Setelah Dapat Restu Obama, Joe Biden Siap Umumkan Pencalonan

Presiden Amerika Serikat Barack Obama dan Wapres Joe Biden
Presiden Amerika Serikat Barack Obama dan Wapres Joe Biden

Oleh : Mega Simarmata, Editor in Chief KATAKAMI

Jakarta, Kamis 27 Agustus 2015 (KATAKAMI) — Sepekan terakhir ini adalah hari-hari yang sangat amat sibuk untuk Wakil Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, berkaitan dengan rencananya untuk maju pilpres 2016.

Hari Sabtu tanggal 22 Agustus lalu misalnya, Biden telah mengadakan pertemuan pribadinya dengan Senator asal Massachusetts, Elizabeth Warren.

Elizabeth Warren dispekulasikan akan ikut maju dalam pilpres, melengkapi nama Hillary Clinton dan Bernie Sanders, sebagai politisi-politisi Partai Demokrat akan akan memperebutkan tiket menuju pertarungan puncak Pilpres Amerika Serikat tanggal 8 November 2016 melawan capres dari Partai Republik.

Selanjutnya, Biden juga merekrut Kate Bedingfield sebagai Direktur Komunikasinya yang baru.

Dan diawal pekan ini, sekembalinya Presiden Obama dari liburan selama 17 hari di Martha’S Vineyard, Biden dan Obama makan siang bersama yang memang dijadwalkan untuk dilakukan seminggu sekali antara keduanya.

Kemudian di hari Rabu kemarin, Biden juga telah berbicara dengan tokoh-tokoh kunci di Partai Demokrat tentang kemungkinannya untuk maju sebagai capres.

Biden menyampaikan kepada para petinggi Partai Demokrat bahwa jika memang ia akan maju, ia harus mempersembahkan seluruh hati dan jiwanya untuk maju dalam pertarungan ini.

Presiden Barack Obama dan Wapres Joe Biden
Presiden Barack Obama dan Wapres Joe Biden

Disaat Partai Republik sudah masuk dalam tahap debat capres tahap kedua pada pertengahan bulan September mendatang, tidak demikian halnya dengan Partai Demokrat.

Selama ini, pencapresan dari partai Demokrat hanya stagnan pada nama Hillary Clinton yang seolah mengungguli Bernie Sanders.

Sampai dengan saat ini, dari jajaran Partai Demokrat memang baru Hillary Clinton dan Bernie Sanders yang sudah secara resmi mengumumkan pencalonan mereka.

Tapi dengan masuknya nama Joe Biden, maka diprediksi yang akan menjadi rival terberat Hillary Clinton adalah Joe Biden.

Sebab Hillary harus beradu terlebih dahulu melawan Joe Biden dalam rivalitas didalam internal Partai Demokrat.

Pertarungan antara Joe Biden melawan Hillary Clinton memang akan menjadi sebuah drama politik yang sangat menarik.

Yang membuat semua ini menarik adalah karena faktor Obama yang diposisikan untuk memilih, apakah restu dan dukungannya akan diberikan kepada sang wapres yaitu Joe Biden, atau kepada mantan Menteri Luar Negerinya di periode pertama Obama Administration yaitu Hillary Clinton.

Suara minor keluar bahwa seolah Obama anti gender jika ia tidak memberikan restu dan dukungannya kepada Hillary Clinton untuk maju sebagai capres.

Sesungguhnya tidak demikian.

Presiden Barack Obama dan Wapres Joe Biden
Presiden Barack Obama dan Wapres Joe Biden

Restu dari Obama sebagai presiden untuk Joe Biden tidak bisa diartikan bahwa Obama anti gender.

Ketika ia menunjuk Hillary Clinton untuk menjadi Menteri Luar Negeri, penunjukan itu sudah membuktikan betapa rendah hati dan berbesar jiwanya Obama terhadap Hillary.

Padahal sepanjang Hillary menjadi lawan politik Obama menuju Pilpres, serangan-serangan Hillary kepada Obama sungguh sangat kotor dan memprihatinkan.

Wajar jika Obama ingin agar Partai Demokrat tetap bisa mempertahankan kekuasaan.

Apalagi mengingat lawan-lawan politik yaitu para nominator capres dari Partai Republik saat ini, semua adalah lawan-lawan yang teramat tangguh.

Serangan-serangan Partai Republik terhadap Hillary Clinton sudah sangat bertubi-tubi.

Sementara Pilpres masih akan berlangsung satu tahun ke depan.

