Semua Presiden Indonesia Sering Blusukan Dengan Istilah “Incognito”

Foto Kombinasi Para Mantan Presiden Dan Presiden Republik Indonesia. Foto Atas (Dari Kiri ke Kanan) :  Ir Soekarno, Soeharto dan Prof Ing BJ Habibie. Foto Bawah (Dari kiri ke kanan) : KH Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono

Foto Kombinasi Para Mantan Presiden Dan Presiden Republik Indonesia. Foto Atas (Dari Kiri ke Kanan) : Ir Soekarno, Soeharto dan Prof Ing BJ Habibie. Foto Bawah (Dari kiri ke kanan) : KH Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono

 

Oleh : MEGA SIMARMATA, Editor-in Chief KATAKAMI.COM

 

Jakarta, 7 Januari 2013 (KATAKAMI.COM)   —  Ada sebuah persepsi yang salah tentang kunjungan mendadak yang belakangan kerap dilakukan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi).

Blusukan, seolah dianggap menjadi gaya Jokowi semata.

Sehingga ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Negara Ani Yudhoyono  melakukan kunjungan ke Kampung Nelayan di Tanjung Pasir, Tangerang (4/1/2013), blusukan ala SBY ini dianggap meniru Jokowi.

Padahal tidak samasekali !

SBY, dalam dua periode pemerintahannya kerap menyelipkan acara-acara dan kunjungan-kunjungan yang tak terjadwal atau sifatnya dadakan.

Untuk kunjungan yang dirahasiakan atau bersifat dadakan, bagi para Presiden Republik Indonesia diberi istilah “INCOGNITO (PENYAMARAN)”.

Incognito inilah yang kini dikenal publik dengan istilah “BLUSUKAN”.

Sehingga, bagi jurnalis yang sudah pernah bertugas, atau yang saat ini masih bertugas di lingkungan Istana Kepresidenan (baik di Istana Presiden atau Istana Wakil Presiden), pasti akan sangat memahami bahwa setiap Presiden Indonesia sudah sering dan memang terbiasa dengan KUNJUNGAN INCOGNITO.

Tetapi berhubung yang datang berkunjung itu adalah seorang KEPALA NEGARA maka faktor keamanan dan pengamanan terhadap fisik Kepala Negara, menempati urutan teratas dalam mempersiapkan segala sesuatu sebelum kunjungan itu dilakukan.

Protokol Istana, terutama Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) akan lebih dulu diterjunkan ke lokasi yang akan dikunjungi kepala negara dalam INCOGNITO tersebut.

Dan kunjungan INCOGNITO ini biasanya akan sangat DIRAHASIAKAN.

Namun sering bocor karena para wartawan yang meliput di lingkungan Istana Kepresidenan punya seribu satu cara untuk “kasak kusuk” mencari tahu apa saja kegiatan Presiden atau Wakil Presiden yang sedang direncanakan.

Bertugas sebagai Wartawan di lingkungan Istana Kepresidenan harus sangat “pintar” mencari tahu informasi apa saja.

Sehingga mata dan telinga harus dibuka lebar-lebar.

Jadi, blusukan tidak identik dengan Gubernur DKI Jakarta Jokowi.

Indonesia harus bangga karena setiap Presiden yang pernah memimpin di negara ini sudah lebih dulu melakukannya.

Dan di lingkungan Istana Kepresidenan, blusukan lebih dikenal dengan istilah “INCOGNITO.

 

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang didampingi Ibu Ani Yudhoyono dan bersama beberapa menteri saat melewati wilayah Neglasari menuju tempat pelelangan ikan, Tanjung Pasir, Tangerang, Jumat (4/1/2013). Para menteri yang ikut antara lain, Menkop dan UKM Syarief Hasan, Menteri PU Djoko Kirmanto, Mensesneg Sudi Silalahi, Menteri Kelautan Sharif Cicip Sutardjo, Mendikbud M Nuh, dan Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang didampingi Ibu Ani Yudhoyono dan bersama beberapa menteri saat melewati wilayah Neglasari menuju tempat pelelangan ikan, Tanjung Pasir, Tangerang, Jumat (4/1/2013). Para menteri yang ikut antara lain, Menkop dan UKM Syarief Hasan, Menteri PU Djoko Kirmanto, Mensesneg Sudi Silalahi, Menteri Kelautan Sharif Cicip Sutardjo, Mendikbud M Nuh, dan Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan.

 

Dari mulai Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, KH Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri sampai ke Susilo Bambang Yudhoyono.

Semua para pemimpin Indonesia ini, sepanjang mereka berkuasa, sudah sering melakukan apa yang kini lagi dikenal dengan istilah “BLUSUKAN”.

