Letjen. Sjafrie Sjamsoeddin : Jangan Ributkan KSAD Baru !

Sjafrie Sjamsoeddin saat diwawancarai oleh Mega Simarmata di ruang Perpustakaan Departemen Pertahanan ( 30 November 2007 ). Photo : INILAH.COM

Dokumentasi WAWANCARA EKSKLUSIF Mega Simarmata dengan Sjafrie Sjamsoeddin

Dimuat di INILAH.COM tanggal 30 November 2007


Jakarta — Naiknya KSAD Jenderal Joko Santoso sebagai calon Panglima TNI menggantikan Marsekal Djoko Suyanto akan menyisakan kursi kosong dalam kempimpinan TNI Angkatan Darat. Sejumlah nama perwira tinggi mulai santer disebut sebagai calon KSAD baru.

Di antaranya, yang dinilai paling pantas, adalah Letjen Sjafrie Sjamsoeddin.

Ihwal bagaimana pandangan Sjafrie Sjamsoeddin mengenai hal ini, INILAH.COM mencoba menguaknya melalui wawancara khusus dengan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Departemen Pertahanan itu.

Wawancara Eksklusif ini dilakukan di Kantor Departemen Pertahanan, seusai sholat Jumat, (30/11).

Berikut ini petikannya.

Bagaimana Departemen Pertahanan melaksanakan kesinambungan reformasi dalam sistem pertahanan negara kita?

Sjafrie Sjamsoeddin (Sjafrie) : Sasaran pembangunan pertahanan negara dalam kaitan reformasi itu ada tiga bagian. Pertama meningkatkan kesiapan operasional, kedua meningkatkan profesionalisme, dan ketiga meningkatkan kesejahteraan prajurit.

Ketiganya merupakan sasaran pembangunan lima tahun dari pertahanan negara, khususnya untuk mengoptimalkan kinerja TNI. Dari ketiga hal itulah, kita kaitkan dengan alokasi anggaran yang ada dicocokkan dan dihubungkan dengan kebijakan Presiden. Presiden ingin ada minimum essential cost.

Dari situ kami mengadakan pemilahan-pemilahan. Jadi dari aspek anggaran kita mencocokkan dari tritunggal sasaran, kemudian dari aspek regulasi kami membuat rumusan dan kebijakan yang bisa memberikan ruang gerak bagi TNI untuk pengembangan profesionalisme, kesiapan operasional, dan kesejahteraan prajurit.

Sekarang ini grafiknya membaik atau tidak? Bagaimana progres pelaksanaannya?

(Sjafrie) : Alhamdulilah, selama tiga tahun peningkatan anggaran, dibarengi efisiensi penggunaan anggaran sesuai dengan urgensi dan skala prioritas, kami bisa melakukan peningkatan-peningkatan dari target yang ingin kita capai.

Kalau kita berbicara angkanya, berapa Pak?

(Sjafrie) : Prosentasenya bisa naik 10 persen dari angka dasar. Kualitas alutsita kita itu ‘kan tidak memadai. Artinya, bukan berarti tidak bisa dipakai, tetapi dalam konteks maksimum, tidak pas. Itulah yang kami angkat.

Dengan adanya pembenahan, penataan, efisiensi, itu bisa kita buat sesuatu yang lebih menambah kemampuan, tapi belum maksimal. Contoh ya, tahun 2008 gaji pokok naik 20 persen.

Untuk pangkat terendah di TNI, dengan kenaikan 20 persen itu, jadi berapa Pak?

(Sjafrie) : Yang jelas di atas Rp 1 juta. Gaji pokoknya, kalau nett bisa lebih dari Rp 1 juta. Uang lauk pauk (ULP) juga naik, targetnya ‘kan Rp 45.000 untuk mendapatkan 3.600 kalori, kita sekarang sudah memberikan Rp 35.000. Lalu tunjangan keluarga juga naik. Artinya target sasaran untuk meningkatkan kesejahteraan prajurit, sedikit demi sedikit sudah kita naikkan.

Sedangkan untuk profesionalisme, alutsista-alutsista TNI sudah mulai dibenahi. Paling tidak alutsista itu dipelihara dengan biaya sedikit, sudah bisa dimaksimalkan penggunaannya. Target kita biaya pemeliharaan 20 persen, sekarang masih di bawah 10 persen.

