Osama Bin Laden, Matt Bissonette Dan Peringatan 11 September

Sampul Buku berjudul “No Easy Day” karya Mark Owen, nama pena dari sang penulis buku yang bernama asli Matt Bissonnette yang berlatar-belakang foto Osama bin Laden. (Foto : Telegraph.co.uk )

 

Photostream : New View of 9/11 Attacks Photos

 

Jakarta, 3 September 2012 (KATAKAMI.COM)  —  Tentang siapa Osama Bin Laden, rasanya hampir seluruh warga dunia tahu bahwa ia adalah pendiri Al Qaeda.

Al-Qaeda adalah suatu organisasi paramiliter fundamentalis Islam Sunni yang salah satu tujuan utamanya adalah mengurangi pengaruh luar terhadap kepentingan Islam.

Al-Qaeda digolongkan sebagai organisasi teroris internasional oleh Amerika Serikat, Uni Eropa, PBB, Inggris, Kanada, Australia, dan beberapa negara lain. Walaupun secara filosofis anggotanya bersifat heterogen, sebagian besar anggota berpengaruh dari organisasi ini dianggap mengikuti manhaj Salafi.

Komandan tertinggi Al Qaeda ini tewas tanggal 2 Mei 2011 tewas dalam sebuah serangan yang dilakukan oleh militer Amerika Serikat di Abbottãbad, Pakistan, tempat persembunyiannya selama ini.

Osama dilahirkan di Jeddah, Arab Saudi,10 Maret 1957.  Ia adalah anak ke-17 dari 52 bersaudara.

Ayahandanya yang bernama Muhammad bin Laden, adalah seorang petani dari Yaman yang kemudian bermigrasi ke Arab Saudi setelah Perang Dunia II.

Wikipedia menyebutkan, Osama dikenal karena Perang Soviet-Afganistan dan Perang melawan Terorisme (Perang di Afghanistan, Perang di Pakistan Barat Daya).

 

Matt Bissonette (wajah disamarkan), Komandan Tim 6 NAVY SEAL yang memimpin operasi penangkapan terhadap Osama Bin Laden. Dengan memakai nama samaran sebagai Mark Owen, ia menjadi penulis Buku yang berjudul ” No Easy Day”

 

Lalu siapa Matt Bissonette ?

Ia adalah Komandan Tim 6 Navy Seal yang terlibat langsung dalam operasi pembunuhan Osama Bin Laden Mei 2011 di wilayah Abbottabad, Pakistan.

Ia memakai nama samarannya Mark Owen sebagai penulis buku”No Easy Day”yang menceriterakan jalannya operasi rahasia yang menewaskan Osamah Bin Laden pemimpin Al Qaeda tersebut.

Karyanya dibeli oleh Assosiated Press dan juga diterbitkan oleh Dutton, sebuah pernerbit buku di Amerika Serikat.

Kemudian samarannya sebagai Mark Owen terungkap oleh media Fox News  pada hari Kamis 23 Agustus 2012 lalu.

Dari situlah dunia langsung mengetahui bahwa nama aslinya Matt Bissonette, yang adalah Komandan Tim 6 Navy Seal yang turut serta dalam suatu operasi rahasia di Abottabad, Pakistan.

Informasi terakhir menyebutkan bahwa pria kelahiran Alaska itu tampaknya akan menghadapi gugatan dari Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon)  karena dianggap telah membocorkan rahasia negara.

Tak cuma itu, Matt Bissonette juga sudah terang-terangan mendapat ancaman dari Al Qaeda, para pengikut dan simpatisan Almarhum Osama Bin Laden.

 

Tugu peringatan yang berisi nama-nama korban serangan 11 September

 

Tahun 2012 ini adalah peringatan11 tahun serangan 11 September.

Serangan itu merupakan serangkaian empat serangan bunuh diri yang telah diatur terhadap beberapa target di New York City dan Washington, D.C. pada 11 September 2001.

Diawali saat pagi hari (waktu setempat), 19 pembajak dari kelompok militan Islam, Al Qaeda, membajak empat pesawat jet penumpang.

Para pembajak sengaja menabrakkan dua pesawat ke Menara Kembar World Trade Center di New York City.

Kedua menara runtuh dalam kurun waktu dua jam.

Pembajak juga menabrakkan pesawat ketiga ke Pentagon di Arlington, Virginia.

Ketika penumpang berusaha mengambil alih pesawat keempat, United Airlines Penerbangan 93, pesawat ini jatuh di lapangan dekat Shanksville, Pennsylvania dan gagal mencapai target aslinya di Washington, D.C.

Menurut laporan tim investigasi 911, sekitar 3.000 jiwa tewas dalam serangan ini.

Barangkali untuk memperingati 11 tahun serangan 11 September inilah,  Matt Bissonette menuliskan sebuah buku yang berisi pengalaman dan laporan pandangan matanya mengenai Operasi Abbottãbad yang menewaskan Osama Bin Laden.

Pentagon mengancam akan melakukan tindakan hukum.

Penulis buku ini dianggap membocorkan informasi yang mencederai sumpah prajuritnya dan melanggar hukum federal.

Dalam surat yang ditujukan kepada Matt Bissonnette, pejabat Pentagon Charles Johnson menulis lembaganya sedang mempertimbangkan menempuh semua jalur hukum terhadap Owen dan penerbitnya, Penguin Putnam.