Blusukan ala Presiden Indonesia namanya INCOGNITO.

Tetapi biasanya yang akan sangat “BERISIK” soal keamanan dan pengamanan kepala negara (Presiden) jika hendak melakukan kunjungan INCOGNITO adalah :

Sekretaris Militer Presiden, Para Ajudan Presiden, Komandan Grup A Paspampres (yang bertanggung-jawab pada semua anggota Paspampres di Istana Presiden) dan Komandan Paspampres.

Protokol Istana akan berhadapan dengan “bodyguard-bodyguard” Presiden yang disebut tadi, jika Presiden hendak diagendakan melakukan kunjungan rahasia apapun.

Atau, jika kunjungan itupun sangat rahasia dan sifatnya begitu dadakan, yang akan diberi tanggung-jawab biasanya Ajudan Presiden, Dan Grup A dan Paspampres.

Selanjutnya, mereka yang masing-masing diberi tanggung-jawab itulah yang akan melapor ke atasan langsung mereka masing-masing.

Untuk ukuran Istana Kepresidenan, tak mudah menembus informasi-informasi resmi jika Presiden hendak melakukan incognito.

Sebab, para Ajudan Presiden adalah benteng-benteng kokoh yang mulutnya akan sangat terkunci rapat untuk masalah apapun yang menyangkut Kepala Negara.

Hal tersebut dilakukan, lagi-lagi karena faktor keamanan dan pengamanan fisik yang sangat ketat pada kepala negara.

 

Mantan Presiden KH Aburrahman Wahid (Gus Dur)

Mantan Presiden KH Aburrahman Wahid (Gus Dur)

 

Ada sebuah kisah nyata yang menyangkut INCOGNITO saat Gus Dur masih menjabat sebagai Presiden Indonesia.

Gus Dur yang memang dekat dengan kalangan pemuka agama Katolik, selalu meluangkan waktu untuk mengunjungi pastor-pastor yang sudah lama dikenalnya.

Dari obrolan-obrolan dan diskusi itu, Gus Dur menerima banyak masukan dari sahabat-sahabatnya tentang kondisi rakyat.

Sumber KATAKAMI.COM di kalangan Istana Kepresidenan pernah menceritakan sebuah kejadian yang tak akan pernah terlupakan di malam Natal, 24 Desember 2000.

Gus Dur ingin secara mendadak mengunjungi Kolose Kanisius di wilayah Menteng, Jakarta Pusat.

Permintaan Gus Dur yang sangat tiba-tiba ini segera direalisasikan oleh Ajudan dan Paspampres.

Tetapi saat mobil RI-1 sedang diparkir di halaman depan Kanisius, Paspampres mencurigai sebuah mobil yang secara tiba-tiba parkir di depan mobil Presiden.

Dalam waktu yang sangat cepat, Paspampres segera menemui Gus Dur yang masih berbincang-bincang dengan sangat akrab dengan para Romo di Kanisius.

Gus Dur dibisiki untuk segera kembali ke Istana.

Untung pada saat itu Gus Dur bisa diajak pulang. Biasanya, menurut sumber KATAKAMI.COM, Gus Dur punya kemauan sendiri dan susah dinasehati oleh siapapun.

Setibanya rombongan Gus Dur di Istana Presiden, terdengar kabar bahwa sebuah BOM meledak di Kanisius.

Dan bom yang meledak itu berasal dari mobil yang diparkir di depan mobil Presiden !

“Saya tidak bisa membayangkan kalau Bapak Presiden masih berada di lokasi saat bom itu meledak” demikian ungkap seorang anggota Paspampres kepada KATAKAMI.COM saat itu.

Pentingnya faktor keamanan dan pengamanan fisik terhadap Kepala Negara, akan menjadi prioritas utama dalam melakukan semua kegiatan dan perjalanan kemanapun juga.

 

Megawati Soekarnoputri

Megawati Soekarnoputri

 

Walau faktor keamanan dan pengamanan fisik akan selalu dikedepankan terhadap Kepala Negara di Indonesia, ajudan ataupun Paspampres tak boleh membantah perintah Presiden.

Saat Megawati Soekarnoputri menjabat sebagai Presiden Indonesia, ada sebuah cerita yang sangat lucu berkaitan dengan INCOGNITO.

Putri sulung Bung Karno ini sering meminta kepada Ajudan-Ajudannya untuk kunjungan dadakan tanpa pengawalan yang ketat dan lengkap.

Satu hari, Mega ingin melihat situasi di ibukota Jakarta.

Ketika itu samasekali tak ada pengawalan lengkap sebab mobil yang dibawa hanya 1 saja !

Tetapi didalamnya ada Komandan Grup A Paspampres dan Ajudan Presiden.

