Israel atas nama dukungan Amerika atas keamanan nasional Israel.
Bantuan keuangan dari Pentagon untuk Israel bagaikan keran air yang mengucur sangat deras.
Jadi, kalau Panetta dan Ehud Barak bertemu, keduanya memang sangat akrab bagaikan film anak-anak TELETUBBIES.
“Berpelukan !”
Artinya, kedekatan Departemen Pertahanan Amerika dan Departemen Pertahanan Israel sudah tak bisa ditutup-tutupi.
Bahkan kalau mau berkelakar, satu pelukan dari Panetta bila Ehud Barak berkunjung menandakan akan mengalirnya bantuan-bantuan uang berikutnya untuk keamanan Israel.
Mitt Romney, yang lahir di Detroit, 12 Maret 1947 ini, cukup pintar mencermati salah satu titik kelemahan Obama dalam kaitan dengan Israel.
Romney bertandang ke Israel, disaat Obama belum pernah lagi mengunjungi Israel sepanjang menjadi Presiden Amerika Serikat.
Romney bertandang ke Israel, untuk menunjukkan bahwa ia memang akan diterima dengan sangat hangat dan akrab oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Romney bertandang ke Israel, untuk membuktikan bahwa ia bukan sekedar omong kosong saat mengaku adalah teman lama dari Bibi Netanyahu.
Walau beberapa waktu lalu, Netanyahu sempat mengatakan bahwa antara dirinya dan Romney tak begitu akrab, tetapi rencana pertemuannya dengan Romney kali ini akan secara jujur menunjukkan kedekatan mereka.
Menjelang kunjungan Romney ke Israel, Obama berjanji akan berkunjung ke Israel jika terpilih kembali untuk periode kedua sebagai Presiden Amerika.
Tetapi untuk hal ini Romney, boleh sedikit merasa senang bahwa janji Obama itu agak terlambat.
Namun, untuk bisa menilai kebijakan Obama dalam hal Israel, tak boleh hanya dinilai dari pernah atau tidaknya Obama berkunjung ke Israel sepanjang menjadi Presiden.
Penilaian tentang bagaimana Obama mendukung, membela dan membantu Israel, harus diambil secara keseluruhan sepanjang Obama menjadi Presiden Amerika.
Obama, lewat 3 nama yaitu Hillary Clinton, Leon Panetta dan Susan Rice, sudah secara sungguh-sungguh menempatkan Amerika sebagai sekutu utama Israel.
Barangkali Bibi Netanyahu memang tak punya maksud buruk pada Obama jika dalam pekan ini memutuskan untuk menerima kunjungan Mitt Romney.
Kedekatan Israel dengan Partai Republik (walaupun dengan Partai Demokrat pun Israel juga dekat), Bibi tidak dalam kapasitas bisa menolak rencana kunjungan Romney.
Kalau misalnya Obama pun berkunjung ke Israel, Bibi pasti akan menyambut dengan keakraban dan kehangatan yang sama dalam kapasitasnya sebagai Perdana Menteri.
Bukan Bibi yang menentukan, apakah seluruh seluruh pemilih Yahudi di Amerika akan memilih Obama atau tidak.
Tetapi, Yahudi yang mempunyai hak pilih di Amerika, tentu punya penilaian tersendiri apakah memang Obama adalah sahabat sesungguhnya dari Israel.
Antara Netanyahu, Romney dan Obama, bagaikan “CINTA SEGITIGA POLITIK” yang memang sangat menarik.
Saat Amerika akan menggelar pemilihan umum kepresidenan, dua kandidat presidennya adalah cinta yang tak terpisahkan dari Netanyahu.
Memang seperti cinta segitiga antara Netanyahu, Romney dan Obama.
Romney adalah teman lamanya, merupakan kandidat presiden dari Partai Republik yang memang sangat amat kuat mendukung Israel.
Obama, yang kini menjadi Presiden Amerika, merupakan sekutu utama dan sekutu terkuat Israel.
Walau disebut-sebut mempunyai hubungan yang tak mesra dengan Obama tetapi sepanjang Netanyahu menjadi Perdana Menteri, dukungan, pembelaan dan bantuan keuangan untuk keamanan Israel dari Pemerintahan Obama sangat amat besar.
Walau disebut-sebut mempunyai hubungan yang dingin dengan Obama, faktanya kedua lelaki yang bertangan kidal ini yaitu Obama dan Netanyahu, sebenarnya saling seiring sejalan dalam kebijakan-kebijakan luar negeri.
Jadi, kunjungan Romney ke Israel tak perlu terlalu dirisaukan.
Manuver politik Romney memang sedang diatas angin saat secara mengejutkan ia akan bertamu ke Israel, yang merupakan tanah kelahiran dari seluruh pemilih Yahudi yang akan memberikan suaranya bulan November mendatang.
Tetapi, Obama pun juga sudah lebih dulu melakukan itu yaitu mengunjungi Israel saat dirinya berstatus sebagai kandidat Presiden Amerika.
Hanya saja, Obama “belum sempat” berkunjung kembali ke Israel sepanjang ia menjabat sebagai Presiden.
Dan sekedar untuk selingan, jauh lebih beruntung INDONESIA dibanding Israel sebab Obama sudah dua kali datang berkunjung ke INDONESIA.
Sorry Bibi … !
Lalu, spekulasi di media bahwa Israel lebih senang mendukung Romney dalam menyoroti masalah nuklir Iran.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa saat ini Barack Obamalah yang duduk sebagai Presiden Amerika Serikat sehingga kebijakan luar negeri yang berlaku secara resmi mengenai masalah Iran hanya datang dari satu pintu yaitu Gedung Putih.
Tak ada bedanya kebijakan Mitt Romney dan Barack Obama soal Iran.
Romney ingin Amerika lebih keras menyikapi masalah nuklir Iran.
Tetapi sesungguhnya sanksi yang dijatuhkan Obama terhadap Iran selama ini sudah sangat keras dan sungguh “tidak berperikemanusiaan !”
Keinginan Israel untuk melakukan serangan militer ke Iran, tak harus didukung oleh Amerika dalam situasi seperti saat ini.
Israel memang berbeda dari negara-negara lain.
Terkesan bahwa Israel berpendirian seperti ini dalam menyikapi masalah-masalah tertentu didunia yaitu “Hajar dulu, mikirnya baru belakangan !”.
Jadi, apapun yang terjadi dalam politik dalam negeri Amerika menjelang pemilihan umum kepresidenan, ilustrasi yang paling tepat untuk Israel bagi para kandidat presiden Amerika tetap bagaikan “gadis cantik” yang jadi rebutan.
Barack Obama dan Mitt Romney sedang berebut suara Yahudi menjelang pertarungan politik mereka bulan November mendatang.
Jadi, semua mata akan terus menyaksikan bagaimana pertarungan berikutnya dari rivalitas Obama dan Romney.
(MS)

July 25, 2012 




Comments are closed.