Tumben Putin Bicara Afghan Saat Suriah Terkungkung Pertempuran
Kunci Penting Penyelesaian Konflik Di Suriah Adalah Asma Al Assad
Bashar Al Assad Berlindung Dibalik Putin Power Versus Obama Power
Jakarta, 3 Agustus 2012 (KATAKAMI.COM) — Akhirnya, utusan khusus PBB untuk Suriah, Kofi Annan, menyatakan akan mengundurkan diri dari perannya sebagai utusan PBB dan Liga Arab.
Kofi Annan akan mengundurkan diri per tanggal 31 Agustus mendatang.
Sekjen PBB Ban Ki-moon mengatakan, Kofi Annan mengundurkan diri dari jabatannya sebagai utusan PBB dan Liga Arab untuk perdamaian Suriah.
Pengumuman pengunduran diri Annan mulai akhir bulan ini disampaikan oleh Sekretaris-Jenderal PBB Ban Ki-moon. Ban, yang mengatakan ia membuat pengumuman itu dengan “penyesalan mendalam” menyampaikan terima kasih tak terhingga kepada Annan atas cara Annan menggunakan keterampilan dan prestasinya untuk menjalankan tugas tersulit ini. Sekjen Ban mengatakan ia kini berkonsultasi dengan Liga Arab mengenai pengangkatan segera seorang pengganti.
Annan, Sekjen PBB tahun 1997 sampai 2006 itu, ditunjuk sebagai utusan damai untuk Suriah pada bulan Februari.
Annan menyiapkan rencana perdamaian dengan enam pasal, di antaranya, mengimbau proses politik pimpinan Suriah untuk membahas aspirasi sah rakyat Suriah, dan juga gencatan senjata yang diawasi PBB. Namun rencana itu tidak pernah diterapkan sepenuhnya. Dalam konferensi pers di Jenewa, Annan mengatakan keprihatinan utamanya adalah kesejahteraan rakyat Suriah.
“Peningkatan militerisasi di lapangan dan tidak adanya persatuan yang jelas dalam Dewan Keamanan, mengubah secara mendasar keadaan untuk melaksanakan secara efektif peran saya. Namun pertumpahan darah terus berlanjut karena sikap keras kepala dan penolakan pemerintah Suriah seterusnya untuk menerapkan rencana enam pasal itu, dan juga karena meningkatnya kampanye militer pihak oposisi,” ujarnya.
Annan juga menyalahkan apa yang disebutnya tidak ada persatuan dalam komunitas internasional dan saling tuding di Dewan Kemanan PBB.
Mundurnya Annan dari misi penting di Suriah, mau tak mau membuat kita teringat pada dua nama yang sangat amat penting di dunia ini yaitu Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Amerika Serikat Barack Obama.
Sebab, mau seberapapun banyaknya negara yang menjadi anggota PBB, khususnya yang berwenang menjadi anggota Dewan Keamanan PBB, fakta yang terlihat didepan mata adalah sulitnya Rusia dan Amerika menemukan kata sepakat tentang apa yang sesungguhnya perlu dilakukan untuk menyelamatkan Suriah.
Ibarat kata, Putin membawa Rusia belok ke kiri, lalu Obama membawa Amerika belok ke kanan, sehingga masing-masing sulit dipertemukan untuk bisa satu suara dalam penyelesaian masalah Suriah.

Utusan Khusus PBB untuk Suriah, Kofi Annan, berjabatan tangan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Istana Kepresidenan Rusia, 17 Juli 2012
Baik Putin, maupun Obama, belum ada yang memberikan komentar langsung atas mundurnya Annan.
Tetapi masing-masing Duta Besar mereka sudah bersuara untuk mengomentari keputusan Kofi Annan “angkat kaki” dari misi Suriah ini.
Rusia, yang memveto rencana resolusi Dewan Keamanan PBB, menyatakan penyesalannya atas mundurnya Kofi Annan.
“Moskow selalu memberikan dukungan terhadap kerja Annan,” kata Duta Besar Rusia untuk PBB, Vitaly Churkin.
Duta Besar Amerika untuk PBB, Susan Rice, berterima kasih kepada Annan atas jasanya.
Tetapi dalam sebuah pernyataan, Rice mengatakan misi Annan tidak akan pernah berhasil selama rezim Assad terus mengingkari janjinya untuk menerapkan rencana enam pasal itu.
Rice juga menambahkan ketika Rusia dan Cina mengganjal upaya Dewan Keamanan PBB untuk memberikan konsekuensi signifikan bagi ketidakpatuhan, Rusia dan Cina secara efektif membuat misi Annan mustahil berhasil.
Komentar atas mundurnya Annan juga datang dari Duta Besar Prancis Gerard Araud.
Ia mengatakan dalam konferensi pers bahwa perbedaan pendapat di kalangan ke-15 anggota Dewan Keamanan itu sama besarnya seperti sebelumnya. Berbicara melalui penerjemah, ia memprediksi bentrokan bakal terjadi lagi manakala Dewan mempertimbangkan perpanjangan misi pengamat PBB di Suriah, yang mandatnya akan habis tanggal 19 Agustus.
Araud mengatakan, “Tidak akan ada kesepakatan. Saya rasa misi itu akan bubar saja tanggal 19 Agustus.Sudah cukup jelas sikap yang diambil pada tingkat tertinggi oleh sejumlah negara anggota di kedua pihak, berarti saya tidak melihat sebuah skenario kecuali jika ada perubahan di lapangan.”

