Duka Untuk Polres OKU Adalah Juga Duka Untuk Heru Oktavianus

Inilah korban tragedi penyerangan Mapolres Ogan Komering Ulu (OKU) Sumatera Selatan pada Kamis (7/3/2013) pagi yang diduga dilakukan oleh sekira 90 anggota TNI dari Batalyon Artileri Medan (Yon Armed) 76/15 Tarik Martapura.

Inilah korban tragedi penyerangan Mapolres Ogan Komering Ulu (OKU) Sumatera Selatan, pada hari Kamis (7/3/2013) pagi yang diduga dilakukan oleh sekitar 90 anggota TNI dari Batalyon Artileri Medan (Yon Armed) 76/15 Tarik Martapura.

 

Kapolri Timur Pradopo : TNI Janji Perbaiki Mapolres OKU

 

Jakarta, 9 Maret 2013 (KATAKAMI.COM)  —  Bayangkanlah betapa terkejutnya Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal Pramono Edhie Wibowo saat mendapatkan laporan bahwa sekelompok anak buahnya secara brutal melakukan penyerangan kepada pihak kepolisian.

Saat serangan itu terjadi, KSAD Jenderal Pramono Edhie Wibowo sedang melakukan pengarahan kepada prajurit Kostrad di Jakarta.

Tetapi KSAD tidak berusaha menutup-nutupi kesalahan anak buahnya.

Ia mengakui bahwa anak buahnya berbuat salah dan menjanjikan sanksi yang tegas kepada siapapun yang bersalah dalam kasus ini.

“Saya mendapat laporan, kesannya, anak-anak saya itu yang mendatangi. Tapi saya juga enggak mengerti mengapa terjadi seperti itu. Saya tidak mendengar ada penembakan dan sebagainya. Di sini saya juga tidak mengerti kok kejadian bulan Januari jadinya begini. Saya tetap pada prinsipnya siapa yang salah aku hukum. Mereka dari Armed 15. Kalau orangnya siapa saja saya belum jelas berapa banyak. Tapi saya harus akui itu terjadi” kata KSAD Pramono Edhie Wibowo.

Kamis (7/3/2013) lalu, sekitar 90 anggota TNI dari Batalyon Artileri Medan (Yon Armed) 76/15 Tarik Martapura melakukan serangan membabi-buta ke Mapolres Ogan Komering Ulu (OKU) Sumatera Selatan.

Berikut ini kronologi singkat penyerangan menurut pihak Polda Sumatera Selatan:

Pukul 08.30
Sekitar 75 personel TNI Yon Armed 15/76 Tarik Martapura, Kamis (7/3/2013) pagi, mendatangi Mapolres Ogan Komering Ulu (OKU) menggunakan truk dan sepeda motor. Mereka hendak berdialog soal penanganan kasus tertembaknya TNI Prajurit Satu Heru Oktavianus oleh anggota Polres OKU, Brigadir Wijaya, dua bulan lalu yang tak jelas ujungnya. Kapolres OKU, AKBP Azis Saputra, sedang tak berada di tempat.

Personel TNI diterima dengan baik dan dipersilakan masuk ke Markas Polres OKU. Sejumlah anggota Polres pun menyiapkan ruangan untuk pertemuan itu. Rencananya, mereka akan diterima oleh Kepala Bagian Operasi Polres OKU, Komisaris Polisi Afri S. Jaya.

Pukul 09.00
Sejumlah anggota TNI mulai mengamuk di dalam Mapolres dan menghajar tiga petugas jaga Polres OKU. Mereka adalah Aiptu Arwani (luka tusuk paha kiri), Briptu Berlin Mandala (luka tusuk di punggung), Bripka M., dan Asrul Hasibuan, yang merupakan petugas kebersihan.

Pukul 10.00
Anggota TNI meninggalkan lokasi yang sudah terbakar menuju markas Batalyon Artileri Medan 15/76 Tarik, Martapura.

Pukul 10.30
Rombongan TNI tak langsung kembali ke markas. Mereka berbelok menuju Mapolsek Martapura dan menghancurkan kantor Polsek Martapura. Kompol M. Ridwan yang berada di tempat pun langsung menjadi bulan-bulanan sejumlah anggota TNI AD.

Pukul 11.00
Puas memporak-porandakan Mapolsek Martapura, rombongan tentara kembali ke markas.