Kalau bicara soal alutsista, Amerika bisa jadi gerah ya� dengan kebijakan-kebijakan Departemen Pertahanan belakangan ini. Sebab lobi untuk penjajakan kerjasama dan kesepakatan kerjasama militer untuk alutsista, mulai dilakukan dengan negara-negara lain. Padahal selama ini, ketergantungan Indonesia terhadap Amerika untuk alutsista sangat besar. Bisakah disimpulkan bahwa Indonesia bosan pada dominasi Amerika?

(Sjafrie) : Justru terbalik observasinya!

Maksud Bapak?

(Sjafrie) : Kita sekarang mengoptimalkan kerjasama internasional di semua negara.

Artinya Dephan ingin menyindir Amerika, bahwa Indonesia tidak mau lagi hanya bergantung pada Amerika?

(Sjafrie) : Bukan sindiran! Indonesia, dengan independensinya, bukan berarti hanya akan bergantung pada satu negara, tetapi mengoptimalkan kerjasama internasional dengan semua negara. Barat, Timur, sama!

Dengan Amerika, setelah IMET dibuka kembali, di tingkat bintara dan perwira sudah pergi sekolah ke Amerika. Jadi optimalisasi kerjasama yang bersifat skala besar di semua negara, itu menghapus citra bahwa Indonesia hanya bekerjasama dengan 1 atau 2 negara.

Dalam tiga tahun terakhir ini, berapa jumlah peningkatan kerjasama internasional dengan negara-negara asing?

(Sjafrie) : Besar sekali peningkatannya, di atas 15 negara. Yang terpenting, negara-negara ini langsung bekerjasama dengan kita. Dengan Amerika sudah satu benua. Australia, sudah satu benua. Di sebelah Timur, dengan Ceko. Bahkan negara-negara kecil di Afrika juga sudah bekerjasama dengan Indonesia.

Dengan adanya peningkatan kerjasama internasional di bidang militer, citra buruk bahwa TNI itu identik dengan pelanggaran terhadap Hak Azasi Manusia sebenarnya sudah tidak bermasalah dong di mata dunia internasional?

(Sjafrie) : Yang bermasalah dengan TNI itu, siapa sih?

Dulu image TNI sangat buruk: militerisme, pelanggar HAM, tidak demokratis. Banyak sekali hujatan pada TNI ‘kan Pak?

(Sjafrie) : Itu adalah image! Kita tidak boleh bekerja berdasarkan image, kita harus bekerja berdasarkan fakta dan akuntabilitas. Ya ‘kan? Tapi kita tidak boleh apriori terhadap image. Silakan saja bikin image itu.

Dalam era globalisasi dan era demokrasi, kita tidak boleh melarang adanya image seperti itu, silakan saja. Tapi, tidak ada istilah resistensi dalam kerjasama internasional. Sepanjang, kedaualatan NKRI terjaga baik, gak ada masalah!

Setiap Departemen Pertahanan akan menjalin kerjasama di bidang pertahanan, tercakuplah di dalamnya soal militer. Apa sih tanggapan negara-negara asing mengenai militer kita? Apa yang disampaikan kepada Dephan?

(Sjafrie) : Kalau saya harus bicara kerjasama antar-Government, artinya Government to Government. Dengan kita kembangkan kerjasama aktivitas di bidang pertahanan, tidak ada satu pun lubang yang tidak bisa kita lewati. Semua welcome kepada kita. Secara administratif, semua juga oke.

Apakah itu juga yang terjadi pada saat Rusia memutuskan untuk memberikan state credit US$ 1 juta kepada Indonesia, untuk untuk pembelian alutsista buatan Rusia dan mulai tahun 2008?

(Sjafrie) : Betul sekali. Itu membuktikan Indonesia, termasuk di dalamnya TNI, sudah berubah sejak reformasi tahun 1998. Sistem pertahanan Indonesia tidak dominan kepada militer. Tetapi, sistem pertahanannya seimbang: yang satu militer dan yang satunya non milier.

Bagaimana Dephan mengantisipasi budaya KKN di lingkup internal. Artinya kalau ada oknum yang “bermain” dengan masalah pengadaan barang, misalnya?

(Sjafrie) : Departemen Pertahanan ini memang sudah dinyatakan sebagai Departemen yang boros dan bocor. Kami akan menghilangkan itu, 30 persen kebocorannya. Tiga tahun terakhir ini, kami optimalkan upaya untuk mengadakan revitalisasi dalam management pengadaan.

