Indonesia-Singapura Sama-Sama Tak Salah Soal Usman Harun

Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono, berdiri di kiri belakang, dan Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong, menyaksikan Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa (duduk di sebelah kiri) dan Menteri Luar Negeri Singapura K Shanmugam, duduk di sebelah kanan.

Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono, berdiri di kiri belakang, dan Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong, menyaksikan Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa (duduk di sebelah kiri) dan Menteri Luar Negeri Singapura K Shanmugam, duduk di sebelah kanan.

 

Jakarta, 8 Februari 2014 (KATAKAMI.COM)  — Beberapa hari terakhir ini, media menyoroti kontroversi penamaan kapal-kapal milik TNI Angkatan Laut.

TNI AL akan menerima tiga kapal kelas fregat ringan jenis Nakhoda Ragam pada tahun 2014.

Kapal yang sudah dilengkapi dengan persenjataan terbaru buatan Inggris ini awalnya dipesan Brunei, tetapi dibatalkan.

Kapal pertama yang datang, Juni mendatang, akan diberi nama KRI Bung Tomo.

Kapal kedua dan ketiga yang datang berikutnya akan diberi nama KRI John Lie dan KRI Usman Harun.

Penamaan ketiga kapal itu untuk mengenang jasa Bung Tomo, John Lie, dan Usman Harun bagi bangsa Indonesia.

Usman Harun adalah anggota Komando Korps Operasi (KKO) yang sekarang dikenal sebagai Korps Marinir TNI AL. Usman dan Harun adalah anggota pasukan khusus yang menyusup ke Singapura semasa Konfrontasi Ganyang Malaysia (1963-1966).

Usman dan Harun digantung Pemerintah Singapura setelah berhasil meledakkan Mac Donald House di Singapura.

Dikutip dari Channel News Asia, setelah pemberitaan media massa Indonesia  mengenai penamaan KRI Usman Harun, Menteri Luar Negeri Singapura, K Shanmugam, menyampaikan keberatannya kepada Menteri Luar Negeri Indonesia, Marty Natalegawa.

Menurut Shanmugam, penamaan ini akan melukai perasaan rakyat Singapura, terutama keluarga korban dalam peristiwa pengeboman MacDonald House di Orchard Road, Singapura pada tahun 1965 lalu.

Usman Harun diambil dari nama dua anggota KKO (Komando Korps Operasi, sekarang Marinir), Usman dan Harun Said yang mengebom MacDonald House di Orchrad Road yang menewaskan tiga orang pada masa konfrontasi dengan Malaysia, pada 1965.  Keduanya dieksekusi di Singapura pada 17 Oktober 1968.

Namun, begitu tiba di Tanah Air, keduanya dielu-elukan sebagai pahlawan dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan.

 

Jenazah Usman dan Harun

Jenazah Usman dan Harun

 

Pengabdian Sersan Usman dan Kopral Harun tak akan dilupakan TNI AL dan seluruh bangsa Indonesia.

Dua prajurit KKO ini digantung pemerintah Singapura saat konfrontasi Dwikora tahun 1968.

Tapi, bagaimanakah sebenarnya kisah tentang pengeboman yang mereka lakukan di Singapura ?

Hal ini perlu dikemukakan juga kepada rakyat Indonesia, terutama generasi muda saat ini, agar tidak ada satu lembarpun sejarah yang disalahkan jika memang benar, dan tidak ada satu lembarpun sejarah yang disalahkan jika memang benar.

Periode 1960an, pemerintahan Soekarno memang gerah dengan pembentukan Negara Malaysia. Singapura yang anggota persemakmuran Inggris ini juga dianggap pangkalan Blok Barat yang dapat mengancam Republik Indonesia.

Soekarno mengirim ribuan sukarelawan untuk bertempur di perbatasan Kalimantan dan Serawak.

Berbagai operasi intelijen juga digelar di Selat Malaka dan Singapura. Tujuannya untuk mengganggu stabilitas keamanan di Singapura.

Adalah Usman dan Harun, dua anggota satuan elite KKO yang ditugaskan untuk mengebom pusat keramaian di Jl Orchard, Singapura. Mereka berhasil menyusup ke Mac Donald House dan meledakkan bom waktu di pusat perkantoran yang digunakan Hongkong and Shanghai Bank itu.

Ledakan dahsyat itu menghancurkan gedung tersebut dan gedung-gedung sekitarnya.