Jika Partai Demokrat ingin menang, barangkali yang ada di pikiran Obama adalah Partai Demokrat memang harus punya alternatif capres lain, yang nilai jualnya lebih kompromi terhadap perkembangan politik saat ini di Amerika Serikat.

Barack Obama dan Joe Biden
Barack Obama dan Joe Biden

Obama memang sudah tidak dimungkinkan untuk maju sebagai capres karena konstitusi hanya memperbolehkan setiap presiden menjabat selama 2 priode.

Tapi faktor Obama tetap akan menjadi tantangan terberat bagi siapapun yang akan maju sebagai capres tahun depan.

Sebagai presiden, Obama punya banyak informasi dan pengaruhnya bisa sampai ke ujung dunia manapun juga.

Kepiawaian dan strategi-strategi politik Obama jelas akan sangat menguntungkan Biden, jika Obama sudah memutuskan untuk merestui dan mendukung Joe Biden.

Menjelang diumumkannya pencalonan Joe Biden, Hillary mulai nyinyir menyindir bahwa sebaiknya Joe Biden memikirkan yang terbaik untuk dirinya dan keluarga saja.

Dalam arti kata, Hillary ingin mematahkan ambisi politik Biden untuk maju sebagai capres.

Satu yang Hillary lupa bahwa apa yang terbaik untuk dilakukan kepada negara, itulah yang harus diprioritaskan.

Bukan diri sendiri, atau keluarga.

Menjawab serangan Hillary yang nyinyir, Joe Biden bisa mengutip apa yang dulu pernah dikatakan oleh mendiang salah seorang Presiden Amerika Serikat, John F. Kennedy:

“My fellow Americans, ask not what your country can do for you, ask what you can do for your country”.

Run Joe, Run !    (*)

MS

Menyapa Komandan Paspampres Dan Bareskrim Polri Lewat What’s App

Presiden Joko Widodo (Jokowi), didampingi Komandan Paspampres Mayjen Andika Perkasa yang berdiri persis di sebelah presiden, menyapa warga saat berolahraga jalan kaki menuju Bundaran HI, Jakarta, Minggu (2/11/2014).
Presiden Joko Widodo (Jokowi), didampingi Komandan Paspampres Mayjen Andika Perkasa yang berdiri persis di sebelah presiden, menyapa warga saat berolahraga jalan kaki menuju Bundaran HI, Jakarta, Minggu (2/11/2014).

Oleh : Mega Simarmata, Editor in Chief KATAKAMI.COM

Jakarta, Selasa 30 Juni 2015 (KATAKAMI.COM) —  Entah mulai kapan What’s App diperkenalkan dan mulai digunakan oleh warga dunia, termasuk di Indonesia.

Tapi saya baru 3 bulan terakhir ini menggunakan What’s App.

Blackberry Messanger (BBM), masih saya gunakan, walau teman saya di BBM hanya 1 orang yaitu Kapolda Metro Jaya, Irjen Tito Karnavian.

Sebab saya bukan pengguna BBM yang aktif.

Sesekali, kalau saya punya cerita dan informasi yang panjang untuk Metro 1 atau Kapolda Metro Jaya, BBM yang akan saya gunakan.

Menggunakan What’s App, masih sangat baru buat saya tapi saya mulai terbiasa.

Walau tetap, twitter yang menjadi idola dan kesukaan saya dalam memantau berita dari seluruh manca negara.

What’s App atau WA, lumayan asyik.

Yang menyenangkan dari WA adalah saya bisa menyapa sahabat-sahabat, siapapun mereka.

Termasuk Komandan Pasukan Pengamanan Presiden atau Dan Paspampres, Mayjen Andika Perkasa.

Andika yang memiliki kode panggilan SEMERU didalam internal Paspampres, sesekali saya sapa di WA.

Seperti beberapa hari lalu, saya kirim pesan di WA untuk Andika yang isinya seperti ini:

“Setia, Komandan Andika”.

Andika menjawab, “Mbak Mega”.

Saya jawab lagi, “Wah, disapa Setia, jawabnya kok Mbak Mega. Harusnya jawab Waspada dong”.

Setia Waspada adalah motto Paspampres.

Yang termasuk sangat sering saya sapa di WA adalah para penyidik di Bareskrim Polri.

Bapak-bapak polisi dari jajaran Bareskrim Polri ini cukup ramah, sopan dan menyenangkan.

Mereka asyik-asyik aja dan tidak keberatan, jika mendapat kiriman link berita, atau foto-foto dari nomer saya.

