Ihwal Anggota Kerajaan Inggris di Medan Perang, Fanny Habibie Memuji Pangeran Harry

Pangeran Harry di Afghanistan

Oleh : MEGA SIMARMATA

(DOKUMENTASI TULISAN YANG DIMUAT DI INILAH.COM 2 Maret 2008)


Jakarta – Pekan lalu, Kementerian Pertahanan Inggris mengumumkan bahwa Letnan Dua Harry, resmi ditarik dari Afghanistan. Putra Pangerang Chales-Lady Di ini dipulangkan demi keselamatan dirinya.

Harry, pulang ke tanah kelahirannya, Sabtu (1/3). Dia dijemput ayahnya, Pangeran Charles. Kakaknya, Pangeran Williams juga ikut menjemput.

Harry sudah bertugas selama 10 minggu di Afghanistan. Tak tanggung-tanggung, penempatannya justru di garis terdepan medan pertempuran.

Tak ada pengistimewaan untuk Harry. Jangan pikir ia punya ajudan. Letnan Dua Harry ingin tetap diperlakukan sebagai seorang letnan dua saja.

Dia ingin diperlakukan apa adanya. Dia tidak mau diistimewakan seperti layaknya jenderal Angkatan Darat.

Fannie Habibie

Kepada INILAH.COM Minggu sore (2/3) di Jakarta, Duta Besar RI untuk Kerajaan Belanda, Junus Effendi Habibie mengatakan sangat menghargai dan angkat topi pada pangeran muda itu.

“Jangan pernah ada dalam pikiran kita bahwa anak ini bangsawan yang pengecut. Tidak begitu, saya pernah menjadi Duta Besar RI di Kerajaan Inggris. Saya lama tugas di sana. Saya tahu, Pangeran Harry ini tidak suka diperlakukan istimewa,” katanya.

Buktinya?

“Lihat saja di Afghanistan itu. Masak putera mahkota urutan ketiga dari Kerajaan Inggris cuma dikasih jabatan sebagai komandan peleton kecil. Penugasannya juga tidak main-main, dia ada di front line dan melawan Taliban,” kata Fannie Habibie.

Fannie Habibie menambahkan, rakyat Inggris memang begitu menghormati dan mencintai anggota Kerajaan Inggris. Dan itu, kata Fannie, berlangsung sampai sekarang.

“Ratu Elizabeth II itu punya beberapa rumah peristirahatan di pedalaman-pedalaman Inggris. Kalau Ratu beristirahat di sana, beliau mau naik sepeda keliling desa,” ungkap Fannie.

Menurutnya, monarki Inggris memang selalu mengharuskan setiap anggota kerajaan yang berjenis kelamin lelaki untuk menjadi militer dan bergabung dalam Angkatan Perang Inggris.

“Biasanya dari leluhur mereka, yang dipilih adalah menjadi prajurit Angkatan Laut. Tradisinya begitu turun-temurun. Tetapi Pangeran Harry ini lebih memilih untuk menjadi prajurit Angkatan Darat. Bagi bangsawan-bangsawan anggota Kerajaan Inggris, justru menjadi satu kehormatan bila mereka bisa menjadi militer dan membela kepentingan Inggris. Ratu Elizabeth II, neneknya pangeran Harry ini, ketika Perang Dunia II pernah menjadi supir truk untuk membawa barang-bawang logistik bantuan kemanusiaan. Dulu kalau laki-laki di Inggris berperang, ya kaum perempuannya yang bekerja.” lanjut Fannie.

Terhadap spekulasi dan tudingan miring adanya rekayasa dari Dinas Intelijen Inggris MI, yang sengaja membocorkan kepada media AS tentang keberadaan Pangeran Harry di Afghanistan sehingga ada alasan untuk menarik Harry pulang ke Inggris, Fannie Habibie menampik dugaan itu.

“Tidak mungkin itu. Saya ini purnawirawan lho. Saya tahu bahwa di medan pertempuran itu, konsekuensinya itu nyawa menjadi taruhan. Jangan pikir pangeran-pangeran Inggris itu punya ajudan. Dia masih letnan dua. Tapi, ada pengawal dari Kerajaan yang mendampingi,” katanya.

Foto : Pangeran Harry di Afghanistan

Dinas Intelijen Inggris termasuk yang terbaik di dunia.

Di sini peran dari Dinas Intelijen MI justru mengamankan sang pangeran. Analisa intelijen dibuat pasca bocornya informasi keberadaan Harry di sana.

Hasilnya diserahkan kepada Perdana Menteri Gordon Brown.

Maka tampaknya berdasarkan analisa intelijenlah, pemerintah Inggris memutuskan agar Pangeran Harry ditarik pulang.

“Kita ini harus angkat topi sama anak muda ini, yang saya dengar informasinya pangeran ini bertugas betul-betul di daerah operasi. Jangan ada yang mengira di sana dia bisa enak-enakan. Itu daerah Taliban” kata Fannie Habibie.

Sumber INILAH.COM di Badan Intelijen Negara mengatakan Minggu sore (2/3) di Jakarta, Dinas Intelijen Inggris (MI) secara organisasi terbagi dua yaitu MI-5 untuk urusan dalam negeri dan MI-6 untuk urusan luar negeri. [I4]