Kisah Aan Dan Munajat Cinta Grup Gories Mere Menelikung Polri

Klub malam (night club) MUSRO

 

Jakarta, 5 Desember 2012 (KATAKAMI.COM)  — Musisi Indonesia yang sangat terkenal yaitu Ahmad Dani yang memang bersuara emas, pasti tak menyangka kalau salah satu lagunya menjadi “curahan hati” kelompok eksklusif Mantan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) yang sudah demisioner, Komisaris Jenderal Polisi PURNAWIRAWAN Gories Mere.

Pada suatu malam di bulan Maret 2012, dua wartawati diundang datang ke Hotel Borobudur Jakarta oleh Gories Mere karena akan ada pelantikan satgas narkoba.

Tetapi ternyata yang terjadi bukanlah pelantikan satgas narkoba melainkan sebuah “FAREWELL PARTY” atau pesta perpisahan untuk seorang polisi dari negara sahabat yang habis masa tugasnya di Indonesia.

Acara itu dilaksanakan di Klub Malam (Night Club) Musro, yang kebetulan yang menjadi Manager-nya adalah adik kandung dari Gories Mere sendiri.

FAREWELL PARTY yang sangat mewah itu menyuguhkan salah satu menu makanan yaitu sup kaki babi.

“Ayo cobain, ini sup kaki babi, makanan paling enak disini” kata Gories Mere kepada kedua wartawati senior yang diundangnya malam itu.

Kedua wartawati yang biasa meliput di lingkungan Mabes Polri dan Polda Metro Jaya itu tak bisa menanggalkan insting kewartawanan mereka dalam situasi yang “sangat aneh” itu.

Lebih dari 20 orang wanita penghibur muda berdatangan ke FAREWELL PARTY tersebut dengan memakai gaun mini sangat ketat dan seksi.

Masing-masing seakan sudah tahu akan “job” yang mereka terima yaitu menghibur tamu demi tamu.

Ada yang glendotan (alias berpelukan), bahkan ada yang gaya berpelukannya memeluk dari arah belakang tubuh wanita penghibur, ada yang duduk berdampingan, tertawa cekikian, kemudia ada yang berbicara dari jarak sangat dekat yaitu saling berbisik di daun telinga masing-masing dan tingkah yang aneh-aneh lainnya.

Kemudian, tampak juga pemandangan berikutnya di panggung.

Brigjen Petrus Golose yang dikenal sebagai tangan kanan Gories Mere naik ke atas panggung dalam keadaan mabuk.

Golose memegang segelas anggur dan pidato sambil cengengesan.

Ia mengucapkan terimakasih kepada sang polisi asing yang telah habis masa tugasnya di Indonesia dalam penanganan terorisme.

Ia juga berterimakasih kepada seorang Duta Besar negara sahabat yang hadir disitu seraya mengkritik bahwa saat ini DANA BANTUAN UANG penanganan terorisme di era Duta Besar saat ini tidak sebesar DANA BANTUAN Dubes sebelumnya dari negara tersebut kepada Indonesia.

 

(Kedua wartawati senior yang terdampar di tempat aneh itu semakin terpukau melihat acting Petrus Golose di panggung ).

“Gila tuh orang, sudah sakit kali, gak malu dilihatin banyak orang tapi malah cengengesan ngomong-ngomong ngaco begitu” ujar seorang wartawati kepada wartawati yang duduk disebelahnya.

Tak lama kemudian, Petrus Golose meminta sejumlah rekannya naik ke atas panggung untuk ikut bersama-sama menyanyikan satu lagu untuk sang komandan yang sangat dicintai yaitu Gories Mere.

Lagu itu adalah MUNAJAT CINTA yang diciptakan oleh Ahmad Dani.

Tetapi lain Ahmad Dani, lain pula Petrus Golose.

Golose menyanyikan lagu ini dengan lirik yang sudah diubah dan diplesetkan di bagian reffrein menjadi seperti ini :

[Chorus:]
Tuhan kirimkanlah aku,
KOMANDAN yang, baik hati dan banyak UANG-NYA
yang mencintai aku, apa adanya

 

Pengusaha terkenal pemilik grup Artha Graha, Tommy Winata, sedang berbincang akrab dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam acara panen padi bersama

 

Dan ternyata apa yang sangat diidam-idamkan Petrus Golose agar ia tetap diberi KOMANDAN yang baik hati dan banyak uangnya terwujud bebetapa bulan setelah ia menyanyi dalam keadaan mabuk di klub malam Musro.

