Antara Khamenei, Rouhani Dan Pidato Netanyahu di PBB

Foto kombinasi : (Dari kiri ke kanan) Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu

Foto kombinasi : (Dari kiri ke kanan) Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu

 

Jakarta, 28 September 2013 (KATAKAMI.COM)  —  Semua nyaris terkesima mendengar betapa hangat, elegan dan manisnya pidato dari Presiden Iran (yang baru) Hassan Rouhani di podium Sidang Majelis Umum PBB ke 68 di New York, hari Selasa (25/9/2013) lalu.

Pidato Presiden Iran Hassan Rouhani pada sidang ke-68 Majelis Umum PBB di New York, diliput secara meluas media massa dunia. Rouhani dalam pidatonya menekankan sejumlah poin penting yang memaparkan dua fakta penting yang dihadapi dunia.

Fakta pertama adalah kekhawatiran perang dan berlanjutnya hubungan konfrontatif regional dan global, serta meluasnya kekerasan, ekstrimisme dan kehancuran kehormatan umat manusia. Adapun fakta kedua adalah harapan akan perdamaian dan bukan untuk berperang, serta harapan pengutamaan dialog di atas perang dan kemoderatan di atas ekstrimisme.

Dua pokok tersebut dapat menjadi pondasi pemikiran baru di dunia yang menekankan agar kekuatan adidaya dunia alih-alih memikirkan aliansi untuk perang, lebih memfokuskan aliansi untuk perdamaian. Namun jelas sekali bahwa prakarsa ini sedang menghadapi tantangan serius dari kelompok pendukung perang dan krisis baik secara regional maupun global.

Contohnya dapat disaksikan dalam politik Timur Tengah Amerika Serikat dan NATO serta perang dan dampaknya di Afghanistan dan Irak pasca insiden 11 September.

Kenyataannya adalah saat ini dunia telah terbagi menjadi dua bagian yang tidak sama. Segelintir kekuatan adidaya dunia di satu sisi, demi mewujudkan kepentingan ilegalnya, mengancam sebagian besar dunia. Akibatnya adalah perluasan ekstrimisme, terorisme, serta krisis ekonomi dan sosial.

Dalam nuansa seperti ini, kekerasan mazhab, aliran dan bahkan etnis juga akan semakin meningkat dan tidak ada jaminan bahwa kekuatan adidaya dunia juga akan selamat dari dampak aksi-aksi kekerasannya.

Oleh karena itu, Presiden Iran menilai saat ini sebagai masa-masa sensitif dalam hubungan internasional yang dipenuhi dengan berbagai macam ancaman. Namun Rohani tidak menepis munculnya berbagai peluang istimewa untuk saat ini.

Menurut Rouhani, masa saat ini adalah masa permainan yang hasilnya berakhir dengan angka nol, akan tetapi segelintir negara tetap menggunakan mekanisme dan sarana usang yang sudah terbukti tidak efektif guna mempertahankan hegemoni masa lalunya.
Dalam hal ini, apa yang terjadi terhadap bangsa Palestina, tidak lain adalah kejahatan sistematis. Bumi Palestina diduduki. Hak-hak utama mereka dinistakan secara tragis. Warga Palestina dilarang kembali ke tanah kelahiran mereka.

Tragedi di Suriah juga merupakan salah satu contoh menyakitkan akibat ekstrimisme di kawasan.

Rouhani  menjelaskan bahwa tujuan-tujuan strategis ekspansionis serta upaya merusak perimbangan kekuatan di kawasan, tidak dapat disembunyikan di balik kata-kata manis perdamaian dan cinta kemanusiaan.

Klaim kekhawatiran terkait senjata kimia dan nuklir mereka (kekuatan adidaya) juga tidak ada artinya ketika mereka sendiri tidak berkomitmen untuk menghancurkan dan melarang pengembangan jenis senjata tersebut.

Di akhir pidatonya Presiden Rouhani mengatakan walaupun banyak kesulitan dan tantangan namun optimis akan masa depan.

