
Foto kombinasi tentang situasi di Jalur Gaza yang menunjukkan bahwa wilayah ini sudah maju, dimana terdapat hotel berbintang lima, kolam renang bertaraf internasional dan pasar-pasar swalayan. Foto-foto diambil pada era tahun 2010-2011.
Lack of sufficient services in Gaza could get worse without urgent action, UN warns
Jakarta, 28 Agustus 2012 (KATAKAMI.COM) — Sebuah laporan yang gaungnya langsung mendunia tentang situasi “sangat menyedihkan” dan ramalan yang “sangat menakutkan” atas nasib wilayah pendudukan Jalur Gaza datang dari sebuah anak badan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), demikian diberitakan oleh BBC (28/8/2012).
Gaza tidak lagi layak dihuni pada 2020 nanti, kecuali diambil langkah drastis untuk memperbaiki pasok air, listrik, kesehatan, dan pendidikan.
“Gaza akan memiliki setengah juta orang lebih pada tahun 2020, sementara ekonomi akan tumbuh secara perlahan. Karena itu, rakyat Gaza akan memiliki waktu yang lebih sulit mendapatkan air minum yang cukup dan listrik, atau mengirim anak-anak mereka ke sekolah, “kata Maxwell Gaylard, koodinator bantuan kemanusian PBB saat menyampaikan laporan PBB atas kondisi kawasan Palestina tersebut yang diumumkan hari Senin (27/08/2012).
Ia menyampaikan laporan tentang GAZA itu didampingi oleh Jean Gough dari Badan PBB untuk Anak (UNICEF) dan Robert Turner yang menangani masalah bantuan Pengungsi Palestina (UNRWA).
“Saat ini kondisinya sudah sulit, apalagi pada 2020 nanti. Harus diambil langkah-langkah segera agar Gaza tetap bisa ditempati,” kata Gaylard.
“Harus ada tindakan untuk meningkatkan kebutuhan pokok seperti air bersih, listrik, pendidikan, kesehatan, dan beberapa aspek lain,” tambah Gaylard.
Warga yang tinggal di kawasan Gaza mencapai 1,6 juta jiwa dan diperkirakan akan bertambah 500.000 dalam delapan tahun ke depan, 51% di antaranya berusia di bawah 18 tahun.
Dalam lima tahun terakhir Gaza mengalami blokade Israel.
Gaza dikuasai Hamas, kelompok Palestina yang menolak perjanjian damai permanen dengan Israel, sejak 2007.
Hamas dan Israel terlibat perang selama tiga pekan pada Januari 2009 dan Israel sejauh ini menolak desakan internasional untuk mencabut blokade atas Gaza.
GAZA tidak memiliki bandar udara maupun pelabuhan laut dan sering terlibat kontak senjata dengan militer Israel.
Laporan PBB menyebutkan blokade Israel membuat perekonomian Gaza nyaris tak bergerak, demikian BBC melaporkan.

Dokumentasi foto : Perdana Menteri HAMAS, Ismail Haniyeh, kiri, bertemu dengan pemimpin tertinggi HAMAS, Khaled Meshaal, di Mekkah, Arab Saudi tanggal 8 Februari 2007
Setelah kita membaca betapa menyayat hati laporan dan ramalan PBB tentang nasib Gaza, terutama pada tahun 2020 mendatang, maka mari sejenak kita melihat slide foto yang terpasang di awal tulisan ini.
Kecanggihan teknologi saat ini memungkinkan kita dan siapapun yang belum pernah menginjakkan kaki ke Palestina (terutama ke Jalur Gaza) untuk bisa mengetahui situasi riil tentang kondisi disana.
Dari dua tahun lalu yaitu tahun 2010, kemajuan dan pertumbuhan ekonomi di Jalur Gaza sudah bisa dipantau melalui internet.
Hotel berbintang lima, kolam renang bertaraf internasional, restoran dan pasar-pasar swalayan yang menjual barang-barang kebutuhan (bahkan termasuk susu, mainan anak-anak dan buah-buahan segar) tersedia setiap saat disana.
Lalu, kalau dari tahun 2010 saja, ada kemajuan yang sudah diraih dan dibangun oleh pemerintah lokal di Jalur Gaza, mengapa PBB bisa meramalkan sesuatu yang sangat mengerikan untuk situasi di Jalur Gaza pada tahub 2020 mendatang ?
