Untuk Menteri Clometan Yang Melecehkan Jokowi, “You Are Nothing !”

Presiden Joko Widodo
Presiden Joko Widodo

Oleh : Mega Simarmata, Editor in Chief KATAKAMI.COM

Jakarta, Selasa 30 Juni 2015 (KATAKAMI.COM) — Sangat mengejutkan ketika ada pemberitaan yang mengatakan bahwa seorang menteri sudah dengan sengaja melecehkan dan mengotori wibawa dari Presiden Joko Widodo.

Mengutip dari pemberitaan media massa yang sudah dengan cepat mendapat bocoran tentang menteri bermulut clometan tersebut:

Berikut bunyi teks tersebut:

“Kalau memang saya hrs dicopot, silakan! Yg penting presiden bisa tunjukan apa kesalahan saya dan jelaskan bahwa atas kesalahan itu, saya pantas dicopot!  Belum tentu juga Presiden ngerti, apa tugas saya. Wong presiden juga nggak ngerti apa-apa.”

Di bagian bawah teks tertulis nama seorang menteri perempuan dan tanggal 3 Juni 2015. Juga ada keterangan ‘hasil rekaman’ di teks tersebut.

Memang tidak ada kalimat sarkasme dalam omongan si menteri bermulut clometan tadi.

Tapi ketika seorang pembantu presiden mencetuskan di hadapan umum bahwa atasannya tak mengerti tentang apapun maka yang ia lakukan adalah melecehan dan mengotori wibawa kepada negara.

Benarkah Jokowi tak mengerti tentang apapun?

Menteri ini sangat salah dan tampaknya menderita syndrome tentang keterbatasan moralitas dan intelektualitas.

Sebagai seorang presiden, Jokowi punya banyak saluran pemberi informasi dan orang-orang terdekat yang punya laporan intelijen sangat lengkap tentang apapun.

Tapi sejak awal, memang ada kecenderungan dari oknum tertentu di sekitar presiden yang diduga sengaja membatasi ruang lingkup pergaulan dan komunikasi presiden dengan pihak manapun yang dianggap akan memberi distorsi tentang pengetahuan kepala negara mengenai banyak hal.

Satu contoh kecil, ada seorang wartawati yang kerap memberi masukan, pengaduan dan analisa kepada Presiden Jokowi melalui pesan singkat sms.

Sebulan terakhir ini, diduga ada pasukan khusus tertentu yang sengaja menggunakan alat sadap atau IT yang menghalangi semua bentuk komunikasi presiden dengan sang wartawati yang kerap memberi masukan tentang banyak hal.

Sebab, Presiden termasuk (sangat) percaya terhadap apa yang disampaikan wartawati tersebut.

Contoh lain yang masih segar dalam ingatan adalah saat Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dihalangi untuk bertemu dan berbicara dengan Presiden Jokowi di awal tahun ini.

Hampir sebulan, Bu Mega tak diizinkan berbicara dengan Presiden.

Karena apa?

Sebab ada oknum tertentu di sekitar presiden yang sangat kuatir bahwa Presiden akan dipengaruhi pihak lain yang akan memberikan pencerahan dan masukan berbeda tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Presiden Joko Widodo dan Ibu Iriana, mendampingi pengantin, Gibran dan Selvi.
Presiden Joko Widodo dan Ibu Iriana, mendampingi pengantin, Gibran dan Selvi.

Atau, satu contoh lagi yang lebih sederhana tetapi sangat menyentuh hati.

Saat Presiden Jokowi menghadiri acara pernikahan anak pertamanya di Kota Solo.

Di sela-sela kesibukan untuk menikahkan anaknya, Presiden sempat memberikan wawancara.

Salah satu pertanyaannya adalah bagaimana penilaian presiden terhadap calon menantunya?

Jawaban presiden, “Anaknya pendiam. Saya dengar bahwa dia ceria dan suka guyon. Tapi kepada saya, dia diam aja. Gak banyak ngomong”.

Apa arti omongan Jokowi?

Omongan itu mengartikan bahwa Jokowi mendapat informasi yang lengkap tentang apapun dan tentang siapapun.

Tak mungkin ia tak tahu bahwa ada pembantunya yang bermulut clometan.

Tetapi barangkali, presiden menganggap bahwa lebih baik ia diam.

Diam, bukan berarti membenarkan.

Dan diam, bukan berarti presiden tak tahu dan tak mengerti tentang apapun yang telah terjadi.

Yang sangat membanggakan dari Jokowi adalah ia adalah pribadi yang sungguh tenang dan mencerna segala sesuatu bukan dengan emosi yang berlebihan.

Tapi di balik ketenangan itu, percayalah bahwa presiden telah mendapat informasi yang lengkap tentang apapun.

Jokowi menerima setiap bentuk masukan dan kritik apapun dari siapa saja.

Ada pertanyaan, mengapa sejak Jokowi mengaktifkan akun twitter @Jokowi di media sosial, mengapa baru 2 status yang ditulis Jokowi.

Presiden bukan tipe yang suka dan sangat melekat dengan alat komunikasi.

Jokowi punya 4 Ajudan, dari TNI AD, TNI AL,  TNI AU, dan Polri.

Presiden juga di kawal oleh jajaran Paspampres, dimulai dari Komandan Paspampres, dan para bawahannya dari Grup A Paspampres.

Lalu ada staf khusus.

Dan para pembantu yang lainnya.

Akun twitter dibuka, bukan untuk Jokowi terkena wabah clometan yang “mengudara” di twitter tanpa henti.

Tetapi siapa saja, warga masyarakat dari wilayah manapun, boleh memberi masukan dan kritikan kepada presiden melalui media sosial.

Kirimkan saja pesan mention kepada presiden dan itu pasti akan terbaca oleh Jokowi.

Walau tidak langsung terbaca, tetapi para pembantunya pasti akan melaporkan tentang masukan-masukan yang disampaikan masyarakat kepada Jokowi.

Jokowi tahu, siapa yang bisa ia percaya.

Faktor kepercayaan atau TRUST inilah yang sebenarnya tidak boleh disalah-gunakan oleh para menterinya.

Bukan berarti karena anda dipercaya oleh presiden maka anda bisa clometan seenaknya di depan umum.

Bukan berarti karena anda dipercaya oleh presiden maka apapun keputusan presiden harus sesuai dengan selera dan kepentingan dari oknum tertentu di ring satunya.

Wibawa dari kepala negara, jangan dirusak dan direndahkan.

Kepercayaan dari kepala negara, sekali lagi, jangan dirusak dan jangan disalah-gunakan.

Sekali anda percaya, maka jagalah kepercayaan itu.

Loyalitas kepada pimpinan, sudah tak bisa ditawar-tawar karena itu adalah harga mati untuk siapapun yang memang dipilih sebagai pembantu presiden.

Tak cukup hanya hormat.

Setiap pembantu presiden, harus tunduk, patuh, loyal dan bekerja dengan sebaik-baiknya.

Jadi, untuk menteri clometan, satu hal yang perlu disampaikan adalah jangan pernah “underestimate” kepada presiden.

Ketika anda dipilih dan dipercaya menjadi pembantu presiden, tetapi kesempatan dan kepercayaan itu disalah-gunakan, maka satu kalimat yang paling pantas untuk disampaikan kepada pembantu yang tidak tahu diri ini:

“You are nothing !”.   (*)

MS