“Saya tidak ragu akan masa depan yang cerah di seluruh dunia jika bersama-sama menolak kekerasan dan ekstrimisme. Harapan saya, sejalan dengan pengalaman pribadi dan nasional, datang dari kepercayaan yang diyakini oleh semua agama yang baik bahwa masa depan yang baik dan cerah sedang menunggu dunia.”

(I have no doubt that the future will be bright with the entire world solidly rejecting violence and extremism. Prudent moderation will ensure a bright future for the world. My hope, aside from personal and national experience, emanates from the belief shared by all divine religions that a good and bright future awaits the world).

Presiden Iran itu menutup pidatonya dengan mengutip Al Quran dan Alkitab dengan mengatakan “Sebagaimana disebutkan dalam Quran Yang Suci:

“Dan kami nyatakan dalam Mazmur, setelah kami nyatakan dalam Torah, bahwa pelayan-pelayanKu yang baik akan mewarisi dunia”.

(As stated in the Holy Qur’an: And We proclaimed in the Psalms, after We had proclaimed in the Torah, that My virtuous servants will inherit the earth).

 

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu

 

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, Rabu (25/9/2013) pagi mengecam Presiden Iran Hassan Rouhani karena mengemukakan apa yang dia gambarkan sebagai “pidato sinis yang penuh kemunafikan” di Majelis Umum PBB.

Rouhani, yang meraih kekuasaan Juni lalu dengan janji meredakan ketegangan dengan Barat dan memerangi sanksi pimpinan AS yang telah melumpuhkan perekonomian Iran, mengatakan dalam pidatonya bahwa negaranya tidak menimbulkan ancaman dan tidak mengejar senjata nuklir.

Namun, Netanyahu tidak yakin. “Seperti yang diperkirakan, itu adalah pidato sinis yang penuh kemunafikan,” kata PM Israel tersebut.

“Rouhani berbicara tentang hak asasi manusia bahkan saat pasukan Iran sedang berpartisipasi dalam pembantaian besar-besaran warga sipil tak berdosa di Suriah,” kata Netanyahu dalam sebuah pernyataan yang diterbitkan Rabu (25/9.2013) pagi di Yerusalem.

Dia juga menuduh Rouhani mengutuk “terorisme pada saat rezim Iran sedang menggunakan terorisme di puluhan negara di seluruh dunia”.

Netanyahu mengangkat masalah Rohani karena Presiden Iran itu menegaskan kembali posisi Teheran bahwa program nuklirnya untuk “tujuan damai”. 

“Itulah persisnya strategi Iran, berunding dan memainkan waktu dalam rangka memajukan kemampuannya untuk memperoleh senjata nuklir. Rohani tahu ini dengan baik,” tuduh Netanyahu.

“Masyarakat internasional harus menguji Iran bukan dengan kata-kata, tetapi dengan tindakan,” tambah Netanyahu, yang akan berpidato di Majelis Umum PBB pekan depan. 

Netanyahu menolak untuk mengesampingkan serangan militer terhadap program nuklir Iran yang dipersoalkan itu.

 

Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei (disebelah kiri) dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu

Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei (disebelah kiri) dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu

 

Entah sudah diatur atau sekedar kebetulan, jadwal pidato bagi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam Sidang Majelis Umum PBB justru mendapat urutan paling akhir di hari terakhir pelaksanaan Sidang Majelis Umum PBB.

Sudah sejak sepekan sebelum Netanyahu berpidato di sidang majelis umum PBB, Israel sudah mengumumkan bahwa inti dari pidato Netanyahu adalah tetap konsisten menekan pentingnya menhentikan semua upaya Iran untuk memproduksi senjata nuklir mereka.

Siapapun yang membaca, mendengar atau mengetahui bahwa Netanyahu akan kembali “menyerang” Iran dalam pidatonya di Sidang Majelis Umum PBB, pasti tak akan meragukan kebenaran dari sinyalemen tersebut.