Tiga orang tewas sementara 33 orang terluka parah. Beberapa mobil di Jl Orchard hancur berantakan.

Peristiwa itu terjadi 10 Maret 1965.

Setelah menyelesaikan misinya, Usman dan Harun berusaha keluar Singapura. Mereka berusaha menumpang kapal-kapal dagang yang hendak meninggalkan Singapura namun tidak berhasil. Pemerintah Singapura telah mengerahkan seluruh armadanya untuk memblokir Selat Malaka. Hampir tidak ada kesempatan untuk kabur.

Usman dan Harun kemudian mengambil alih sebuah kapal motor.

Malang, di tengah laut kapal ini mogok.

Mereka pun tidak bisa lari dan ditangkap patroli Singapura.

Keduanya dijebloskan ke penjara.

Hakim mengganjar mereka dengan hukuman gantung atas kasus pembunuhan, penggunaan bahan peledak dan melakukan tindakan terorisme. Pemerintah Indonesia mencoba banding dan mengupayakan semua bantuan hukum dan diplomasi.

Gagal, semuanya ditolak Singapura.

Suatu pagi, selepas subuh tanggal 17 Oktober 1968, keduanya dikeluarkan dari sel mereka.

Dengan tangan terborgol dua prajurit ini dibawa ke tiang gantungan. Tepat pukul 06.00 waktu setempat, keduanya tewas di tiang gantungan.

Presiden Soeharto langsung memberikan gelar pahlawan nasional untuk keduanya.

Sebuah Hercules diterbangkan untuk menjemput jenazah keduanya. Pangkat mereka dinaikkan satu tingkat secara anumerta. Mereka juga mendapat bintang sakti, penghargaan paling tinggi di republik ini.

Setelah tiba di Jakarta, hampir satu juta orang mengiringi jenazah mereka dari Kemayoran, Markas Hankam hingga Taman Makam Pahlawan Kalibata. Semuanya menangisi nasib dua prajurit ini dan mengutuk Malaysia. Apalagi Korps KKO yang merasa paling kehilangan.

“Jika diperintahkan KKO siap merebut Singapura,” ujar Komandan KKO, Mayjen Mukiyat geram di depan jenazah anak buahnya.

Pemerintah menghormati jasa kedua prajurit tersebut.

Berdasarkan SK Presiden RI No.050/TK/Tahun 1968, tanggal 17 Oktober 1968.

Keduanya dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.

 

Dua sahabat lama saling bertemu tentu sangat membahagiakan. Itulah gambaran pertemuan mantan PM Singapura Lee Kuan Yew dengan mantan Presiden Soeharto. Saat mengantar tamunya pulang, Soeharto kelihatan sumringah dan sehat (tanpa kursi roda). Dia menebar senyum dan melambaikan tangan. Lee Kuan Yew meninggalkan kediaman Jenderal Besar Soeharto di Jalan Cendana 8, Jakarta Pusat, pukul 12.50 WIB, Rabu (22/2/2006)

Dua sahabat lama saling bertemu tentu sangat membahagiakan. Itulah gambaran pertemuan mantan PM Singapura Lee Kuan Yew dengan mantan Presiden Soeharto. Saat mengantar tamunya pulang, Soeharto kelihatan sumringah dan sehat (tanpa kursi roda). Dia menebar senyum dan melambaikan tangan. Lee Kuan Yew meninggalkan kediaman Jenderal Besar Soeharto di Jalan Cendana 8, Jakarta Pusat, pukul 12.50 WIB, Rabu (22/2/2006)

 

Lalu, terkait dengan adanya keberatan dari pihak Pemerintah Singapura tentang penamaan KRI menggunakan nama Usman dan Harun, Menkopolhukkam Djoko Suyanto berdalih bahwa tak sepantasnya Singapura memprotes karena dahulu kata PML Lee Kuan Yew sudah berziarah dan meletakkan karangan bunga ke makam Usman dan Harun di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Tapi, lagi-lagi, mari kita bersikap bijaksana dalam menyikapi dan membaca lembaran-lembaran sejarah di negara ini.

Peletakan karangan bunga oleh PM Lee Kuan Yee tersebut, adalah kepiawaian diplomasi Mantan Presiden Soeharto dan PM Lee Kuan Yew.

Tribun News edisi 27 Juni 2011, pernah menuliskan kisah tentang peletakan karangan bunga tadi, sebagai berikut :

Dua anggota marinir Indonesia, Usman dan Harun, divonis hukuman mati oleh pengadilan Singapura pada pemerintahan Orde Lama. Mereka dituduh melakukan infiltrasi ke Singapura terkait operasi konfrontasi dengan Malaysia.

