Prijanto : Mari Kita Dukung Gubernur Dan Wakil Gubernur Jakarta Terpilih

Mayor Jenderal TNI (Purn) Prijanto

 

WAWANCARA EKSKLUSIF

 

Jakarta, 20 September 2012 (KATAKAMI.COM)  —  Tibalah akhirnya, Mayor Jenderal TNI (Purn) Prijanto tiba di penghujung masa tugasnya sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta.

Hari ini, Kamis (20/9/2012), warga Jakarta akan memberikan hak suaranya dalam Pemilihan Gubernur putaran kedua.

Prijanto, kelahiran Ngawi 26 Mei 1951, sesungguhnya tak pernah menyangka dan samasekali tak pernah menyimpan ambisi bahwa satu saat ia akan menjadi Wakil Gubernur. Ia juga tak menyangka bahwa pengabdiannya sebagai Wakil Gubernur akan berakhir dengan sangat menyedihkan.

Prijanto lulus dari Akmil (Akademi Militer) tahun 1975.

Dan jabatan terakhir yang dipercayakan kepada Prijanto di militer adalah Asisten Teritorial Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Aster KSAD) dengan pangkat Mayor Jenderal.

Menjelang pelaksanaan Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta tahun 2007, Fauzi Bowo datang menemui KSAD Jenderal TNI Djoko Santoso.

Foke meminta masukan dari KSAD Djoko Santoso, siapakah kira-kira perwira tinggi TNI AD yang bisa dipinang untuk menjadi pasangan Foke maju mengikuti Pilkada DKI Jakarta sebagai kandidat Wakil Gubernur.

Bulan madu sebagai pasangan baru Gubernur dan Wakil Gubernur diawal-awal tugas mereka, Pri (panggilan Prijanto) masih diberdayakan. Tapi akhirnya, ia dipinggirkan.

Pri memilih untuk mundur dan keputusannya mengundang kontroversi.

Tetapi, Pri tidak menyesali keputusannya. Walaupun ternyata seiring dengan berjalannya waktu, permohonan mundur Prijanto ditolak oleh DPRD.

Kepada KATAKAMI.COM, Rabu (19/9/2012) malam, Prijanto memberikan WAWANCARA EKSKLUSIF di kediaman pribadinya di kawasan Otista, Jakarta Timur.

Dan inilah WAWANCARA EKSKLUSIF kami dengan Wakil Gubernur Prijanto :

 

Foto-foto kegiatan Prijanto sepanjang menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta

 

Prijanto : Saya Sedih Pengabdian Terburuk Saya Jadi Wakil Gubernur

 

KATAKAMI (K) :  Pak Prijanto, akhirnya hari ini warga Jakarta tiba di putaran kedua Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta. Artinya, masa jabatan anda sebagai Wakil Gubernur berakhir. Pertanyaan pertama, apa saja yang menjadi kesan untuk Pak Pri selama menjabat sebagai Wakil Gubernur sejak tahun 2007 ?

PRIJANTO (P)  :  Saya merasa jabatan di Pemprov DKI inilah yang sesungguhnya merupakan “medan” untuk mengaplikasikan ilmu-ilmu yang saya dapat waktu sekolah.

Pertama, bahwa semua upaya pekerjaan, kegiatan dan tindakan (UPKT) itu harus demi terwujudnya “kamtibmas” dan :kesejahteraan” bagi warga Jakarta.

Kedua, UPKT yang dilakukan Pemprov DKI tidak bisa berdiri sendiri. Jadi, apa yang selalu kita dengung-dengungkan memerlukan koordinasi, komunikasi, sinkronisasi dan tukar menukar informasi antar institusi terkait. Dan dengan masyarakat, hal-hal semacam itu dibutuhkan untuk menjadi tolak ukur keberhasilan.

Ketiga, UPKT yang bisa disebut juga dengan istilah “membangun”, pada hakekatnya adalah untuk membangun ketahanan daerah demi terwujudnya ketahanan nasional dalam semua aspek kehidupan.

Di Pemprov DKI ini sangat jelas terlihat, sebagaimana yang diajarkan juga dalam ilmu-ilmu pengetahuan, bahwa objek yang kita bangun itu meliputi 5 aspek kehidupan yaitu IPOLEKSUSBUDHANKAM.

Kalau dulu, waktu saya masih dinas di militer, apa yang saya sampaikan adalah masih dalam batas pengetahuan saja, karena apa yang saya kerjalan hanya terbatas dalam aspek HANKAM saja.

Ke-empat, setelah saya menjabat sebagai Wagub, saya mendapatkan kesempatan untuk berbuat kebajikan-kebajikan melalui pengabdian saya sebagai Wakil Gubernur.

Artinya, saya bisa melakukan “sesuatu” yang terbaik bagi masyarakat dengan cara mengelola APBD (Anggaran Pendapatan Belanja Daerah) secara benar.

Kelima, dalam penilaian saya pribadi, pada umumnya kita terjebak pada pembangunan fisik saja. Seringkali kita melupakan program-program pembangunan yang sifatnya non-fisik, seperti misalnya moral dan perilaku. Padahal hal semacam ini sangat amat penting.