Sekarang soal lain yang sedang menjadi pembicaraan hangat di tengah masyarakat. Kalau Dephen memang “buka mata dan buka telinga”, tentu tahu bahwa ada kritikan keras soal RUU Wajib Militer itu?

(Sjafrie) : Itu namanya RUU Komponen Cadangan Negara. Itu adalah amanat prolegnas lima tahun. Dephan ditunjuk menyiapkan. Sangat wajar jika seorang Direktur Jenderal bekerja maksimal siang malam dan dia selesaikan lebih cepat tugasnya. Itu bonus.

Tetapi kami tidak boleh melanggar waktu yang ditentukan selama lima tahun. Jika harus diuji kembali, masih ada waktu. Ini ‘kan instrumennya negara, wajar kalau instrumen negara bekerja maksimal. Wajar sekali! Dan wajar juga jika dikontrol sama rakyat dan media massa.

Dephan tidak pernah resisten terhadap pihak lain. Orang boleh resisten terhadap Dephan. Kenapa harus diributkan?

Lalu bagaimana kabarnya RUU Keamanan Nasional?. Ada apa antara TNI dan Polri, memang bersitegang dalam hal RUU Kamnas ini? Bagaimana Dephan menempatkan diri dalam “ketidak-sepahaman” TNI dan Polri dalam RUU Kamnas?

(Sjafrie) : Kalau soal RUU Kamnas, ya biar sepaham dulu-lah. Sebab, ada satu pemahaman yang harus dicari tentang bagaimana itu sebenarnya national security?

Apakah “ketegangan” soal RUU Kamnas ini lebih disebabkan karena TNI tidak rela terhadap identitas Polri, yang sekarang sudah lepas dari TNI dan menjadi independen?

(Sjafrie) : Makanya kita jangan masuk dulu pada substansi, kita masuk pada pemahamannya dulu. Di semua negara, keamanan nasional itu milik semua elemen masyarakat, bukan milik salah satu institusi saja. Itulah yang harus diatur dalam Undang-Undang. Baru di dalam UU diatur.

Ada kerja di bagian national security for internal defence, ada bagian national security for external defence, ada bagian national security for public security, dan ada pula bagian national security for personal security.

Fakta menunjukkan ada yang tidak match antara TNI dan Polri, sampai-sampai Presiden SBY harus turun tangan, memanggil semua pihak yaitu Dephan, TNI, dan Polri ke Puri Cikeas beberapa waktu lalu?

Waktu dipanggil Bapak Presiden ke Cikeas, disampaikan beliau soal arah yang mau dicapai, dan semua pihak berpikir untuk bisa mencapai arah itu. Semua menerima.

Lalu, pihak-pihak terkait sudah berpikir atau belum? Kabarnya Panglima TNI Marsekal Djoko Suyanto dan Kapolri Jenderal Pol Sutanto sempat perang dingin karena masalah ini?

(Sjafrie) : Gak ada perang dingin. Panglima TNI dan Kapolri baik-baik saja, hubungan pribadi beliau berdua baik-baik saja, kerjasama kedua instansi juga baik-baik saja. Soal RUU Kamnas ini, harus ada sinkronisasi pemahaman dulu dan dijembatani. Kita punya Menko Polhukham dan ditugaskan untuk menjembatani.

Santer disebut bahwa nama Bapak termasuk yang paling pantas diperhitungkan sebagai kandidat KSAD?

(Sjafrie) : Begini, pengangkatan KSAD sepenuhnya merupakan hak Bapak Presiden. Kita jangan meributkan hal semacam ini. Saya ini sekarang Sekjen Dephan dan konsentrasi saya sekarang sepenuhnya untuk tugas-tugas di Dephan. Saya tidak dalam posisi mendengar kabar-kabar di luar seperti itu.

Bagaimana sih pandangan Bapak tentang TNI AD ini, bagaimana reformasi yang dijalankan dan tantangannya ke depan?

(Sjafrie) : Tanya sama KSAD! Kalau tanya soal bidang pertahanan, saya jawab

Jika ada tugas baru yang akan diberikan oleh atasan, prajurit itu harus selalu siap menjalankannya Pak? Kalau tidak salah, di TNI sistem komandonya begitu ya?

(Sjafrie) : (Tertawa) Saya tidak mau berkomentar soal itu.

(*)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 11,494 other followers