 

Memo tulisan tangan Leon Panetta yang ketika itu menjabat sebagai Direktur CIA tentang operasi Abbotabbad. Diterbitkan oleh majalah Time saat peringatan pertama pembunuhan pemimpin Al Qaeda di Pakistan. Memo singkat bertanggal 29 April 2011, pukul 10:35 itu, ditulis dengan tangan dan ditandatangani oleh Panetta. Memo itu menuliskan sebagai berikut : “Received phone call from Tom Donilon who stated that the President made a decision with regard to AC1 [Abbottabad Compound 1]. The decision is to proceed with the assault. The timing, operational decision making and control are in Admiral McRaven’s hands. The approval is provided on the risk profile presented to the President. Any additional risks are to be brought back to the President for his consideration. The direction is to go in and get bin Laden and if he is not there, to get out. Those instructions were conveyed to Admiral McRaven at approximately”.

 

Osama Dikhianati Istri Tertuanya 

 

“Menurut penilaian dari Departemen Pertahanan, Anda melakukan pelanggaran material dan pelanggaran terhadap perjanjian menjaga rahasia yang Anda tandatangani. Sosialisasi publik lebih lanjut dari buku Anda akan memperburuk pelanggaran dan pelanggaran perjanjian Anda,” tulis Johnson.

Buku berjudul No Easy Day berkisah tentang saat-saat mencekam serangan Navy SEAL ke kompleks persembunyian bin Laden di Pakistan tahun lalu yang berakhir dengan kematian buron nomor satu AS itu.

Pertanyaannya, apakah Matt Bissonnette memang layak dinyatakan bersalah karena buku hasil karyanya ?

Sesungguhnya, kalau mau jujur, pasukan khusus Angkatan Laut Amerika ini samasekali tidak bersalah ketika ia merasa ingin membagikan pengalaman yang dialaminya secara langsung.

Maaf, Matt Bissonnette, bukan Presiden Obama dan “pembesar” pemerintahan Obama yang bisa enak-enakan duduk secara nyaman sambil menyaksikan langsung serangan ini melalui layar monitor “situation room” ibarat menonton sebuah film di bioskop.

Matt Bissonnette adalah seorang prajurit, ia diberi mandat sebagai komandan pasukan khusus Angkatan Laut Amerika yang bertugas untuk menjalankan sebuah operasi sangat khusus.

Mereka mempertaruhkan nyawa untuk bisa menginjakkan kaki ke Abbottãbad.

Kemudian saat ini, ada momen dimana negaranya, termasuk dunia, yang akan segera memperingati 11 tahun serangan 11 September, apakah salah jika ia menceritakan apa yang ia lihat dan yang ia alami secara langsung ?

Jika kelak kita membaca “pengalaman” Matt Bissonnette lewat bukunya (terlepas dari kontroversi bahwa apa yang diungkapkan prajurit ini, tidak sama dengan informasi tentang penangkapan Osama versi Pemerintah), hal tersebut sama seperti kita membaca detail serangan 11 September 2001.

Prajurit ini dan seluruh keluarganya, justru harus mendapat perlindungan dan jaminan keamanan penuh dari Pemerintah Amerika Serikat.

Matt dan seluruh anggota Tim 6 NAVY SEAL, mereka layak dilindungi.

Mereka ke Abbottãbad bukan untuk bertamasya.

Jadi, jangan dibiarkan mereka dikecam dan dibiarkan terombang-ambing dalam gelombang kemarahan yang sangat dashyat dari para pengikut Osama Bin Laden dan Al Qaeda.

 

9/11 : Never Forget

 

Masing-masing yang merasa kehilangan orang yang sangat mereka hormati dan cintai, tentu akan selalu punya ruang yang sangat khusus dalam hati mereka untuk mengenang orang yang mereka cintai sepenuh hati.

Pasti, ada rasa “missing“.

Ada rasa kehilangan.

Ada rasa rindu.

Tak cuma seluruh keluarga korban dari serangan 11 September, para pengikut Osama Bin Laden juga sangat pantas merasa kehilangan pemimpin mereka yang diberondong peluru prajurit Amerika.

Al Qaeda tetap menempatkan Osama Bin Laden sebagai pemimpin besar mereka yang sangat amat layak dihormati dan dikenang.

Bukan NAVY SEAL yang harus dimurkai secara luar biasa oleh Al Qaeda, tetapi siapa sebenarnya orang yang “membuka jalan” sehingga lokasi Osama bisa terdeteksi.

Jika ternyata informasi ini benar bahwa istri tertua Osama yang secara tak sengaja membuka jalan bagi pihak asing untuk bisa mengetahui keberadaan Osama, maka perempuan yang bernama Khairiah Saber inilah yang pantas dipersalahkan.

Setelah meninggalkan Afghanistan tahun 2001 menuju Irak, Khairiah Saber mendadak kembali ke Abbottãbad di awal tahun 2011.

Keputusan wanita ini untuk kembali menemui Osama yang sudah hidup berbahagia dengan istri mudanya, dispekulasikan menjadi celah dan jalan pembuka, sehingga akhirnya lokasi persembunyian Osama diketahui.

Kembali pada peringatan 11 tahun serangan 11 September di tahun 2012 ini.

Bagi dunia, Osama adalah musuh bersama.

Tapi bagi para pengikutnya, Osama adalah pemimpim besar.

Jadi tergantung, dari sudut pandang mana Osama dikategorikan.

Namun yang harus disadari adalah serangan 11 September 2001 adalah sebuah memori yang cukup menyakitkan hati bagi kita semua yang ingin menghormati nilai-nilai perdamaian dan keamanan dunia.

Tragedi itu adalah kesedihan yang memenjarakan hak-hak paling mendasar dari manusia untuk hidup tanpa teror dan tanpa kekerasan. (*)

 

 

MS

About these ads

Comments are closed.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 11,935 other followers