Dari jejaring sosial TWITTER, secara berkala militer Israel mengumumkan bahwa pihak mereka mengizinkan sejumlah barang masuk ke Jalur Gaza.
Misalnya pada hari Minggu, 19 Agustus 2012 lalu, IDF menuliskan pesan mereka sebagai berikut :
“On Thursday, IDF facilitated transfer of 297 trucks with 7,802 tons of goods & gas to Gaza, incl 2,360 tons of aggregate.”
Dan pemberitahuan semacam ini, rutin diumumkan oleh Israel.
Jadi, sebagai badan dunia yang diakui kredibilitasnya, hendaklah PBB berbicara sesuai fakta dan tak melebih-lebihkan.
Jika kita berbicara soal Gaza, maka mau tak mau kita harus bicara tentang HAMAS yang pada faktanya menenangkan pemilu lokal untuk wilayah Gaza.
Mulai tanggal 19 Februari 2006, Hamas dipimpim oleh Perdana Menteri Ismail Haniyeh dari kubu Hamas.
Ismail Haniyeh lahir di perkampungan pengungsi al-Shari pada 29 Januari 1962, tahun 1987 ia lulus dari Universitas Islam Gaza dengan gelar dalam bidang sastra Arab.
Ia lalu dipenjara tanpa tuduhan oleh pemerintah Israel selama tiga tahun dari tahun 1989 hingga 1992.
Setahun kemudian Haniyeh menjadi kepala fakultas di Universitas Islam Gaza. Kemudian pada pemilu 2006, ia dipilih Hamas sebagai calon legislatif urutan pertama Hamas.

Pemimpin HAMAS, Khaled Meshaal, kiri, bertemu dengan Presiden terpilih Mesir, Muhammed Mursi, di Kairo, 19 Juli 2012.
Dalam lobi-lobi internasional, terutama di wilayah Timur Tengah, Hamas tak hanya memunculkan sang perdana menteri dari Jalur Gaza.
Khaled Meshaal, Kepala Biro Politik HAMAS, masih sangat berpengaruh dan berdiri di barisan terdepan dalam lobi-lobi internasional HAMAS.
Bahkan dalam dialog dan penjajakan atas semua kemungkinan persatuan (UNITY) antara Fatah dan Hamas, Khaled Meshaal tak pernah tak muncul.
Khaled Meshaal lahir di Silwad, sebuah desa di utara Ramallah tanggal 28 Mei 1956.
Ia kemudian pindah ke Yordania pada tahun 1967.
Meshaal pindah dari Kuwait ke Yordania pada tahun 1991.
Sejak pengusiran pimpinan Hamas dari Yordania pada Agustus 1999, Meshaal tinggal di Qatar sebelum pindah ke ibukota Suriah Damaskus pada tahun 2001.
Pada bulan Februari 2012, yaitu saat perang sipil Suriah terus berlangsung, Meshaal memutuskan untuk meninggalkan Suriah dan kembali ke Qatar.
Meshaal dan Haniyeh, saat ini menjadi dua ikon Hamas yang paling berpengaruh.
Sehingga, apapun perkembangan, rencana pembangunan, lobi internasional, manuver politik dan semua misi-misi Hamas saat ini dan di tahun-tahun mendatang, sangat tergantung dari kebijakan-kebijakan yang diambil dari mereka berdua.
Terutama Ismail Haniyeh.
Dengan memberikan laporan yang sangat menyedihkan dan ramalan yang sangat menakutkan tentang Gaza versi PBB, sama artinya PBB mengecilkan peran dan kedudukan HAMAS sebagai penguasa Gaza.
Banyak kemajuan secara fisik di Gaza yang telah dilakukan para era kepemimpinan Haniyeh.
Itu harus diakui !
Jangan giring opini dunia bahwa seolah-olah Gaza adalah “neraka dunia”.
Jangan terlalu mendramatisir keadaan bahwa seolah-olah tak ada kehidupan yang layak di Gaza.
Sebab jika terlalu mendramatisir, maka perumpamaan yang bisa diambil adalah ibarat “tong kosong nyaring bunyinya”.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, nomor 3 dari kanan, duduk berdampingan dengan Presiden Israel Shimon Peres, Menteri Pertahanan Ehud Barak (berkacamata), dan Kepala Staf IDF Letnan Jenderal Benny Gantz, pada sebuah upacara Angkatan Udara Israel tahun 2011
Tetapi, dunia sudah mengetahui bahwa perundingan damai antara Israel dan Palestina, terutama kontak-kontak senjata antara militer Israel (IDF) dengan sayap militer HAMAS, masih sangat memprihatinkan perkembangannya saat ini.
