Perjalanan Timur Tengah Leon Panetta Ibarat “Dancing Like A Star”

Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Leon Panetta

 

Jakarta, 2 Agustus 2012 (KATAKAMI.COM)  —  Dalam 4 hari perjalanan keluar negerinya dalam pekan ini, Menteri Pertahanan Amerika Serikat Leon Panetta mengunjungi 4 negara yaitu Tunisia, Mesir, Israel dan Yordania.

Pria kelahiran California, 28 Juni 1938 ini mengusung isu tentang Iran dan Suriah dalam tur di kawasan Timur Tengah kali ini.

Negara pertama yang disinggahinya adalah Tunisia (30/7/2012).

Di Tunisia, Panetta mengecam Presiden Suriah Bashar Al Assad.

“Jika kamu ingin mampu melindungi dirimu dan keluargamu, sebaiknya keluar dari neraka ini sekarang,” ucapannya itu ditujukan kepada Presiden Suriah Bashar al-Assad lewat wawancara Panetta dengan CNN.

Panetta juga mengatakan AS tak ingin mengulangi kesalahan yang dibuat di Irak.

“Amerika Serikat dan komunitas internasional sudah sangat jelas sikapnya bahwa bahwa konflik ini mendorong kami melakukan tekanan diplomatik dan ekonomi terhadap Suriah untuk menghentikan kekerasan, demi melengserkan Assad dan masuk ke dalam bentuk pemerintahan transisi,” katanya.

 

Menteri Pertahanan Amerika Serikat, duduk di tengah, berbincang dengan Presiden Mesir Muhammed Mursi, 31 Juli 2012

 

Usai berkunjung ke Tunisia, Panetta “terbang” ke Mesir.

Di Kairo, Panetta menggambarkan Mursi “tokoh yang berdiri sendiri” di samping kaitannya dengan Ikhwanul Muslimin.

Panetta memuji Mursi karena bertekad untuk melakukan reformasi demokrasi. Panetta juga menyebut bahwa hubungan militer Amerika-Mesir penting bagi kestabilan kawasan itu selama 30 tahun terakhir.

“Militer AS menjadikan Mesir sebagai mitra strategis. Oleh karena itu, AS memberi perhatian besar terhadap Mesir yang sedang menata kehidupan demokrasi,” kata Menhan Panetta usai bertemu Presiden Mursi di Istana Presiden di Kairo.

Panetta berpendapat, AS akan terus memperkuat kerja sama militer dengan Mesir untuk menjamin dan memelihara stabilitas keamanan kawasan.

Presiden Mursi dalam pertemuan tersebut didampingi Ketua Dewan Angkatan Bersenjata (SCAF), Marsekal Hussein Tantawi.

Panetta memuji peran penting SCAF dalam memelihara keamanan di masa transisi pasca tumbangnya rezim pimpinan Presiden Husni Mubarak pada awal tahun lalu.

“Selain berperan penting memelihara keamanan, SCAF juga mendukung terciptanya pemilihan umum yang damai dan demokratis,” katanya.

 

Menteri Pertahanan Amerika Serikat Leon Panetta, tengah, disambut oleh Menteri Pertahanan Israel Ehud Barak, dalam kunjungan ke Israel, 1 Agustus 2012

 

Selesai bertandang ke Mesir, mantan Direktur CIA ini merapat ke ke Israel.

Panetta tiba di Israel hari Rabu (1/8/2012).

Keberadaan Panetta yang merupakan Menteri Pertahanan Amerika ke 23 ini di Israel, bisa dibilang untuk “pamer” bahwa antara Amerika dan Israel tetap terjalin kerjasama militer yang kokoh dan bersinergi.

Kedatangan Panetta ke Israel ini juga bersamaan dengan sanksi baru yang dikenakan AS kepada Iran di sektor minyak.

Dan kebetulan, topik mengenai Iran memang merupakan agenda pembahasan yang paling “seksi” disampaikan Panetta kepada para pemimpin Israel.

Menteri Pertahanan Amerika Serikat Leon Panetta mengingatkan bahwa Amerika akan mengambil langkah militer untuk mencegah upaya Iran dalam mengembangkan senjata nuklirnya.

Hal ini disampaikan Panetta saat bertemu dengan Menteri Pertahanan Israel Ehud Barak di Ashkelon, Israel, Rabu (1/8/2012).

Dalam kesempatan itu Panetta juga mengatakan bahwa mereka akan melakukan sejumlah upaya untuk menghentikan upaya Iran sebelum sampai pada langkah militer.

“Kami akan mencoba mengupayakan sejumlah upaya sebelumnya,” kata Panetta.

“Sudah menjadi tanggung jawab saya sebagai menteri pertahanan untuk memberikan pilihan yang luas kepada presiden termasuk mengambil langkah militer jika jalur diplomatik gagal.”

Panetta juga mengatakan prioritas pemerintahan Presiden Obama saat ini adalah mencegah upaya Iran yang berniat mempersenjatai diri mereka dengan nuklir.

Langkah keras juga akan dilakukan Israel terhadap Iran jika negara itu tetap bersikeras mengembangkan senjata nuklir.

 

Menteri Pertahanan Amerika Serikat, LEON PANETTA, kiri, berbincang dengan Raja Abdullah dari Yordania, di Istana Kerajaan Yordania di Amman, 2 Agustus 2012

 

Sesungguhnya kalau dibaca secara sederhana, tur perjalanan Panetta kali ini adalah untuk menunjukkan bahwa Amerika tidak pernah lemah dan akan tetap punya pendirian yang sangat kuat dalam menyikapi krisis nuklir di Iran dan krisis keamanan di Suriah.