Untuk menyelesaikan masalah itu, Soeharto menunjuk Abdul Rachman (AR) Ramly yang ketika itu berpangkat Letnan Kolonel Angkatan Darat, sebagai liason officer (perwira penghubung), mewakili pemerintah RI. Waktu itu Indonesia  belum punya hubungan diplomatik dengan Singapura.

Ramly kemudian bertemu dengan pemerintah Singapura, menyampaikan informasi bahwa pemerintahan di Indonesia sudah beralih kepada Orde Baru yang berkeinginan Usman dan Harun tidak dihukum gantung. Ternyata keinginan itu membentur tembok. Singapura menyatakan masalah Usman dan Harun harus diselesaikan secara hukum.

Singapura termasuk negara persemakmuran sehingga keputusan hukum tertinggi ada di London, Inggris.  Dibantu pengacara Singapura, pemerintah RI  mengajukan banding ke London. Hasilnya, banding ditolak.

Ramly kemudian melapor kepada Soeharto, meskipun beberapa orang di Departemen Luar Negeri menyarankan agar tidak perlu menceritakan masalah itu kepada Presiden. “Bagi kami, masalah anak buah harus kami tuntaskan. Bagi saya pribadi, saya juga tidak bisa membiarkan warga negara Indonesia mendapat masalah di luar negeri. Saya tetap melapor ke Pak Harto,” kata Ramly.

“Mengapa Singapura ingin sekali menggantung mereka,” tanya Pak Harto kepada Ramly. “Kesimpulan umum kami, Pak, Singapura itu kan negara kecil. Sebagai negara kecil, mereka ingin eksis, maka mereka menggunakan alasan rule of law yang harus ditegakkan. Hukum yang diterapkan di Singapura adalah hukuman mati,” jawab Ramly.

“Bagaimanapun kita tetap harus berusaha keras agar Usman dan Harus tidak digantung,” kata Soeharto. Ramly kemudian minta kepada Soeharto menulis surat kepada pemerintah Singapura, isinya minta agar Usman dan Harun tidak dihukum mati.

Soeharto memenuhi saran Ramly. Berbekal surat tersebut, Ramly menemui Presiden Singapura, Yusuf Ishak, yang didampingi Wakil Perdana Menteri. Sang presiden menyatakan, urusan pemerintahan berada di tangan Perdana Menteri Lee Kuan Yew, sedang dirinya hanyalah lambang negara tanpa kewenangan pemerintahan.

Celakanya, saat itu Lee tengah dalam perjalanan ke Amerika Serikat.

Dari penelusuran Ramly, Lee ternyata singgah di  Tokyo, Jepang. Ramly kemudian minta bantuan Duta Besar RI di Jepang, Rukminto, menemui Lee Kuan Yew untuk menyampaikan permohonan Soeharto terkait Usman dan  Harun.

Ternyata Lee tidak bersedia menanggapi permohonan itu dengan alasan sedang dalam kondisi cuti dan tidak punya hak mengambil keputusan apapun.

Menurut Lee, Wakil Perdana Menteri Singapura yang bertanggungjawab.

“Baiklah, surat Presiden Soeharto sudah kami terima dan akan kami pikirankan,” kata Wakil Perdana Menteri Singapura yang ditemui Ramly. Sepuluh hari kemudian, pemerintah Singapura menyatakan hukuman mati tetap dilaksanakan.

Tak pelak hubungan Indonesia-Singapura menegang. Jelang eksekusi hukuman gantung, seluruh staf Kedubes RI di Singapura dipulangkan, kecuali atase pertahanan dan beberapa staf lain. Kapal-kapal RI  juga pulang membawa warga negara Indonesia.

Meski gagal meloloskan Usman dan Harun dari tiang gantungan, Soeharto punya cara tersendiri untuk membela mereka.

“Ketika PM Lee ingin berkunjung ke Indonesia, dua tahun setelah hukuman mati dilaksanakan, Pak Harto mempersilakan datang. Syaratnya, harus meletakkan karangan bunga secara langsung di makam Usman dan Harun di Taman makam Pahlawan Kalibata,” kata Ramly.

Menurut Ramly syarat itu tidak lazim.