Hari Minggu (26/8/2012), Kantor Berita ANTARA melaporkan bahwa tiga roket HAMAS yang ditembakkan oleh para pejuang Gaza berhasil menghantam Israel selatan pada Minggu, dan menghancurkan dua pabrik di kota perbatasan Sderot tetapi tidak menimbulkan korban, kata militer Israel seperti dikutip AFP.
“Dua roket menghantam dua pabrik di zona industri di Sderot, sementara roket ketiga jatuh di satu lapangan terdekat,” kata seorang juru bicara mengacu pada satu kota berpenduduk 24.000 jiwa yang terletak kurang dari satu kilometer dari perbatasan dengan Jalur Gaza yang dikuasai Hamas.
Ketegangan meningkat di perbatasan antara Israel dan Jalur Gaza, dengan para pejuang Palestina menembakkan roket-roket ke negara Yahudi itu dan militer Israel melancarkan serangan udara balasan ke wilayah Palestina.
Bentrokan senjata besar terbaru meletus Juni ketika para pejuang Palestina menembakkan lebih dari 150 roket ke Israel selatan, mencederai lima orang, dan Israel membalas dengan serangan-serangan udara yang menewaskan 15 warga Palestina.
Kemudian hari ini (28/8/2012), Kantor Berita ANTARA juga melaporkan pasukan Israel menggempur dua kompleks bangunan dinas keamanan pemerintah Hamas di Jalur Gaza pada Selasa, mencederai dua warga Palestina.
Israel menegaskan bahwa sasaran-sasaran itu merupakan tempat pembuatan dan penyimpanan senjata dan mengatakan kedua kompleks itu digempur sebagai balasan atas serangan-serangan roket berjarak pendek baru-baru ini yang diluncurkan dari wilayah kantung pesisir itu ke negara Yahudi tersebut, lapor Reuters.
Tak ada korban cedera atau tewas akibat serangan roket kelompok Salaf pada Ahad dan Senin. Para militan dari kelompok itu berada di Gaza dan Sinai (Mesir).
Hamas berkuasa di Gaza tapi pemerintahannya dipandang terlalu moderat oleh kelompok Salaf.
Serangan Selasa (28/8/2012) pagi dilakukan oleh pesawat militer dan kapal-kapal AL Israel dan menjadikan dua kompleks bangunan di Kota Gaza sebagai sasaran, kata pejabat Hamas.
Dua wanita yang rumahnya dekat dengan kompleks tersebut luka-luka terkena puing-puing, kata petugas di rumah sakit.

Kepala Staf IDF (Israel Defense Forces), Letnan Jenderal Benny Gantz, kanan, mengunjungi pasukan IDF Divisi Gaza, 22 Februari 2011
Dunia internasional tak perlu digiring untuk terjebak pada opini yang terkooptasi bahwa Gaza sangat tak layak untuk dihuni oleh manusia.
Tetapi, dunia internasional perlu didorong dan terus dihimbau untuk bersama-sama mengajak Israel dan Palestina (syukur-syukur kalau HAMAS bisa dilibatkan) untuk mewujudkan perdamaian.
Sepanjang masing-masing pihak masih tetap bersikeras untuk saling serang dan saling balas, situasi di perbatasan antara Israel dan Gaza akan tetap buruk (bahkan sampai lebih dari tahun 2020 !).
PBB, perlu di ingatkan saat mereka bersifat pasif dan samasekali tak bersikap tegas ketika iring-iringan kapal MAVI MARMARA hendak datang membawa bantuan kemanusiaan memaksa ke GAZA melalui perairan Israel tanggal 31 Mei 2010.
Pasukan Komando Angkatan Laut Israel diperintahkan untuk menghalau dan memblokade semua iring-iringan kapal.
Kala itu, 9 korban yang merupakan warga negara Turki tewas dan 60 korban luka dari pihak aktivis, serta 10 korban luka dari pihak AL Israel. Kedua pihak mengklaim bahwa kekerasan terjadi dalam rangka mempertahankan diri.
Akibat insiden ini, hubungan antara Israel dan Turki menjadi sangat buruk.