Sebab kandidat presiden Amerika dari partai Republik, Mitt Romney mengkritik pemerintahan Obama tidak tegas dalam menyikapi permasalahan di Iran dan Suriah sebab seakan-akan menyerahkan peran Amerika kepada Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).

Terlihat betul bahwa Panetta ingin memperlihatkan bahwa sesungguhnya ada ketegasan yang sangat jelas dari Amerika sebagai sebuah kekuatan dunia.

Terlihat juga dengan jelas bahwa Panetta berusaha menempatkan dirinya sebagai seorang Menteri Pertahanan yang tak boleh ikut terseret dalam “cekcok” urusan-urusan politik saat kedua kandidat presiden Amerika saling serang soal-soal keamanan dan perdamaian dunia.

Ia melobi ke sejumlah negara. Mengulurkan tangan tanda persahabatan dan kemitraan yang sejajar.

Di Mesir, Muhammed Mursi yang baru terpilih sebagai Presiden, untuk kedua kalinya menerima pejabat penting Amerika (setelah sebelumnya Mursi menerima kunjungan Hillary Clinton pada tanggal 14 Juli lalu).

Sehingga menjadi tanda tanya besar, mengapa Mursi bersedia bertemu secara berturut-turut dengan para petinggi Washington tetapi tetap bersikukuh tak sudi bertemu atau berkomunikasi dengan para pemimpin Israel ?

Sebab, Amerika dan Israel adalah sekutu utama yang seiya sekata, seiring sejalan dan begitu menyatu tak terpisahkan.

Dalam bahasa yang lebih bersayap, antara Amerika dan Israel ya “setali tiga uang” alias sama saja !

Tetapi, disinilah kelebihan Amerika, ada saat dimana mereka bisa menunjukkan keistimewaan posisi mereka dalam situasi-situasi tertentu.

Barangkali karena di balik kunjungan-kunjungan para pejabat penting Amerika ( terutama Leon Panetta sebagai pimpinan Pentagon) ke sejumlah negara, dimungkinkan akan mengalir bantuan-bantuan keuangan ( yang tak mungkin bisa didapat dari Israel ).

 

Dua kandidat presiden Amerika, Mitt Romney dari Partai Republik, dan Barack Obama dari Partai Demokrat

 

Panetta tampaknya dapat menjadi salah satu alternatif yang bisa dipertimbangkan presiden terpilih Amerika ( entah siapapun nanti pemenangnya ) untuk menduduki jabatan sebagai Menteri Luar Negeri.

Apalagi jika ternyata Barack Obama yang terpilih kembali untuk periode kedua.

Setelah dipastikan bahwa Hillary Clinton tak ingin dimasukkan kembali dalam kabinet Obama jika terpilih kembali, maka Obama akan kehilangan salah satu pilar kuat yang menopang pemerintahannya selama ini.

Panetta, tampaknya akan menjadi figur yang dapat menutupi kelemahan yang akan terjadi saat Hillary Clinton tak ada dalam barisan pemerintahan Obama.

Perjalanan Panetta kali ini ke sejumlah negara misalnya, secara langsung dan tak langsung, menolong menyelamatkan wajah Obama saat Mitt Romney menggelar perjalanan luar negeri ke Inggris, Israel dan Polandia.

Panetta bergerak kesana dan kemari, tanpa sedikitpun mengeluarkan pernyataan yang menyerang Romney.

Tetapi dari perjalanannya ke  Timur Tengah kali ini, setiap mata yang memandang akan mengerti bahwa kalau Panetta tak bergerak cepat seperti ini maka Obama akan tersudutkan sedemikian rupa akibat kelincahan Romney melobi sejumlah negara.

Lebih asyik mengamati perjalanan Panetta, daripada membaca dan melihat dari perkembangan media massa tentang percekcokan politik yang sangat sengit antar politisi Amerika dari dua kubu yaitu dari Partai Demokrat dan Partai Republik.

Terutama rivalitas yang semakin memanas antara Obama dan Romney.

Panetta juga yang mengamankan kebijakan-kebijakan kontroversial Obama saat mengizinkan kaum homoseksual (gay) untuk tidak mengalami diskriminasi lagi dalam karier mereka di militer dan kebijakan Obama lainnya saat memotong anggaran militer Amerika.

Panetta, ibarat seorang bintang, yang menari dengan gerakan-gerakan yang cantik.

“Dancing like a star”.

Dan Pentagon tampaknya harus bersiap-siap kehilangan “bintang” mereka jika ternyata Panetta memang dianggap layak untuk menggantikan Hillary Clinton sebagai Menteri Luar Negeri.

Toh dulu, dalam kabinet George W. Bush, Colin Powell yang dipilih untuk menjadi Menteri Luar Negeri ( tahun 2001-2005 ).

Jadi, posisi yang sangat penting di Departemen Luar Negeri Amerika tak melulu harus didominasi oleh perempuan.

Kita lihat saja nanti bagaimana perkembangan perpolitikan Amerika yang semakin akan mencapai puncaknya pada November mendatang lewat pemilihan umum kepresidenan.

 

 

(MS)

About these ads

Comments are closed.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 12,080 other followers