(K)  :  Sejak awal menjadi Wakil Gubernur tahun 2007, hal-hal dan kejadian-kejadian apa saja yang sangat berkesan untuk Pak Prijanto saat melakukan interaksi dan kunjungan-kunjungan kepada warga Jakarta ?

(P)  :  Ketika saya berinteraksi dengan masyarakat, ya …. ada banyak sekali yang saya rasakan. Inilah yang menjadi kesan tersendiri dalam diri saya mengenai potret yang sesungguhnya dari warga Jakarta yang saya cintai ini.

Masyarakat di Jakarta ini berani menyatakan pendapat mereka. Berani mengkritisi kinerja dan moral perilaku oknum aparat. Tidak sungkan-sungkan untuk mengkritik. Kadang-kadang, saya sebagai Wagub merasa malu kalau bawahan-bawahan saya dikritik sedemikian tajam oleh masyarakatnya sendiri. Sebab, apa yang dikeluhkan dan dikritisi masyarakat itu memang benar.

Masyarakat Jakarta ini berani menyanpaikan pandangan-pandangan mereka itu demi kebaikan bersama.

Ketiga,  ada sebagian masyarakat yang benar-benar punya daya tahan hidup melalui keuletan-keuletan mereka, walau situasi dan kondisi hidup mereka terbilang memprihatinkan. Artinya, mereka tetap berjuang dan berusaha dengan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang halal demi mempertahankan hidup mereka. Mereka juga bisa hidup rukun dengan lingkungannya, tidak mencuri dan tidak korup.

(K)  :  Terlepas dari permasalahan pribadi dan hubungan “dingin” antara Pak Pri dengan Pak Fauzi Bowo, yang ingin kami tanyakan … apakah sepanjang menjadi Wakil Gubernur, Pak Pri membuka semua akses dan saluran-saluran komunikasi bagi masyarakat Jakarta dan elemen-elemen lainnya untuk berkomunikasi langsung dengan Pak Pri ?

(P)  :  Sejak awal saya menjadi Wakil Gubernur tahun 2007 lalu, handphone saya terbuka untuk siapa saja. Saya tidak punya handphone lain sebagai handphone khusus. Handphone saya cuma satu dan itu terbuka untuk siapa saja yang mau menghubungi saya. Begitu juga dengan ajudan saya. Handphone ajudan saya juga terbuka untuk dihubungi siapapun juga untuk mempermudah berkomunikasi dan menyampaikan pesan-pesan mereka kepada saya.

Dan siapapun juga, bisa bertamu ke kantor saya.

Tidak ada pengecualian.

Tidak ada diskriminasi.

Semua boleh bertemu saya.

Mau pakai sendal, atau pakai sepatu, siapapun juga bisa menemui saya selama ini. Sepanjang saya jadi Wagub, kebanyakan tamu-tamu saya itu adalah tamu yang tidak dijadwalkan. Sepanjang saya ada waktu, saya pasti terima sebab saya selalu berpikiran positif bahwa tamu-tamu yang datang mendadak seperti itu pasti ingin menyampaikan sesuatu yang penting. Sehingga, mereka tidak memahami prosedur atau apapun yang sifatnya protokoler. Datang ke Balai Kota itu kan tidak mudah, kena macet misalnya. Masak sudah jauh-jauh datang, saya tidak mau menemui ?

Apalagi kalau tamu-tamu saya itu datang untuk meminta pertolongan dalam masalah-masalah mereka yang menyangkut aparat-aparat Pemprov DKI. Entah karena masyarakat dipersulit, mendapat pelayanan yang tidak wajar atau mau mengadukan masalah tanah yang berebut dengan Pemprov DKI.

Apapun masalah yang disampaikan masyarakat, pasti saya tampung.

 

Foto-foto kegiatan Prijanto sepanjang menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta

 

(K) :  Dari sudut pandang Pak Pri sebagai orang yang pernah menjabat sebagai orang nomor dua di Pemprov DKI ini, apa sesungguhnya daya tarik dari Kota Jakarta ini ? Sebab dalam pikiran sebagian orang, Jakarta ini identik dengan banjir dan macet …

(P)  :  Nah, ini pertanyaan yang menarik. Daya tarik yang dimaksud itu, daya tarik Jakarta untuk siapa ? Sebab tentu, antara satu dengan yang lainnya, akan berbeda dalam menilai dan memandang Jakarta yang sama-sama kita cintai ini.

Jawaban yang pasti buat saya adalah Jakarta tentu punya daya tarik tersendiri bagi siapa saja yang mendapatkan “kehidupan” dari Jakarta.

Kalau kaum urban datang dengan tekat bersedia bekerja apa saja dengan ulet, pasti mereka hidup dan mensyukuri kehidupan yang mereka dapatkan di Jakarta.