Presiden Rusia Vladimir Putin, kiri, berbincang dengan Perdana Menteri Inggris David Cameron saat menyaksikan pertandingan JUDO pada Pesta Olahraga Olimpiade di London, 2 Agustus 2012
Saat Sekjen PBB Ban Ki Moon mengumumkan keputusan Kofi Annan untuk mundur, Putin sedang berada di London untuk menyaksikan pejudo-pejudo Rusia bertanding dalam pesta olahraga dunia Olimpiade yang berlangsung di London, Inggris.
Bahkan saat menonton pertandingan judo, Putin didampingi Perdana Menteri Cameron dan Menteri Luar Negeri Inggris William Hague.
Sebelum para politisi tingkat dunia ini menonton judo, Putin dan Cameron sudah lebih dulu bertemu secara khusus di Kantor Perdana Menteri Inggris, di Downing Street 10 London.
Seusai pertemuan, Cameron dan Putin memberikan pernyataan bersama. Dalam pernyataan bersama yang sangat singkat itu, kedua pemimpin ini memasukkan topik soal Suriah dalam pernyataan mereka.
Walaupun sebenarnya kalau mau jujur, pernyataan keduanya tergolong sangat standar dan terkesan memberikan wewenang yang lebih besar dan leluasa kepada masing-masing Menteri Luar Negeri mereka untuk mendiskusikan masalah Suriah.
Keduanya, baik Cameron dan Putin, tidak ada yang berkomentar soal mundurnya Kofi Annan sebagai Utusan Khusus PBB untuk Suriah.
Khusus mengenai Suriah, inilah yang dikatakan oleh Cameron dan Putin :
DAVID CAMERON : Hari ini kami telah mendiskusikan tentang hubungan negara kami yang lebih kuat melalui dialog-dialog kami yang sangat penting. Dalam beberapa hal, kami tidak selalu sepakat (setuju). Tetapi kami dapat saling memahami posisi kami masing-masing.
VLADIMIR PUTIN : Kami juga meluangkan waktu yang cukup untuk membahas situasi di Suriah. Kami tlah mencatat tentang pandangan-pandangan kami, serta tentang aspek-aspek tertentu yang bisa mengindetifikasi (permasalahan di Suriah). Kami sepakat bahwa kami akan bekerja sama untuk menemukan solusi terhadap krisis Suriah. Kami akan mendorong Kementerian Luar Negeri kami untuk bekerja sama dan menemukan solusi yang dapat diterima dalam menyelesaikan krisis di Suriah.
Kembali pada Putin dan Obama.
Tak bisa ditutup-tutupi bahwa di balik pertempuan yang makin sengit di Suriah, terlihat nuansa kesenjangan yang mengajak kita untuk melihat seakan-akan ada “perang dingin” antara Gedung Putih (White House) dan Kremlin (Istana Kepresidenan Rusia).
Perang dalam wujud fisik, memang terjadi sampai saat ini di Suriah, utamanya di wilayah Aleppo.
Tetapi, kita dapat merasakan ada perang dingin yang menunjukkan bahwa kuat indikasi bahwa Washington dan Moscow saling adu “power” di balik krisis Suriah.
Putin dan Obama sesungguhnya harus disadarkan bahwa kedua pemimpin ini sama-sama punya POWER yang luar biasa besarnya.
Jika, masing-masing POWER yang mereka miliki disinergikan maka masalah yang sesulit apapun didunia ini, pasti akan menemukan solusi yang terbaik dan kompromistis.
Namun, kalau masing-masing POWER yang ada di tangan Putin dan Obama, saling diadu dan dibenturkan maka dunia akan merasakan dan dapat melihat terjadi guncangan akibat dua jagoan yang sulit sekali akur yaitu Putin dan Obama.
Putin, terlihat sangat gembira dan mau tersenyum, saat pejudo Rusia berhasil menyumbangkan medali emas di Olimpiade London. Apalagi, pertandingan yang berlangsung hari Kamis (2/8/2012) kemarin, disaksikan langsung oleh Presiden Rusia yang notabene juga seorang pejudo hebat.
Seandainya, Putin dan Obama mau akur sedikit saja untuk menyelesaikan krisis di Suriah, maka Putin pasti akan tersenyum juga dengan manis jika rakyat Suriah (terutama yang kini hidup di barak-barak pengungsian) bisa diselamatkan dari krisis yang mengerikan ini.
Substansi penyelesaian masalah Suriah bukan pada Dewan Keamanan PBB yang akan tetap bersidang dan terus memusatkan perhatian mereka pada krisis di Suriah.
Sekali lagi, sesungguhnya penyelesaian krisis Suriah ada di tangan Putin dan Obama.
Sayangnya, kedua pemimpin yang sama-sama punya power ini, lagi sama-sama “sibuk” memberikan atensi mereka kepada atlit negara mereka masing-masing yang berjaya di Olimpiade.
Jadi, mundurnya Kofi Annan sebagai Utusan Khusus PBB untuk masalah Suriah, sungguh dapat dipahami sebagai salah satu “bom waktu” yang meledak akibat kefrustasian Annan melihat jalan yang serba buntu dalam upaya menyelamatkan Suriah.
Mari, kita salahkan Putin dan Obama yang tak kunjung satu suara soal Suriah …
(MS)

August 3, 2012 


Comments are closed.