Tetapi anehnya, setahun kemudian yaitu tahun 2011, saat para aktivis dunia hendak datang kembali membawa bantuan kemanusiaan untuk memperingati setahun tragedi MAVI MARMARA, Sekjen PBB Ban Ki Moon malah melarang dan mengeluarkan peringatan keras bahwa tidak boleh lagi ada bantuan kemanusiaan yang dibawa ke Gaza melalui cara dan jalur yang ILEGAL (seperti yang terjadi tahun 2010).
Seiring dengan himbauannya itu, PBB juga memperingatkan Israel juga agar jangan menggunakan kekuatan militer mereka secara berlebihan.
Kemudian, standar ganda berikutnya yang dilakukan PBB selama ini adalah soal status HAMAS.
Sampai detik ini, PBB masih menempatkan HAMAS ke dalam daftar kelompok TERORIS DUNIA.
Sementara faktanya, HAMAS adalah penguasa yang sah secara politik di Jalur Gaza.
Jika memang PBB peduli pada rakyat Gaza, saat HAMAS memenangkan pemilu di Jalur Gaza, harusnya status TERORIS itu dicabut dan dipulihkan kembali.
Jika HAMAS memang memenangkan pemilu secara demokratis, mengapa mereka tak diakui dan tetap dibebani dengan status sebagai TERORIS ?
Baik PBB, dan negara-negara manapun didunia ini, jangan pernah ada yang bersikap ganda dalam menyikapi peta jalan menuju perdamaian sejati antara Israel dan Palestina.
Tak akan pernah ada kehidupan yang lebih baik di kedua negara yang bertetangga ini, jika keamanan di masing-masing wilayah tak terjaga dengan sangat baik.
Faktor keamanan adalah faktor terpenting yang harus dijaga dan sangat dijamin, jika Israel dan Palestina sama-sama ingin memajukan sektor perekonomian mereka.
Tak perlu menunggu sampai tahun 2020 (seperti ramalan PBB), jika dalam satu atau dua tahun mendatang perdamaian bisa diwujudkan dengan mementingkan faktor keamanan, baik Israel dan Palestina (terutama Gaza) akan terasa lebih layak untuk dihuni.
Lalu PBB, dan negara-negara manapun didunia ini (termasuk Kelompok Kwartet Timur Tengah yang terdiri dari PBB, Uni Eropa, Amerika dan Rusia), perlu melakukan pendekatan agar Israel mencabut blokade yang sudah mereka terapkan untuk Gaza sejak beberapa tahun terakhir.
Dan reaksi yang dapat diprediksi akan disampaikan oleh Israel jika mereka didesak mencabut blokade atas Gaza, para pemimpin Yahudi ini bisa jadi akan balik bertanya, “Apakah ada jaminan, jika blokade dicabut maka tidak akan ada lagi serangan militer ke Israel dari kelompok HAMAS ?”.
Melerai pertikaian antara Israel dan Hamas ibarat mengurai benang kusut yang sangat kusut sekali.
Mendamaikan mereka tak semudah membalikkan telapak tangan.
Mereka harus disadarkan bahwa peperangan tak akan pernah ada gunanya. Korban berjatuhan dan penderitaan akan semakin berkepanjangan.
Semua sendi kehidupan akan penuh dengan tangis dan ratapanyang benar-benar sangat pilu.
Tetapi semua pihak harus tetap mencoba, terutama PBB, jika masing-masing memang merasa terpanggil untuk membantu rakyat Palestina (terutama yang hidup di wilayah Gaza).
Terutama, dunia perlu terus menghimbau Israel juga agar mereka tidak membatasi pemakaian air bagi rakyat Gaza, tidak seenaknya menangkapi warga Gaza tanpa alasan hukum, memastikan bahwa tidak akan kekerasan bagi para tahanan Palestina, tidak memberlakukan lagi pemeriksaan yang sangat ketat di pintu-pintu perbatasan (terutama bagi kalangan sipil yang perlu menjalani hidup keseharian yang normal yaitu sekolah, belanja dan bekerja).
Semua itu harus diingatkan kepada para pemimpin Israel agar secara bertahap kondisi yang membelenggu rakyat Gaza bisa dilonggarkan dan diantar ke gerbang kebebasan.
Mari dunia terus melakukan sesuatu yang memang berguna untuk mewujudkan perdamaian antara Israel dan Palestina.
Tetapi jangan dengan cara “tong kosong nyaring bunyinya”.
Dan jangan berstandar ganda.
(MS)

August 28, 2012 

Comments are closed.