Dua bulan setelah acara di Musro, pada bulan Mei 2012 Petrus Golose ikut diajak plesir ke Las Vegas, Amerika Serikat, oleh sang komandan yaitu Gories Mere.

Mereka dibayari oleh pengusaha Tomy Winata untuk ikut menemani acara bisnis Artha Graha, yang tak samasekali kaitannya dengan penanganan terorisme dan narkoba di Negara ini.

DETIK.COM memberitakan bahwa akibat kepergian kedua jenderal tersebut ke Amerika Serikat, rapat kerja dengan Komisi III DPR dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) batal digelar.

Sebab musababnya ya karena Kepala BNN Gories Mere tengah berpergian ke luar negeri.

Wakil Ketua Komisi III Nasir Djamil menjelaskan rapat dengan BNN sedianya digelar pukul 10.00 WIB di Gedung DPR. Namun pihak BNN mendadak meminta penjadwalan ulang rapat.

“Sekretariat komisi pukul 09.45 WIB memberi tahu BNN minta reschedule rapat. Tapi tidak ada penjelasan Pak Gories kemana, saya baru tahu Pak Gories ke Las Vegas dari media,” kata Nasir di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (23/5/2012).

Nasir menyayangkan pembatalan mendadak rapat kerja ini. Pasalnya Nasir yang akan memimpin rapat hendak menanyakan perkembangan kinerja BNN dalam pemberantasan narkoba.

“Kami sudah siapkan sejumlah pertanyaan terkait tugas BNN termasuk upaya pemberantasan narkoba di Lapas. Kami akan jadwal ulang rapatnya,” tutur Nasir.

Seperti diketahui,Chairman Artha Graha Network Tomy Winata mengajak beberapa petinggi Polri  (kelompok GORIES MERE) ke Las Vegas, AS terkait kerjasama dengan MGM Hospitality, pengelola hotel bergengsi di dunia.

Tomy menggandeng MGM Hospitality sebagai pihak pengelola hotel, Convention Center, service apartemen di rencana proyek gedung tertinggi di Indonesia Signature Tower 638 meter, 111 lantai di SCBD, Jakarta.

Acara penandatanganan yang berlangsung di Hotel Bellagio, di Las Vegas 21 Mei 2012 dihadiri sejumlah Pejabat kepolisian Indonesia yang kompeten dalam bidang keamanan, diantaranya adalah Penasehat Senior Satuan Tugas Khusus Kontra-Terorisme Komisaris Jenderal Polisi Gories Mere, Direktur Penindakan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Brigadir Jenderal Polisi Dr.Petrus Reinhard Golose dan Kepala Bidang Intelejen Detasemen Khusus 88 Anti Teror Mabes Polri Komisaris Besar Polisi Marthinus Hukom.

 

Presiden SBY meninjau contoh helikopter produksi PT DI, saat meninjau di Hanggar CN 235 kompleks PT DI, Bandung, Rabu (26/10/2011). (Foto: presidensby.info)

 

Betul bahwa nama Gories Mere cukup dikenal di negara ini tetapi barangkali tak semua orang bisa mengetahui secara detail manuver-manuver di belakang layar dari kelompok eksklusif Gories Mere.

Pada tahun 2007 lalu misalnya.

Gories Mere didampingi seorang rekannya yang biasa menangani masalah terorisme mengadakan presentasi ilegal di hadapan sejumlah jurnalis senior dari media besar Indonesia.

Mengapa disebut ilegal ?

Sebab tidak ada izin dari pimpinannya saat itu di Mabes Polri, baik dari Kapolri Jenderal Polisi Sutanto, ataupun dari Kabareskrim Komjen, Bambang Hendarso Danuri yang menjadi atasan langsung dari Unit Densus 88 Anti Teror Polri.

Usut punya usut (terutama setelah rekaman presentasi itu didengar dengan seksama), ternyata Gories Mere berani menuding TNI sebagai otak di balik peledakan bom di Indonesia.