Tahun lalu, dalam Sidang Majelis Umum PBB juga, Netanyahu begitu keras dan tajam menyerang Iran dalam pidatonya.

Bahkan seluruh dunia terkesima sebab Perdana Menteri yang merupakan Ketua Partai Likud di negaranya ini, sampai membawa alat peraga berupakan gambar bom atom yang menunjukkan seberapa persen Iran telah mengisi dan memenuhi uranium mereka untuk pembuatan nuklir.

Itu sebabnya, sejak sepekan sebelum Netanyahu akan tampil kembali berpidato di Sidang Majelis Umum PBB, kalangan media internasional mulai melemparkan joke atau guyonan, karikatur apalagi yang kali ini akan digambar oleh Perdana Menteri Netanyahu saat berpidato nanti ?

Netanyahu, termasuk juga Presiden Israel Shimon Peres, tampaknya memang bagai gunung es yang terlalu dingin bagi Pemerintah Iran saat ini.

Israel tetap tak bergeming dan bertahan dalam sikap yang sangat fokus mengawasi gerak-gerik Iran dalam kaitan pembuatan senjata nuklir.

Dan tak tanggung-tanggung, Israel sangat terus terang menyebutkan bahwa basis produksi senjata nuklir Iran ada di wilayah Qom sehingga produktivitas nuklir di wilayah ini harus ditutup.

Ketajaman Israel menekan Israel tentang dimana dan bagaimana Iran memproduksi nuklir, tahun lalu sempat dan memang pernah membuat Iran sampai harus menuding petugas-petugas badan tenaga atom internasional (IAEA) sengaja membocorkan hasil-hasil investigasi mereka selama ini di Iran untuk diserahkan kepada Israel.

 

Pemimpin Tertinggi Iran Khamenei dan Presiden Iran Hassan Rouhani

Pemimpin Tertinggi Iran Khamenei dan Presiden Iran Hassan Rouhani

 

Sehingga bisa dimaklumi, mengapa Iran begitu “sakit kepala” kalau sudah berurusan dengan Israel.

Umpatan demi umpatan, ejekan demi ejekan, penghinaan demi penghinaan, bertubi-tubi disampaikan Iran selama ini kepada Israel.

Tetapi Israel tetap fokus dengan sangat ketat mengawasi perkembangan dan kelanjutan program nuklir di Iran.

Sehingga barangkali, itu sebabnya Iran mulai tak nyaman karena mereka tahu bahwa Israel tampaknya memang tahu tentang apa saja yang terjadi di Iran.

Sambil menunggu, bagaimana performa dan apa saja isi dari pidato Perdana Menteri Netanyahu dalam Sidang Majelis Umum PBB, ada baiknya Israel diberi pengertian seperti ini.

Serangkaian sanksi ekonomi sudah bertubi-tubi dijatuhkan oleh Amerika Serikat dan negara-negara Uni Eropa terhadap Iran.

Ada sebuah realita kehidupan tentang perlunya dunia memberikan atensi dan kebaikan untuk rakyat Iran.

Setelah hampir 2 tahun Iran dibelenggu oleh sanksi-sanksi yang sangat berat, memang sudah saatnya sanksi-sanksi itu dicabut.

Perekonomian Iran tentu sudah sangat terganggu akibat begitu banyak dan begitu besarnya tekanan pada kehidupan rakyat Iran secara keseluruhan.

Memaksa Iran untuk duduk di meja perundingan, tak perlu lagi dengan cara-cara kekerasan yang mengakibatkan panjangnya penderitaan untuk rakyat mereka secara keseluruhan.

Lalu dari pihak Iran, terutama Khamenei sebagai pemimpin tertinggi (dimana seluruh keputusan tentang apapun yang terjadi dalam internal pemerintahan Iran akan selalu terpusat pada diri Khamenei), harus membuktikan kesungguhan mereka memulai hari dan lembaran baru.