 

Mapolres OKU dibakar oleh oknum prajurit TNI (Armed) pada hari Kamis (7/3/2013)

Mapolres OKU dibakar oleh oknum prajurit TNI (Armed) pada hari Kamis (7/3/2013)

 

Pagi hari, dimana para aparat kepolisian disana hendak mulai bekerja, justru mendapat serangan mendadak dari sesama aparat negara.

Diserang, dibacok, dibakar, ditikam dan dihajar habis-habisan.

Yang lebih hebat lagi, setelah Mapolres OKU dibakar, prajurit-prajurit TNI yang terlibat dalam penyerangan itu, memblokade semua jalan yang mengakses ke Mapolres OKU.

Sehingga, mobil pemadam kebakaran dan kalangan jurnalis yang hendak meliput, tak ada satupun yang bisa mendatangi dan menjangkau Mapolres OKU sampai sekian lama.

Sehingga wajar kalau Mapolres OKU tak bisa terselamatkan karena 90 persen sudah terbakar habis dan luluh lantak.

Aksi blokade jalan untuk menghalangi mobil pemadam kebakaran dan kalangan jurnalis sempat tak diketahui oleh Kantor Kementerian Polhukkam yang bergerak cepat untuk membantu meredakan gejolak.

Kejadian itu sempat tak bisa dipantau lewat media manapun.

Padahal Kantor Kementerian Polhukkam misalnya, berusaha mengetahui apa sebenarnya yang terjadi berdasarkan laporan media.

Tetapi seorang jurnalis memberikan informasi kepada Kantor Polhukkam bahwa prajurit-prajurit TNI yang menyerang Mapolres OKU memblokade jalan untuk menghalangi mobil pemadam kebakaran dan para jurnalis datang ke lokasi kejadian.

Setelah mendapat informasi tentang aksi blokade itulah, keluar perintah tegas dari Jakarta agar aksi blokade itu dihentikan.

 

Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq

Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq

 

Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq berpendapat penyebab pembakaran Mapolres Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan oleh anggota tentara Yon Armed 76/15 Tarik Martapura, juga dipicu perbedaan tingkat kesejahteraan dua institusi itu.

Menurut Mahfudz, pemisahan institusi Polri dan TNI dari ABRI, perhatian negara lebih besar kepada Polri ketimbang TNI.

Hal ini tercermin dari minimnya anggaran bagi TNI. Seperti gaji kecil dan alat utama sistem senjata (alutsista) TNI yang sudah usang dan tidak memadai lagi.

“Pemerintah harus segera ambil kebijakan terobosan, untuk perbaiki kesejahteraan prajurit TNI. Karena berbagai bentrok yang libatkan oknum prajurit TNI dengan oknum aparat polisi, juga dilatari oleh akumulasi kesenjangan dan kecemburuan sosial antar mereka,” kata Mahfudz dalam siaran persnya, Jumat (8/3).

Tidak hanya perbedaan gaji dan alutsista, sarana dan prasarana yang dimiliki TNI juga dinilai tidak setara dengan Polri. Seperti kendaraan dan perumahan dinas yang minim, dan lamban proses peremajaannya.

“Kita bisa dengan mudah membandingkannya di lapangan,” kata Mahfudz tanpa memberikan kalkulasi angka, kesenjangan gaji TNI dengan Polri.

Karena itu, Komisi I DPR mendesak Kementerian Pertahanan dan Mabes TNI untuk menyusun daftar anggaran pemenuhan kesejahteraan TNI. Meliputi sarana prasarana, fasilitas, dan standar penghasilan prajurit.

“Tapi ini baru akan selesaikan satu dari sekian variabel yang latari kasus-kasus bentrok, antara oknum prajurit TNI dengan oknum aparat polisi. Masih ada PR lainnya,” tutup Mahfudz.

 

Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S. Pane

Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S. Pane

 

Pendapat lain datang dari Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S. Pane.

Indonesia Police Watch (IPW) mendesak Polri untuk introspeksi dan segera menghentikan aksi-aksi koboi yg dilakukan anggotanya terkait kasus penyerangan Mapolres Ogan Kemiring Ulu (OKU).

Selain itu Mabes Polri harus segera mencopot Kapolres OKU dan Kapolda Sumsel agar ada efek pembelajaran yang bisa membuat para pejbat Polri di daerah lebih perhatian pada kasus-kasus sensitif di wilayah tugasnya.

IPW mencatat ada dua pemicu kasus OKU.