Polisi asal Flores yang sudah pensiun per tanggal 1 Desember 2012 ini bahkan tak segan menyebut nama 2 perwira tinggi TNI, yang satu adalah Jenderal bintang 4 yang sudah purnawirawan, dan yang satu lain Jenderal bintang 3 TNI yang sampai saat ini masih aktif.

Kelakuan Gories Mere ini “dilaporkan” oleh seorang wartawati senior yang kebetulan mendengar kabar tentang manuver Gories Mere tersebut.

Ia melaporkannya kepada Menkopolhukkam Widodo AS, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) yang saat itu dijabat Sjamsir Siregar, Kapolri Jenderal Polisi Sutanto dan Kabareskrim Komjen. Polisi Bambang Hendarso Danuri.

Tak lama setelah wartawati senior itu datang menemui Jenderal bintang 4 (purnawirawan) dari kalangan TNI tersebut, Gories Mere ditelepon oleh Jenderal bintang 4 tersebut.

Tak bisa berkelit dari senior kalangan TNI, Gories Mere meminta maaf dan mengaku bersalah telah sembarang bicara dan menghasut seperti itu.

Kemudian, sebuah joke juga disampaikan oleh perwira tinggi TNI yang kebetulan tahu masalah ini.

“Bilang sama Gories Mere, tidak usah melawak dia di Indonesia ini. Apa dia mau jadi Jenderal Petruk ? Mau melawak kerjanya ?” kata sang Jenderal dengan sangat tenang dan dingin.

 

Ilustrasi gambar : Alat Penyadap yang digunakan Densus 88 Anti Teror Polri adalah buatan ISRAEL (GSM Interceptor GI 2)

 

Gories Mere masih punya manuver yang tak diketahui kalangan umum di Indonesia.

Barangkali karena terlalu dominan diberi peluang menangani terorisme selama belasan tahun, Gories Mere merasa paling berkompeten mengetahui dan menelikung institusi Polri dalam hal-hal tertentu.

Saat Mabes Polri hendak membeli alat sadap buatan Israel dengan merek GI 2, diam-diam Gories Mere melakukan kontak dengan perusahaan yang memproduksi alat sadap itu.

Atas pengakuan Gories Mere sendiri kepada seorang wartawati senior yang punya relasi cukup baik dengan kalangan perwira tinggi Polri.

“Saya bertemu dengan pengusaha yang menawarkan alat sadap itu. Kami bertemu di Madrid, Spanyol” kata Gories Mere kepada wartawati itu pada pertengahan bulan Juni 2007.

Hal ihwal yang dibicarakan adalah Gories mengecek daftar harga dan detail mengenai transaksi pembelian alat sadap.

Saat itu jabatan Gories Mere hanya sebatas Wakabareskrim tetapi memang dialah yang mendominasi penanganan terorisme di Indonesia.

Tak ada atasannya yang tahu dan bisa melarang Gories Mere melakukan apa saja yang tidak berkoordinasi dengan institusinya sendiri yaitu POLRI.

Dan tak ada juga yang bisa tahu, kongkalikong apa yang dibuat oleh Gories Mere dengan perusahaan Israel yang ditemuinya di sebuah negara yang sangat amat jauh dari Indonesia.

Gories Mere cenderung berjalan sendirian kemanapun ia ingin pergi (tanpa koordinasi), seolah merasa sangat yakin bahwa tak akan ada yang berani melawan dan menentang apa saja kehendaknya.

 

Kepala Lemdikpol Komisaris Jenderal Polisi Oegroseno

 

Lalu apa hubungan semua cerita tentang sepak terjang Gories Mere dengan Kepala Lembaga Pendidikan Polri, Komisaris Jenderal Polisi Oegroseno, yang terpampang fotonya di atas kalimat ini ?

Ada, sangat ada hubungannya …

Saat ini Gories Mere dan kelompoknya diduga kuat sedang bermanuver menelikung Mabes Polri dalam rangka menggagalkan pelantikan Komjen Polisi Oegroseno sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) yang baru.

Sumber KATAKAMI.COM menyebutkan bahwa sesungguhnya Presiden SBY sudah memutuskan untuk memilih dan melantik Komjen Oegroseno sebagai Kepala BNN yang baru.