Pujian tentang indahnya sebuah pidato Presiden Rouhani, bukan ukuran untuk membuktikan bahwa Iran memang akan bersedia berunding dan duduk manis di meja perundingan, terutama bersedia memberi akses serta ruang bagi kunjungan tim IAEA datang melakukan inspeksi ke sana.

Jika Israel mempermasalahkan kawasan Qom, berikan akses kepada tim IAEA untuk berkunjung dan melihat apa yang sebenarnya terjadi di sana.

Dan lewat penampilan Presiden Rouhani di Sidang Majelis Umum PBB, dunia harus menyadari bahwa sesungguhnya Pemimpin Tertinggi Iran Khamenei telah menunjukkan perubahan yang sangat mengagumkan, yaitu dengan memerintahkan Presiden Rouhani tampil dengan gaya baru dalam debut pertamanya di hadapan komunitas internasional.

Menawarkan persahabatan dan hubungan baik kepada semua pihak, termasuk kepada Amerika Serikat.

 

Presiden Palestina Mahmoud Abbas berpidato di Sidang Majelis Umum PBB pada hari Jumat, 27 September 2013. Untuk pertama kalinya, status Palestina ditulis resmi sebagai sebuah negara lewat kehadiran mereka dalam sidang PBB tahun ini.

Presiden Palestina Mahmoud Abbas berpidato di Sidang Majelis Umum PBB pada hari Jumat, 27 September 2013. Untuk pertama kalinya, status Palestina ditulis resmi sebagai sebuah negara lewat kehadiran mereka dalam sidang PBB tahun ini.

 

Sidang Majelis Umum PBB memang panggung terbaik untuk memperkenalkan Rouhani sebagai jurubicara dan humas yang sangat memancarkan daya tarik baru tentang Iran.

Tetapi kata-kata tak akan berarti apa-apa jika pada faktanya, Iran tak menunjukkan kesunggungan terkait perundingan dan membuka akses seluas-luasnya bagi IAEA.

Bukan pidato yang akan menentukan dicabut atau tidaknya semua sanksi dari Amerika atau Uni Eropa, melainkan bukti yang terang dan jelas bahwa Iran memang tidak memproduksi senjata nuklir untuk kepentingan yang disalah-gunakan.

Khamenei tampaknya menyadari bahwa satu-satunya negara didunia ini yang sulit untuk ditundukkan adalah Israel.

Memasukkan kutipan ayat injil dan Torah (kitab suci kaum Yahudi) ke dalam pidato resmi Presiden Rouhani untuk diperdengarkan ke hadapan internasional, tentu atas seizin dan memang merupakan perintah Khamenei.

Sesungguhnya kalau mau berkata jujur, uluran tangan untuk bersahabat dan berdamai itu lebih ditujukan Khamenei kepada Israel dan selanjutnya, kepada negara-negara Barat yang mayoritas memang menganut agama Kristen dan Katolik.

Namun khusus terhadap Israel, Khamenei terlihat sangat berhati-hati juga mengingat selama ini, apa saja tekanan dan ejekan yang dilontarkan Iran terhadap israel, tak ada satupun yang bisa menggoyang Israel.

Tapi, respek dan itikat baik untuk mengutip injil dan Torah ke dalam pidato Presiden Rouhani, harus diberi apresiasi.

Sebab hal tersebut, merupakan menunjukkan bahwa Khamenei atas nama Iran memberikan sebuah perhatian dan kepedulian yang tulus.

Tapi setulus-tulusnya Iran, oleh karena musuh besarnya adalah sekaliber Israel, maka dalam pidato Presiden Rouhani di PBB, faktor ketulusan itu digandengkan juga dengan kecaman-kecaman yang sifatnya mengkritisi betapa keras dan berlebihannya Israel selama ini menggunakan kekuatan militer mereka dalam memperlakukan isu Palestina.

 

Perdana Menteri Kanada Stephen Harper (disebelah kiri) dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (disebelah kanan) dalam sebuah pertemuan mereka di Kanada.