Foto yang saya kirimkan, biasanya ada sisi beritanya.

Misalnya, saya kirimkan perkembangan foto-foto erupsi dan guguran awan panas hari per hari tentang Gunug Sinabung.

Atau hal-hal menarik lainnya dari dalam dan luar negeri, yang saya dapat dari TWITTER.

Beberapa hari lalu, saya juga mengirimkan informasi tentang daftar hari libur dan cuti bersama untuk tahun 2016.

Seorang penyidik dari Bareskrim menjawab dengan mengirimkan kode gambar tersenyum.

Lalu saya katakan kepada bapak polisi yang satu ini, “Kecuali untuk polisi-polisi ya pak, tidak ada hari libur untuk polisi. Kerja terus”.

Yang mengejutkan saya adalah saat saya membaca bahwa Bareskrim menangkap seorang pegawai Bank Permata yang menilep uang deposito nasabahnya senilai Rp. 29 Miliar.

Tukang tilep ini ditangkap Sabtu dinihari jam 04.00 WIB.

Saya langsung ingat pada candaan saya di What’s App bahwa tidak ada hari libur untuk polisi.

Kerja terus, kapanpun itu, dan dimanapun itu.

Saya kagum pada bapak-bapak polisi yang “gak ada matinya”.

Kembali soal What’s App.

Buat saya, What’s App menjadi sebuah sarana untuk menjalin dan mempertahankan tali silahturahmi dengan sangat positif.

Menggunakan What’s App, ternyata sangat menyenangkan.

Terlebih lagi karena panggunaannya tanpa biaya apapun.

Hebat !  (*)

MS

Untuk Menteri Clometan Yang Melecehkan Jokowi, “You Are Nothing !”

Presiden Joko Widodo
Presiden Joko Widodo

Oleh : Mega Simarmata, Editor in Chief KATAKAMI.COM

Jakarta, Selasa 30 Juni 2015 (KATAKAMI.COM) — Sangat mengejutkan ketika ada pemberitaan yang mengatakan bahwa seorang menteri sudah dengan sengaja melecehkan dan mengotori wibawa dari Presiden Joko Widodo.

Mengutip dari pemberitaan media massa yang sudah dengan cepat mendapat bocoran tentang menteri bermulut clometan tersebut:

Berikut bunyi teks tersebut:

“Kalau memang saya hrs dicopot, silakan! Yg penting presiden bisa tunjukan apa kesalahan saya dan jelaskan bahwa atas kesalahan itu, saya pantas dicopot!  Belum tentu juga Presiden ngerti, apa tugas saya. Wong presiden juga nggak ngerti apa-apa.”

Di bagian bawah teks tertulis nama seorang menteri perempuan dan tanggal 3 Juni 2015. Juga ada keterangan ‘hasil rekaman’ di teks tersebut.

Memang tidak ada kalimat sarkasme dalam omongan si menteri bermulut clometan tadi.

Tapi ketika seorang pembantu presiden mencetuskan di hadapan umum bahwa atasannya tak mengerti tentang apapun maka yang ia lakukan adalah melecehan dan mengotori wibawa kepada negara.

Benarkah Jokowi tak mengerti tentang apapun?

Menteri ini sangat salah dan tampaknya menderita syndrome tentang keterbatasan moralitas dan intelektualitas.

Sebagai seorang presiden, Jokowi punya banyak saluran pemberi informasi dan orang-orang terdekat yang punya laporan intelijen sangat lengkap tentang apapun.

Tapi sejak awal, memang ada kecenderungan dari oknum tertentu di sekitar presiden yang diduga sengaja membatasi ruang lingkup pergaulan dan komunikasi presiden dengan pihak manapun yang dianggap akan memberi distorsi tentang pengetahuan kepala negara mengenai banyak hal.

Satu contoh kecil, ada seorang wartawati yang kerap memberi masukan, pengaduan dan analisa kepada Presiden Jokowi melalui pesan singkat sms.

Sebulan terakhir ini, diduga ada pasukan khusus tertentu yang sengaja menggunakan alat sadap atau IT yang menghalangi semua bentuk komunikasi presiden dengan sang wartawati yang kerap memberi masukan tentang banyak hal.

Sebab, Presiden termasuk (sangat) percaya terhadap apa yang disampaikan wartawati tersebut.

Contoh lain yang masih segar dalam ingatan adalah saat Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dihalangi untuk bertemu dan berbicara dengan Presiden Jokowi di awal tahun ini.

Hampir sebulan, Bu Mega tak diizinkan berbicara dengan Presiden.