“Namun entah dengan pertimbangan apa, PM Lee setuju meletakkan karangan bunga di makam Usman dan Harun. Baru setelah itu hunungan Jakarta-Singapura membaik,” ujar Ramly, demikian yang dikutip dari Tribun News.

 

mantan PM Singapura Lee Kuan Yew, bersama sang istri tercinta, Kwa Geok Choo, dan putra mereka, Lee Hsien Loong, yang saat ini menjadi Perdana Menteri Singapura

mantan PM Singapura Lee Kuan Yew, bersama sang istri tercinta, Kwa Geok Choo, dan putra mereka, Lee Hsien Loong, yang saat ini menjadi Perdana Menteri Singapura

 

Usman dan Harun, walau keduanya adalah Pasukan Elite dari Komando Korps Operasi (KKO), faktanya memang menyusup ke Singapura semasa Konfrontasi Ganyang Malaysia (1963-1966) dan berhasil meledakkan Mac Donald House di Singapura.

Kita sebagai sebuah bangsa yang beradab dan menghormati hukum, tentu tidak boleh menutup mata secara picik.

Jujur bahwa apa yang dilakukan kedua pasukan elite ini, sejujurnya memang salah karena mereka sudah melakukan pelanggaran hukum di negara lain.

Menyerang, meledakkan dan menghancurkan negara lain secara sengaja, atas nama operasi apapun itu namanya, tetapi tindakan mereka sebenarnya salah di hadapan hukum (terutama berdasarkan hukum Singapura).

Bahwa mantan PM Lee Kuan Yew bersedia meletakkan karangan bunga ke malam Usman dan Harun di Taman Makam Kalibata, seperti yang dimuat dalam pemberitaan Tribun News tadi, adalah syarat yang disampaikan Mantan Presiden Soeharto jika Singapura memang ingin menjalin hubungan yang baik dengan Indonesia.

Artinya apa ?

Kita harus hargai sebuah keberanian dari Mantan PM Lee Kuan Yew melakukan sesuatu yang harusnya tak perlu ia lakukan.

Itu menandakan bahwa Mr Lee Kuan Yew sungguh memandang bahwa Indonesia adalah negara tetangga yang hubungannya memang harus baik dan dibuat menjadi baik dengan Singapura.

Jadi kalau saat ini ada rasa dan pernyataan keberatan dari Pemerintah Singapura terhadap rencana penamaan Usman dan Harun, itu adalah hal yang wajar.

Sangat wajar dan memang sudah menjadi kewajiban PM Lee Hsien Loong mengungkapkan rasa keberatan mereka, sebab apa yang dulu pernah dilakukan Usman dan Harun di Singapura adalah sebuah tindakan yang “melebihi batas” dan melanggar hukum setempat.

Kalau itu terjadi di Indonesia, kita pun akan dapat merasakan, apa yang dirasakan oleh Singapura saat ini.

Jadi Pemerintah Indonesia tidak perlu terlalu bereaksi sangat berlebihan, jika Pemerintah Singapura menyampaikan keberatan mereka.

Sekali lagi wajar.

Indonesia tidak salah, jika ingin memberikan nama Usman dan Harun sebagai nama Kapal Perangnya.

Tetapi, Singapura juga tidak salah samasekali, jika mereka secara jujur mengakui bahwa mereka keberatan, sehubungan dengan apa yang dulu pernah dilakukan Usman dan Harun terhadap negara dan rakyat Singapura.

Dan harus dicatat, saat Presiden Soeharto jatuh dari kekuasaannya, dan hingga melewati hari-hari yang sepi sendiri takkala disana disini dihujat sangat kasar, mantan Perdana Menteri Lee Kuan Yew justru datang memberikan perhatian sebagai kawan lama.

Tetangga saja bisa menghormati pemimpin kita, sementara kita justru membenci dan penuh caci maki kepada Pak Harto.

Padahal proses meletakkan karangan bunga ke makam Usman dan Harun oleh PM Lee Kuan Yew adalah kemampuan diplomasi yang jempolan dari seorang Soeharto.

Ke depan, hubungan baik dan kerjasama antara Indonesia-Singapura, harus tetap terjaga dan terpelihara.

Saling menghormati, saling mempercayai dan saling menjaga persahabatan antar kedua negara.

Seperti kata pepatah, “Seribu teman masih kurang, Tetapi 1 orang musuh sudah kebanyakan”.

Jagalah persahabatan !

 

 

MS

About these ads

Comments are closed.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 12,080 other followers