Perdana Menteri Kanada Stephen Harper (disebelah kiri) dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (disebelah kanan) dalam sebuah pertemuan mereka di Kanada beberapa tahun lalu

 

Sabtu (28/9/2013) waktu setempat, sesuai yang diberitakan oleh media setempat, PM Netanyahu didampingi oleh sang istri, Sara Netanyahu, dan delegasi Israel, sudah bertolak menuju New York, Amerika Serikat, untuk menghadiri Sidang Majelis Umum PBB.

Sesuai jadwal, PM Netanyahu akan berpidato pada urutan terakhir di hari Selasa (1/10/2013), atau hari Rabu (2/10/2013) waktu di Indonesia.

PM Netanyahu tiba di New York pada hari Minggu (29/9/2013) dan langsung dijadwalkan bertemu sekutu terdekat yang tampaknya semakin dekat dengan Israel, yaitu Perdana Menteri Kanada Stephen Harper.

Pada keesokan harinya, Senin (30/9/2013), PM Netanyahu akan bertolak menuju Washington untuk memenuhi undangan pertemuan dari sejumlah pihak, termasuk akan bertemu dengan para pimpinan Kongres Amerika.

Saat di Washington ini jugalah, PM Netanyahu dan istri akan menghadiri resepsi perpisahan yang diadakan oleh Duta Besar Israel untuk Amerika Michael Oren, yang akan resmi digantikan oleh Ron Dermer per tanggal 1 Oktober 2013.

Ia akan kembali ke New York pada Senin petang, untuk persiapan berpidato dalam Sidang Majelis Umum PBB pada hari Selasa (1/10/2013).

Sebelum terbang ke Amerika, Netanyahu mengatakan bahwa ia akan menyampaikan kebenaran yang sesungguhnya tentang Iran dalam pidatonya dalam Sidang Majelis Umum PBB :

“I will represent our rights as a people, our national interests and our determination to protect ourselves.  I will tell the truth in the face of the sweet talk and  blitz of smiles. the facts must be presented, the truth must be told. Telling the truth today is vital for world’s security and to the security of our nation”.

Ya begitulah Netanyahu, politisi yang sangat tak terduga dan kadang bicara “seenaknya” namun bisa terasa bagaikan tikaman yang menyayat hati bagi yang merasa tak sependapat dengan dirinya.

Kegilaan Netanyahu memang menggambarkan kegilaan Israel sebagai sebuah negara, dimana faktor keamanan nasional adalah harga mati yang tak akan mereka biarkan untuk diusik oleh pihak manapun juga didunia ini.

Khusus untuk Sidang Majelis Umum PBB yang masih terus berlangsung di New York, dI satu sisi Netanyahu mengecam pidato Presiden Iran Hassan Rouhani yang munafik dan sinis, walau terangkai dalam kalimat-kalimat yang “semanis madu”.

Tapi di sisi lain, Netanyahu juga memberikan isyarat bahwa ia pun juga akan siap menyampaikan pidato yang sama, atau bisa jadi, lebih manis dari manisnya pidato Rouhani.

Disitulah letak kegilaan Netanyahu.

Kegilaan dalam arti bahwa ia memang sangat cerdas dan tahu bagaimana merespon dengan kekuatan penuh di hadapan dunia.

Tetapi untuk kita semua, untuk seluruh komunitas internasional, menghadapi bagaimana Iran dan israel adu cerdas, adu gila dan adu keras dalam diplomasi serta perjalanan panjang perseteruan mereka di kancah internasional, semua pihak memang harus menyikapinya dengan tenang dan kepala yang dingin.

Israel memang telah membuktikan bahwa informasi apapun yang mereka katakan mengenai nuklir Iran, itu adalah sebuah fakta dan kebenaran.

Sehingga sempat pada periode tahun 2012 lalu, Iran sampai harus menuding Israel mendapatkan data-data dan informasi yang akurat mengenai segala sesuatu yang berkaitan dengan nuklir Iran, adalah dari hasil-hasil penyelidikan dari tim inspeksi IAEA.

