
Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Amerika Serikat Barack Obama
Putin: Russia not ‘propping up’ Syrian regime
Merkel, Putin call for ‘political’ solution in Syria
Jakarta, 3 Juni 2012 (KATAKAMI.COM) — Semakin memburuknya situasi di Suriah (Syria), terutama terjadinya pembunuhan massal, membuat Dewan Hak Asasi Manusia di Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) pun telah mengutuk tragedi di Houla yang menewaskan lebih dari seratus orang pada pekan lalu.
Seperti yang diberitakan Al Jazeera (2/6/2012), Komisi Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) scara remi mengecam Suriah atas terjadinya tragedi pembantaian di Houla dan menyerukan penyelidikan PBB untuk mengidentifikasi pelaku dan mengumpulkan bukti untuk bisa segera melakukan tuntutan pidana.
Sebanyak 47-anggota Komisi HAM PBB, mengadakan sidang darurat di Jenewa pada hari Jumat (2/6/2012), untuk bisa mengadopsi sebuah resolusi dengan perolehan suara sebanyak 41 negara mendukung) dan 3 melawan – diantaranya Cina dan Rusia.
Awal pekan ini, seperti yang dikutip dari Republika Online (29/5/2012), Rusia mengatakan bahwa pemerintah Suriah dan oposisi bertanggung jawab atas pembantaian yang menewaskan 108 orang di Houla, Suriah.
“Di sini kita menghadapi situasi dimana kedua belah pihak bertanggung jawab atas kematian warga,” kata Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, Senin (28/5) saat menggelar konferensi pers bersama Menlu Inggris, William Hague.
Pada pertemuan itu, Rusia dan Inggris sepakat bahwa rencana perdamaian utusan Liga Arab dan PBB, Kofi Annan, adalah satu-satunya harapan menyelesaikan krisis di Suriah.
Rusia mengkritik negara-negara yang mengatakan tidak ada solusi di Suriah selain penurunan kekuasaan.
Lavrov juga mengatakan bahwa Alqaidah berperan atas pembantaian di Suriah.
Dan pernyataan terbaru dari Rusia, disampaikan oleh Presiden Vladimir Putin saat berkunjung ke Jerman hari Jumat (2/5/2012) bahwa solusi politik adalah solusi yang terbaik untuk menyelesaikan masalah di Suriah.

Presiden Amerika Serikat Barack Obama
(BBC) AS: Kebijakan Rusia berpotensi picu perang saudara Suriah
PBB kecam ‘kekejaman’ di Suriah
Bentrokan-bentrokan di seluruh Suriah masih terus berlangsung meskipun telah berlaku gencatan senjata 12 April yang ditengahi oleh utusan PBB-Liga Arab Kofi Annan.
Lebih dari 12.000 orang, sebagian besar warga sipil, tewas sejak pemberontakan terhadap Presiden Suriah Bashar al-Assad dimulai pada Maret 2011, termasuk lebih dari 900 orang tewas sejak gencatan senjata mulai berlaku, kata para aktivis hak asasi manusia.
Amerika sendiri tampaknya tak senang pada kecenderungan Suriah berlindung di balik Rusia.
Seperti yang diberitakan BBC Jumat (2/6/2012), Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton mengatakan bahwa kebijakan Rusia akan membantu potensi terjadinya perang saudara di Suriah.
“Rusia mengatakan kepada saya bahwa mereka tidak menginginkan perang saudara. Saya sudah mengatakan kepada mereka bahwa kebijakan mereka akan membantu timbulnya perang saudara,” kata Hillary Clinton.
Menlu Amerika Serikat mengatakan hal itu di hadapan para mahasiswa Denmark di Copenhagen hari Kamis (31/5/2012).
Pernyataan itu disampaikan setelah Rusia dan Cina kembali menyuarakan penentangan terhadap tindakan lebih tegas Dewan Keamanan PBB.
Menurut Clinton, sejauh ini tidak ada dukungan internasional yang cukup karena Rusia dan Cina menentang aksi Dewan Keamanan dan telah dua kali memveto resolusi mengenai Suriah.
“Banyak pihak berusaha memikirkan campur tangan seperti apa yang bisa efektif yang tidak akan memakan korban lebih besar dan penderitaan lebih lanjut,” jelasnya.
Presiden Barack Obama juga sudah lebih dahulu mengkritik situasi di Suriah saat menghadiri KTT NATO di Camp David.
Obama secara tegas dan keras mengatakan bahwa Kelompok G8 – termasuk Rusia – sepakat bahwa proses politik di Suriah harus bergerak maju dalam waktu yang telah ditentukan.
“Kami melakukan diskusi tentang Suriah, kita semua percaya bahwa resolusi damai dan transisi politik di Suriah adalah lebih baik,” kata Obama, yang diapit para pemimpin negara-negara industri Kelompok Delapan (G8) pada pertemuan puncak Camp David.
“Kami semua sangat prihatin tentang kekerasan yang sedang terjadi di sana, hilangnya nyawa,” kata Obama.

Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin, didampingi Presiden Dmitry Medvedev, berbicara kepada pendukungnya saat Putin berhasil menang dalam pemilihan umum kepresidenan, 4 Maret 2012
Suriah, harus diingatkan secara khusus tentang kecenderungan mereka berlindung di balik Rusia.
Dari perjalanan waktu, Rusia (termasuk Cina) secara tegas menentang semua bentuk intervensi asing dalam menyelesaikan permasalahan di Suriah.
Tetapi, semua pihak harus bijaksana dalam memandang permasalahan ini.
Jika saat ini seluruh dunia sedang menyoroti masalah Suriah, maka otomatis seluruh duniapun saat ini akan memandang pada satu sosok yang sangat penting perananannya yaitu Presiden Rusia Vladimir Putin.
Putin, adalah sosok yang sangat menentukan berhasil atau tidaknya utusan khusus PBB Kofi Annan dalam menyelesaikan konflik di Suriah.
Putin, yang kembali menjadi Presiden (didampingi Dmitry Medvedev sebagai Perdana Menteri), punya kekuatan atau POWER yang tak akan bisa dipandang enteng oleh kekuatan dunia manapun.
Putin menang secara demokratis di negaranya dan ia tetap mempercayai sejumlah menteri-menteri penting yang dianggapnya loyal dan profesional selama ini.
Dua diantaranya adalah Menteri Pertahanan Anatoly Serdyukov dan Menteri Luar Negeri Sergei Lavrov.
Vladimir Vladimirovich Putin lahir pada tanggal 7 Oktober 1952 di St Petersburg yang pada saat itu dikenal dengan nama Leningrad.
Putin sebagai anak tunggal karena kedua saudaranya meninggal ketika masih kecil.
Ketika masa muda, Putin sering dipanggil Putka. Ayahnya, Vladimir Spiridonovich Putin, adalah karyawan lepas dari sebuah pabrik dan meninggal pada bulan Agustus 1999. Ibunya Maria Ivanovna Putina, meninggal 6 bulan lebih awal.
Putin memiliki keterampilan dalam bela diri khususnya sambo (bela diri ala Rusia) dan judo.
Putin menikahi Lyudmila pada tahun 1978 dan memiliki dua anak Katya (1985) dan Masha (1986). Kedua duanya lahir di Dresden, Jerman.

Presiden Rusia Dmitry Medvedev berjalan bersama Presiden Amerika Serikat Barack Obama di Washington, 24 Juni 2010.
Sebagai salah seorang pemimpin dunia yang sangat POWERFUL di era kekinian, Putin sungguh sangat penting posisinya dalam menyelesaikan masalah Suriah.
Barangkali ia memang masih menyimpan kemarahan yang sangat dalam saat Amerika mengkritik beberapa kali peluang Putin untuk maju dan menang dalam pemilihan umum kepresidenan di Rusia.
Putin memutuskan untuk tidak hadir pada KTT NATO di Camp David yang diselenggarakan oleh Amerika Serikat.
Putin mengutus Perdana Menteri Dmitry Medvedev untuk hadir di NATO Summit.
Tampaknya ada “perang dingin” dan jarak yang membentang cukup jauh antara Rusia dan Amerika pasca kemenangan Putin yang sangat gemilang.
Tetapi dengan segala respek dan hormat, ada baiknya Putin diminta untuk melembutkan hatinya dan menyadari sepenuhnya bahwa begitu besar harapan dunia kepada dirinya untuk menjadi tonggak penyelesaian yang terbaik dalam masalah Suriah.
Lupakan segala ketidaksenangan dan ketidak-nyaman atas kebijakan-kebijakan politik yang dibuat pemerintahan Obama selama ini, yang barangkali memang dianggap tak sejalan dan tak satu suara dengan kebijakan-kebijakan politik Rusia.
Tapi Putin tak bisa menampik harapan dari begitu banyak pemimpin dunia dan komunitas internasional bahwa dibutuhkan perubahan yang sangat signifikan dalam waktu yang secepat-cepatnya di Suriah.
Artinya, Presiden Bashar Al Assad jangan lagi berlindung di balik kebaikan hati Rusia dibawah kepemimpinan Putin sebab Rusia sudah menyatakan berkali-kali bahwa Rusia sangat MENENTANG semua bentuk pembunuhan massal dan pertumpahan darah yang terus menerus terjadi Suriah.
Sudah saatnya semua pertumpahan darah dan pembunuhan massal di Suriah dihentikan.
Rusia, terutama Presiden Putin, dibutuhkan oleh komunitas internasional untuk menempatkan posisi mereka dengan sangat tegas dan jelas bersama-sama negara-negara lain yang mendorong percepatan transisi politik di Suriah.
Permasalahan di Suriah jangan lagi menjadi pertarungan antara Putin dan Obama.
Jangan lagi ada Putin Power versus Obama Power.
Putin dan Obama, adalah dua pemimpin dunia, yang sama-sama dibutuhkan oleh dunia untuk ikut menjaga kestabilan dan keamanan dunia.
Putin dan Obama, adalah dua pemimpin dunia, yang sama-sama punya kekuatan, kekuasaan dan kewibawaan, untuk menyatukan sinergi mereka menjadikan dunia ini lebih aman dan nyaman.
Disinilah dibutuhkan peran yang sangat strategis dari Perdana Menteri Dmitry Medvedev, sebagai tangan kanan Presiden Putin. Medvedev harus mau membujuk Putin untuk memperkuat dukungan Rusia pada Perserikatan Bangsa-Bangsa. Medvedev harus mau membujuk Putin untuk menunjukkan konsistensi Rusia mendukung prinsip-prinsip perdamaian dan keamanan dunia.
Hanya Medvedev yang akan mampu membujuk Putin dan pasti didengarkan oleh Putin !
Dunia membutuhkan Rusia, sama seperti dunia juga membutuhkan Amerika, untuk memastikan bahwa tidak akan rezim manapun yang bisa bertindak sewenang-wenang pada nilai-nilai kemanusiaan.
(MS)
Like this:
Be the first to like this post.