Tetapi Gories Mere sedang berjuang keras agar “orang-orang binaannya sendiri (yang pangkatnya masih tergolong sangat rendah dan junior untuk bisa dipromosikan sebagai Kepala BNN).

Undang Undang mewajibkan bahwa satu-satunya “pintu” yang secara resmi dapat menyodorkan nama calon Kepala BNN kepada Kepala Negara adalah Kepala Kepolisian Republik Indonesia.

Dan di era kepemimpinan Kapolri Jenderal Timur Pradopo serta Wakapolri Komjen Nanan Sukarna, Wanjak (Dewan Kebijakan) POLRI yang wajib bersidang dan menentukan nama-nama yang bisa mutasi, promosi dan naik pangkat di jajaran Polri beranggotakan 15 orang perwira tinggi Polri.

Untuk bisa menghasilkan 1 nama resmi yang diajukan kepada Kepala Negara untuk menjadi calon Kepala BNN, kewenangan penentuan nama calon bukan pada Kapolri atau Wakapolri secara pribadi.

Tahapannya adalah sebagai berikut :

Tahapan pertama : Wakapolri memimpin Rapat Pra Wanjak yang beranggotakan 15 orang perwira tinggi Polri.

Dalam tahapan ini, Wakapolri sebagai pimpinan rapat (sidang) Pra Wanjak guna meminta masukan dari 15 orang perwira tinggi anggota Wanjak, nama-nama siapa yang bisa dipertimbangkan menjadi calon Kepala BNN.

Selanjutnya, masing-masing calon akan ditelusuri rekam jejaknya sepanjang berkarier di POLRI.

Dewan Pra Wanjak yang akan membahas detail pertimbangan tentang nama-nama calon untuk dikerucutkan menjadi 1 nama saja. Bila rapat pra Wanjak sudah sepakat memilih 1 nama, maka hasil dari rapat pra wanjak itu akan masuk ke tingkatan Kapolri.

Kapolri juga tidak menentukan sendirian.

Tahapan kedua, adalah dimatangkan dalam rapat bersama Kapolri.

Pada tahapan penentuan akhir inilah yang disebut Rapat Wanjak (rapat sebelumnya yang dipimpin Wakapolri disebut Rapat Pra Wanjak).

Kapolri juga akan memanggil pejabat utama inti di Mabes Polri untuk membahas pengajuan nama yang disampaikan Rapat Pra Wanjak. Tapi jumlah pejabat yang dipanggil rapat, tak sebanyak pada Rapat Pra Wanjak yang dipimpin Wakapolri.

Selanjutnya, bila disetujui, maka barulah Kapolri menanda-tangani surat pengajuan resmi kepada Presiden SBY tentang satu nama calon Kepala BNN yang baru.

Untuk menggantikan Komjen Polisi PURNAWIRAWAN Gories Mere yang resmi pensiun per tanggal 1 Desember 2012, Kapolri Jenderal Timur Pradopo mengusulkan satu nama kepada Presiden SBY untuk dipilih sebagai Kepala BNN yang baru yaitu mengusulkan nama Komjen. Polisi Oegroseno dari Angkatan 1978.

Saat ini usia Oegroseno adalah 56 tahun.

Oegroseno lahir tanggal 17 Februari 1956 dan akan resmi pensiun dari POLRI tanggal 1 Maret 2014 mendatang.

 

Susandhi bin Sukatma alias Aan (kanan) , yang merupakan korban rekayasa narkoba, dimana ia dipukuli di Kantor Tomy Winata oleh sejumlah orang, termasuk oleh oknum polisi dari Polda Maluku tahun 2009.

 

Dukung Temuan PROPAM POLRI, Satgas Mafia Minta Rekayasa Kasus Aan Diusut

Aan Menang Kasasi, Bentuk Mahkamah Agung Tidak Tunduk Pada REKAYASA KASUS

Denny Indrayana : Di Balik Kasus Aan, Ada BIG MAFIA

 

Namun Gories Mere bersikeras menggagalkan keputusan Presiden SBY yang menunjuk Oegroseno sebagai Kepala BNN yang baru karena kabarnya Gories sangat ingin orang-orang binaannya sendiri yang naik sebagai Kepala BNN.