Saat berada di lampu merah di kawasan arah Tanjung Priuk, mobil yang membawa Megawati harus berhenti karena lampu merah sedang menyala.

Kaca mobil semua tertutup rapat.

Ibu Presiden duduk sendirian di kursi belakang ….

Tiba-tiba datang seorang pengamen WARIA berwajah yang dandanannya sangat amat menor, lengkap dengan alat musik kerincingan di tangannya.

Kejadian ini sungguh diluar dugaan karena tak mungkin membuka kaca jendela untuk sekedar mengusir WARIA ini.

Waria itu tetap saja menyanyi dengan genit dan bersemangat di jendela.

Menjelang akhir lagu, Ibu Megawati membuka sendiri kaca jendelanya untuk memberikan uang kepada si pengamen.

Begitu sadar bahwa yang memberi uang kepada dirinya adalah PRESIDEN INDONESIA, pengamen waria itu histeris luar biasa dan berteriak sekeras-kerasnya dengan gaya waria.

“Hah ? IBU MEGAWATI SOEKARNOPUTRI !!!!”

Megawati tersenyum ramah dan meminta waria itu menerima uang yang diberikannya secara tulus.

 

Para Presiden dan Para Wakil Presiden Indonesia

Para Presiden dan Para Wakil Presiden Indonesia

 

Jadi kembali pada masalah blusukan, muara dari kunjungan kepada rakyat seperti itu adalah mendengar dan melihat secara langsung kondisi rakyat.

Para Presiden dan para Wakil Presiden Indonesia, masing-masing sudah sering melakukan itu tanpa harus di ekspose terus menerus di media.

Begitupun pada masa kepemimpinan Presiden SBY.

Salah seorang mantan ajudannya yang kini menjabat sebagai Kapolda Metro Jaya, Irjen Putut Eko Bayuseno menceritakan bahwa SBY sangat sering melakukan kunjungan pada rakyat.

“Bukan cuma pernah. Pak Presiden sangat sering meminta dan melakukan kunjungan tanpa pengawalan yang lengkap,” ungkap Putut kepada KATAKAMI.COM, Senin (7/1/2013).

SBY juga pernah marah dan langsung “menyetrap” ajudan dan paspampres di tengah jalan karena membiarkan kendaraan masyarakat dibuat berhenti hanya karena rombongan Presiden akan lewat di Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan.

Waktu itu Presiden baru selesai melakukan kegiatan di luar.

Saat melintas di Kuningan, dari dalam mobil Presiden melihat bahwa kemacetan yang timbul akibat iring-iringan mobil Presiden mau lewat sudah begitu parah.

Seketika itu juga, SBY meminta mobil kepresidenan dihentikan.

Lalu ia memanggil ajudan dan komanda grup A Paspampres.

“Kalian lihat itu, masyarakat jadi menderita … macet-macetan hanya karena saya mau lewat. Dahulukan kepentingan masyarakat dibanding saya. Suruh mobil mereka jalan, atau saya pulang naik taksi !” ungkap SBY, seperti yang ditirukan sumber KATAKAMI.COM.

Akhirnya, Paspampres melakukan koordinasi dengan Kepolisian agar masyarakat dibiarkan lewat.

Banyak hal sebenarnya yang masyarakat tidak tahu tentang keseharian Kepala Negara di republik ini.

Kisah-kisah menarik yang tak pernah diungkap ke media massa, sesungguhnya sangat menyentuh hati.

Tak pandang siapapun Presiden yang menjabat di negeri ini, sebenarnya masing-masing kepala negara kita, punya kepedulian dan cinta yang tulus kepada rakyat.

Walau kisah-kisah menarik tentang keseharian Presiden dalam berinteraksi dengan rakyat, tak semuanya bisa terberitakan di media.

Yang mengetahui semua fakta itu, hanya orang-orang terdekat yang kebetulan sedang bertugas mendampingi Kepala Negara.

Mereka yang melihat secara langsung bahwa sebenarnya presiden-presiden Indonesia sangat peka dan peduli pada rakyatnya.

Kekuasaan yang dimiliki oleh seorang KEPALA NEGARA, hendaknya memang senantiasa diperuntukkan bagi kepentingan rakyatnya.

Bung Karno pernah mengatakan sebagai berikut :

“Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian, bahwa kekuasaan seorang presiden sekalipun ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanyalah kekuasaan rakyat. Dan diatas segalanya adalah kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa”.   (*)

 

 

(Mega Simarmata, jurnalis senior yang pernah bertugas WARTAWATI di Istana Kepresidenan selama 9 tahun, dari tahun 1999-2008).

About these ads

Comments are closed.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 20,181 other followers