Saya punya tetangga dari daerah asal saya yaitu dari Ngawi. Kampung mereka lebih ke atas gunung lagi di Ngawi sana, yaitu di daerah Jogorogo. Dia sudah 20 tahun di Jakarta ini, dari mulai bujangan sampai kawin. Mata pencahariannya jualan mie ayam. Kalau 1 gerobak dijual secara borongan, harganya 600 ribu. Omsetnya seperti itu. Jadi, itu bukan keuntungan bersih dia per hari tapi omsetnya begitu. Saya pernah borong satu gerobak, seharga omsetnya. Jadi maksud saya, hanya dengan menjual mie ayam pun, ternyata dia dan keluarganya tetap bisa bertahan hidup di Jakarta.

Jadi banyak sektor-sektor informal di Jakarta ini yang memerlukan tenaga kerja.

Untuk melihat golongan yang lemah seperti ini, maka dibutuhkan golongan yang kuat untuk membantu mereka.

Dalam kehidupan ini, kita harus saling tolong-menolong. Saling membantu. Karena apa ? Sebab dalam kehidupan ini, manusia itu pada hakekatnya saling membutuhkan.

Misalnya, siapa yang berjaga-jaga, siapa warga yang lain tidur nyenyak di rumah masing-masing ?

Lalu, siapa yang bersedia menjadi tukang sampah, untuk membuang sampah dari rumah kita setiap harinya ?

Pernah gak dibayangkan, kalau di Jakarta ini tidak ada orang-orang yang mau bekerja seperti itu, jaga malam, mengambil sampah, dan pekerjaan-pekerjaan yang kesannya sepele ? Padahal kalau dipikir-pikir, tugas mereka sangat bermanfaat buat kita.

(K)   :  Hari Kamis (20/9/2012) ini, warga Jakarta akan mencoblos. Siapapun nanti Gubernur dan Wakil Gubernur Terpilih, apa harapan Pak Prijanto untuk Gubernur dan Wakil Gubernur yang baru ?

(P)  :  Begini … rakyat itu butuh pemimpin yang memang punya jiwa kepemimpinan (leadeship) yang kuat. Jadi, rakyat butuh pemimpin, mereka tidak butuh penguasa.

Seorang pemimpin itu dalam kesehariannya harus berpikir, bertindak dan bekerja untuk rakyatnya.

Akan ada kepuasan bagi sang pimpinan, jika yang dilakukan adalah kebajikan-kebajikan untuk rakyatnya.

Pemimpin akan bersedih kalau dia tidak bisa menyenangkan, mensejahterakan dan membantu rakyatnya.

Pemimpin tidak boleh merasa paling pintar sendiri agar mereka bisa memiliki sikap akomodatif terhadap pandangan dan pendapat orang lain, terutama pandangan dan pendapat dari staf, bawahan dan dari masyarakat.

Pemimpin harus punya sikap empati dan mampu menghargai orang lain.

Jadi, inilah harapan-harapan saya untuk Gubernur Jakarta yang baru nanti.

(K) :  Untuk menutup wawancara ini, apa harapan Pak Prijanto kepada masyarakat Jakarta. Khususnya di hari pencoblosan ini ? Apa ada pesan dan harapan khusus ?

(P)  :  Harapan saya, mari hari ini kita semua berpartisipasi dalam memberikan hak suara kita. Golput harus dibuat seminimal mungkin. Pemilihan hari ini harus jurdil dan luber.

Dan sepanjang pelaksanaan pemilihan hari ini, sampai dengan hari-hari mendatang, Jakarta harus tetap AMAN !

Siapapun nanti yang akan keluar sebagai pemenang, kita harus sama-sama menyadari bahwa itulah hasil demokrasi dan keputusan Tuhan Yang Maha Esa.

Karena apa ?

Karena warga yang mencoblos itu, sendirian di dalam bilik suara. Tidak ada yang mempengaruhi.

Jadi nanti, dengan adanya Gubernur dan Wakil Gubernur yang baru, kita semua bisa seia sekata untuk membangun Jakarta yang baru bersama-sama dengan Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih.

Mari kita sama-sama berharap, agar melalui Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih nanti, bisa terjadi perubahan-perubahan yang baik bagi kota Jakarta ini agar benar-benar dapat dirasakan manfaatnya.

Lalu atas nama pribadi, izinkan saya mengucapkan TERIMAKASIH kepada seluruh masyarakat Jakarta, yang selama ini sudah memberikan dukungan dan kerjasama dalam membangun kota Jakarta, sepanjang saya menjadi Wakil Gubernur.

Izinkan juga saya MEMINTA MAAF, karena di akhir tahun 2011 lalu, secara konstitusional saya mengajukan pengunduran diri sebagai Wakil Gubernur. Saya berharap masyarakat Jakarta dapat memahami alasan pengunduran diri saya.

Jadi sekali lagi, saya ajak seluruh masyarakat untuk mendukung siapapun nanti GUBERNUR dan WAKIL GUBERNUR Jakarta yang baru terpilih, dengan cara ikut mengawasi jalannya pemerintahan di Pemprov DKI.

(K)  :  Baik Pak Prijanto, terimakasih untuk wawancara ini.

(P)  : Ya, terimakasih sama-sama.

 

 

 

MS

About these ads

Comments are closed.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 11,935 other followers