Gories Mere lupa bahwa Undang Undang mengharuskan pengajuan nama calon Kepala BNN harus melalui institusi POLRI, tidak bisa melalui orang per orang.

Gories Mere lupa bahwa Undang Undang sudah mengatur bahwa KAPOLRI atas nama Mabes POLRI yang berhak untuk secara resmi mengajukan nama calon Kepala BNN.

Dan pengajuan itupun sudah melalui dua tahapan yang sangat penting di jajaran POLRI yaitu tahapan PRA WANJAK dan WANJAK.

Kalau misalnya ada Jenderal bintang 1 atau Jenderal bintang 2 yang diharapkan Gories Mere naik sebagai Kepala BNN, tapi  keduanya masih sama-sama sangat junior dan minim pengalaman di bidang reserse, Dewan Pra Wanjak dan Wanjak POLRI berhak dan punya wewenang penuh menolak nama-nama itu.

Sebab yang dibutuhkan untuk menduduki jabatan Kepala BNN adalah perwira tinggi bintang 3 atau perwira tinggi bintang 2 yang sudah sangat senior.

Sudah terlambat kalau Gories Mere ingin menggagalkan keputusan Presiden SBY memilih Komjen Oegroseno menjadi Kepala BNN yang baru.

Presiden SBY juga perlu diingatkan bahwa pengajuan nama Oegroseno sebagai calon Kepala BNN sudah melalui tahapan dan prosedur tetap resmi dalam sistem yang berlaku di Polri yaitu tahapan pra wanjak dan wanjak.

Istana Kepresidenan harus menghormati sistem yang berlaku dan bekerja secara resmi dalam institusi Polri.

Gories Mere saat ini sudah menjadi mantan atau bekas Kepala BNN. Ia sudah demisioner. Bahkan sudah resmi pensiun dari masa kedinasan aktif di jajaran POLRI.

Sebagai seorang pensiunan (purnawirawan), jika Gories Mere ingin menyampaikan aspirasi kepada Presiden SBY maka satu-satunya wadah yang paling tepat adalah menyalurkannya lewat PERSATUAN PURNAWIRAWAN POLRI.

Ikutilah aturan yang berlaku dalam institusi yang resmi.

Sebab Indonesia bukannya negara sirkus yang bisa seenaknya membuat seorang pensiunan mendikte dan mengatur kepala negara, memaksakan polisi-polisi karbitan untuk menduduki sebuah jabatan yang sangat prestisius seperti Kepala BNN.

Dan patut dicurigai, apakah ada mafia atau cukong besar yang barang kali patut dapat diduga bermain di belakang semua upaya menggagalkan Komjen Oegroseno menjadi Kepala BNN ?

Sebab Oegro dikenal sangat lurus, bersih, tegas, berani dan punya integritas tinggi dalam kariernya sebagai polisi.

Kalau memang tidak punya salah, kalau memang tidak punya bisnis atau kerajaaan narkoba, dan kalau tidak punya kongkalikong dengan kalangan mafia atau cukong cukong hitam narkoba, kenapa harus takut sama Oegroseno ?

Beberapa minggu lalu, saat namanya masuk dalam bursa calon Kepala BNN, Oegroseno sudah mendapatkan teror.

Sumber KATAKAMI.COM menyebutkan bahwa semua alat komunikasi Oegroseno telah disadap dan diganggu oleh pihak-pihak tertentu yang mulai tak nyaman dengan pencalonannya.

Hingga akhirnya Oegro menuliskan sebuah sindiran sangat halus dalam status blackberry-nya :

“Sesama perwira tinggi POLRI Sebaiknya Jangan Saling Menyadap Dan Tidak Menyalah-gunakan Alat Sadap”.

Teror pada Oegroseno mengingatkan pada sebuah SMS yang dikirimkan oleh seorang teroris di Indonesia ini saat Gories Mere menginformasikan kepada sang teroris bahwa ada wartawati yang terus “mengadu” kepada para pimpinan POLRI tentang dana-dana yang diberikan kelompok Gories Mere kepada para mantan teroris atas nama “de-radikalisasi”.