Karena apa?

Sebab ada oknum tertentu di sekitar presiden yang sangat kuatir bahwa Presiden akan dipengaruhi pihak lain yang akan memberikan pencerahan dan masukan berbeda tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Presiden Joko Widodo dan Ibu Iriana, mendampingi pengantin, Gibran dan Selvi.
Presiden Joko Widodo dan Ibu Iriana, mendampingi pengantin, Gibran dan Selvi.

Atau, satu contoh lagi yang lebih sederhana tetapi sangat menyentuh hati.

Saat Presiden Jokowi menghadiri acara pernikahan anak pertamanya di Kota Solo.

Di sela-sela kesibukan untuk menikahkan anaknya, Presiden sempat memberikan wawancara.

Salah satu pertanyaannya adalah bagaimana penilaian presiden terhadap calon menantunya?

Jawaban presiden, “Anaknya pendiam. Saya dengar bahwa dia ceria dan suka guyon. Tapi kepada saya, dia diam aja. Gak banyak ngomong”.

Apa arti omongan Jokowi?

Omongan itu mengartikan bahwa Jokowi mendapat informasi yang lengkap tentang apapun dan tentang siapapun.

Tak mungkin ia tak tahu bahwa ada pembantunya yang bermulut clometan.

Tetapi barangkali, presiden menganggap bahwa lebih baik ia diam.

Diam, bukan berarti membenarkan.

Dan diam, bukan berarti presiden tak tahu dan tak mengerti tentang apapun yang telah terjadi.

Yang sangat membanggakan dari Jokowi adalah ia adalah pribadi yang sungguh tenang dan mencerna segala sesuatu bukan dengan emosi yang berlebihan.

Tapi di balik ketenangan itu, percayalah bahwa presiden telah mendapat informasi yang lengkap tentang apapun.

Jokowi menerima setiap bentuk masukan dan kritik apapun dari siapa saja.

Ada pertanyaan, mengapa sejak Jokowi mengaktifkan akun twitter @Jokowi di media sosial, mengapa baru 2 status yang ditulis Jokowi.

Presiden bukan tipe yang suka dan sangat melekat dengan alat komunikasi.

Jokowi punya 4 Ajudan, dari TNI AD, TNI AL,  TNI AU, dan Polri.

Presiden juga di kawal oleh jajaran Paspampres, dimulai dari Komandan Paspampres, dan para bawahannya dari Grup A Paspampres.

Lalu ada staf khusus.

Dan para pembantu yang lainnya.

Akun twitter dibuka, bukan untuk Jokowi terkena wabah clometan yang “mengudara” di twitter tanpa henti.

Tetapi siapa saja, warga masyarakat dari wilayah manapun, boleh memberi masukan dan kritikan kepada presiden melalui media sosial.

Kirimkan saja pesan mention kepada presiden dan itu pasti akan terbaca oleh Jokowi.

Walau tidak langsung terbaca, tetapi para pembantunya pasti akan melaporkan tentang masukan-masukan yang disampaikan masyarakat kepada Jokowi.

Jokowi tahu, siapa yang bisa ia percaya.

Faktor kepercayaan atau TRUST inilah yang sebenarnya tidak boleh disalah-gunakan oleh para menterinya.

Bukan berarti karena anda dipercaya oleh presiden maka anda bisa clometan seenaknya di depan umum.

Bukan berarti karena anda dipercaya oleh presiden maka apapun keputusan presiden harus sesuai dengan selera dan kepentingan dari oknum tertentu di ring satunya.

Wibawa dari kepala negara, jangan dirusak dan direndahkan.

Kepercayaan dari kepala negara, sekali lagi, jangan dirusak dan jangan disalah-gunakan.

Sekali anda percaya, maka jagalah kepercayaan itu.

Loyalitas kepada pimpinan, sudah tak bisa ditawar-tawar karena itu adalah harga mati untuk siapapun yang memang dipilih sebagai pembantu presiden.

Tak cukup hanya hormat.

Setiap pembantu presiden, harus tunduk, patuh, loyal dan bekerja dengan sebaik-baiknya.

Jadi, untuk menteri clometan, satu hal yang perlu disampaikan adalah jangan pernah “underestimate” kepada presiden.

Ketika anda dipilih dan dipercaya menjadi pembantu presiden, tetapi kesempatan dan kepercayaan itu disalah-gunakan, maka satu kalimat yang paling pantas untuk disampaikan kepada pembantu yang tidak tahu diri ini:

“You are nothing !”.   (*)

MS