Pertama, anggota Polri terlalu ringan tangan melepaskan tembakan yg mematikan, meski yg dihadapi hanya persoalan sepele. Tahun  2012 ada 37 kasus salah tembak dan main tembak oleh polisi.

Korbannya 49 orang, 17 tewas dan 32 luka.

“Di tahun 2013 ini aksi koboi polisi masih saja marak. Hingga 7 Maret ada 4 kasus salah tembak yg blm ditangani dgn maksimal,” kata Ketua Presidium IPW, Neta S. Pane dalam rilisnya, Jumat (8/3/2013).

Kedua, Polri tidak bertindak cepat dan transparan dalam menuntaskan kasus penembakan terhadap anggota TNI yang melakukan pelanggaran lalulintas di OKU. Sehingga hal ini membuat keluarga dan teman-teman korban marah, kemudian menyerbu dan membakar Polres OKU.

 

Kondisi kantor Polres Ogan Komering Ulu pada Jumat (8/3) pagi, pascapenyerangan oleh puluhan prajurit TNI kemarin. TEMPO/Parliza Hendrawan

Kondisi kantor Polres Ogan Komering Ulu pada Jumat (8/3) pagi, pascapenyerangan oleh puluhan prajurit TNI kemarin. TEMPO/Parliza Hendrawan

 

Sesungguhnya tragedi yang terjadi di Mapolres OKU adalah tidak adanya itikat baik dari pimpinan kepolisian setempat (baik itu tingkat Kapolres, termasuk Kapolda Sumatera Selatan) untuk menyelesaikan secara bijaksana akar permasalahan yang ada.

Betul kata Ketua Presidium IPW, Neta S. Pane, bahwa ada anggota kepolisian di OKU bertindak seenaknya yaitu main asal tembak hingga menewaskan seorang prajurit TNI.

Menurut Neta, Polda Sumatera Selatan tidak bertindak cepat dan transparan dalam menuntaskan kasus penembakan terhadap anggota TNI yang melakukan pelanggaran lalulintas di OKU. Sehingga hal ini membuat keluarga dan teman-teman korban marah, kemudian menyerbu dan membakar Polres OKU.

Kejadian tembak mati terhadap Prajurit Satu (Pratu) Heru Oktavianus oleh anggota Polres OKU, Brigadir Wijaya, sudah berlalu hampir 2 bulan.

Tetapi tak ada sanksi tegas terhadap Brigadir Wijaya.

Akal sehat siapapun akan mengatakan bahwa pembiaran dari pimpinan kepolisian di Sumatera Selatan terhadap fakta ini adalah sesuatu yang sangat layak untuk dikecam secara keras.

Harusnya dipecat dong !

Atau sebelum dilakukan pemecatan, tarik dulu keluar dari wilayah Sumatera Selatan pelaku penembakan itu agar situasi menjadi kondusif.

 

Esprit de Corps

Esprit de Corps

 

Permasalahan yang terjadi di OKU adalah telah terjadi pembiaran terhadap sebuah pelanggaran sangat serius dari anggota kepolisian yang menyebabkan kematian pada seorang prajurit TNI.

Ada semangat korps, atau yang lebih dikenal dengan istilah ESPRIT DE COPRS.

Puluhan anggota Armed yang menyerang Mapolres OKU pasti datang untuk sebuah kesamaan visi dan misi dalam memandang permasalahan tembak mati terhadap rekan seperjuangan mereka yaitu semangat korps (Esprit de Corps).

Apalagi jika ada janji dari pimpinan kepolisian setempat untuk menindak pelaku penembakan.

Tunggu punya tunggu, ternyata setelah keluarga dan semua rekan seperjuangannya sesama anggota TNI disana menunggu sanksi tegas itu, tak kunjung dilaksanakan.

Meledaklah emosi mereka karena kesabaran sudah habis.

Selain pimpinan kepolisian di wilayah tersebut yaitu Kapolres dan Kapolda, pihak lain yang sama-sama harus dievaluasi adalah INTELIJEN di kepolisian dan TNI setempat.

Ini bukan menjadi tugas dan tanggung jawab dari Badan Intelijen Negara (BIN).

Masing-masing institusi TNI dan POLRI di jajaran Polsek, Polres dan Polda, kemudian Kodim, Korem dan Kodam di wilayah Sumatera Selatan, sama-sama punya divisi INTELIJEN.