Dengan sangat lancang, teroris yang tidak tahu malu itu pernah mengirimkan sebuah SMS yang berbau SARA kepada wartawati tersebut yaitu mengirimkan sebuah ayat injil untuk memberikan sinyal.

Caranya, ia kirimkan SMS kepada Gories Mere, lalu dari handphone Gories Mere di forward pesan SMS itu kepada sang wartawati.

Gories Mere menggunakan nomor handphone-nya sendiri untuk mengirimkan pesan SMS dari teroris tadi.

Tak jelas apakah Gories Mere yang menyuruh atau tidak, tetapi dalam SMS yang sangat panjang lebar itu, sang teroris menyelipkan sebuah ayat injil dari Kitab Lukas 23 : 34 yang isinya tentang seruan Yesus berbunyi :

“Ya Bapa, ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan”.

(Padahal dari sisi keimanan, para teroris yang sudah meledakkan Indonesia ini yang harus disadarkan tentang perbuatan-perbuatan biadab mereka. Bukan justru dipakai untuk menteror jurnalis).

Sang wartawati lantas tak habis akal, ia pergi ke mesin ATM untuk “iseng” mengecek identitas nomor telepon yang digunakan oleh Gories Mere.

Sebab dari mesin ATM, sepanjang kita mengetahui nomor handphonenya maka kita akan dapat membaca nama pemilik nomor tersebut dan jumlah tagihan setiap bulannya.

Dan ternyata, nomor telepon yang bertahun-tahun digunakan Gories Mere (08** 999 999 ) bukan atas nama dirinya melainkan atas nama TOMY WINATA.

Bahkan sumber KATAKAMI.COM menyebutkan bahwa tagihan atas nomor tersebut setiap bulannya juga dibayar oleh TOMY WINATA.

Bukankah sebenarnya ini adalah bentuk gratifikasi ? Sayang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tak punya nyali mengusut dan menangkap Gories Mere dan kelompoknya jika terindikasi menerima hadiah atau gratifikasi dari pihak lain.

Apalagi tagihan handphone milik Gories Mere yang terdaftar atas nama TOMY WINATA,  tak cuma sejuta atau dua juta melainkan sering diatas Rp 25 juta setiap bulannya untuk satu nomor 08** 999 999.

Luar biasa keistimewaan dan kemewahan yang didapat Gories Mere dari Tomy Winata,

Sebab Gories Mere yang diajak untuk menikmati acara plesiran ke Amerika dibayari Tomy Winata bulan Mei 2012, kemudian adik kandung Gories Mere juga bekerja di klub malam milik Tomy Winata yaitu Night Club MUSRO, dan selama bertahun-tahun Gories Mere jugalah menggunakan nomor telepon milik Tomy Winata ( bahkan dibayari setiap bulan ).

Wah, dunia internasional bisa tertawa kalau Presiden di negara ini bisa didikte dan diatur oleh seorang pensiunan yang jabatannya telah demisioner.

Termasuk Aan, yang menjadi korban rekayasa narkoba tahun 2009, barangkali akan ikut tertawa kalau Presiden kalah melawan kelompok eksklusif Gories Mere yang sangat ketakutan pada sosok Oegroseno.

Saat kasus rekayasa narkoba yang menimpa Aan terjadi, Oegroseno menjabat sebagai Kadiv Propam Polri.

Oegro dengan sangat amat tegas mengusut oknum-oknum polisi yang memukuli Aan di Kantor Tomy Winata yaitu di Gedung Artha Graha.

Dari hasil pemeriksaan, Propam Polri menegaskan bahwa oknum Polisi tersebut terbukti bersalah.

Saat itu, Satgas Mafia menyentil nama Gories Mere sebagai salah satu perwira tinggi POLRI yang ada di balik rekayasa kasus narkoba yang menimpa Aan.

Mungkin Aan bisa ikut menyanyikan dan menikmati keindahan lirik lagu MUNAJAT CINTA ( yang diliriknya telah diganti dan diplesetkan oleh tangan kanan Gories Mere yaitu Petrus Golose.

[Chorus:]
Tuhan kirimkanlah aku,
KOMANDAN yang, baik hati dan banyak UANG-NYA
yang mencintai aku, apa adanya

 

 

 

MS