 

Make peace. Not war.

Make peace. Not war.

 

Kini, berkaitan dengan masalah Iran.

Israel harus diberi pengertian bahwa sudah saatnya sanksi demi sanksi yang dijatuhkan Amerika dan Uni Eropa terhadap Iran, sudah saatnya dicabut demi kebaikan dan rasa kemanusiaan yang berkeadilan untuk rakyat Iran secara keseluruhan.

Kedekatan Israel yang sangat rapat sekali dengan Kongres Amerika, akan besar pengaruhnya terhadap keputusan Kongres Amerika terhadap kemungkinan pencabutan sanksi-sanksi ekonomi Amerika untuk Iran.

Tak dibutuhkan drama tentang indahnya pidato di Sidang Majelis Umum PBB atau betapa hangatnya percakapan telepon antara Presiden Rouhani dengan Obama kemarin.

Dunia memang harus diingatkan, termasuk Israel harus diberi pengertian, bahwa sanksi-sanksi apapun untuk Iran sudah saatnya dicabut dan dipulihkan kembali.

Harus dibedakan, antara masalah politik dunia, dengan pola kehidupan rakyat sipil di Iran yang tak ada kaitannya dengan hiruk pikuk tentang nuklir dan sejenisnya.

Membuat dan mengupayakan prinsip-prinsip perdamaian dan keamanan dunia, tak perlu lagi harus menempatkan begitu banyak rakyat Iran yang menjadi menderita akibat keras dan kejamnya sanksi-sanksi itu.

Kekuatan diplomasi seakan sudah tak punya energi apapun, kalau untuk sekedar meminta Iran berunding saja maka jutaan rakyat Iran yang harus disiksa dan dibelenggu dalam kekejaman sanksi internasional.

Saatnya sekarang, dilakukan perubahan ke arah yang lebih baik.

Bukan pertemuan antara Rouhani dan Obama yang akan menjadi daya tarik dunia.

Kalau mau jujur, sesungguhnya yang jauh lebih menarik adalah jika Khamenei bisa dan mau bertemu dengan Presiden Israel Shimon Peres, atau Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Hal yang sangat mustahil didunia ini adalah mempertemukan mereka.

Tetapi jika Tuhan berkehendak, apa yang tak mungkin didunia ini ?

Kalau memang tidak mau bertemu, tidak apa-apa.

Tetapi masing-masing pihak, sebaiknya mengambil sikap yang lebih lunak untuk mencairkan suasana ketegangan yang berimbas pada banyak pihak didunia ini.

Pidato semanis madu dari Presiden Rouhani sudah didengarkan dunia.

Maka dalam waktu yang tidak lama lagi, dunia juga akan mendengar pidato yang sama manisnya dari Perdana Menteri Netanyahu (seperti yang diisyaratkan Netanyahu saat akan berangkat ke Amerika).

Hidup ini memang sudah seharusnya diisi dengan segala sesuatu yang manis.

Tapi jangan juga serakah, kita ingin hidup kita manis tetapi hidup orang dibuat tak manis alias dibuat jadi pahit.

Dengan kemanisan=kemanisan didalam kehidupan nyata itulah, maka segala persoalan dan ketegangan dunia akan bisa diselesaikan dengan solusi-solusi yang juga manis.

Manis di Iran. Manis di Israel. Manis di Palestina. Manis di Suriah. Manis juga di Rusia dan Amerika.

Manis di manapun juga di dunia ini, kalau tidak ada nuklir, tidak ada perang dan tidak ada ketegangan politik.

Indah kan …. ?

Selamat berpidato untuk PM Netanyahu.

Jangan hanya pidato yang manis yang disampaikan ke hadapan dunia, tetapi sampaikanlah juga komitmen yang tegas dari Israel tentang pentingnya mewujudkan perdamaian dan keamanan dunia.

Mazmur 133.

 

 

MS

About these ads

Comments are closed.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 11,494 other followers