Dimana peran INTELIJEN kepolisian dan TNI setempat ?

Masing-masing bekerja sesuai tugas dan tanggung-jawabnya atau tidak ?

Puspom TNI, Puspom TNI AD dan Propam Mabes POLRI harus memeriksa sampai ke arah sana.

Kemudian Propam Polri juga harus kembali memeriksa kasus penembakan Heru Oktavianus.

Benarkah pelaku penembakan itu menghilangkan barang bukti, termasuk baju yang dikenakan sang korban yaitu Pratu Heru Oktavianus (seperti yang diungkapkan oleh kakak kandung dari korban) ?

Jangan ada yang ditutup-tutupi agar di kemudian hari, tragedi seperti ini tidak boleh terulang lagi.

 

Almarhum Prajurit Satu (Pratu) Heru Oktavianus

Almarhum Prajurit Satu (Pratu) Heru Oktavianus

 

Pratu Heru Korban Penembakan Polisi Dimakamkan

 

Bayangkan, ada sebuah masalah besar di sebuah wilayah, dimana seorang prajurit TNI ditembak mati oleh anggota kepolisian hanya karena masalah pelanggaran lalulintas, mengapa INTELIJEN dari masing-masing institusi tidak mengantisipasi sejak dua bulan lalu ?

Potensi balas dendam dalam kasus yang sangat sensitif seperti ini pasti ada.

Disitulah peran INTELIJEN mengantisipasi dan terus mengawal kasus ini hingga terjadi penyelesaian yang sama-sama diharapkan.

Apalagi INTELIJEN KEPOLISIAN, masak tidak menyadari bahwa lambannya pimpinan kepolisian di Sumatera Selatan menyelesaikan akar permasalahan yang ada, bisa menimbulkan gejolak ?

Ada dua institusi, yaitu TNI dan POLRI, keduanya sama-sama punya senjata dan sama-sama mahir menggunakannya.

Tak tertutup kemungkinan senjata yang “berbicara dan bermain” kalau sebuah permasalahan dipandang perlu untuk segera diselesaikan secara jantan.

Sehingga, masing-masing pimpinan yaitu Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono dan Kapolri Jenderal Timur Pradopo harus secara bijak menyikapi masalah ini.

Evaluasi semua dan masing-masing tim investigasi dari kedua institusi harus bekerja secara cepat (marathon).

Sambil juga segera dilakukan inventarisasi terhadap apa saja yang segera perlu diganti dan dibangun kembali di Mapolres OKU.

Berapa mobil yang rusak, berapa motor yang rusak, berapa biaya pembangunan kembali Gedung Mapolres OKU, berapa biaya ganti rugi untuk masing-masing korban, berapa biaya pengobatan seluruh korban, semuanya ini harus segera dihitung.

Dan jika sudah dihitung semua, Mabes TNI (terutama Mabes TNI Angkatan Darat) harus segera memberikan uang ganti rugi kepada Polri, agar semua yang telah rusak, hancur dan perlu segera diobati, dapat diselesaikan dalam kurun waktu yang tercepat.

Apalagi mobil dan motor dari aparat kepolisian yang sudah dihancurkan, mereka mau pakai apa untuk bertugas jika kendaraan mereka dihancurkan seperti itu ?

Semua itu harus segera diganti secara TUNAI oleh pihak TNI.

Sehingga kita semua bisa membayangkan, betapa pusing Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono dan KSAD Jenderal Pramono Edhie Wibowo mendapat masalah seberat ini.

Begitu juga pihak Kepolisian, berikan juga santunan yang paling baik dan paling besar yang bisa diberikan kepada Keluarga Pratu Heru Oktavianus.

Walau tampaknya, kecil kemungkinan santunan dari Pihak Kepolisian akan diterima oleh Pihak Keluarga karena terlanjur marah dan kecewa.

Tapi carilah jalan yang paling baik dan paling bijaksana untuk menyerahkan santunan kepada Keluarga Korban. Serahkan kepada pimpinan korban, atau lewat TNI Angkatan Darat.

Dan selain uang santunan, hal yang paling penting untuk dilakukan POLRI adalah tindak tegas, bahkan pecat sekalian, pelaku penembakan yang telah mengorbankan Pratu Heru Oktavianus.

Kalau memang bisa dibawa ke Pengadilan dari segi pidana umum, adili yang bersangkutan agar hukuman yang setimpal bisa dijatuhkan oleh majelis hakim.

