Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso : TNI Siap Bekerjasama, Siapapun Pemimpinnya

WAWANCARA EKSKLUSIF

PHOTOSTREAM : Indonesian Elite Forces, We Love You Full Soldier !

Jakarta 23/10/2009 (KATAKAMI) Walaupun dalam masalah keamanan, POLRI yang berada di garis terdepan dalam memelihara dan menjaga KAMTIBMAS, tetapi peran Tentara Nasional Indonesia (TNI) tidak bisa diabaikan begitu saja. Termasuk dalam menangani masalah terorisme dan separatisme di sejumlah daerah.

Pemimpin Redaksi KATAKAMI Mega Simarmata mendapatkan kehormatan untuk melakukan WAWANCARA EKSKLUSIF dengan Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso di ruang kerja beliau di salah satu markas TNI yang ada di Jalan Medan Merdeka Barat pada Selasa (22/10/2009) petang.

Berikut ini hasil WAWANCARA EKSKLUSIF kami dengan Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso :

 

 

KATAKAMI (K) : Pertama soal Papua. Pak Panglima, kalau kita cermati situasi di PAPUA .. eskalasi gangguan keamanan disana mendadak sangat agresif peningkatannya selama 10 bulan dalam tahun 2009 ini. Sebelumnya tidak pernah dilakukan secara terus menerus non stop dalam kurun waktu yang tidak berjeda seperti ini. Dari pengamatan atau laporan-laporan intelijen TNI, ada apa sebenarnya di Papua ?

Jenderal Djoko Santoso (JS) : Memang ada penembakan-penembakan. Saat ini TNI terus membantu Polisi di Satgas Amuke. Memang gangguan keamanan itu harus direspon untuk melakukan tindakan yang lebih pro aktif. Gabungan antara TNI dan POLRI.

(K) : Oke kita bahas soal senjata yang digunakan kelompok separatis di PAPUA. Darimana mereka bisa mendapatkan senjata api, apakah ada oknum yang memasok secara khusus ? Tidak mungkin dong, mereka bisa dengan mudah mendapatkan senjata-senjata yang memudahkan mereka melakukan perlawanan dan serangan-serangan yang sangat brutal.

(JS) Memang masalah senjata yang ada di tangan Gerombolan Pengacau Keamanan (GPK) itu memang ada senjata TNI yang dirampas oleh mereka. Jadi bila mereka menyerang pos-pos keamanan TNI dan Polri disana, mereka ambil senjatanya. Sampai sejauh ini, pasokan senjata mereka dengan cara demikian.

(K) : Sebagai Panglima TNI, apa yang Bapak perintahkan kepada bawahan di Papua dalam menyikapi gangguan keamanan yang eskalasinya sangat tinggi sepanjang tahun 2009 ini. Bolak-balik, Freeport yang jadi sasaran. Ini tidak pernah terjadi yaitu ada gangguan keamanan yang tidak ada jedanya. Menurut pengamatan TNI, ada apa ini semua Pak ?

(JS) TNI memang membantu POLRI didalam satgas Amuke. Dan ini dibawah kendali Kepolisian, terus dilakukan patroli-patroli di sekitar jalan Mil 50 itu.

(K) Pak Panglima, kita bergeser ke masalah terorisme. Seingat kami, Desember 2008 digelar Latihan Gabungan Anti Teror TNI – Polri. Tetapi Juli 2007 terjadi peledakan bom Marriot 2. Pertanyaannya sekarang adalah untuk apa Latihan Anti Teror itu dilakukan TNI dan POLRI, sementara pada prakteknya di lapangan terkesan TNI dan POLRI tetap tidak bisa berkoordinasi menangani terorisme ?

(JS) Kalau latihan anti teror itu sendiri ya memang dilakukan untuk melatih kesiap-siagaan.

(K) Lho, yang kami tanyakan Pak, latihan gabungan itu sudah diadakan Desember 2008. Tetapi 7 bulan kemudian, terjadi peledakan bom di Jakarta pula. Apakah latihan itu hanya sekedar basa-basi saja ? Dimana koordinasi antara TNI dan Polri ?

(JS) Pada prakteknya di lapangan, TNI sudah melakukan koordinasi dalam berbagai operasi dengan melakukan kegiatan-kegiatan sesuai dengan bidang masingf-masing. Misalnya tukar-menukar informasi intelijen, pengamanan Presiden – Wakil Presiden dan VVIP. TNI dan Polri saling membantu. TNI berada dalam ring-ring yang harus diamankan.

(K) Kita bicara soal terorisme. Ini akan menggelikan sebenarnya. Di satu sisi, pemerintah membanggakan sudah berhasil menangani terorisme. Di sisi lain, terorisme itu jugalah yang terkesan dimunculkan ke tengah masyarakat secara mendadak disaat semua situasinya sudah kondusif. Apa yang bisa dikatakan oleh TNI mengenai terorisme ini ?

(JS) Terorisme itu sampai sekarang masih ada. Itu sebabnya pola penanganan terorisme itu harus lebih diintensifkan. Pendeteksian, pencegahan, penindakan dan rehabilitasi pelaku teroris yang sudah selesai menjalani masa hukumannya. Harus dilakukan pembinaan.

(K) Pak Panglima, sekarang dalam Kabinet baru ada Menteri Pertahanan yang baru yaitu Pak Purnomo Yusgiantoro. Bagaimana pendapat TNI terhadap figur Menteri Pertahanan yang baru ?

(JS) Kami Tentara Nasional Indonesia ini, siapapun pemimpinnya … kami akan bekerja dengan sepenuh hati. Kami akan mendukung sepenuhnya, loyal dan bekerjasama dengan baik.

(K) Bagaimana kesan selama Menteri Pertahanan dijabat oleh Prof Juwono Sudarsono ?

(JS) Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono sangat memahami masalah TNI. Beliau mampu mengelola hubungan TNI dan Dephan, memperjuangkan kepentingan TNI, mampu mengarahkan TNI pada langkah-langkah pelaksanaan program, seperti itu.

 

(K) Dalam era kepemimpinan Prof Juwono Sudarsono, dilakukan normalisasi kebijakan Amerika seputar embargo senjata terhadap TNI. Sejak normalisasi itu dilakukan, bagaimana perkembangan atau kelanjutannya sampai dengan saat ini Pak ? Apakah janji Amerika untuk menormalisasi masalah embargo senjata itu, sudah dipenuhi oleh mereka ?

 

(JS) : Tidak ada kesulitan. Kalau kita mau membeli senjata, diperbolehkan.

(K) Khusus dengan Amerika, kerjasama apa yang saat ini sedang terus dijalin dengan TNI ?

(JS) : Kita bekerjasama di bidang pendidikan, latihan, beberapa peralatan militer juga dibeli dari Amerika. Tidak ada masalah samasekali.

(K) Pertanyaan terakhir, apa harapan dari TNI sendiri kepada masyarakat Indonesia ?

(JS) : Situasi di Indonesia sudah relatif kondusif. Mari kita jaga bersama-sama agar tetap stabil. Sehingga memungkinkan dan mendorong terjadinya pembangunan yang lebih baik agar muaranya dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia.

(K) Terimakasih Pak Panglima.