Ini harus jadi pembelajaran yang sangat berarti untuk semua jajaran Satlantas Kepolisian diseluruh Indonesia.

Anda diberi wewenang untuk membawa dan menggunakan senjata api, bukan untuk main tembak seenak jidat anda.

 

Almarhum Prajurit Satu (Pratu) Heru Oktavianus

Almarhum Prajurit Satu (Pratu) Heru Oktavianus

 

Menutup tulisan ini, tak ada salahnya jika kita simak bersama-sama curahan hati dari kakak kandung Almarhum Heru Oktavianus, yang ditulisnya di sebuah blog tanggal 9 Februari 2013 lalu. 

Agar kita dapat ikut merasakan rasa kehilangan dari keluarga korban.

Termasuk Polri (dalam hal ini Propam Polri) juga bisa mendapat informasi tambahan, tentang apa sebenarnya yang menjadi pokok permasalahan terkait tragedi Mapolres OKU.

Inilah curahan hati kakak kandung dari Almarhum Pratu Heru Oktavianus, yang dikutip dari sebuah Blog :

Adikku.. Dia adikku satu satunya.

Aku tidak punya lagi selain dia. Dia bukan penjahat. Dia bukan orang yang ada dalam Daftar Hitam kepolisian.

Dia hanya pemuda 23 tahun yang masih sangat muda, yang polos tiap kali bercerita kepadaku, yang selalu bikin ketawa ibu kami ketika menceritakan cita cita dan keinginannya.

Dia tidak pernah berbuat jahat. Kami kenal betul siapa Heru.

Masih banyak yang ingin dia lakukan.

Masih banyak impiannya.

Kenapa kalian sedemikian kejam mengambilnya dari kami.

Dari reka ulang yang aku dengar dari berita online, pembunuh BIADAB itu bernama Brigadir WIJAYA. Anggota Satlantas Polres OKU Baturaja.

Si pembunuh ini mengatakan, malam itu Heru lewat bersama 5 orang temannya. Tapi entah kenapa dia tertinggal dibelakang.

Katanya heru meneriakkan kata kata ejekan kepada Polisi yang sedang bertugas. Dan polisi bersama dua orang temannya mengejar Heru hingga ke ujung jembatan sukajadi dan entah apa yang terjadi, si polisi biadap ini menembakkan pelurunya ke arah heru. Timah panas itu menembus punggung adikku semata wayang. Sungguh pengakuan yang tidak masuk diakal. Adikku bukan orang gila yang akan berteriak2 seorang diri apalagi sampai mengejek orang. Dia gak seusil  itu. Aku kenal betul dia. Dia gak akan menyerang kalau tidak diserang orang lain. Tembakan dari belakang. Sangat aneh. Jika duel, maka tembakan akan muncul di depan.

Yang kudengar Heru sendirian, bukan bersama temannya. Di tubuhnya hanya terlihat luka tembakan, tidak ada bekas duel, memar atau apapun.

Proyektil peluru yang harusnya menjadi bukti pun hilang.

Baju heru juga tidak ditemukan.

WIJAYA, kamu mungkin memang bisa menghilangkan barang bukti. Kamu hebat berusaha untuk lepas dari jerat hukum.

Tapi Saya, ibu saya, Ayah saya.. Setiap tetes darah adik saya yang menetes karena kebiadaban kamu. Karena nafsu binatang kamu.. setiap tetes air mata orang tua saya.. Setiap rasa sakit yang dirasakan oleh adik saya, kamu akan menggantinya. Dengan sesuatu yang jauh lebih perih dan menyakitkan. Saya percaya hukum Allah adalah yang paling adil dari semua hukum yang ada di dunia ini. Bagaimanapun besarnya upaya kamu untuk melepaskan diri dari hukuman. Bagaimanapun hebatnya pengacara yang kamu pakai dan alibi yang kamu punya untuk meringankan hukuman dunia. Hukuman akhirat sudah menanti kamu. Tidak kamu, mungkin satu saat nanti orang yang paling berharga untuk kamulah yang akan merasakan hal yang jauh lebih perih!!

Kami sudah mengikhlaskan kepergian Heru.

Bahwa Allah menyayanginya.

Allah mengambilnya dalam keadaan teraniaya, insyaAllah syahid dan syurga untuknya.   (*)

 

 

MS

About these ads

Comments are closed.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 12,080 other followers